Bayi Ambar

Bayi Ambar
Sosok Kecil di Cermin


__ADS_3

Radit sedang tertidur pulas di kamar. Kalau ku amati, wajahnya tak jauh berbeda dengan bayi pada umumnya. Hanya saja, semakin lama di perhatikan akan semakin terlihat bedanya. Wajah Radit lambat laun akan berubah pucat. Bawah kelopak matanya akan terlihat menghitam dan bahkan akan terlihat berlubang saat di amati dari kejauhan. Saat disentuh, kulitnya terasa dingin dan lembek. Namun entah mengapa Ratih bisa menerima dan bahkan sangat menyayanginya.


"Ada apa, Mas?" tiba-tiba saja Ratih muncul dari balik pintu.


"Eh, tidak apa-apa, Dik. Hanya ingin melihat dan dekat dengan Radit saja." ucapku mencoba menetralkan perasaan takutku pada Radit.


Ratih tak berbicara lagi. Ia langsung duduk dan merebahkan diri di samping Radit. Aku memilih untuk berdiri dan duduk di kursi rias milik Ratih. Kursi yang sudah beberapa waktu terakhir tak pernah ia gunakan lagi semenjak kedatangan Radit.


"Sibuk mengurus Radit." begitulah alasan yang selalu ia ucapkan saat aku menanyakan alasan mengapa ia tak pernah bersolek lagi. Padahal Radit anak yang pendiam. Bahkan dia bisa kesana kemari sendiri tanpa Ratih harus merasa repot dan terbebani saat mengurusnya. Ditambah, dia bukan anak manusia yang perlu di khawatirkan akan kehausan atau kelaparan jika tak di beri makan.


Ratih memejamkan mata. Mungkin dia benar-benar lelah dengan semua pekerjaan yang ada di rumah. Namun anehnya, mengapa tubuhnya semakin lama semakin kurus. Apa mungkin dia benar-benar lelah hingga tak sempat makan?


"Ada apa lagi, Mas?" tiba-tiba saja Ratih bertanya membuatku kaget. Ku pikir dia sudah tertidur.


"T-tidak, Dik. Mas hanya kangen sama kamu. Sudah lama kita tak mengobrol berdua." jawabku berharap Ratih mau mengobrol seperti dulu, menghabiskan malam dengan menonton TV atau hanya sekedar makan mie instan berdua. Namun rasanya, kini semua berubah. Ratih terlihat dingin. Padahal jika memang dia menginginkan Radit menjadi anak kami, seharusnya dia bahagia karena sudah ada Radit di sini.


Aku mencoba untuk memejamkan mata dan tidur. Semenjak ada Radit, aku memilih untuk tidur di kamar lain. Itu juga karena Ratih yang meminta. Dia takut aku terganggu katanya. Aku memilih mengalah dan tetap tidur di kamar sebelah. Hanya saja, pintu kamar tak pernah tertutup. Selalu ku buka lebar-lebar untuk berjaga kalau saja Ratih membutuhkan bantuanku.

__ADS_1


Srrreeesseeettr...


Sebuah bayangan melintas tepat di depan pintu. Aku yang sedang berusaha untuk tertidur kembali membuka mata dan memastikan kalau benar-benar ada yang lewat di depan kamarku.


"Dik."


"Ratih."


Sunyi. Tak ada sahutan dari istriku. Perlahan aku berjalan ke kamarnya. Ku longok ke dalam dan melihat Ratih sudah tertidur pulang bersama Radit di sebelahnya.


"Aaahhh ... mungkin hanya perasaanku saja." aku berbalik dan hendak kembali ke kamar. Langkahku terhenti saat melihat sosok kecil teronggok di pantulan cermin lemari. Sosok itu sedang duduk dan tersenyum menyeringai menghadap ke arahku. Perlahan ku putar kembali tubuhku dan memastikan apa yang ku lihat baru saja.


Tak ada apapun disana. Bahkan Radit yang ku lihat di pantulan cermin baru saja pun kini dia terlihat begitu lelap dalam tidurnya. Aku kembali dan berniat untuk keluar dari kamar. Kali ini sebuah tangan kecil terasa sedang mencengkeram kaki ku. Aku menghentikan niatku untuk melangkah. Namun aku juga tak berani menghadap kebawah. Dengan menelan saliva aku mencoba membuka mata perlahan yang tentu saja tanpa sadar ku pejamkan saat tangan kecil itu menyentuk kulit kakiku yang saat ini hanya mengenakan boxer pendek.


"Ja-jangan ganggu. Lepas." pintaku sambil sedikit berusaha menarik kaki ku untuk segera pergi dari kamar ini. Namun sepertinya usahaku tak membuahkan hasil. Tangan itu begitu kuat mencengkeram, bahkan kuku-kukunya terasa menusuk dan merobek kulit kaki ku.


"Aaarrkkkhhh... sakit." Rintihku sambil menahan nyeri hebat pada kaki kananku. Aku mencoba menghentak-hentakkan kaki ku ke lantai berharap cengkeraman tangan kecil itu terlepas dan aku akan segera berlari kembali ke kamar. Namun semakin aku mencoba untuk lepas, cengkeraman itu justru malah semakin kuat.

__ADS_1


Aku menoleh ke arah cermin. Hanya ada Ratih di bayangan sana. Itu artinya, Radit tidak bersama Ratih saat ini. Aku mencoba untuk berani. Menoleh ke bawah dan melihat apa yang ada di sana. Namun tak ada apapun dibawah kaki ku. Hanya saja, cengkeraman tangan kecil itu masih terasa.


"Ra-Radit. Coba lepaskan kaki, a-ayah." aku mencoba menyebut namaku dengan sebutan itu. Panggilan yang biasa Ratih sebutkan pada Radit saat menimang dan mengajaknya mengobrol.


Cengkeraman itu masih terasa. Namun sudah tidak terlalu kuat. Lambat laun, tangan itu merembet dan seolah sedang berpegangan ke atas. Seperti seorang anak yang mencoba berdiri.


"Ra-radit. Lepas yah, Nak. A-ayah takut." ucapku kembali berharap kali ini Radit melepaskan cengkeramannya dan membiarkanku kembali ke kamar.


_________


*Kloonnttaaanngg...


Pprraaanngg* ...


Suara berisik muncul dari arah dapur. Aku yang memang notabene nya seorang penakut menjadi gugup dan bingung harus berbuat apa. Ku lirik jam yang ku tempel di dinding. Jarum jam menunjukan pukul satu dini hari. Sejak kapan aku sudah terlelap? Aku tak sadar jika ternyata aku sudah tidur beberapa jam. Padahal yang ku ingat tadi aku berada di kamar sebelah yang hanya ada Ratih dan Radit.


Prrraaanngg...

__ADS_1


Suara itu muncul lagi. Kali ini ditambah dengan suara yang pernah ku dengar sebelumnya. Suara anak kecil yang sedang merangkak. Telapak tangannya menyentuh lantai dan menimbulkan suara." Aku mencoba untuk keluar dan melihat ke arah Ratih. Berharap bisa menolongnya dari gangguan gaib seperti ini.


"Dik. Ayo bangun." aku berusaha membangunkan istriku dan akan ku ajak untuk mencari asal sumber suara tersebut


__ADS_2