Bayi Ambar

Bayi Ambar
Ratih Tersadar


__ADS_3

Suara kokok ayam jantan terdengar saling bersahutan. Membuat aku menghela nafas lega, menandakan sebentar lagi matahari akan segera muncul di ufuk timur.


Aku membuka mata perlahan, setelah beberapa waktu terpaksa harus memejamkan mata untuk tak melihat sosok menyeramkan yang sudah berdiri tepat di dekat kami. Ibu juga sudah mulai tenang. Tampaknya Ibu sudah bisa merasa lega karena rupanya sosok itu sudah pergi. Ratih juga masih tampak tenang dalam tidurnya. Ia tak terbangun dan tak mencelakai ku lagi.


"Sebentar lagi subuh." bisik Ibu. Beliau berdiri dan memeriksa kondisi Ratih.


"Sepertinya istrimu baik-baik saja. Syukurlah dia tidak kesurupan lagi." ucap Ibu kembali. Aku ikut memeriksa kondisi Ratih. Tampak nafasnya naik turun secara beraturan. Wajahnya yang dulu ceria dan teduh, kini tampak muram dan pucat. Bahkan kantung mata di bawah kelopak matanya tampak sangat jelas.


"Kasihan kamu, Dik. Aku akan berusaha mencarikan obat untukmu sekarang." bisikku sambil mengusap pucuk kepalanya.


"Ayo kita ambil wudhu dulu." Ibu menarik lenganku untuk mengikutinya ke belakang.


"Tapi Ratih sendirian, Bu." ucapku lirih.


"Tidak apa-apa. Sebentar lagi subuh. Ayo kita siap-siap buat Sholat." ajak Ibu. Aku menuruti permintaan Ibu. Ku pamiti dulu Ratih berharap dia mendengar dalam tidurnya.

__ADS_1


"Dik." ku panggil lirih nama istriku, karena aku melihat kedua bola matanya terbuka.


"Dik. Kamu baik-baik saja?" tanyaku lembut. Ibu yang hendak ke belakang, kembali mendekati ranjang untuk melihat kondisi Ratih.


"Nduk, apa yang di rasakan?" tanya Ibu penuh perhatian. Tangannya mengusap lembut dahi istriku.


"Nduk. Kamu lapar? Apa haus?" tanya Ibu penuh perhatian. Sedangkan Ratih yang di tanya hanya menggelengkan kepala.


Akhirnya aku dan Ibu urung untuk kebelakang. Aku memijit kaki Ratih yang terasa dingin, sedangkan Ibu mengelus kepala Ratih. Bersholawat dan membacakan doa berharap Ratih terlepas dari gangguan arwah Kakaknya. Berharap Ratih akan sadar sepenuhnya dan bisa ikhlas menerima kematian Kakaknya.


"Iya, Nduk." jawab Ibu dan aku hampir bersamaan.


Ratih terisak, sungguh membuat aku dan Ibu panik.


"Apa yang kamu rasakan, Dik?" tanyaku pelan, takut membuat Ratih semakin menangis.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mas, Bu." ucap Ratih di sela-sela isak tangisnya.


"Untuk apa?" aku mengelus pucuk kepalanya lembut. Sungguh merasa bersalah aku lada istriku, di saat-saat istriku seperti ini aku tak mampu berbuat apa pun.


"Maaf karena telah membuat kalian masuk ke dalam masalah ini." ucap Ratih masih dengan isak tangisnya. Aku memeluknya erat, mencoba menenangkannya dan membuatnya berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


"Mas, kalau aku tiada, kamu menikahlah lagi." ucap Ratih membuatku syok dan terpaku.


"Apa-apaan kamu, Dik? tak baik berbicara seperti itu." ucapku yang di ikuti dengan anggukan kepala Ibu.


"Istighfar, Nduk. Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Pasrahkan semuanya pada Gusti Allah." pinta Ibu membuat isak tangis Ratih malah semakin terdengar keras.


Adzan subuh mulai terdengar dari beberapa langgar di desa. Ibu beranjak untuk mengambil wudhu di belakang. Sedangkan Ratih sudah tampak tenang.


"Kamu tunggu dulu saja istrimu, kita sholat bergantian." pinta Ibu. Aku menuruti perintah surgaku itu. Menemani Ratih yang masih kosong tatapannya, namun sudah terlihat lebih baik. Ratih tak pernah meminta di bukakan ikatan pada kedua tangannya. Dia tampak begitu pasrah dan menerima. Sebenarnya aku tak tega. Namun demi kebaikannya karena di takutkan dia akan kumat dan mencelakai orang lain, alangkah baiknya aku masih membiarkannya seperti ini hingga nanti Ratih mendapat pengobatan.

__ADS_1


__ADS_2