
Rumah makan yang semakin ramai membuatku semakin sibuk. Bahkan akhir-akhir ini aku tak begitu mempedulikan keadaan rumah. Tak mempedulikan Ratih maupun Radit di rumah. Ratih pun tak pernah lagi mengeluh soal kondisi Radit yang tidak masuk akal untuk sewajarnya anak manusia. Atau mungkin Ratih sudah paham siapa sebenarnya Radit itu. Maka dari itu dia lebih memilih diam dan tetap merawatnya seperti anaknya sendiri.
"Pak. Bapak kedatangan tamu. Katanya ingin bertemu." tiba-tiba saja Ibra mendatangiku yang tengah sibuk membuat rekapan pemasukan harian. Untuk pelayanan, kini Ibra sudah tidak sendiri lagi. Aku sudah merekrut beberapa karyawan lagi untuk membantu operasional di rumah makan.
"Siapa?"
"Katanya kenalan lama Bapak." jawab Ibra semakin membuatku penasaran. Aku bergegas menutup buku laporan dan berjalan keluar mengikuti Ibra.
Wajah tua namun masih terlihat sangat ayu itu tersenyum saat melihatku keluar dari dalam ruang kantor.
"Bu Sofi?" aku menyalami wanita yang dulu merupakan atasanku saat bekerja di rumah makannya.
__ADS_1
"Kamu sekarang hebat, ya, Di." puji Bu Sofi membuatku tersipu. Dan pada akhirnya kami pun mengobrol dan saling bertukar kabar. Ternyata Bu Sofi kini membuka cabang lagi di luar kota. Luar biasa memang bisnis beliau. Cepat sekali berkembang dan sukses semuanya.
Kami berbagi pengalaman dalam merintis usaha. Aku menceritakan saat aku membuka usaha pertama kali, lalu di hajar pandemi dan membuat usshaku yang semula jaya menjadi kembang kempis. Hingga kini menjadi kembali bangkit karena adanya hal terduga. Semua itu ku ceritakan kepada Bu Sofi. Termasuk menemukan anak yang ku beri nama Radit dan ku anggap pemberi keberuntungan. Bu Sofi sangat antusias mendengar ceritaku. Bahkan terkadang menyelipkan nasihat-nasihat dalam berbisnis.
"Hai, Di. Apa kabar?" tiba-tiba sebuah suara yang sudah sangat lama tak ku dengar kini muncul lagi di telingaku. Aku menghentikan aktifitas mengobrolku dengan Bu Sofi, dan menoleh ke arah mana dan melihat siapa yang datang kali ini.
"Kalian?" benar-benar tidak menyangka siapa yang datang kali ini ke rumah makan ku. Dua anak manusia yang sangat sombong dan sempat mempermalukan aku waktu itu kini datang bertamu dan ingin menemuiku.
Sedangkan Dessy menyenggol lengan Rudi seperti ingin berbicara sesuatu.
"Ada perlu apa kalian kesini?"
__ADS_1
"Wwweeeesss... santai, bro. Sepertinya kamu sekarang sombong sekali. Kita datang baik-baik lho." ucap Rudi sambil berkacak pinggang.
"Maksudmu apa?"
Rudi dan Dessy tak menjawab. Mereka hanya tersenyum seolah mengejek. Aku yang malas meladeni mereka memilih untuk kembali masuk. Namun Rudi secepat kilat menarik tanganku.
"Kita mau pinjam modal buat usaha." ucap Rudi tanpa basa basi membuatku melongo saat mendengarnya.
"Sudahlah, Di. Kita tahu rahasianya kamu bisa sukses seperti ini bagaimana. Jadi, ayolah. Pinjami kami modal, atau rahasia mu ku sebarkan ke teman-teman kita bagaimana kamu bisa mendapatkan kekayaan seperti ini." ucap Rudi membuatku mendidih.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
Rudi mendekat dan membisikkan sesuatu di telingaku yang sekejap saja membuatku melayangkan sebuah bogem mentah ke rahangnya. Rudi yang tak sempat menghindar langsung tersungkur dan menghantam tepi meja. Beberapa orang yang berada di rumah makan langsung berdiri dan melihat ke arah kami. Begitu juga dengan Ibra, dia langsung berlari tergopoh dan menghampiriku. Mencoba menenangkan ku dan melerai. Namun aku yang sudah terlanjur kalap rasanya ingin kembali menghajar habis-habisan lelaki yang saat ini di hadapanku ini.