Bayi Ambar

Bayi Ambar
Sosok Di Rumah Sakit


__ADS_3

Aku terkejut manakala mendapati Radit sudah berada di dalam mobil. Entah dari mana dan sejak kapan dia berada di dalam mobil.


"Radit. Bagaimana kamu masuk kesini?" kembali ku ulangi pertanyaan yang sama. Namun yang ku tanya hanya terdiam, sibuk dengan dunianya sendiri layaknya anak kecil pada umumnya.


"Aaarrrkkkhhh..." aku mengusap kasar rambut kepalaku. Lagi pula, untuk apa aku bertanya pada anak-anak seperti Radit.


Ku biarkan saja Radit duduk di belakang, aku kembali fokus ke jalanan untuk segera sampai ke Rumah Sakit. Berharap Ratih sudah sadar dan baik-baik saja.


"Ra-radit." spontan aku menarik tangan saat tangan Radit menyentuh tanganku yang tengah sibuk mengemudi. Tangannya berusaha menarik tanganku dan mengalihkan arah laju mobil ke samping kiri. Aku menepis tubuhnya dan mendorong ke belakang. Wajahnya menyeringai, kedua bola matanya yang menghitam menatap tajam ke arahku. Aku bergidik ngeri di buatnya setiap kali wajah itu menatap lekat wajahku.


"Ra-radit. Tenanglah. Jangan seperti itu." aku berusaha membujuk Radit untuk tak menggangguku. Radit yang ku dorong dengan tangan langsung terjatuh dan terlempar begitu saja Dia tak menangis, malah tertawa dengan suara tawa cekikikan yang mengerikan.


Dari kaca tengah, aku melihat sosok wanita berambut panjang tiba-tiba saja muncul dan langsung duduk menunduk tanpa ekspresi. Wajahnya tak terlihat, namun sepertinya aku tahu siapa dia. Ku lihat Radit memanjat dan meraih tubuh wanita itu. Radit terlihat duduk di atas pangkuan wanita itu dengan tenang tanpa rasa takut.


Aku tak memperdulikan keduanya. Aku memilih untuk fokus dan terus menyetir dan berharap untuk segera tiba di Rumah Sakit. Meskipun jujur saja, di dalam hati rasa takut sudah pasti ada, namun aku berusaha untuk abai dan tak menghiraukan kedua makhluk yang saat ini duduk di bangku belakang. Sesekali ku amati kedua makhluk itu, sosok wanita yang hanya duduk menunduk tanpa ekspresi. Sedangjan Radit yang sedari tadi bertingkah layaknya seorang bayi manusia yang terus berceloteh dan sesekali menatapku dengan kedua bola mata hitamnya yang mampu membuat bulu kuduk siapapun akan berdiri bila melihatnya langsung.


"Mas, mana Radit?" Ratih menanyakan Radit setibaku di Rumah Sakit. Namun aku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kabarnya.


"Apa yang kamu rasakan, Dik?" tanyaku sambil menyeka keringat yang terlihat muncul di kening putih istriku. Wajahnya sayu dan pucat, sepertinya Ratih terlihat terlalu lelah.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Mas. Mana Radit?" Ratih menepis tanganku dan kembali menanyakan Radit yang jelas-jelas tak akan ku bawa kemari karena hanya akan membuat geger satu Rumah Sakit.


"Mas." kembali Ratih merajuk, kali ini dengan suara yang lebih keras. Namun aku tetap berusaha untuk tak membahasnya.


"Radit. Sini sayang." Ratih duduk dan menjulurkan tangan ke bawah. Aku menoleh di mana di sana ada Radit sedang merangkak dengan wajah lucunya mendekat ke arah ranjang dimana Ratih terbaring.


"Tolong, Mas." Ratih memintaku untuk membawakan Radit padanya. Seperti Ibu yang merindukan anaknya, Ratih mendekap erat dan mencium berkali-kali wajah Radit yang menurutku sering berubah-ubah. Aku menatap keduanya, ada rasa haru muncul dari dalam sana. Begitu berhargakah Radit untuk Ratih. Terlihat Ratih begitu menyayangi Rafit, namun jika aku mengingat balasan Radit pada Ratih, membuatku marah dan ingin rasanya melenyapkan makhluk kecil itu.


Radit menoleh, menatapku dengan tatapan yang mengerikan. Ia langsung menyadari dan terlihat sangat marah jika aku memikirkan tentang dirinya dan berusaha untuk melenyapkannya.


Aku memalingkan wajah dari bayi itu dan menjauh dari Ratih dan Radit. Melihatnya terlalu lama hanya membuatku memikirkan hal yang tidak masuk akal. Aku lebih memilih duduk menyendiri di kursi panjang sambil memikirkan bagaimana terlepas dari gangguan setan yang akhir-akhir ini mengganggu kehidupan keluargaku.


"Bagaimana bisa dibilang kalau istri saya yang meminta, Bu? Sedangkan Ratih tak pernah percaya dengan hal-hal seperti itu." tanyaku pada Bu Sofi karena ragu dengan ucapan beliau. Bu Sofi tersenyum, pandangannya mengedar kemudian kembali pada gelas kopi di hadapannya.


"Wanita, kalau sudah ada maunya apapun akan dia lakukan, Hadi." ucap Bu Sofi membuatku terdiam dan berpikir keras. Apakah Ratih tipe orang seperti itu? Aku merasa tak cukup mengenal istriku itu meskipun kami sudah menikah selama beberapa tahun. Yang ku tahu, Ratih tipe orang yang nerimo dan tidak neko-neko. Bahkan dia selalu sabar selama ini bersamaku meskipun belum juga di berikan momongan. Namun tak bisa di pungkiri, aku memergoki beberapa kali Ratih menangis dan merasa marah karena tak juga di berikan momongan setelah sekian lama berusaha.


"Mas." panggil Ratih membuatku tersadar dari lamunanku.


"Iya, Dik? Perlu apa? biar mas ambilkan." tawarku pada Ratih.

__ADS_1


Ratih menyerahkan Radit padaku, memintaku untuk mengambil alih anak itu dan mengurusnya.


Ssrreeekkk ... srreeekkk... ssrreeekkk ...


Aku mengucek mata manakala terdengar suara dari balik tirai panjang pemisah antara ranjang milik Ratih dengan bangku panjang tempatku terlelap. Sebuah suara yang terdengar seperti kaki yang berjalan di seret dengan sangat berat dan pelan. Bergegas aku membuka tirai dan melihat apa yang ada di baliknya. Ratih yang masih terlelap, dan Radit yang sengaja ku letakkan di samping tubuh Ratih itu juga ikut terlelap. Aku mengambil bangku bundar dan duduk di samping tempat tidur Ratih, berharap tak terjadi apapun pada istriku itu.


Ssrreeekkkk...


Kembali terdengar suara sesuatu yang di seret. Kali ini ada di luar tirai. Aku diam, mencoba untuk tenang. Namun lagi-lagi suara itu kembali terdengar. Ku sibak tirai untuk melihat apa yang ada di baliknya, namun tetap saja tak ada apapun di sana.


"Apa mungkin petugas kebersihan?" gumamku. Namun apa mungkin mereka bekerja sepagi ini, masih jam tiga dini hari. Aku melirik jam dinding yang terpampang jelas di sebelah samping AC.


Pprraannggg...


Gelas bekas minum yang ku letakkan di meja terjatuh dengan sendirinya. Tak ada yang menyenggol, bahkan tak ada angin di dalam ruangan.


"Siapa?" aku mencari seseorang yang mungkin telah masuk ke dalam ruangan dan tak sengaja menyenggol gelas milikku.


Tak ada siapa pun. Aku mencari ke dalam kamar mandi, namun hasilnya pun nihil. Tak ada siapa pun disana.

__ADS_1


Aku terdiam manakala kembali dan berniat untuk duduk di dekat Ratih. Sosok wanita berbaju putih lusuh itu tampak berdiri di sisi Ratih. Tenggorokanku tercekat, rasanya tak mampu menelan salivaku sendiri. Sejak kapan wanita itu di sana, bahkan tadi aku di tempat itu sosok itu tak menampakan diri.


__ADS_2