
"Pak, Bapak sakit?" tanya Ibra sambil menyuguhkan secangkir kopi.
"Oh, enggak. Kenapa? Makasih kopinya."
Ibra duduk tak jauh dari aku yang langsung mengambil cangkir kopi dan menyesapnya perlahan.
"Bapak hari ini kelihatannya murung. Seperti ada yang di pikirkan. Apa soal rumah makan ini? Bapak masih ingin menjualnya?" Ibra nampaknya khawatir kalau aku benar-benar akan menjual satu-satunya usahaku itu.
"Enggak. Aku tak akan menjual tempat ini. Kamu jangan khawatir." jawabanku membuat Ibra tampak berseri. Kasihan sekali dia, dia menjadi tulang punggung untuk keluarganya setelah Bapaknya meninggal karena kecelakaan kerja. Namun perusahaan tempat beliau bekerja tak memberikan kompensasi ganti rugi untuk membantu keluarganya.
"Lalu, kenapa Bapak murung?" rupanya Ibra bersimpati kepadaku. Aku sungguh bingung, akankah ku ceritakan saja soal keanehan Radit padanya? Atau hanya akan ku simpan sendiri saja dan ku rahasiakan semua keanehan yang beberapa hari ini aku rasakan di rumah maupun di rumah makan.
"Pak."
"Ibra, boleh saya bercerita?" tiba-tiba kalimat itu muncul dan terucap begitu saja. Mungkin memang seharusnya aku bercerita pada Ibra. Setidaknya ada tempat untuk ku berbagi keanehan ini, karena menurutku Ratih pun juga tampak lebih aneh belakangan ini.
Ibra tampak bingung mendengar ucapan ku. Mungkin dia juga merasa janggal padaku akhir-akhir ini. Karena aku pun juga merasakan perubahan sikapku belakangan ini karena memikirkan tentang Radit. Dari mana Radit berasal, siapa yang membuangnya di belakang rumah, dan mengapa bayi yang pernah berada di dalam rumah sangat mirip dengan Radit. Hanya saja, sosok bayi yang saat itu ku lihat berada di dalam rumah memiliki wajah yang menyeramkan. Sedangkan Radit, ia memiliki wajah layaknya bayi manusia pada umumnya. Tetapi yang membuatku berpikir kalau Radit adalah anak setan yang pernah ku lihat, Radit memiliki kulit yang sangat pucat. Sama seperti sosok anak kecil yang ku temui di dalam rumah.
Sesekali Ibra terlihat mengelus tengkuk lehernya. Bahkan kepalanya terlihat menoleh kesana kemari seperti memperhatikan sesuatu.
"Kamu cari apa?" tanyaku penasaran dengan tingkahnya sedari tadi.
"A... anu, Pak. Saya takut. Hehehee..." jawabnya nyengir. Aku menghela nafas panjang. Berharap Ibra bisa di jadikan teman untuk berkeluh kesah.
"Kamu janji ya, jangan ceritakan semua ini pada siapapun." ancam ku. Aku khawatir kalau ada yang akan mengambil Radit dari Ratih. Tak bisa ku bayangkan betapa hancurnya perasaan wanita yang amat sangat ku cintai selain Ibuku.
__ADS_1
"Pak, Pak Hadi." Ibra berlari tergopoh-gopoh menghampiri ku yang sedang memilah bahan makanan yang baru saja ku beli.
"Lihat ini." Ibra menunjukan ponselnya. Sejenak aku membaca sebuah artikel yang menceritakan soal setan bayi yang suka di pelihara oleh manusia.
"Bayi Ambar?" tanyaku dengan mengernyitkan dahi. Ibra mengangguk-angguk. Hampir sama ceritanya dengan kisah Bapak.
"Maksud kamu, Radit yang sekarang ada di rumah saya itu bukan bayi manusia?" aku mulai panik. Bagaimana dengan Ratih yang selama ini hanya berdua saja dengan Radit di rumah.
"Seberapa yakin kamu tentang ini?" aku mencoba memastikan.
"Saya kurang paham soal hal seperti ini, Pak. Tapi ini terlihat sangat mirip dengan apa yang Bapak ceritakan."
"Kamu handle semua, ya. Saya mau pulang." aku bergegas menuju mobil dan secepat mungkin melesat melaju di jalanan. Sepanjang perjalanan pikiranku pun sudah kacau. Memikirkan Ratih yang hanya berdua saja dengan Radit di rumah.
Nihil. Keduanya pun tak ada di sana. Aku mencoba ke depan dan mencari ke tempat tetangga. Siapa tahu ada yang melihat Ratih pergi bersama Radit.
"Kasihan ya, mungkin saking tertekannya."
"Iya, mana masih muda. Suaminya juga sebenarnya tidak mempermasalahkan."
"Mungkin karena sangat ingin punya anak, Bu. Makanya Bu Ratih seperti itu. Kita jangan begitu."
Aku menghampiri sekelompok Ibu-ibu yang sedang mengobrol karena tak sengaja aku mendengar nama Ratih di sebut.
"Ibu melihat Ratih istri saya?" tanyaku pada mereka. Seketika mereka terdiam, tak ada yang menjawab ataupun bersuara. Hanya saling sikut.
__ADS_1
"Saya tidak marah kalian membicarakan kami dibelakang, yang saya tanya, apakah di antara Ibu-ibu ada yang melihat Ratih?" tanyaku mengulangi pertanyaan.
"Ke ... kesana, Pak." tunjuk salah satu Ibu yang berada di situ.
"Kalau boleh tahu, apa yang kalian bicarakan tadi? Sungguh, saya tidak akan marah." ucapku penuh harap. Entah mengapa ada yang janggal pada ucapan mereka soal Ratih. Mengapa mereka bisa bilang kalau Ratih tertekan karena sangat ingin mempunyai anak. Sedangkan pasti ya Ratih membawa Radit di gendongannya.
"I ... itu, Bu Ratih seperti kurang waras." jawab salah satu Ibu yang membuat darahku seketika naik sampai di ubun-ubun. Hanya saja, aku sudah berjanji untuk tak marah.
"Maksud Ibu apa? Istri saya gila?"
Si Ibu yang mendengar ucapan ku seperti merasa bersalah dan terdiam. Ia tak menjawab pertanyaanku lagi.
"Bukan, Pak. Kami tadi melihat Bu Ratih menggendong dan menimang-nimang boneka. Bahkan di ajak ngobrol dan bercerita." jawab Ibu-ibu yang lainnya.
"Boneka?" aku mengernyitkan dahi. Bagaimana mungkin, kalau Ratih menggendong boneka, lalu dimana Radit.
"Ibu tidak salah lihat? Bukannya Ratih menggendong bayi?" tanyaku ikut bingung. Ketiga Ibu-ibu yang saat ini bersamaku pun terlihat kebingungan juga. Seperti ingin berbicara namun ragu.
"Ya...yakin, Pak. Karena kami melihatnya sendiri. Kami pikir, Bu Ratih sedang menggendong bayi saudaranya atau siapa. Tapi setelah kami dekati, rupanya hanya boneka. Apalagi wajah boneka itu sangat menyeramkan." Jawab salah satu wanita yang ku ketahui bernama Bu Nina.
Aku pergi ke arah di mana Ratih berjalan. Menurut cerita dari ketiga tetangga tadi, Nina pergi ke arah timur. Kesebuah lahan dimana lahan itu sudah lama tak terurus karena pemiliknya sudah meninggal. Bahkan, di lahan itu ada sebuah makam tua yang sudah tak terawat. Makam seorang wanita yang meninggal saat hamil tua. Sedangkan bayinya ikut di kuburkan tanpa mencari tahu apakah masih bisa di selamatkan atau tidak.
Pikiranku campur aduk memikirkan berbagai kemungkinan. Kalau apa yang di katakan para tetangga itu benar, itu artinya Radit memang bukanlah bayi manusia. Melainkan bayi bajang. Seperti apa yang di katakan oleh Ibra tadi. Atau, Radit di ambil oleh keluarganya dan Ratih jadi depresi karena harus kehilangan Radit. Tapi, mengapa Ratih tak menelepon ku dahulu.
"Aaarrrkkkk..." aku tak juga menemukan Ratih. Bahkan di ladang aku hanya melihat hamparan ilalang yang sangat tinggi dan beberapa pepohonan besar yang mungkin sengaja di tanam oleh pemiliknya terdahulu.
__ADS_1