
"Dik, bangun." Ratih tetap tak mau bangun. Sedangkan Radit tak ada di tempat tidur.
"Kemana itu anak." aku menggumam. Perlahan aku berjalan keluar kamar. Mengintip dari celah pintu kamar dan melihat keluar.
Suara tawa riang anak kecil dan celotehannya terdengar nyaring. Bahkan suara dia merangkak pun terdengar sangat jelas di keheningan malam. Tubuhku bergetar hebat, keringat dingin terasa membasahi seluruh tubuhku. Mendengar ocehan-ocehan kecilnya yang seharusnya lucu dan menggemaskan, namun tidak kali ini. Suara itu malah membuatku takut dan gemetar.
"Papa ... papa..." tiba-tiba sebuah tangan meraih kaki ku. Tak berani aku menoleh kebawah. Aku hanya terdiam dan menelan saliva. Bahkan nafasku dan juga detak jantungku terasa berhenti begitu saja.
"Papa... papa..." suara itu sama persis dengan suara yang ku dengar di luar. Namun mana mungkin saat ini, di dalam kamar ada anak yang memegang kaki ku. Cengkeramannya begitu kuat, seolah-olah seperti anak kecil yanh tak ingin di tinggalkan oleh orang tuanya.
"Ra-radit. Lidahku kelu saat menyebut nama Radit. Bayi mungil itu duduk di sela-sela kedua kaki ku dan berpegangan erat di kedua kaki ku. Wajah pucatnya menatap lekat ke arahku, dengan senyum seringai yang membuat bulu kudukku terasa meremang.
"Ra-radit belum bobok?" aku memberanikan diri bertanya dan berinteraksi dengan anak ini. Teringat akan perkataan Bu Sofi tentang bayi ambar. Apa yang harus ku lakukan terhadapnya dan bagaimana caraku merawatnya. Rupanya Bu Sofi juga memelihara bayi bajang. Kamar yang dulu ku siapkan ternyata untuk kamar mereka. Bahkan katanya, kini Bu Sofi memiliki lebih dari satu bayi bajang itu.
Radit tersenyum lebar. Matanya menatap lekat ke arahku berharap seperti ingin di gendong. Dengan rasa takut yang luar biasa, aku memberanikan diri untuk membalas senyumannya dan mencoba meraih tubuhnya. Radit terlihat sangat bahagia. Ia langsung melepaskan pegangannya pada kedua kaki ku dan meraih tanganku untuk segera di gendong.
"Radit bobok, ya." pintaku sembari meletakkannya di atas tempat tidur. Namun rupanya Radit memberontak. Ia menolak untuk tidur dan malah menangis dengan keras.
__ADS_1
"Cup ... cup ... cup..., Radit lapar, ya? Radit kangen mama nya, ya?" aku panik dan bingung me dapati Radit menangis dengan begitu keras membuat Ratih terbangun dan langsung meraihnya dari gendonganku.
"Sini, sayang. Sama mama." Ratih meraihnya dan langsung menyusui Radit seolah-olah Radit itu anak yang ia lahirkan sendiri. Pemandangan ini jujur membuatku terperangah. Bagaimana mungkin Ratih lupa kalau Radit bukan anaknya. Untuk ala Ratih menyusui Radit seperti seorang Ibu yang menyusui bayinya. Radit pun terlihat sangat lahap saat menyusu. Namun ekspresi wajah Ratih membuatku terkejut. Ratih tampak sangat kesakitan, namun anehnya dia tak menghentikan kegiatannya itu. Dia malah terus menyusui Radit sedangkan dia sendiri menggigit ujung bantal untuk menahan kesakitan itu.
"Apa-apaan ini, Dik?" aku merampas tubuh Radit dan meletakkannya di tempat tidur. Ratih yang nampak pucat dan lelah tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya kembali merapikan pakaiannya dan bercanda dengan Radit. Jujur saja pemandangan itu membuatku sangat marah.
"Ratih, jelaskan pada Mas, apa yang sudah kamu lakukan tadi." perintahku yang hanya di tanggapi dengan lirikan sekilas oleh Ratih.
"Dik, tolong jawab pertanyaan, Mas." ucapku kali ini dengan memohon.
"Ada apa lagi sih, Mas?" jawaban Ratih sungguh membuatku tak mengerti. Aku yang tak mengerti, atau memang Ratih yang tak sadar diri.
"Lah, apa salahnya, Mas. Radit kan anak kita. Masa aku tidak boleh menyusui anak sendiri?" jawabnya membuatku geleng-geleng kepala.
"Dik, sadar. Sadar, Dik." aku memeluk tubuh Ratih, namun ia berusaha menepisnya. Aku tak peduli, semakin ku eratkan pelukanku. Aku sungguh sangat merasa bersalah telah membuat istriku jadi seperti ini. Andai saja dulu aku tak memaksanya menggunakan kontrasepsi terlalu lama setelah menikah, mungkin kali ini kami sudah memiliki keturunan sendiri. Dengan alasan belum cukup mapan, aku selalu meminta Ratih untuk menunda memiliki momongan. Dan karena hal itulah rahim Ratih menjadi bermasalah dan susah untuk bisa memiliki keturunan. Atau bisa saja karena memang kami tidak di berikan kepercayaan oleh Yang Kuasa untuk memiliki keturunan sendiri.
"Dik, Radit memang anak kita."ucapan ku terputus saat menyebut Radit anak kita.
__ADS_1
"Tapi bukan kamu yang melahirkannya. Bagaimana mungkin kamu bisa menyusuinya?" tanyaku berharap membuat Ratih tersadar.
"Nyatanya Radit kenyang, Mas. Dia tidak rewel lagi setelah aku susuin. Itu artinya, aku bisa memberinya makan dengan menyusuinya " jawab Ratih membuatku bertambah emosi. Aku malas berdebat dengannya. Ku biarkan saja apa maunya. Aku keluar, berharap bisa mencari udara segar.
"Apa itu?" aku menangkap sosok wanita dengan rambut panjang dan menyapu tanah. Pakaian kumal yang ia kenakan pun tak kalah panjang dan terseret-seret di halaman menimbulkan suara seperti orang yang sedang menyapu. Wanita itu berhenti di sebuah pohon jambu air yang memang sudah ada sejak lama di halaman rumah. Ku amati dari pintu rumah, wanita itu terdiam dan tak lama kemudian ia duduk. Padahal tak ada ayunan di sana, namun kakinya bisa mengambang dan berayun-ayun di bawah dahan pohon yang cukup besar. Perlahan terdengar duia bersenandung, menyanyikan sebuah lagu yang terdengar sedang menimang sesuatu.
Seluruh tubuhku terasa dingin dan menggigil. Aku bertopang pada engsel dan dinding pintu dan bertahan supaya tidak terjatuh dan pingsan.
Saat itulah aku menyadari siapa sosok itu. Wajah yang pucat dan kelopak mata yang hampir terlihat berlubang. Serta rambut panjang dan kaku menyapu tanah itu berhenti dan menatap ke arah pintu rumahku. Suara tawanya yang mengikik membuat detak jantungku berdegub tak berirama, kaki yang tadinya kokoh menyangga badan kini lemas bak tak bertulang. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuh. Aku berusaha menghindar dari tatapannya.
Aku yang saat itu sedang dilanda emosi dan berniat ingin mencari udara segar, segera mengurungkan niat dan kembali menutup pintu yang sempat terbuka.
"Sial." umpatku saat menyadari bahwa sosok itu menoleh ke arahku.
"Semoga dia tak menyadari kalau aku ada disini." perlahan aku berjalan menuju kamar sesaat setelah menutup pintu. Dengan kaki yang masih gemetaran aku perlahan menuju kamar. Tawa wanita tadi masih nyaring terdengar. Entah mau sampai kapan ia akan tertawa seperti itu.
Aku menarik selimut dan menutupkannya ke seluruh tubuh. Namun hawa dingin masih saja terasa menyelimuti tubuh. Aku menggigil, kedinginan. Rupanya selimut tebal tak mempan menutupi rasa takutku pada sosok wanita itu. Suara tawanya sudah tak terdengar, namun rasa takutku belum juga hilang. Aku masih saja bersembunyi di balik selimut. Dan pada akhirnya...
__ADS_1
"Aarrkkhh..." aku berusaha menahan suara suara saat sebuah tangan dingin menyentuh ujung kaki ku.