
Sore itu juga aku pergi ke rumah Mbah Trimo. Berbekal nasehat dari Mbah Sum, aku berniat meminta pendapat juga pada Mbah Trimo.
"Benarkah seperti itu, Mbah?" tanyaku pada sosok lelaki tua di hadapanku setelah ku ceritakan semua yang di ucapkan oleh Mbah Sum siang tadi.. Meskipun beliau masih seumuran dengan Ibuku, namun karena tetangga sekitar kini biasa memanggilnya "Mbah", maka aku pun ikut serta memanggilnya dengan panggilan yang sama.
"Hhmmm..." Mbah Trimo hanya berdehem. Namun tak ada kata-kata yang ia keluarkan dari mulutnya.
"Mbah." panggilku lagi. Tak sabar aku mendengar jawaban dari ceritaku tadi. Namun lelaki itu tak juga kunjung menjawab, membuat perasaanku menjadi tak tenang.
"Tenanglah, Di. Jangan terlalu gelisah seperti itu." seperti mengetahui apa yang ku rasakan. Mbah Trimo menepuk-nepuk pundakku dengan kencang membuat aku sedikit tersadar dari pikiranku yang melanglang buana entah kemana.
"Saya khawatir, Mbah. Jujur saya takut akan membuat keluarga saya berantakan." ucapku sambil sekilas melihat ke arah Suci yang tiba-tiba saja melintas dari samping rumah. Wanita yang sudah menjadi temanku sejak kecil itu hanya mengangguk saat kedua mata kami saling beradu. Aku hanya membalas anggukan kepalanya dengan senyuman.
Tiba-tiba saja tubuhku merasakan hawa panas yang luar biasa setelah kepergian Suci masuk ke dalam. Entah apa yang salah. Ku rasa hari yang sudah sore bahkan menjelang petang ini tak mungkin bisa membuat tubuhku menjadi kepanasan seperti ini. Aku mengipas-ngipaskan telapak tanganku berharap bisa mengurangi rasa panas yang menjalar di setiap inci tubuhku. Mbah Trimo yang menyadari perubahan tingkah lakuku lantas segera mengambil air putih yang sejak tadi sesaji di bale dan segera membacakan doa entah apa ke dalam minuman itu.
"Minumlah. Baca istighfar sebanyak mungkin." pinta Mbah Trimo yang ku lakukan tanpa banyak bertanya. Rasa panas yang ku rasakan mengalahkan rasa keingintahuanku tentang hal apa yang saat ini sedang terjadi padaku.
__ADS_1
Tampak sosok mengerikan berdiri di samping rumah. Sosok wanita yang terlihat murka dengan menampakkan raut wajah tak senangnya padaku. Sosok itu berdiri tepat di dekat Suci yang sedang menimang anaknya. Namun Suci tetap terlihat tenang sambil sesekali terdengar senandung dari mulutnya.
"Mbah, i...itu." aku menunjuk ke arah sosok itu berdiri. Rupanya Mbah Trimo juga sudah mengetahuinya. Beliau meminta Suci untuk membawa Bowo, anaknya untuk lekas masuk ke dalam. Entah apa yang di lakukan oleh Mbah Trimo. Mulutnya berkomat kamit membaca doa yang entah apa doanya aku pun tak tahu. Yang ku tahu, Mbah Trimo meminta sosok wanita itu untuk pergi dan berhenti mengganggu Suci dan juga anaknya. Cukup lama ku lihat Mbah Trimo seperti sedang bernegosiasi dengan sosok itu. Aku yang merasakan hawa panas di sekujur tubuh hanya memilih untuk melihat mereka menyelesaikan masalah dengan mengguyur air mineral yang tadi Mbah Trimo letakkan di meja.
"Hadi, pulanglah. Sebentar lagi maghrib." aku di kejutkan oleh suara Mbah Trimo yang tiba-tiba saja muncul di dekatku. Mataku melihat ke sekitar, mencari sosok wanita yang tadi berada bersama Mbah Trimo.
"Jangan di cari. Sudah, kamu pulang saja. Jangan dekat-dekat dengan wanita manapun, setan itu sudah terlanjur jatuh cinta padamu. Dia tak pernah senang melihatmu dengan wanita manapun."
Belum sempat aku meminta penjelasan pada Mbah Trimo, beliau malah mengusirku untuk cepat-cepat pulang karena hari memang sudah hampir gelap.
"Cepat Hadi. Sebelum gelap. Larilah kalau perlu." pesan Mbah Trimo padaku.
"Ini, bawalah. Gunakan untuk campuran air mandimu" Mbah Trimo memberikan air dalam botol yang sudah tak penuh isinya. Seingat ku, itu air yang ku gunakan untuk mengguyur kepalaku saat tubuhku terasa seperti terbakar tadi. Namun kini sudah kembali seperti semula.
Langkahku terhenti manakala melewati kebun pisang milik tetangga yang sudah lama di tinggalkan oleh pemiliknya. Aku teringat saat dimana aku hanya berputar-putar di sekitar sini padahal saat itu hari masih siang. Kembali aku pun teringat pesan Mbah Trimo waktu itu, untuk tak menoleh ke belakang apa pun yang terjadi. Kini pun aku melakukan hal yang sama. Padahal tadi Mbah Trimo tak berpesan apa pun kecuali untuk lekas tiba di rumah sebelum petang.
__ADS_1
Ku raba tengkuk leher yang terasa meremang tiba-tiba. Suasana sekitar sudah sangat sepi. Rumah-rumah warga yang jaraknya lumayan saling berjauhan pun sudah terlihat sepi. Semua pintu dan jendela sudah di tutup semua. Bahkan lampu bohlam yang biasa mereka gunakan untuk memberikan sedikit pencahayaan teras rumah mereka sudah di nyalakan. Tak kalah pula lampu jalanan yang sengaja di pasang oleh warga guna menerangi sepanjang perjalanan. Meski lampu-lampu jalanan di kampung tak seterang dan sebesar di kota, namun setidaknya bisa mengurangi hawa seram bagi siapa saja yang melintas.
Rintik hujan tiba-tiba turun. Disertai dengan semilir angin malam yang mulai merangkak menenyapu tubuhku yang berjalan cepat. Di ujung jalan, sudah tampak tiang listrik tak jauh dari rumahku. Tinggal beberapa meter lagi maka aku akan tiba di rumah.
Srreesseeett...
Cahaya kilat seolah menyambar, membuat bumi sejenak menjadi terang. Tampak sosok perempuan berdiri di bawah tiang listrik di bawah rintik hujan. Ku amati dari kejauhan. Wanita itu tak bergerak sedikit pun, bahkan sosok itu tak mencari perlindungan dari rintik hujan yang lumayan deras. Aku mengurangi laju kecepatan langkah kaki ku. Menelisik untuk memastikan siapa sosok yang kini berdiri di bawah tiang listrik itu.
"Astaghfirullah." hanya itu yang mampu ku ucapkan berkali-kali. Segera ku tundukkan kepala dan ku percepat langkah kaki. Melewati sosok itu begitu saja dan kembali berlari untuk segera sampai di rumah. Tangan kananku masih memegang botol air yang isinya tinggal setengah. Sedangkan tangan kiri ku memegang dada untuk menetralisir degub jantung yang semakin tak beraturan.
"Assalamu'alaikum." ku dorong pintu depan setelah mengucap salam. Tampak Ibu masih berbalut mukena muncul dari balik pintu kamar.
"Bagaimana, Di? Apa kata Mbah Trimo?" tanya Ibu sambil menggandeng pergelangan tanganku. Aku mengangkat bahu sambil menghembuskan nafas kasar. Ku jatuhkan bobot tubuh ini di bale tempatku biasanya beristirahat saat siang hari. Sedangkan Ibu bergegas ke belakang untuk merebus air.
"Hadi bingung, Bu." ucapku pada Ibu yang sudah kembali dari belakang. Kini mukena sudah beliau lepas dan simpan di kamarnya.
__ADS_1
Ku ceritakan semua yang terjadi padaku saat tadi berada di rumah Mbah Trimo. Dari saat aku tak sengaja bersitatap dengan Suci hingga tubuhku yang tiba-tiba terasa panas seperti terbakar.