
Dengan tubuh yang sempoyongan, Rudi mencoba untuk bangkit. Namun aku yang sudah terlanjur emosi malah semakin kalap memukulinya hingga kembali terjatuh dan tersungkur. Wajah sombong dan menyebalkan itu selalu terbayang dalam ingatan saat setiap bogeman ku layangkan ke wajah dan tubuhnya. Apalagi penghinaan yang baru saja ku terima membuatku semakin susah untuk mengendalikan diri.
"Minta ampun kamu, baru aku sudahi semua ini." ucapku dengan nafas yang tersengal. Namun tenagaku justru semakin menggila. Ibra yang sedari tadi berusaha menghentikan ku akhirnya menyerah dan melepaskan ku. Aku berhenti saat sebuah suara memintaku untuk berhenti. Bu Sofi, berteriak dan memintaku untuk mengakhiri semuanya. Gara-gara ucapan Rudy membuatku lupa dengan siapa saat ini aku berada.
"Kamu, ku tunggu permintaan maaf mu." aku menuding wajah Rudi yang tampak bengkak dan memerah. Sedangkan Dessy berusaha memapah tubuh suaminya. Dengan sekuat tenaga Rudi mencoba bangkit dan akhirnya mereka pergi meninggalkan rumah makan.
Ibra memberikan segelas air putih kepadaku dan segera ku teguk hingga tandas. Namun perasaan ku masih saja bergemuruh dan susah untuk di kendalikan.
"Kalau boleh tahu, apa yang temanmu itu katakan? Sehingga membuatmu begitu marah?" Bu Sofi mendekat dan bertanya. Aku ragu untuk memberitahukan apa yang Rudi katakan padaku, namun aku sungguh merasa muak dan jengkel dengan kata-kata itu, membuatku sangat ingin melampiaskannya.
"Tidak apa-apa kalau kamu tak mah bercerita. Hanya saja, siapa tahi aku bisa membantu. Setidaknya mengurangi beban yang kamu rasakan saat ini." ucap Bu Sofi.
"Kamu sudah ku anggap seperti keponakanku sendiri. Dari dulu kamu tak pernah ku anggap sebagai anak buah. Bahkan saat aku tahu kamu membuka usaha disini, aku langsung datang dan mencarimu." ucap Bu Sofi sambil meneguk sisa minuman yang ada di hadapannya.
Aku menghembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan gemuruh di dalam dada. Kemudian meminta Ibra kembali mengisi penuh gelas kosong ku.
Tak ada obrolan lagi dengan Bu Sofi. Kami berdua hanya duduk dan saling diam. Beliau sibuk dengan handphonenya. Sedangkan aku sibuk dengan isi kepalaku yang bermacam-macam. Gara-gara ucapan Ruddy, aku jadi berpikir yang tidak-tidak terhadap istri ku.
"Hallo, Bi. Jangan lupa nanti semua barang yang sudah saya siapkan kamu berikan ke Violla, ya. Dan jangan lupa juga buat ganti bajunya." ucap Bu Sofi lewat sambungan telephone.
__ADS_1
"Ibu punya anak?" spontan saja muncul pertanyaan yang ku rasa memang lancang dan tak sopan. Bu Sofi tersenyum. Bahkan beliau tak merasa tersinggung.
"Iya, anak arwah." jawabnya singkat membuatku melongo saat mendengar jawabannya.
"Hah? Maksudnya?"
Bu Sofi tertawa geli. Rupanya beliau tidak marah dengan ketidak tahuanku.
"Kamu ingat dulu saat ku minta untuk mendekor kamar?" tanyanya membuatku sedikit mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Dimana saat itu aku masih menjadi karyawan beliau dan Ruddy serta Dessy datang ke restoran untuk mempermalukan aku.
"I-iya. Memangnya kenapa? Oohh, Ibu adopsi anak waktu itu?" tanyaku tanpa basa basi. Aku tahu ini lancang, namun jujur aku juga penasaran. Lagi pula itung-itung untuk bahan obrolan. Karena jujur aku tak tahu harus mengobrol apa dengan mantan atasanku itu, sedangkan Bu Sofi belum juga ada tanda-tanda untuk meninggalkan tempat duduk. Lagi pula, tak ada alasan untukku meninggalkan beliau duduk seorang diri hanya karena ingin melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Lagi pula tak sopan membiarkan orang kecewa karena telah menyempatkan waktu sibuknya hanya untuk menemuiku.
Rasa iba muncul saat Bu Sofi menceritakan setiap detail kehidupan yang beliau jalani. Tentang bagaimana awalnya dia mengambil anak arwah sebagai anak angkatnya. Hingga sekarang usahanya kembali maju dan berkembang pesat. Mengingatkanku pada sebuah hal yang terjadi dalam kehidupanku akhir-akhir ini. Hingga pada akhirnya mulutku mulai terbuka dan mengalirlah juga cerita hidupku.
"Saya juga punya anak angkat, Bu." ucapku mengawali cerita.
"Oh, Ya? Siapa namanya? Adopsi anak dari mana?" tanya Bu Sofi sambil tersenyum.
Sambil menelan saliva perlahan aku memberi tahukan di mana aku menemukan anak yang saat ini di rawat istriku sebagai anak kami.
__ADS_1
"Di lahan kosong belakang rumah, Bu. Tapi sebelumnya saya pernah lihat beberapa kali dia di dalam rumah. Entah masuk dari mana dan anak siapa saya tak pernah tahu. Bahkan hingga sekarang hampir tiga bulan tinggal bersama saya, tak ada satupun orang yang bertanya dan mencari keberadaan anaknya." ucapku panjang lebar.
"Itu anak manusia?" Bu Sofi tampak terkejut. Sepertinya beliau sudah mengetahui kemana aku akan melanjutkan cerita. Aku menggeleng perlahan. Lalu kembali melanjutkan cerita.
"Tidak, Bu. Beberapa hari lalu datang sosok wanita yang sangat menyeramkan. Dia bilang ingin pergi balas dendam. Sehingga meminta istriku untuk merawat anaknya sementara." Bu Sofi mengangguk-angguk. Ku rasa beliau paham dengan apa yang terjadi padaku.
"Kalau begitu, kamu rawatlah. Dia akan memberikan keuntungan kepadamu. Sudah terbukti kan?" ucap Bu Sofi sambil tersenyum. Aku yak meng iyakan ucapannya. Namun juga tidak menyangkalnya. Aku hanya terdiam.
"Rawatlah, maka kamu akan mendapatkan imbalannya. Toh kamu ingin membalas kedua temanmu tadi, kan?" ucap Bu Sofi membuatku tak bisa berkata-kata.
Tanpa ku minta, Bu Sofi menjelaskan bagaimana cara aku mengasuh bayi ambarku itu. Meskipun aku ragu untuk menurutinya, karena menurutku itu salah. Tak seharusnya aku menggunakan hal semacam itu untuk mengembalikan usahaku yang sempat macet. Namun memang kenyataannya usahaku kembali ramai saat Radit datang dan menjadi anggota baru di keluargaku.
"T-tapi, aku tak pernah tahu hari kematiannya, Bu." jawabku lirih.
"Tanya sama istrimu. Aku yakin dia lebih tahu. Apalagi dia sudah bertemu dan di pasrahkan langsung oleh ibunya." ucap Bu Sofi yang tak bisa ku sangkal dan ku tolak. Aku hanya terdiam mendengarkan hingga akhirnya Bu Sofi beranjak dan berjalan meninggalkanku yang sedang memikirkan apa yang sebaiknya ku lakukan. Aku hanya termenung, tak tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya...
"Hallo, Ratih. Kamu tahu kapan Radit meninggal?" ucapku pada istriku melalui sambungan telephone. Sedangkan lama sekali di ujung sana Ratih terdiam dan tak bersuara sama sekali. Aku menunggu cukup lama hanya untuk mendengar jawabannya.
"Sama dengan tanggal kamu lahir, Mas." jawaban Ratih membuatku terdiam. Kebetulan sekali tanggal dan bulan kami bersamaan, hanya tahun saja yang membedakan. Aku mengakhiri sambungan telephone kerumah. Lain kali, akan ku tanyakan mengapa Radit meninggal.
__ADS_1