
Aku mencoba untuk memejamkan mata. Dengan tubuh yang masih gemetar aku mencoba meraba pintu, mencari gagang pintu untuk ku buka dan berlari.
"Sial." sekuat apapun aku mencari, namun gagang pintu itu tak juga ku temukan. Sepertinya jarak ku dengan pintu masih cukup jauh. Untuk membuka mata dan melihat dimana pintunya saja aku tak bisa. Rasa takut itu menguasai diriku, sehingga memaksaku untuk tetap terpejam.
Desir halus di bawah terasa begitu dingin. Seperti ada nafas yang ikut berhembus saat aku menghembuskan nafas. Aroma menyengat tercium menyelusup masuk ke paru-paru. Rasa mual dan ingin muntah tiba-tiba saja datang. Ku coba untuk menahan nafas, namun rupanya di bawah sana masih saja ada sosok mengerikan itu. Terasa dari sentuhan kain yang menempel di kakiku. dan juga hembusan nafas dingin yang terasa seperti meniup-niup wajahku. Perutku bergejolak, memaksa isinya untuk di keluarkan. Sekuat tenaga aku menahan agar pertahananku tidak jebol.
Ku coba membaca surat-surat pendek yang ku hafal. Untung saja aku sempat belajar mengaji saat waktu luang di rumah makan. Sedikit demi sedikit aku mulai belajar menghafalkan dan mencoba mengamalkan bacaan surat-surat pendek. Menyesal mengapa tidak dari dulu aku mempelajari semuanya.
Hembusan nafas sudah tak terasa lagi di wajahku. Suasana kamar juga mendadak sepi dan hangat. Tidak seperti sebelumnya yang terasa dingin dan mencekam. Perlahan aku mencoba untuk membuka mata. Tak ada siapa pun di kamar. Bahkan Ratih yang ku kira tidur di kamar pun tak tampak. Aku berlari keluar, mencari Ibu yang ternyata belum juga tidur.
"Bu, Ratih hilang." ucapku spontan. Ibu yang sedang bersiap untuk tidur seketika terbangun dan mendekat.
"Hilang bagaimana? Jangan mengada-ada." ucap Ibu sambil memukul lenganku.
"Ratih tidak ada di kamar, Bu." ucapku dengan setengah berbisik.
"Coba kamu cari kebelakang. Baru saja Ibu berpapasan sama istrimu di dapur. Tapi..." Ibu tak melanjutkan perkataannya. Tampaknya Ibu sedang berfikir sesuatu.
"Tapi apa, Bu?" aku di buatnya penasaran.
"Cepat sini." Ibu menarik lengan tanganku berjalan menuju dapur. Seperti dua orang pencuri yang takut ketahuan oleh sang pemilik rumah, aku dan Ibu berjalan perlahan dan mengendap-endap.
"Ada apa, Bu? Kenapa kita seperti ini?" tanyaku penasaran. Ibu meletakkan jari telunjuknya di depan mulut, memberikan isyarat agar aku tetap diam.
"Lihat, itu istrimu. Aneh kan?" tanya Ibu sambil menunjuk ke arah Ratih. Aku mengamati gerak-gerik istriku. Tak ada yang aneh, hanya saja Ratih hanya berdiri dan terdiam tanpa melakukan apapun. Ratih berdiri menghadap ke pintu keluar menuju sumur di belakang rumah. Bahkan pintu keluar pun masih tertutup rapat, lalu untuk apa Ratih menatap pintu lama-lama seperti itu.
__ADS_1
"Sudah dari tadi istrimu seperti itu. Ibu sudah tegur, tapi dia diam saja." ucap Ibu pelan.
"Mengapa Ibu tak memberitahu ku?"tanyaku.
"Ibu sudah mengetuk pintu kamarmu berkali-kali, tapi kamu diam saja. Tidak ada sahutan. Ibu kira kalian sedang bertengkar. Makanya Ibu takut jika terus memanggilmu ataupun membujuk istrimu." jawab Ibu dengan tubuh gemetar.
Aku berpikir keras, jika Ibu sudah mengetuk pintu kamar berkali-kali lalu mengapa aku tak mendengar ketukan pintu dan panggilan Ibu sama sekali? Bahkan rasanya tadi suasana rumah pun juga sangat sepi, tak ada suara apapun termasuk binatang-binatang malam.
"Dik." ku panggil lirih Ratih istriku. Wanita yang sudah ku nikahi hampir enam tahun itu tampak terdiam. Sedikitpun tak ada respon darinya. Ia hanya berdiri dan terus menatap pintu ke arah belakang rumah.
"Dik." ku beranikan diri untuk menghampirinya. Ku tepuk perlahan pundaknya.
"Brruuuggg..." seketika tubuh itu limbung dan ambruk. Untung saja aku masih sempat menahannya sehingga Ratih tak sampai jatuh ke lantai.
"Tolong bukakan pintu kamar, Bu."
"Ini, berikan ini." Ibu memberikan minyak angin untuk di oleskan di bawah hidung Ratih.
Dengan sigap Ibu membantuku mengurus Ratih yang tampak lemah dan sangat pucat. Bahkan tubuhnya pun terlihat sangat kurus. Tak terasa air mataku menetes saat melihat kondisinya yang begitu memprihatinkan.
"Pprrraaanggg..." terdengar suara benda jatuh dari arah dapur. Aku bergegas berlari saat tak mendekati Ibu di kamar bersama kami.
"Bu, ada apa?"
Terlihat Ibu yang duduk di pojokan dengan posisi memeluk lutut.
__ADS_1
"Ha-hadi, ta-tadi ada bayi disitu." ucap Ibu sambil menunjuk ke bawah meja. Aku melongok ke bawah meja, namun tak mendapati apapun di sana.
"Bayi apa, Bu?" tanyaku penasaran. Aku tak membantah, karena hal itu memang sudah biasa ku alami.
"Ba-bayi, mukanya hancur. Kulitnya merah dan mengelupas." cerita Ibu terpatah-patah.
Aku memapah Ibu untuk bangun dan memberikannya segelas air putih. Di teguknya hingga tandas tak tersisa.
"I-ibu takut sekali, Hadi." ucap Ibu dengan tangan gemetar.
"Ra-ratih. Bagaimana dengannya?" pertanyaan Ibu membuatku tersadar. Aku lupa jika aku juga meninggalkan Ratih seorang diri di kamar. Bergegas kami berlari dan masuk ke kamar dan mendapati Ratih sedang terduduk di tepi ranjang menghadap ke jendela.
"Ratih." Ibu menghampiri Ratih. Ratih menoleh dan tersenyum. Namun bukannya lega, namun senyuman Ratih terlihat menyeramkan. Senyum seringai yang Ratih tampakkan membuat Ibu mundur perlahan. Ratih berdiri, berjalan mendekat ke arah Ibu, dan mengikuti Ibu yang mundur ketakutan. Langkah Ibu terhenti saat tubuh Ibu menabrak tubuhku yang justru hanya berdiri terpaku. Melihat kondisi Ratih yang seperti ini membuat hatiku sakit. Tak tahan rasanya melihat Ratih begitu menderita.
"Dik." aku berusaha menahan tubuh Ibu dan menyembunyikannya di belakang tubuhku. Aku mencoba menyadarkan Ratih dengan menggoncang-goncangkan kedua bahunya.
"Sadar, Dik. Sadarlah."
Ratih hanya menatap lekat ke arahku. Kedua kelopak matanya menghitam, kulitnya pucat pasi dan bibirnya kebiruan. Ku tepuk-tepuk agak keras kedua bahunya berharap dia akan sadar.
"Aarrrkkkhhh..." kedua tangan Ratih mencekik erat leherku. Kuat sekali cengkeraman kedua tangannya hingga membuatku kuwalahan. Ibu yang berusaha menolong dan melepaskan tangan Ratih malah di dorongnya hingga terpental.
"Sadar, Nduk. Sadar. Istighfar." Ibu berteriak berharap Ratih akan berhenti dan melepaskan cengkeramannya. Namun justru Ratih malah tampak semakin marah dan mempererat cengkeramannya membuat nafasku terengah engah. Sebelum pandanganku gelap, aku mendengar Ibu membaca ayat kursi dengan keras. Berkali-kali Ibu membaca surat itu dan terlihat cengkeraman Ratih mulai melonggar. Ratih tampak kebingungan, ia melepas salah satu tangannya dan berusaha menutup telinganya. Aku yang sadar dengan situasi ini berusaha melepaskan cengkeraman tangan Ratih yang satunya.
"Aaarrkkhhh..." Ratih berteriak manakala aku berhasil melepaskan tangannya dari leherku dan menguncinya di belakang. Dengan bantuan Ibu, aku mengikat tubuh Ratih dengan kain selendang dan mengikatkannya di tepi ranjang.
__ADS_1
"Maafkan, Mas, Dik." ucapku lirih. Air mataku menetes melihat Ratih memberontak dan berteriak meminta untuk di lepaskan.