
"Masak apa, Dik?"
Ku lihat Ratih sedang sibuk mengaduk-aduk isi panci di dapur. Ratih menoleh, hanya senyum manis yang ia berikan padaku sebagai jawaban. Sudah beberapa hari ini ku lihat Ratih tampak sehat. Bahkan dia kini tak lagi terlihat melamun ataupun membahas tentang Mbak Ranti maupun Radit. Bahkan sosok Radit pun menghilang entah dimana sekarang. Semenjak kami di kampung, Radit sudah jarang muncul di hadapanku. Terakhir kali waktu malam itu di saat Ratih benar-benar tak sadarkan diri. Saat dimana Ibu juga di ganggu oleh makhluk kecil itu dan juga sosok Ibunya.
"Kamu duduk dulu, Mas. Sebentar lagi sayurnya matang." pinta Ratih padaku. Aku pun tak banyak protes, aku memilih untuk menuruti ucapannya saja.
"Dik, kamu sudah baikan?" tanyaku memulai pembicaraan pada istriku yang masih menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Iya, Mas. Memangnya ada apa?" jawabnya datar. Ibu yang baru saja bergabung dengan kami di ruang makan hanya terdiam, sesekali netranya menoleh ke arahku maupun Ratih.
"Bagaimana kalau lusa kita kembali ke Kota? Rasa-rasanya sudah terlalu lama kita meninggalkan rumah makan." ucapku yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Ratih.
"Kamu beneran tidak apa-apa, Nduk? Apa tidak sebaiknya biar kamu disini saja dulu nemenin Ibu?" tawar Ibu pada istriku. Namun Ratih tampak keberatan.
"Tapi, Bu. Ratih harus ikut kemana Mas Hadi pergi. Ibu tenang saja, Ratih baik-baik saja kok." jawabnya di iringi dengan senyuman. Rasa khawatir Ibu pada Ratih pasti sangat besar. Ibu tak ingin jika Ratih akan kembali seperti kemarin jika kembali ke kota. Setidaknya akan ada Mbah Trimo yang siap membantu jika di kampung Ratih akan menunjukan tabiat seperti kemarin.
"Tidak apa-apa, Bu. Biarkan Ratih ikut pulang denganku. Kalau perlu, Ibu juga ikut kami ke kota. Bukan begitu, Dik?" tanyaku pada Ratih yang hanya di jawab dengan anggukan.
"Ibu betah di kampung, Di. Setidaknya Ibu bisa sering-sering berkunjung ke makam Bapakmu dan juga adikmu jika Ibu tetap disini." ujar Ibu memberikan alasan.
"Tapi, Bu. Hadi tidak tenang membiarkan Ibu seorang diri di sini. Sedangkan kami tidak bisa sering-sering pulang." aku memberikan alasan juga berharap Ibu akan berubah pikiran.
__ADS_1
"Tidak, Di. Ibu mau disini saja. Kamu jangan khawatir. Disini banyak tetangga yang menemani Ibu. Bahkan Ibu bisa ke ladang setiap hari. Badan Ibu akan lebih sehat jika setiap hari ke ladang." jawab Ibu sambil terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Tapi, Bu.."
"Sudah, sudah. Besok kalau Ibu ingin main ke rumahmu, Ibu akan menelepon kalian. Tapi untuk saat ini Ibu benar-benar ingin tinggal disini dulu." tolak Ibu yang tak bisa ku bantah lagi.
*
Aku memilih berangkat pagi-pagi sekali. Setidaknya kami akan sampai di kota saat hari masih siang. Selain itu, aku juga berusaha untuk meminimalisir resiko adanya gangguan selama perjalanan.
"Kalian hati-hati di jalan, ya. Kabari Ibu kalau sudah sampai." pinta Ibu pada kami berdua. Tampak raut cemas pada wajah Ibu. Namun kami selalu memastikan untuk tetap baik-baik saja selama di perjalanan maupun saat tiba di kota nanti.
"Jangan lupa sholat, ingat pesan Ibu dan Mbah Trimo, ya." kembali Ibu mengingatkan apa yang seharusnya kami lakukan. Aku mengangguk dan segera menginjak tuas gas. Perlahan mobil keluar dari pekarangan rumah Ibu. Terlihat Ibu masih menatap kepergian kami hingga belokan membuat aku tak bisa melihat tubuh Ibu lagi dari kaca spion mobil.
Jantungku tiba-tiba berdetak kencang, aliran darah terasa cepat manakala sekilas melihat sosok wanita di belakang Ibu. Secepat kilat menghilang tepat sebelum aku membelokkan mobil ke jalan utama.
"Kenapa berhenti, Mas?" tak ku jawab pertanyaan Ratih. Tubuhku gemetar hebat. Keringat dingin mulai keluar dan membasahi dahi serta bajuku.
"Mas." Ratih menepuk pundakku. Aku menoleh ke belakang karena aku merasa ada yang turut serta di mobil kami selain aku dan Ratih.
"Ada apa?" Ratih tampak panik juga. Terlihat dari wajahnya yang tiba-tiba memucat dan ikut menoleh ke belakang sepertiku.
__ADS_1
"Dik, baca doa yang kamu bisa, ya. Mas mau telpon Ibu sebentar." ujarku sambil mengambil gawai di saku celana.
"Tapi kan kita bari saja jalan, masa sudah mau telepon Ibu saja." ucap Ratih yang tak ku hiraukan pertanyaannya.
"Kamu baca doa saja, Dik. Mas hanya ingin memastikan Ibu saja." berkali-kali ku tekan nomor untuk menelepon Ibu, namun tak kunjung di angkat.
"Hallo, ada apa, Di? Apa ada yang tertinggal?" suara Ibu di seberang sana membuatku sedikit lega.
"Bu, apa Ibu baik-baik saja?" tanyaku pada wanita yang baru beberapa menit yang lalu ku tinggalkan.
"Iya, Di. Memangnya ada apa? Ibu baru saja mengobrol dengan Mbah Sum di depan."
Setidaknya aku sudah tenang mengetahui jika Ibu baik-baik saja.
"Yasudah, Bu. Hadi hanya khawatir sama Ibu saja." jawabku singkat.
"Oalah, Di. Yasudah, sana kamu hati-hati. Jangan terlalu banyak pikiran. Fokus, ya, dan ingat sama kewajiban." perintah Ibu yang entah sudah keberapa kalinya.
"Iya, Bu. Assalamu'alaikum." aku mengakhiri panggilan dengan salam. Baru teringat jika tadi aku tak memberi salam terlebih dahulu saat menelepon.
"Ada apa sih, Mas?" Ratih rupanya masih penasaran dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Dik. Aku hanya khawatir sama Ibu saja." berharap Ratih tak bertanya lebih untuk kelanjutannya.