Bayi Ambar

Bayi Ambar
Terjerat Cinta


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Ibu selalu saja mengulas kembali ucapan Pak Trimo. Ibu memberikan berbagai nasihat untukku lebih waspada dengan setan yang mengganggu keluargaku.


"Hadi, kamu dengar Ibu apa tidak?" Ibu memukul keras lenganku, membuatku tersentak dan tersadar dari lamunan. Perkataan Pak Trimo benar-benar telah berhasil menguasai seluruh isi pikiranku. Aku terngiang-ngiang ucapan beliau yang mengatakan kalau arwah Ranti jatuh cinta padaku dan berusaha menguasaiku.


"Bagaimana mungkin, Pak? Saya kan suami dari adiknya sendiri?" bantahku berharap akan mematahkan keyakinan Pak Trimo.


"Namun itu kenyataannya, Hadi. Bapak juga tidak menyembunyikan apapun dari mu. Bapak mengatakan semua itu demi kebaikanmu." ucap Pak Trimo sambil meneruskan menghisap kretek yang sempat hampir mati di tangannya.


Aku terdiam. Memikirkan setiap detail cerita yang kemungkinan terjadi padaku. Ratih sengaja mengusik almarhum kakaknya untuk kembali dan membalas dendam atas kematian dirinya sendiri karena Ratih merasa bersalah telah membuat kakaknya meregang nyawa karena ulah laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu.


"Istrimu tidak tahu kalau arwah Kakaknya akhirnya menyukai suaminya juga. Jauhkan mereka berdua. Atau istrimu juga akan mati bersamanya." itulah ucapan Pak Trimo yang membuat pikiranku kalut. Sejak tadi aku hanya memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa memberitahu Ratih tanpa sepengetahuan Ranti. Setahuku, selama ini Ranti dan Radit selalu berada di sekitar Ratih.

__ADS_1


"Mas, dari mana saja sih kamu." Ratih menerorku dengan berbagai pertanyaan. Ibu mencoba menenangkan Ratih.


"Maaf, Nduk. Tadi Ibu yang meminta Hadi untuk mampir kerumah saudara terlebih dahulu. Banyak orang disana, tidak enak jika mengangkat telephone. Jadi Handphone suami mu sengaja di matikan."


Ratih mendengus kesal, namun ia tak berani membantah Ibu. Ratih hanya mengangguk dan mengambil alih barang belanjaan yang Ibu bawa karena kami tadi juga sempat mampir ke pasar desa untuk mengulur waktu supaya Ibu bisa memberikan nasihat kepadaku.


"Ingat, Di. Jaga istrimu dari setan itu. Seharusnya orang yang sudah meninggal tidak boleh ikut campur tangan urusan dunia." ucap Ibu membuatku meremang. Aku mengusap kasar tengkuk leherku yang terasa dingin. Mengingat tadi Pak Trimo juga mengatakan bahwa arwah Ranti mengikutiku hingga ke rumahnya dan mengganggu anak Suci karena aku dekat dengan Ibunya.


"Lalu saya harus bagaimana, Pak?"


"Apa kamu sering meninggalkan Sholat?" tanya Pak Trimo membuatku tersentak. Wajahku merona menahan malu. Jujur saja, agama yang ku anut hanya sebatas identitas saja. Selebihnya aku sangat jarang sekali bahkan hampir tidak pernah menjalankan kewajibanku sebagai umat beragama.

__ADS_1


"Jaga Sholatmu. Jaga Imanmu. Itu yang akan melindungimu dari bangsa-bangsa mereka dan sejenisnya." ucap Pak Trimo di ikuti pukulan keras dari Ibu.


"Sudah Ibu bilang berkali-kali. Mengapa kamu tidak pernah mau menuruti?" Ibu tampak murka. Di pukulinya lenganku hingga membuatku mengaduh kesakitan. Namun Ibu tampaknya tak mempedulikannya. Tangannya yang sudah tampak di penuhi dengan keriput itu memukuliku dengan kencang. Tak peduli dengan ucapanku yang meminta ampun karena kesakitan.


*


*


*


Maaf ya leader, othornya sering absen update. Tapi bakal tetep di usahain buat sering-sering update ya... Terimakasih buat yang sudah jadi pembaca setia ceritanya Hadi dan Ratih. Jangan lupa mampir di cerita yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2