
Suara adzan maghrib berkumandang berasal dari sebuah surau kecil tak jauh dari rumah. Aku mencoba membongkar lemari almarhum Bapak. Akhirnya apa yang ku cari akhirnya ku temukan. Meskipun sudah tampak usang, namun aku tetap nekad untuk memakainya bersamaan dengan peci yang sudah tampak kumal dan lusuh karena sudah lama tak terpakai.
"Mau kemana, Mas?" tanya Ratih yang tiba-tiba saja muncul dari samping rumah. Saat ini posisiku sedang mengambil air wudhu di sumur belakang rumah. Kamar mandi rumah kami memang sudah berada di dalam rumah, namun di belakang rumah masih ada sumur yang dulunya airnya sering kami gunakan untuk mandi sebelum aku meminta Ibu untuk membuat kamar mandi di dalam rumah karena takut Ratih akan tidak nyaman saat pulang kampung. Dan kini hanya di gunakan untuk mengisi padasan saja. Kadang tetangga yang lewat dan baru pulang dari sawah juga sering mampir untuk sekedar mencuci kaki.
"Mau ke surau, Dik." jawabku singkat. Ratih menautkan kedua alisnya, namun tak ku hiraukan. Mungkin dia tak percaya kalau aku akan ke surau. Karena ini kali pertamanya aku menjalankan ibadah ke surau bukan di waktu-waktu tertentu. Biasanya aku akan pergi ke masjid saat hari raya saja. Kali ini aku akan berjanji memperbaiki hidup dan menjalankan kewajiban sepenuhnya.
"Sudah ya, Mas sudah terlambat." aku berlarian menuju surau. Ratih yang masih tampak bingung hanya berdiri mematung. Saat aku ingin berbelok ke jalan setapak samping rumah, ujung mataku menangkap sesosok bayangan tengah berdiri tepat dj belakang Ratih. Sosok yang amat ku kenal dengan rambut menjuntai kedepan dan menutupi sebagian besar wajahnya itu tampak berdiri dekat dengan Ratih. Kedua bola matanya tampak bergelayut hingga ke pipi. Tergantung oleh urat-urat kecil yang menempel sehingga menahan bola mata itu agar tak terjatuh. Sosok itu menggendong anak yang wajahnya juga tak kalah menyeramkan. Wajah anak itu hancur seperti melepuh. Bahkan kedua bola matanya tampak menghitam. Berkali-kali ku ucap istighfar, memanggil Ratih dan memintanya untuk segera masuk kerumah.
__ADS_1
"Sudah maghrib, Dik. Cepat masuk rumah. Mas akan pulang selepas Isya." ucapku kemudian berlari untuk ke surau.
**
**
**
__ADS_1
"Besok aku mau ke makan Ratna, Bu. Ibu mau ikut?" tanyaku mengalihkan pekerjaan Ibu yang tengah memarut kelapa untuk di jadikan santan.
"Kemarin lusa Ibu sudah dari sana, besok Ibu akan temani kami menengok adikmu itu." ucap Ibu.
"Hadi, semalam apa kamu mendengar suara bayi menangis?" tanya Ibu membuat aku menelan saliva.
"Ti-tidak. Hadi hanya terbangun saat mendengar suara berisik saja di dapur." ucapku. Memang aku tak mendengar jika ada suara bayi. Namun sepertinya aku tahu suara siapa yang dimaksud oleh Ibu. Rasanya tak tega jika Ibu juga harus menerima teror dari Radit dan Ranti juga.
__ADS_1
itu"Mungkin Ibu salah dengar, atau mungkin ada anak tetangga yang menangis." ucapku berusaha menenangkan Ibu.
"Sudah, jangan mencari alasan. Ibu sudah tahu dari ceritamu tadi pagi. Semoga saja kita semua dalam perlindungan dari Sang Maha pemberi hidup." ucap Ibu. Lantas ibu beristighfar dan menunduk setelah memberiku nasehat seperti itu. Aku yang menyadari akan perubahan akan sikap Ibu, langsung menoleh ke belakang dan mencari tahu apa yang Ibu lihat.