
Suara lolongan anjing terdengar bersahut-sahutan. Dari kejauhan suaranya terdengar memilukan. Di tambah suara Ratih yang menjerit dan berteriak membuat beberapa tetangga berdatangan. Rupanya mereka juga mendengar teriakan Ratih.
"Itu kesurupan, Mas. Bawa saja ke Pak Trimo biar di obati." saran salah satu tetangga yang datang kerumah. Rupanya mereka juga tampak simpati pada kondisi Ratih. Hampir kebanyakan yang datang mengatakan kalau Ratih kesurupan, tak ada yang mengatakan kalau Ratih terkena gangguan mental.
"Sejak kapan istrimu seperti ini, Di?" tanya Mbah Sum, salah satu tetangga terdekat.
"Sejak tadi, Mbah. Tadi dia berbuat yang berbahaya, makanya saya ikat begini." ucapku lirih. Miris sekali melihat kondisi Ratih yang seperti ini. Sesekali dia tertawa, sesekali dia berteriak dan menangi. Sesekali juga dia menjilati tangannya yang terikat. Bahkan Ratih sering menjulurkan lidahnya.
"Sebentar, saya tak kebelakang." Mbah Sum pamit untuk ke dapur rumah kami. Tak berselang lama, beliau datang dengan membawa segelas air putih. Mbah Sum mendekat, duduk di sebelah Ratih yang masih berteriak. Dengan doa apa yang entah beliau baca, Mbah Sum kemudian meniupkan ke air putih di gelas yang ia pegang. Kemudian tangannya beliau celupkan ke dalam gelas dan membasuh wajah Ratih dengan tangannya sendiri. Tentu saja Ratih memberontak. Ratih berusaha menggigit mbah Sum yang sedang berusaha membasuh wajah Ratih dengan air doa yang di pegangnya. Tak butuh waktu lama, Ratih terdiam. Dia tak lagi berteriak maupun bertingkah aneh. Dia hanya menatap satu persatu pada kami yang ada di dalam kamar.
"Astaghfirullah, Le." Mbah Sum mengelus dadanya dan mundur ke arahku.
"Rupanya ada setan bayi yang mengikuti istrimu." ucapan Mbah Sum membuatku terperanjat. Bagaimana mungkin Mbah Sum bisa mengetahui apa yang sedang terjadi pada keluarga kami.
"Mbah, Mbah Sum tahu dari mana?" tanyaku penasaran.
"Mbah hanya firasat saja. Segera obati istrimu. Kasihan jika di biarkan terus seperti ini." perintah Mbah Sum.
__ADS_1
"Ba-bagaimana caranya, Mbah?" berharap di kampung ini aku akan mendapatkan bantuan dan jalan keluar untuk masalahku ini.
Mbah Sum menghela nafas panjang. Dari raut wajahnya beliau tampak berpikir.
"Bawa ke Mbah Trimo saja. Beliau pandai mengobati warga yang terkena gangguan seperti ini." ucap Mbah Sum membuatku sedikit memiliki harapan.
"Lalu saya harus bagaimana sekarang?" tanyaku melihat Ratih yang sudah terlelap. Wajahnya terlihat sangat lelah. Dia bahkan bisa tertidur dalam kondisi tangan sedang ku ikat.
"Biarkan dia seperti ini dulu. Besok pagi, kamu ke rumah Mbah Trimo." ucap Mbah Sum.
"Memangnya, Mbah Sum tidak bisa mengobatikah? Kasihan Ratih jika harus seperti ini." pintaku mengiba. Namun Mbah Sum hanya menggelengkan kepala perlahan.
Aku menghela nafas berat. Menatap kondisi Ratih yang memprihatinkan sungguh membuat hatiku hancur. Ibu duduk termenung di kursi tak jauh dari Ratih tertidur. Hanya saja beliau tak berani mendekat pada istriku.
"Mengapa Mbah Sum tak mau mengobati Ratih ya, Bu?" tanyaku penasaran.
Ibu menghela nafas panjang. Beliau terdiam cukup lama sebelum mulai berbicara.
__ADS_1
"Ibu juga kurang tahu. Mungkin Mbah Sum lebih menghormati Mbah Trimo sebagai sesepuh disini. Apalagi Mbah Trimo sudah dari dulu sering mengobati hal semacam ini." ucap Ibu.
"Lalu, Mbah Sum mampu menenangkan Ratih. Mengapa dia tidak mencoba untuk mengobati juga?" aku semakin penasaran di buatnya.
"Jangan memaksa. Lagi pula beliau kan sudah menyarankan kita untuk ke Bapaknya Suci. Mbah Sum tahu batasan kekuatannya sendiri. Mungkin dia tidak sanggup atau bagaimana kan kita tidak pernah tahu. Kita turuti saja perkataannya." ucap Ibu.
Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengarkan cerita Ibu.
Malam ini terasa sangat panjang. Berkali kali aku melihat ke arah jam di dinding, namun rasanya jarum jam berputar dengan sangat lama. Bahkan rasa kantukku telah sirna. Meskipun Ibu sudah terlelap, rasanya aku tak bisa ikut tertidur. Ibu menggelar kasur lantai dan meletakkannya di dekat tempat tidur kami. Sedangkan aku hanya duduk di dekat Ibu sambil menatap Ratih. Doa-doa pendek ku lafalkan untuk Ratih. Berharap dia lekas sadar dan sembuh dari gangguan.
Suara berisik dari luar kamar kembali terdengar. Kali ini suara orang yang sedang beraktifitas di dapur. Suara langkah kaki yang mondar mandir di sekitar pencucian piring dan kompor tempat Ibu biasa memasak. Ku diamkan saja. Hanya saja, jantungku tak henti-hentinya berdegub dengan kencang. Aku bergegas berdiri dan mengunci pintu kamar perlahan. Kemudian aku terduduk bersandar pada pintu kamar.
Suara berisik di dapur masih terdengar. Kadang suara air kran pun ikut menyala menandakan ada aktifitas di ruang sana. Aku memegang erat dadaku, memaksa jantungku untuk berhenti berdegub kencang. Sesekali aku memejamkan mata, menahan rasa takut jika tiba-tiba saja Ratih kembali tersadar dan mengamuk lagi seperti tadi.
Aku melihat ke arah Ibu, rupanya Ibu terbangun. Matanya menatap ke arahku, hanya saja mulutnya diam seribu bahasa. Ibu memberikan isyarat padaku untuk diam dan mendekat. Perlahan aku merangkak mendekat ke arah Ibu. Suara berisik di dapur semakin keras. Bahkan suara benda-benda berjatuhan seperti sengaja di banting ke lantai. Ibu menggenggam erat tanganku, menahan tangis yang mungkin sebentar lagi tak akan bisa di tahan lagi. Aku memeluk erat tubuh Ibu, berharap bisa membuat beliau tenang dan berhenti gemetar.
"Cekleekkk ... cekklleeekk..." detak jantungku semakin tak beraturan manakala melihat gagang pintu kamar di tekan dari luar. Sepertinya seseorang berusaha membuka knop pintu kamar. Namun karena aku sempat menguncinya, gagang pintu itu hanya bergerak-gerak saja tanpa terbuka pintunya. Ibu menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Menahan agar suara tidak sampai keluar karena saking takutnya. Dari celah bawah pintu, tampak bayangan sedang mondar mandir ke kanan dan ke kiri. Sesekali terhenti tepat di depan pintu, dan jika saat itu terjadi, gagang pintu akan kembali bergerak.
__ADS_1
Aku memeluk Ibu lebih erat. Berharap Ibu tidak akan bersuara dan tetap diam. Hingga beberapa saat suara di depan pintu kamar mulai menghilang, keadaan kembali sunyi. Ibu melepaskan pelukanku. Merangkak. mengendap untuk mengintip ke celah bawah pintu. Ibu menggelengkan kepala, memberikan isyarat kalau tidak ada apa pun di luar sana. Hingga pada akhirnya Ibu kembali merangkak ke arahku, tanpa bersuara tentunya.
"Aaaarrrkkkhhhh..." tiba-tiba Ibu berteriak kencang saat beliau akan berdiri. Sosok wanita menyeramkan sedang berdiri di luar jendela sedang menatap kami dengan kedua matanya yang berlubang dan bola mata yang menggantung hingga ke pipi dan hampir copot. Bahkan senyumnya yang menyeringai dengan bentuk mulut yang tak beraturan tersenyum ke arah kami yang ada di dalam. Di tangannya menggendong sebuah bayi tanpa busana dengan kulit yang memerah seperti terkelupas dan wujud yang tak kalah menyeramkan.