Bayi Ambar

Bayi Ambar
Sosok Dalam Kamar


__ADS_3

Hawa dingin menusuk kulit hingga terasa ke dalam sumsum tulang. Kedua tulang kaki ku lemas, jangankan untuk kabur. Untuk berdiri saja pun rasanya aku tak sanggup. Sosok itu terlihat masih saja betah menungguiku dan tak mau pergi sejak tadi. Aku lelah, hingga rasa takut itu berubah menjadi rasa kantuk yang hebat. Entah berapa lama aku terpejam, namun saat aku membuka mata, sosok itu sudah pergi. Aku segera menutup pintu yang menghubungkan dapur dengan halaman belakang rumah. Suasana malam yang sepi membuat halaman belakang rumah tampak sedikit menyeramkan jika di perhatikan.


"Rasanya tadi aku tidak membukanya." aku mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Namun seingatku memang aku tak pernah membuka pintu belakang penghubung ke halaman. Aku menggaruk rambut kepalaku yang tak gatak.


Aku kembali ke kamar. Di sana, Ratih sedang tertidur membelakangi Radit. Sedangkan Radit, tidur menghadap ke tembok. Setelah memastikan keduanya sudah terlelap, aku memilih untuk keluar dan kembali ke kamar setelah menutup pintu kamar Ratih.


Srreeseeeeett ...


Langkahku terhenti manakala terlihat sekelebat bayangan melintas tepat di depan kakiku. Sosok kecil terlihat merangkak melewati depan kakiku dengan sangat cepat. Aku menoleh, memastikan sosok apa yang lewat baru saja.


Srreeessseeettt...

__ADS_1


Kali ini sosok kecil itu melintas di belakangku. Sosok kecil itu menyeringai manakala tatapan kami beradu.


"Sial." aku memilih untuk menunduk. Memilih untuk bersikap tak melihat sosok itu. Perlahan aku berjalan ke kamar, namun knop pintu kamar terasa sangat keras dan sulit di putar. Berkali-kali aku memaksa, namun pintu kamar tak juga terbuka.


Suara tawa cekikikan nyaring terdengar. Bahkan suara tawa anak kecil terdengar bersahut-sahutan.


"Mengapa harus terus menggangguku." gumamku sambil terus mencoba membuka knop pintu kamar. Sialnya, semakin keras aku mencoba pintu kamar terasa semakin kuat dan tak bisa ku dorong.


"Siapa bayi tadi?" aku menerka-nerka.


"Ssrreeekkkk .... srreekkk... srreekkk..."

__ADS_1


Tubuhku mendadak kembali lemas mana kala suara seretan itu terhenti di luar kamar. Dari sisi jendela kamar, suara seseorang berjalan sambil menyeret kaki itu menghilang. Aku meringkuk, memeluk lutut dan berbaring membelakangi jendela. Aku takut jika harus melihat kembali sosok menyeramkan itu.


Ssrreeeekkk... ssrreeekkk...


Suaranya semakin mendekat. Tubuhku menggigil kedinginan saat suara seretan itu semakin dekat bahkan bisa saja sudah berada di sekitarku. Aku hanya mampu memeluk lebih erat kedua lututku.


Kkrrriiiieeeettt...


Pintu kamar terbuka. Seperti seseorang telah mendorongnya dari luar. Dari arah bawah, aku melihat bayangan seseorang berjalan perlahan memasuki kamar dimana aku, Ratih dan Radit saat ini. Sosok itu berjalan mendekat menuju ranjang mendekati Ratih, dimana Ratih tidur di tepi ranjang dekat dengan bangku yang ku gunakan untuk meringkuk saat ini.


Tangan wanita itu menjulur, memanjang seolah-olah ingin meraih sesuatu. Radit yang masih tertidur di raihnya. Sambil bergoyang-goyang, sosok wanita itu menimang dan mengayun tubuh kecil Radit. Suara tawa kecil Radit terdengar bahagia, seperti seorang anak yang sedang bermain dengan Ibunya.

__ADS_1


__ADS_2