Bayi Ambar

Bayi Ambar
Rumah Sakit Hantu


__ADS_3

Sinar matahari pagi mulai menembus kaca jendela kamar. Hangatnya terasa sampai di dalam ruangan. Namun suasana Rumah Sakit terlihat kembali sepi.


"Kenapa malah sepi? kemana orang-orang yang lalu lalang tadi?" aku menoleh kesana kemari mencari orang-orang yang tadi sudah sibuk beraktivitas. Aku menggeleng kepala manakala melihat lantai rumah sakit yang terlihat sangat kotor, bahkan sampai lorong tempat semalam lelaki tua itu pergi juga tampak kotor dan suram.


"Bukannya tadi sudah di bersihkan? Cepat sekali semua terlihat kotor." gumamku saat melihat banyak dedaunan kering berserakan di halaman depan kamar rawat inap. Aku mondar mandir seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Kebingungan kesana kemari karena keadaan berubah drastis dari apa yang ku lihat tadi malam.


"Pak, bagaimana istri saya?" tanyaku pada dokter yang entah sejak kapan ia masuk ke dalam ruangan. Tanpa banyak bicara, Dokter itu hanya mengatakan kalau Ratih sudah boleh di bawa pulang. Tak ada pesan, tak ada ucapan apapun. Bahkan tak ada penjelasan lagi tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Ratih. Yang diminta Dokter itu, Ratih dan aku harus segera pergi karena Ratih sudah dinyatakan sembuh.


"Dokter yang aneh." gumamku dalam hati.


"Pantas saja Rumah Sakitnya sepi. Dokternya saja seperti itu." gumamku lagi. Aku memang kurang tahu tentang daerah ini. Selama aku menikah dengan Ratih dan tinggal di kota ini, aku memang sangat jarang bepergian. Yang ku tahu hanya merintis usaha, tempat usaha dan tempat belanja kebutuhan yang murah. Untuk Rumah Sakit, keluarga Ratih lebih sering pergi ke Rumah Sakit di tengah kota. Selain peralatannya lebih lengkap, disana Dokternya juga lengkap dan ramah. Lain halnya dengan Rumah Sakit dimana Ratih dirawat saat ini. Rumah Sakitnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu banyak pengunjung. Aku sengaja membawa Ratih kemari karena terlalu khawatir dengan kondisi Ratih dan berharal ingin segera mendapat penanganan.


Aku melajukan mobil keluar dari Rumah Sakit. Tak ada satpam ataupun petugas yang berjaga.


"Sepi sekali ya, Dik." ucapku pada Ratih saat meninggalkan Rumah Sakit. Ratih sedang memangku Radit menoleh, melihat ke sekitar Rumah Sakit.


"Ayo kita pergi, Mas." ucap Ratih dengan mimik wajah yang berubah.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja, Dik?" Ratih hanya mengangguk, dia memintaku untuk cepat-cepat pulang kerumah. Sudah ingin bermain dengan Radit di rumah katanya.


Aku berpamitan pada Ratih untuk kembali ke Rumah makan. Untuk membantu Ibra dan melihat keadaan Rumah makan yang dua hari ini tak ku tengok. Kasihan Ibra jika harus kerepotan mengurus semuanya sendiri, meskipun sudah ada beberapa orang yang akan membantunya melayani pelanggan, namun untuk hal belanja dan kebutuhan lainnya Ibra akan sangat kerepotan karena biasanya aku yang akan turun tangan sendiri.


Seperti biasa, aku selalu menceritakan kejadian aneh pada Ibra. Hal aneh yang terjadi di rumah, bahkan di rumah sakit. Ibra juga sudah tahu tentang Radit, bahkan siapa Radit sebenarnya yang kemungkinan besar adalah bayi ambar. Hanya dia yang percaya dengan apa yang ku ceritakan, sedangkan Ratih tetap ngotot kalau Radit anak biasa yang istimewa.


"Coba Bapak periksa kembali Rumah Sakitnya. Kok aneh begitu." saran Ibra sambil tertawa. Aku tahu kalau Ibra hanya bercanda, saking seringnya mendengar bahkan menonton film horor membuat dia berpikiran horor juga. Karena yang di takutkan oleh Ibra, aku telah masuk ke Rumah Sakit dunia lain. Aku menghembuskan nafas kasar.


Perlahan aku melewati depan Rumah Sakit tempat dimana Ratih dirawat. Sepi, tak ada siapapun. Bahkan security yang biasanya stand by di depan gerbang pun tak tampak. Gerbang Rumah sakit pun tertutup rapat. Tak ada tanda-tanda kalau Rumah Sakit itu berpenghuni. Rumput-rumput liar pun terlihat meninggi, sama seperti kondisi saat aku akan meninggalkan tempat ini.


"Sejak kapan ya, Pak?"tanyaku penasaran.


"Sudah cukup lama, Pak. Lagi pula ini rumah sakit juga dari dulu sepi pasien. Mahal sekali, alat-alatnya juga kurang lengkap. Jadi kebanyakan warga kalau sakit lebih memilih untuk ke Rumah Sakit di kota yang lebih besar." cerita orang itu membuat jantungku berdegub kencang.


"Bapak sakit?" tanya lelaki itu yang ku jawab dengan gelengan kepala.


"Pucat loh, Pak." ucapnya yang ku jawab lagi dengan senyuman.

__ADS_1


Aku hanya diam sesampai di rumah. Mencoba melupakan apa yang ku dengar dari orang sekitar Rumah Sakit. Aku khawatir jika Ratih jadi kepikiran karena sudah di rawat di Rumah Sakit kosong dan berhantu itu.


"Pantas saja semua terasa aneh dan ganjil." gumamku.


"Mikir apa, Mas?" tanya Ratih yang tiba-tiba saja muncul sembari menggendong Radit. Dia memintaku untuk menggendong Radit, sementara dia ingin menyiapkan makan malam. Sebenarnya aku enggan menerima permintaannya. Aku lebih suka jika aku yang menyiapkan semuanya, namun Ratih memaksa untuk aku bersama Radit dan beristirahat.


Ku letakkan Radit di lantai, anak itu merangkak kesana kemari dan bermain sendirian layaknya anak-anak pada umumnya. Berceloteh, tertawa dan bertingkah seperti bayi biasa sehingga mampu membuatku merasakan kasih sayang padanya. Hanya saja, saat dia kembali ke wujud aslinya, Radit mampu membuatku gemetar dan ketakutan. Baru kali ini aku berhubungan langsung dengan makhluk dari dunia lain selama aku hidup.


"Nina bobo... oohh... nina bobo..." aku mengerjap, menggeliat karena merasakan tubuh yang terasa sakit dan sangat lelah. Samar-samar terdengar suara wanita menina bobokan anak. Sesaat aku teringat kejadian dimana pertama kali aku menemukan Radit.


"Dik." tak ku temukan Ratih di kamar. Aku mencoba mencari ke ruang tamu dan dapur. Siapa tahu Ratih ada di sana, namun rupanya istriku itu tak berada disana.


"Astaga." betapa terkejutnya aku saat sosok wanita menyeramkan berdiri tepat di belakangku. Sosok wanita yang sangat mirip dengan Ratih itu berdiri tepat di belakangku dimana saat ini aku sedang duduk. Aku lekas berdiri dan berputar balik, berpura-pura tak melihat sosok itu. Aku mencoba bertingkah seolah tak melihat apapun.


Ingin rasanya aku cepat-cepat meninggalkan meja makan, namun langkah kaki ku terasa berat dan lemas karena gemetar. Aku urung untuk bangkit. akhirnya aku kembali duduk dengan perasaan yang entah sangat sulit untuk ku jelaskan. Aku menundukkan kepala, meletakkannya di meja dan bertumpu pada tanganku. Mencoba menata hati dan menenangkan irama jantung yang seperti sedang ditabuh dengan sangat kencang. Bahkan suara degubnya terdengar olehku sendiri karena saking kencangnya. Aku membaca doa-doa pendek yang ku hafalkan saat masih mengaji waktu kecil dulu.


"Ah, sial. Andaikan aku lebih rajin mengaji, mungkin aku tak sepayah ini. Akan banyak doa-doa yang mampu ku baca untuk menghindarkan ku dari gangguan seperti ini." racau ku. Ku coba memejamkan mata, bertingkah seolah tak ada apapun di sekitarku. Dari bawah kaki ku, masih tampak kain putih lusuh yang sudah berubah warna kecoklatan itu berdiri di belakangku. Aku meringis, menahan tangis. Entah kapan sosok itu akan pergi. Rasanya aku sudah tak tahan jika harus berdua saja dengan wanita itu disini.

__ADS_1


__ADS_2