Bayi Ambar

Bayi Ambar
Takut Setan Masuk


__ADS_3

Pikiranku melanglang buana, memikirkan bagaimana untuk melepaskan diri dari jeratan Ranti. Rupanya Ratih memang sengaja memanggil Ranti untuk membalaskan dendam karena para bedebah itu sudah membunuh saudaranya. Namun naas, nasib buruk malah menimpa keluarga kami. Ranti yang di harapkan akan membalas dendam untuk kembali menyakiti manusia-manusia bejat itu, malah berpaling kepadaku. Aku bergidik ngeri membayangkan jika saja sosok Ranti selalu menemuiku dengan wajahnya yang, aaahhh... bahkan untuk membayangkannya saja aku sudah merinding disko.


Srreekkk... ssrreekkk... srreekkk...


Aku bangkit, berjalan keluar untuk mencari sumber suara.


"Untuk apa Ibu menyapu malam-malam begini."


Saat aku hendak menyibakkan korden, sebuah tangan menepuk punggung dan sontak saja membuatku terkejut. Hampir saja jantungku ikut loncat mengikuti tubuhku yang terpelanting hingga hampir jatuh. Untung saja ada kursi rotan sebagai sandaran.


"Ibu." pekikku.


"Jangan di intip. Nanti dia akan beralih menatapmu." ucap Ibu lirih sambil menarik kuat lengan tanganku.

__ADS_1


"Ayo ikut Ibu." Ibu menyeret tanganku, membawaku ke belakang.


"Kita wudhu disini saja. Ibu takut kalau harus ke belakang rumah, hehehehe..." Ibu terkekeh membuatku ikut garuk-garuk bagian belakang kepala yang tidak gatal. Aku kira Ibu pemberani, tapi rupanya Ibu takut juga. Ingin menertawakan Ibu, namun moment saat ini bukan saatnya untuk bercanda. Sosok wanita menyeramkan sedang menunggu di luaran sana. Bahkan bisa saja sewaktu-waktu dia akan muncul di belakang kami kapan pun dia mau.


"Bu, cepetan sedikit. Hadi juga mau ambil air wudhu." pekik ku lirih melihat Ibu yang tampak lama sekali mengisi air.


"Sssttt... sabar sebentar. Ibu itu isi airnya pelan-pelan biar tidak berisik. Biar setannya tidak tahu kalau kita ada disini." ucapan Ibu sungguh membuatku tergelitik. Hampir saja gelak tawaku lepas begitu saja kalau tidak mengingat waktunya yang tidak tepat.


"Ikh, kamu apa-apaan sih, Di?" Ibu mendorong tubuhku keluar kamar mandi.


"Sana kamu keluar dulu, sempit. Nanti bagaimana kita bisa lari kalau tiba-tiba setannya masuk kerumah." Ibu mendorong tubuhku lebih keras membuatku terdorong keluar pintu.


"Hadi tinggal nih ya, Bu." ancamku membuat Ibu tersenyum nyengir.

__ADS_1


"Mas Hadi lagi apa?" tiba-tiba sebuah suara terdengar tepat di belakang tubuhku. Tengkuk leherku tiba-tiba meremang, hawa dingin menyusup menelisik ke sela-sela daun telinga. Aku tak berani menoleh, tak berani memastikan siapa yang ada di belakangku.


"Maaasss..." suara mendesah terdengar nyaring di telinga membuat tubuhku merinding dan gemetar.


"Hadi, Hadi." Ibu memberikan isyarat untukku menoleh. Namun aku tetap menggelengkan kepala.


"Bu." aku menarik tangan Ibu perlahan, takut jika Ibu terjatuh di kamar mandi karena terpeleset. Sambil memejamkan mata, Ibu berjalan sambil ku tuntun. Sedangkan aku, tentu saja aku terus menunduk dan tak berani menoleh ke sumber suara.


Suara tawa cekikikan terdengar nyaring saat aku dan Ibu mulai berjalan cepat ke dalam. Bahkan suara kaki di seret terdengar berjalan cepat mendekat mengikuti aku dan Ibu. Secepat kilat aku masuk ke dalam kamar beserta Ibu juga. Nafas tersengal-sengal kami saling berkejaran, seirama dengan suara detak jantung yang tak beraturan.


Ratih yang tertidur mendadak terbangun karena mendengar suara ribut dari aku dan Ibu. Tampak raut wajah bingung terlihat dari wajahnya.


"Ibu dan Mas Hadi kenapa?"

__ADS_1


__ADS_2