Bayi Ambar

Bayi Ambar
Di Ganggu Setan


__ADS_3

Seluruh tubuhku menggigil. Bahkan selimut tebal yang Ratih berikan padaku tak berhasil mengusir hawa dingin yang ku rasakan sejak semalam.


"Mau tambah lagi, Mas?" tanya Ratih sambil menunjukan tumpukan beberapa selimut yang ia bawa. Aku hanya sedikit membuka kedua mata dan menjawab dengan suara pelan. Memberikan isyarat pada Ratih untuk menyelimutiku lagi dengan selimut-selimut yang ia bawa.


"Mas, sebenarnya apa yang kamu rasakan?" tanya Ratih. Namun aku enggan sekali menjawab. Bisa-bisa aku di tertawakan habis-habisan jika Ratih tahu kalau aku demam gara-gara bertemu dengan sosok hantu wanita yang sangat mirip dengannya.


"Mas, ini dimakan dulu sebentar." Ratih datang lagi membawa nampan berisi makanan yang entah apa isinya. Namun tubuhku yang masih saja menggigil enggan rasanya untuk bangun meskipun untuk sekedar makan. Aku menggelengkan kepala, menolak ajakan Ratih untuk bangun dan makan. Terdengar suara Ratih mendengus kesal. Sepertinya dia marah karena aku menolak apa yang dia tawarkan.


Aku terus saja meringkuk, menggigil menahan hawa dingin yang serasa menusuk ke dalam tulang. Bahkan sampai matahari sudah terlihat meninggi pun, hawa dingin itu terus saja berhembus membuat tubuhku semakin menggigil. Berlapis-lapis selimut yang ku gunakan, tak mampu mengusir hawa dingin di tubuhku.


"Mas, kita kerumah sakit saja ya." bujuk Ratih. Aku tetap bergeming.


"Mas." suara Ratih mulai meninggi. Aku tahu dia pasti kesal karena penolakanku terus-terusan. Namun memang rasanya aku enggan sekali untuk beranjak dari tempat tidur.


Ssrrreeekkk ... srreeekkk... srrreeekkk...


Aku membuka selimut yang membungkus tubuhku. Rupanya hari sudah mulai gelap. Aku tak sadar ternyata sudah sangat lama tertidur. Ku singkapkan selimut yang menutupi tubuhku. Keringat mengucur dan membasahi tubuh hingga membuat baju yang ku kenakan basah kuyup.


"Dik." aku memanggil Ratih karena mendengar suara langkah kaki yang diseret. Mungkin Ratih yang sedang berada di luar kamar.


"Dik." panggilku sekali lagi. Namun nama yang ku sebut tak juga muncul. Dengan kepala masih pening dan sempoyongan, aku berjalan keluar kamar mencari keberadaan Ratih.

__ADS_1


"Ratih." ku lihat Ratih sedang duduk di ruang tengah dengan posisi menghadap ke arah televisi.


"Kenapa tidak di nyalakan saja sih televisinya." tanyaku pada Ratih yang duduk menunduk menghadap ke arah televisi yang tak dinyalakan.


Ceteekk...


Televisi pun menyala dalam sekejap. Cahayanya langsung menyorot telat ke arah aku dan Ratih yang sekarang duduk bersebelahan.


"Cepat sekali." batinku saat tiba-tiba saja televisi menyala saat ku protes karena tak dinyalakan oleh istriku itu.


"Mana remotnya, Dik?" aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari remot untuk memindahkan chanel. Sebuah tangan putih menjulur, menunjuk ke sebuah tempat dimana remot yang ku cari berada. Aku berdiri dan berniat untuk mengambil remot itu, namun langkah pertamaku terhenti saat menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Aku menangkap bayangan aneh di kaca meja tempat aku meletakkan televisi. Ratih yang sedang duduk menunduk dengan rambut panjangnya tergerai begitu saja. Di tambah poni yang cukup lebat menutupi sebagian wajahnya. Namun yang mengherankan, sejak kapan Ratih memiliki poni. Seingatku dia selalu rajin mengikat seluruh rambutnya kebelakang supaya terlihat rapi dan lebih leluasa saat mengerjakan pekerjaan rumah.


Perlahan aku menoleh ke belakang. Sosok wanita itu sudah tidak ada disana. Tubuhku terasa kaku, lidahku pun turut terasa kelu. Satu patah katapun tak mampu keluar dari mulutku. Ku matikan televisi, secepat kilat aku berjalan keluar rumah untuk menghindari sosok wanita itu muncul lagi.


"Dik, kamu tahu kan siapa Radit sebenarnya?" tanyaku perlahan takut menyakiti perasaan istriku.


"Maksud Mas Hadi?" Ratih menatapku tajam. Aku mengerti kalau dia tak terima dengan apa yang aku ucapkan. Aku mencoba menarik nafas panjang, mencari cara dengan sedikit berpikir agar ucapanku tak membuat Ratih semakin salah paham.


"Radit itu anak Mbak Ranti. Kamu tahu kan Mbak Ranti sudah tidak ada?" tanyaku dan dijawab dengan anggukan kepala istriku dengan lemah.


"Sebaiknya kita jaga saja Radit di dalam rumah. Jangan bawa-bawa dia keluar rumah." aku berbicara dengan cepat dan langsung menutup mulut rapat-rapat. Ratih menatapku tajam. Namun dia tak merespon apa-apa dengan ucapannya yang biasanya selalu membantah kalau soal Radit.

__ADS_1


Aku menjelaskan secara rinci sebenarnya apa yang orang lain lihat soal Radit. Berharap kali ini Ratih bisa mengerti dan menerima.


"Jadi yang mereka lihat aku hanya membawa boneka yang sudah usang dan menakutkan?" tanya Ratih lemas. Suaranya tampak parau, tatapannya sayu dan seolah menahan rasa sedih yang begitu dalam. Aku hanya bisa mengangguk perlahan mendengar setiap pertanyaannya setelah ku jelaskan semuanya.


"Dan lagi ,Dik. Mengapa hanya Mas saja yang di ganggu?" tanyaku mengiba.


"Maksud, Mas?"


"Mengapa hanya Mas saja yang bertemu dengan sosok Mbak Ranti dengan wajah yang..." aku tak bisa melanjutkan perkataanku. Aku memukul sendiri mulutku berkali-kali karena kelepasan bicara. Entah apa yang akan terjadi pada Ratih karena aku mengatakan hal kurang menyenangkan tentang kakaknya.


"Jadi Mas Hadi takut?" Ratih tampak tersenyum. Terlihat dari mimik mukanya dia sedang mengejekku. Aku berkelit, membela diri dengan mengaku kalau merasa kaget dan tak nyaman saja bila tiba-tiba saja bertemu dengan sosok Mbak Ranti yang muncul secara tiba-tiba.


"Maafkan Mbak ku ya, Mas. Dia begitu kesepian. Dia belum menemukan laki-laki yang telah merenggut masa depan dan juga nyawanya." ucap Ratih sedih. Isak tangisnya kembali terdengar. Rupanya dia benar-benar merasa bersalah dan tertekan dengan masalah yang menimpa kakaknya itu.


"Sudah, sudah. Tidak apa-apa, Dik. Semoga saja segera di berikan yang terbaik, ya. Biar Mbak Ranti bisa pergi dengan tenang." bujukku sambil terus melihat sekeliling.


"Oh iya, mana Radit?" aku mencoba mengalihkan pembicaraan dengan hal yang lain berharap Ratih lupa dengan kesedihannya dan kembali ceria jika membahas Radit. Namun rupanya Ratih tak terpengaruh. Dia tetap terisak meskipun aku telah membujuknya.


"Ayo, kita temani Radit dikamar. Kasihan dia sendirian." bujukku lagi supaya Ratih berhenti menangis. Dia menggeleng, menolak ajakanku untuk masuk ke kamar dan menemani Radit.


"Tidak usah, Mas. Radit sudah disini." jawabnya membuatku mengerutkan dahi. Sedangkan yang ku lihat Ratih sedang menangis tanpa menggendong Radit.

__ADS_1


"Tak usah di cari ke kamar, Mas. Radit sudah di sebelah Mas Hadi." ucap Ratih membuatku terkejut saat aku menoleh ke sebelah kiri, dimana sedang duduk sesosok wanita dengan separuh wajah tertutup rambut tebalnya karena kepalanya menunduk. Namun tampak dari samping senyum bibirnya menyeringai dan menyeramkan. Beberapa tetes darah menetes ke baju putih lusuhnya dan rambutnya yang panjang menggimbal tampak lusuh dan basah karena terkena darah yang terus menetes dari kepalanya. Wanita itu memangku Radit dan duduk tepat di sebelah kiriku.


__ADS_2