Bayi Ambar

Bayi Ambar
Siapa Radit


__ADS_3

Pprrraaanngg...


Gelas yang ku pegang jatuh hingga pecah berkeping-keping. Bahkan beberapa pecahan kacanya mengenai kaki ku dan membuatnya mengeluarkan darah. Radit yang melihat hal itu langsung berubah ekspresinya. Secepat kilat dia merangkak dan mendekatiku, mencengkeram erat telapak kaki ku dan menghisap darah yang keluar dari kaki ku. Aku meraung, merintih menahan sakit karena isapan mulut Radit yang begitu rakus saat menghisap darah yang keluar dari kaki ku. Sekuat tenaga aku mencoba melepaskan Radit dari kakiku, namun cengkeraman Radit malah semakin kuat hingga membuatku kualahan.


"Radit, lepaskan kakiku. Lepas." aku mencoba mendorong kepala Radit yang tampak membesar. Matanya yang menghitam menatapku seolah penuh kebencian.


"Aaarrkkhhh..." aku menjerit dengan keras, namun Radit tak juga menggubris teriakan ku.


Samar-samar, pandanganku semakin kabur. Rasa sakit di kakiku lambat laun memudar seiring dengan gelap dan menghilangnya pandanganku secara perlahan. Namun sebelum semuanya gelap, aku sempat melihat sosok wanita mirip dengan Ratih berjalan menghampiri tubuhku yang terbujur di lantai dapur. Mengambil Radit, dan menggendongnya tanpa merasa kesulitan mengangkat tubuh mungil yang semula sangat sulit untuk ku lepaskan. Dengan gumaman kecil, wanita itu berbisik, mengajak bayi setan itu mengobrol.


"Jangan, sayang. Dia papa mu. Jangan kamu bunuh dia seperti ini." terdengar samar-samar suara wanita itu hingga akhirnya aku terpejam dan tak sadarkan diri sepenuhnya.


________________

__ADS_1


Suara ayam jantan berkokok terdengar nyaring dan bersahut-sahutan. Mataku mengerjap, mencoba menyadarkan diri dan mencoba mengingat kembali atas apa yang baru saja terjadi.


"Ratih." aku memanggil Ratih saat kesadaranku perlahan mulai membaik.


"Dik." aku meraih apapun yang bisa ku jadikan tumpuan dan pegangan untuk bisa bangun dari tempatku tergeletak. Dengan berjalan tertatih, aku mencoba mencari keberadaan Ratih dan Radit. Penasaran karena tak ada siapa-siapa di rumah, aku memutuskan untuk mencari di sekitar rumah.


"Ratih." kembali aku memanggil dan mencari sosok istriku itu. Namun tak ada tanda-tanda ia berada di dalam rumah. Jarum jam di pergelangan tanganku menunjukan angka dua dini hari. Rupanya hari masih malam, suasana menjadi kembali sunyi. Ayam yang semula berkokok kini terdiam dan sepi sepertu tak pernah terjadi apa pun sebelumnya.


Aku membasuh luka yang terkena serpihan kaca tadi. Darahnya sudah berhenti, hanya saja lukanya menjadi bengkak dan membiru.


Kembali aku mencari Ratih dan Radit. Kali ini aku kebelakang rumah. Dimana disana dulu aku melihat Ratih menimang Radit. Namun rupanya keduanya tak berada di sana.


"Astaga." bergegas aku kerumah sakit. Aku teringat akan Ratih yang masih ku tinggal di sana. Tak lagi ku hiraukan dimana keberadaan Radit. Toh dua bukan manusia yang perlu di khawatirkan kondisinya. Justru yang perlu di khawatirkan karena takut dia melakukan sesuatu lada Ratih yang jelas-jelas sangat menyayanginya.

__ADS_1


Aku melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi berharap bisa segera tiba di Rumah Sakit. Namun tetap saja, di dalam pikiranku berkecamuk tentang sosok perempuan yang menggendong Radit tadi sebelum aku tak sadarkan diri.


"Siapa dia?" gumamku penasaran. Sambil membawa mobil aku memikirkan kejadian aneh yang terjadi di rumah tadi. Mencoba menebak siapa yang di rumah dan siapa yang saat ini berada di rumah sakit.


"Wawa...baba...papa..."


Aku mengurangi laju kecepatan mobilku saat sekilas aku mendengar suara celotehan anak kecil. Aku menoleh ke belakang, namun tak ada apapun disana. Namun aku yakin persis bahwa suara yang ku dengar tadi adalah suara celotehan anak kecil.


"Hihihi... hahaha..." Kali ini suara tawa renyah anak kecil terdengar nyaring. Bahkan suaranya terdengar sangat dekat di belakang telinga, membuat tengkuk leher meremang seketika. Aku menghentikan laju mobil, rasanya aneh. Aku sudah memacu mobil dengan kencang, namun rasa-rasanya aku tak juga sampai ke Rumah Sakit. Tersesat pun tidak, hanya saja rasanya jalanku terlalu lambat.


"Papapapa..." aku menoleh saat kembali terdengar suara anak kecil berceloteh. Kali ini di sertai dengan suara tawa yang membuat penasaran.


"Ra-radit." wajahku memucat manakala terlihat Adit di bangku belakang sedang duduk dan tertawa seolah sedang bercanda dengan seseorang.

__ADS_1


"Kapan kamu masuk? Sejak kapan kamu disini?" aku menghentikan laju mobil dan mendapati Radit berada si bangku belakang. Entah kapan dia masuk dan berapa lama dia berada di dalam mobil bersamaku.


__ADS_2