Bayi Ambar

Bayi Ambar
Kejadian Masa Lampau


__ADS_3

Hari ini jujur aku tak bisa fokus bekerja. Semua isi pikiranku mengacu pada pengakuan Ratih yang sangat mengejutkan. Bagaimana bisa selama bertahun-tahun kami membina biduk rumah tangga, namun rahasia sebesar ini pun aku tak pernah sekecil pun mengendusnya. Heran sekali aku, satu keluarga begitu kompak merahasiakan semua ini dari aku yang sekarang juga sudah menjadi salah satu anggota keluarga mereka. Aku menantu dan juga suami dari Ratih, namun sedikitpun tak pernah di beritahukan kalau Ratih ternyata memiliki saudara kembar yang sudah meninggal.


"Nak, kok datang sendiri?" tanya Ibu mertua saat aku tiba-tiba saja muncul di depan pintu rumah mereka. Wajah Ibu mertua celingukan kesana kemari, aku tahu bahwa beliau mencari sosok anak perempuannya itu.


"Ratih di rumah, Bu. Hadi hanya ingin mampir sebentar. Lain kali Hadi akan ajak Ratih kemari." ucapku sambil mencium punggung tangan mertuaku tersebut. Lalu aku berjalan ke kamar, menemui sosok laki-laki yang sudah menjadi cinta pertama dari istrinya itu. Laki-laki itu sedang terbaring di atas ranjang. Usianya yang semakin senja dan kondisinya yang sudah sering sakit-sakitan, membuat Ayah mertuaku itu lebih sering menghabiskan waktunya untuk berbaring di tempat tidur. Meskipun sebenarnya beliau juga masih kuat untuk sekedar berjalan-jalan, namun setelah itu beliau akan kembali merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya.


"Sehat, Yah?" tanyaku sambil mencium punggung tangan laki-laki yang kini juga ku panggil ayah. Laki-laki itu segera bangkit dan memelukku. Ada perasaan rindu terhadapku yang kini menyandang status sebagai menantu.


"Ratih tidak ikut?" mata Ayah mertua menyapu ruangan, saat anak perempuan yang begitu di cintainya tak terlihat datang bersamaku. Aku tersenyum sambil menggeleng.


"Lain waktu akan Hadi ajak Ratih kemari, Yah." setelah dirasa cukup mengobrol dengan Ayah mertua, aku segera keluar dan mencari Ibu untuk menanyakan cerita tentang Ranti. Ibu yang sedang menyiapkan makan siang untukku langsung duduk mendekat manakala melihatku datang. Mungkin beliau sudah tahu apa yang membawaku kemari.


"Ada apa, Nak?" sambil mendorong secangkir air ke hadapanku, sosok teduh itu terlihat sangat khawatir dan seperti sudah menyiapkan seribu jawaban untuk setiap pertanyaanku.


Dengan beribu-ribu kata maaf yang ku ucapkan sebelumnya, aku menanyakan tentang kebenaran cerita yang Ratih ungkapkan padaku. Suara isak tangis dari Ibu mertua membuatku merasa bersalah. Raut wajahnya tampak sangat sedih, bahkan untuk berbicara pun rasanya tak sanggup. Aku menepuk-nepuk pergelangan tangan mertuaku itu. Mencoba menenangkan dan menghentikan tangisan beliau.

__ADS_1


"Bu, Hadi minta maaf. Hadi tak ada niatan apapun. Sungguh, Hadi minta maaf." ucapku berkali-kali merasa sangat bersalah telah membuat Ibu mertua menangis.


Sekelebat bayangan muncul dari ruangan tepat di belakang Ibu mertuaku duduk. Sosok wanita terlihat menyembul, mengintip ke arah kami berdua yang sedang duduk. Aku bangkit dan ingin memastikan siapa wanita itu, namun akhirnya ku urungkan. Aku berpikir bisa saja saudara Ratih yang menginap atau tamu sedang ingin keluar namun urung karena melihatku disini.


"Bu, ada tamukah?"tanyaku menyela isak tangis Ibu mertua. Sesaat tangisan itu terhenti, wajah Ibu tampak mengerut.


"Tidak, Nak. Memangnya kenapa?" tampaknya Ibu sudah merasa cukup tenang.


Aku bangkit dan berjalan menuju kamar yang setahu aku memang sudah lama kosong. Kata Ratih dan keluarga, kamar itu memang sengaja kosong karena di jadikan gudang. Sempat berpikir, mengapa gudang berada di antara ruang keluarga yang malah lebih pantas di jadikan kamar tidur. Biasanya gudang selalu terletak di belakang, di ruang terpisah dan agak jauh dari ruang keluarga. Namun karena aku hanya menantu, aku tak ingin bertanya lebih jauh mengenai hal itu.


"Bu, apakah ada orang lain di rumah ini selain Ibu dan Ayah?" tanyaku saat tak menjumpai siapapun di ruangan yang ternyata terkunci itu. Ibu menggeleng perlahan, isak tangisnya kembali terdengar perlahan. Namun sepertinya Ibu sudah siap untuk bercerita. Beliau menggandeng tanganku dan mengajakku ke depan. Katanya takut jika ayah mendengat cerita kami.


"Kamar itu milik Ranti. Saudara kembar Ratih. Memang benar, istrimu itu dulunya memiliki saudara kembar identik. Bahkan keduanya sangat saling menyayangi. Kemana pun mereka berdua." Ibu mulai mengawali ceritanya. Tak lama kemudian beliau menghembuskan nafas panjang secara kasar.


"Suatu hari, Ranti dan Ratih pergi untuk berbelanja kebutuhan kuliah. Ibu sudah melarangnya karena waktu sudah hampir maghrib. Namun mereka berdua bersikukuh untuk tetap pergi karena besok pagi-pagi harus sudah di bawa ke kampus. Ibu sudah menyarankan untuk beli sebelum berangkat saja, namun keduanya beralasan kalau harus sudah sampai di kampus pagi-pagi sekali." ucap Ibu.

__ADS_1


Ibu bercerita, rupanya disitu awal mula dari nasib buruk yang akan menimpa keduanya. Ranti rupanya ingin menemui laki-laki yang menjadi kekasihnya, dan Ratih di minta untuk menemaninya. Rupanya laki-laki itu bajingan, dia mencelakai Ranti dan membuat Ranti hamil. Dia sangat depresi, bahkan sering menyakiti dirinya sendiri. Ratih juga sangat merasa bersalah karena menuruti permintaan saudarinya itu. Andai waktu bisa di putar, tentu Ratih akan memilih untuk mencegah Ranti untuk pergi. Ranti depresi, dia bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari sebuah jembatan. Kepalanya terjatuh lebih dulu, dan hancur seketika.


Ibu kembali menangis, kali ini tangisannya lebih kencang sehingga membuat bahunya terguncang hebat. Sambil memegang dada, Ibu tampak sangat syok dan terlihat kesusahan untuk melanjutkan cerita.


"Sudah, Bu. Jangan di lanjutkan lagi ceritanya." ucapku sambil mengelus tangan Ibu. Namun Ibu menggeleng.


"Sudah saatnya kamu mengetahui semuanya, kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami". Ucap Ibu sambil mencoba menyeka air mata yang meleleh terus menerus seolah tiada hentinya. Nafasnya tersengal, mungkin karena beban berat yang selama ini beliau pendam.


"Bu, sudah. Hadi tidak ingin membuka luka lama. Biarlah Hadi cukup tahu saja. Tidak usah dibahas semuanya." ucapku merasa sangat bersalah karena sudah membuka luka lama pada mertuaku. Ibu tersenyum, dengan nafas yang sudah mulai teratur beliau meneguk habis air putih yang baru saja ku sodorkan untuk beliau.


Aku memilih diam setiba di rumah. Ratih masih dengan gembiranya bermain dengan Radit yang menurutku susah untuk ku mengerti. Keberadaan Radit, dan niat balas dendam dari Ranti pada sosok laki-laki yang membuatnya bunuh diri.


"Ibu bilang apa, Mas?" tiba-tiba Ratih mendekat sambil memangku Radit dan duduk di sebelahku.


"Maksudmu, Dik?" bagaimana Ratih tahu kalau aku baru saja mampir kerumahnya. Aku menatap heran wanita yang kini menjadi istriku.

__ADS_1


"Mbak Ranti yang bilang, katanya kamu kerumah." ucap Ratih membuatku kesulitan menelan salivaku sendiri. Tenggorokanku terasa tercekat, seperti ada sumbatan besar disana.


__ADS_2