Bayi Ambar

Bayi Ambar
Teror Di Kampung


__ADS_3

Sepanjang hari aku hanya memikirkan perkataan Ibu. Siapa yang sebenarnya Ibu lihat, mungkinkah Ibu hanya salah lihat? Atau justru memang benar-benar ada yang mengikuti kami sampai di kampung ini.


Sore hari aku memilih untuk berkeliling kampung. Sambil berjalan-jalan santai, aku kembali mengingat masa kecilku dengan Ratna. Adikku yang sudah lama tiada karena menderita penyakit bawaan.


"Mas Hadi." terdengar suara seorang wanita memanggil. Aku menoleh, seorang wanita yang wajahnya ku kenal dan dulu sangat dekat denganku memanggil. Dia langsung menghampiriku saat aku melambai ke arahnya.


"Mas Hadi apa kabar?" tanya Suci, sahabat masa kecilku. Bahkan sampai kami dewasa hubungan kami tak berubah. Namun tampaknya Suci sudah banyak berubah. Tubuhnya yang dulu kecil, kini tampak lebih berisi. Dan dalam gendongannya, ada seorang anak kecil yang sangat lucu dan gemuk. Anak itu melambai-lambai dan menepuk-nepuk bahuku.


"Jangan, sayang. Ini Om Hadi." Suci mendekatkan bayi itu padaku untuk bersalaman.


Suci anak dari salah satu sesepuh di kampungku. Bapaknya termasuk orang yang mengerti dan bisa mengobati sakit karena masalah non medis.


"Oh, ya. Bapak sehat?" tanyaku saat kami sudah cukup lama mengobrol.


"Sehat, Mas. Mas Hadi mampir dong kerumah. Bapak pasti senang bertemu Mas Hadi lagi." ucap Suci sambil menimang anaknya yang sudah mulai rewel.


"Iya, besok aku mampir." ucapku yang kemudian berpamitan. Tak nyaman rasanya bila berlama-lama mengobrol dengan Suci. Meskipun dulu kami sangat dekat, namun sekarang aku sudah berkeluarga. Jadi tak pantas rasanya bila aku harus terlalu dekat dengan Suci. Sedangkan Suci, suaminya bekerja di luar kota dan akan pulang beberapa bulan sekali.


Klootteekkk... klootteeekkk...


Terdengar suara seseorang di dapur. Perasaan aku baru saja tertidur, tidak mungkin jika hari sudah pagi dan Ibu sudah berada di dapur di jam segini. Aku menyalakan handphone untuk melihat jam berapa saat ini. Rupanya masih jam sebelas malam.


"Apa Ibu belum tidur?" aku bangkit dan berniat untuk kebelakang. Melihat Ibu yang mungkin masih menyelesaikan pekerjaannya. Kasihan Ibu, karena kedatangan kami Ibu jadi repot.


Aku mengambil gelas dan menuangkan air dari dalam kendi. Aku mulai sadar kalau tak ada siapapun di dapur. Bahkan tempat cucian piring pun masih kering. Tak ada pekerjaan yang belum selesai karena semua peralatan tertata rapi di tempatnya.

__ADS_1


"Mungkinkah tikus?"


Srreessseettt...


Bayangan hitam melintas cepat di ruang tengah. Bayangannya terlihat jelas kalau sosok itu berjalan ke depan. Aku mengikuti, takut jika ada pencuri yang masuk ke dalam rumah. Ku tekan tombol saklar lampu, tak ada siapa pun.


"Cari apa, Di?" tiba-tiba saja Ibu datang dari dalam kamar.


"Oh, enggak, Bu. Tadi ada suara, Hadi kira ada pencuri." ucapku.


"Bener toh, Di? Ada yang tidak beres setelah kedatangan kalian kesini. Ibu berbisik kepadaku.


"Maksud Ibu apa?"


Ibu menarik tanganku untuk masuk ke kamarnya. Sepertinya Ibu ingin mengatakan sesuatu.


"Hah? Ibu serius?" tanyaku. Ibu mengangguk.


"Dia seperti ini." Ibu memperagakan wanita yang Ibu lihat. Sosok perempuan yang terus menunduk dan tak menampakan wajahnya. Namun secara fisik sama persis dengan Ratih istriku.


"Dia mirip istrimu, tapi Ibu tidak melihat wajahnya." ucap Ibu membuatku merinding.


Ibu juga bercerita, kalau sejak tadi Ibu belum bisa tidur. Ada suara-suara yang tidak masuk akal di dapur.


"Tadi ada yang cuci piring di dapur. Padahal semua sudah Ibu bersihkan tadi sebelum tidur. Ibu kira tadi istrimu, tapi pas Ibu keluar tidak ada siapa-siapa di sana." cerita Ibu sambil mengusap-usap tengkuk lehernya.

__ADS_1


Aku tak memberitahukan Ibu siapa sebenarnya sosok yang Ibu lihat. Aku takut jika Ibu merasa takut dan tak menyukai Ratih karena masa lalu keluarga Ratih.


"Mungkin Ibu terlalu lelah, makanya Ibu seperti itu. Sekarang lebih baik Ibu istirahat saja." bujukku. Namun Ibu tetap menolak. Bahkan Ibu sangat yakin kalau aku sedang di ikuti oleh makhluk halus.


"Besok Ibu mau ke Pak Trimo, Bapaknya Suci. Biar dia mengusir itu setan dari sini. Kamu sepertinya di ikuti." ucap Ibu ngotot. Bagaimana jika Ibu tahu siapa sosok itu sebenarnya.


Aku menghembuskan nafas kasar. Malam ini sepertinya aku tak bisa tidur. Aku merasa bersalah jika Ibu ikut di ganggu oleh Ranti. Lagi pula, bagaimana bisa Ranti ikut kami sampai di desa. Sedangkan kata Ratih dia sedang mencari sosok laki-laki yang telah menghabisi nyawanya dulu.


Esok harinya Ibu rupanya benar-benar ke rumah Pak Trimo. Awalnya aku enggan menemani, namun karena Ibu terus mendesak akhirnya aku mengikuti kemauan Ibu. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Ibu berdoa. Ibu merasakan langkah kami sedang di ikuti.


"Siapa sih, Bu yang mengikuti kita siang-siang begini? Setan juga takut sama matahari." ledekku berharap Ibu tertawa. Namun Ibu malah memukul lenganku dengan keras.


"Siapa yang bilang setan takut sama matahari? Makanya jangan kebanyakan nonton sinetron, jadi tidak begini jadinya." cerocos Ibu membuatku tertawa geli.


Sampai di rumah Suci, rupanya Bapaknya sedang mengobati salah satu warga yang katanya kesambet waktu main sampai maghrib di dekat kebun bambu. Akhirnya kamu menunggu sampai Pak Trimo pulang. Ibu tidak mau kalau harus pulang lagi karena takut nanti tak bertemu dengan Pak Trimo jika kembali lagi.


"Ibu mau nunggu saja. Takutnya nanti Bapakmu pergi lagi." ucap Ibu pada Suci. Suci yang sedang sibuk dengan pekerjaan di dapur pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Sini anakmu Ibu saja yang asuh. Sana kamu kalau masih repot." pinta Ibu. Awalnya Suci menolak, tapi karena Ibu terus memaksa akhirnya Suci menyerahkan anaknya pada Ibu.


Terlihat begitu sayangnya Ibu pada anak Suci. Terlihat tawa Ibu saat menimang anak Suci, dan anak itu pun tertawa terkekeh sangat menggemaskan.


"Assalamu'alaikum." terdengar suara salam dari luar rumah yang ternyata suara Pak Trimo baru pulang. Suci menceritakan maksud kedatanganku dan Ibu pada Bapaknya. Dan Suci mengambil alih anaknya dari Ibu. Padahal aku juga sangat ingin menggendongnya. Wajah lucu anak itu sungguh membuatku langsung jatuh cinta saat melihatnya.


Sesekali Pak Trimo melihat ke arahku. Ibu dan Pak Trimo memilih mengobrol di dalam, sedangkan aku memilih untuk menunggu di luar. Namun terlihat jelas Pak Trimo terus-terus menatap tajam ke arahku.

__ADS_1


Oooeeee... oooeee...


Anak Suci mendadak menangis histeris. Tatapan matanya kosong, dan ia menangis tanpa mengeluarkan air mata. Namun Suci tampak biasa saja. Biasanya kebanyakan orang tua akan bingung dan panik saat anaknya menangis histeris. Pak Trimo menghampiri cucunya, entah apa yang ia baca. Namun mulutnya terlihat komat kamit merapalkan doa dan kemudian mengusap wajah cucunya yang masih saja histeris. Dalam sekejap cucunya terdiam, bahkan tampak biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.


__ADS_2