Bayi Ambar

Bayi Ambar
Bab 40 Terjebak


__ADS_3

Langkah kaki ku mendadak tergesa manakala suara derap langkah kaki terdengar mengikuti dari belakang. Suasana langit yang tadinya cerah mendadak mendung dan langit pun tampak gelap gulita. Tak butuh waktu lama, suara petir mulai terdengar menggelegar memecah kesunyian.


"Astaghfirullah." aku terpekik manakala suara guntur menggelegar memekakkan telinga. Ku percepat langkah kakiku mencoba untuk tiba di rumah sebelum adzan berkumandang. Hari masih siang, namun cuaca yang mendung membuat tampak seperti sore hari. Tak berselang lama, tetesan air berjatuhan dari langit. Hawa dingin membuatku bergidik saat hembusan angin menerpa dan menusuk hingga ke tulang.


Lelah, hanya itu yang saat ini ku rasakan. Jarak rumah yang ku tempuh dari rumah Suci sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun entah mengapa kali ini rasanya sangat jauh. Hingga kaki ini sudah lelah berjalan, namun halaman rumahku saja belum juga tampak.


"Mas Hadi." lagi, lamat-lamat aku mendengar suara perempuan memanggil. Suara yang mirip sekali dengan suara Ratih istriku. Namun aku tetap berusaha menyangkal, karena memang kenyataan Ratih saat ini masih berada di rumah bersama Ibu.


"Mas... hihihihihi..." bulu kudukku meremang manakala suara perempuan itu berubah menjadi tawa yang sangat mengerikan dan mampu membangkitkan bulu kuduk siapapun yang mendengarnya.


"Astaghfirullah, Ya Allah... Ya Allah." lagi dan lagi. Hanya nama sang Pencipta saja yang ku ingat dan ku sebut sepanjang perjalanan. Pikiranku kini menjadi kalut. Memikirkan antara Ratih yang masih berada di rumah namun suaranya terdengar selalu mengikuti, serta langkah kaki yang sudah ku percepat namun tak kunjung sampai ke rumah juga.


Angin tiba-tiba berhembus kencang dan siap menerbangkan apapun yang di laluinya. Aku memilih untuk berhenti, menepi ke sebuah pohon besar dan memilih untuk duduk. Namun karena teringat akan pesan Mbah Trimo kalau aku tidak boleh menengok ke belakang apapun yang terjadi, aku memilih berjalan menyamping dan tetap memandang ke depan. Entah apa yang akan orang lain pikirkan tentangku jika melihat aku berjalan menyamping seperti kepiting. Suara tawa wanita terdengar menggema. Kali ini terdengar sangat dekat dan berputar-putar di atas kepala. Tadinya aku ingin menoleh ke atas, untuk melihat sosok apa yang sebenarnya mengikutiku sedari tadi. Namun semua ku urungkan.


Saat suasana terdesak seperti ini, tak ada pilihan lain selain mengingat Yang Kuasa. Membaca surat-surat pendek yang ku hafal, membaca ayat kursi dan juga berdoa meminta perlindungan pada Sang Pencipta membuat hatiku sedikit tenang. Lambat laun langit tampak kembali cerah. Hujan yang tadi sempat mengguyur bumi dengan derasnya kini berangsur reda. Aku memilih untuk melanjutkan perjalanan. Dengan membaca Basmalah sebelum melanjutkan perjalanan, aku berusaha untuk tetap fokus dan berharap untuk cepat tiba di rumah.


"Kamu kemana saja, Hadi? Cuma ke rumah Mbah Trimo saja kok sampai maghrib begini?" tanya Ibu tiba-tiba saat menyambutku pulang.


"Hah? Maghrib?" tenggorokanku tercekat. Bagaimana mungkin sudah maghrib, sedangkan tadi saat aku berteduh di bawah pohon besar jelas-jelas hari masih siang.


Aku belum berniat untuk menceritakan kejadian yang ku alami sepanjang perjalanan tadi.

__ADS_1


"Lebih baik aku menemui Ratih dahulu." gumamku karena penasaran dengan kondisi Ratih setelah di berikan air doa dari Mbah Trimo. Rupanya Ratih tertidur. Saking lelapnya dia tertidur aku tak tega untuk membangunkannya.


"Apa Ratih baik-baik saja, Bu?" tanyaku pada wanita yang telah melahirkanku tiga puluh dua tahun yang lalu.


"Iya, Di. Dia baik-baik saja. Bahkan sudah terlihat lebih baik dari kemarin. Tadi Mbah Trimo kesini untuk meruqyah istrimu." ucap Ibu membuat dahiku mengernyit.


"Kapan, Bu?" aku penasaran. Secara tadi aku di perjalanan tak melihat Mbah Trimo ke rumah. Kalau pun beliau menyusul, sudah pasti akan bertemu denganku karena jalan kerumah kami dari rumah Mbah Trimo hanya satu jalur saja. Adapun jalan lain tetapi lebih jauh dan memutar karena ada lahan luas yang di tanami pohon jati oleh pemiliknya.


"Tadi siang. Makanya Ibu heran mengapa Mbah Trimo sampai rumah sedangkan kamu belum pulang juga." ucap Ibu sambil membereskan bekas makan malamku. Aku terdiam, memikirkan kejanggalan yang ku alami hari ini.


"Mbah Trimo bilang apa, Bu?" tanyaku.


"Waktu Ibu tanya, kok dia datang sendiri. Sedangkan kamu sudah dari pagi ke rumahnya. Mbah Trimo hanya bilang kalau kamu sedang ada urusan dengan lelembut." ujar Ibu membuatku terhenyak.


"Ibu khawatir, Di. Berulang kali Ibu menengok kamu ke jalanan. Menunggu kamu yang tak kunjung datang, tapi Mbah Trimo bilang kalau kamu akan baik-baik saja." ujar Ibu membuatku semakin penasaran. Mengapa hanya aku yang di ganggu, sedangkan Mbah Trimo bisa sampai di rumah sebelum aku.


"Mbah Trimo bilang, ini kesempatan bagus untuk mengobati istrimu. Jadi membiarkan setan itu bermain-main denganmu terlebih dahulu, sehingga istrimu bisa di obati tanpa ada gangguan dari saudarinya itu." ucapan Ibu kali ini membuatku lega. Tak mengapa kalau akhirnya Ratih bisa di sembuhkan. Sungguh aku akan berterimakasih sekali jika semua gangguan ini akan lenyap dari hidupku.


Aku mengelus pucuk kepala Ratih. Suara hembusan nafasnya yang perlahan membuatku merasa lega karena sebentar lagi dia akan sembuh.


"Mbah Trimo akan memberikan kamu benteng agar tak bisa di ganggu oleh makhluk itu lagi, Di." ucap Ibu sembari meletakkan segelas air putih di samping ranjang Ratih. Untuk berjaga-jaga bila nanti tiba-tiba Ratih terbangun dan ingin minum.

__ADS_1


"Kamu harus rajin sholat juga, puasa sama jaga tubuh kamu agar tetap suci, Di." ucap Ibu.


"Bagaimana caranya, Bu?"


"Jaga wudhumu, jangan sampai batal. Kalau batal, kamu langsung berwudhu lagi. Teruslah membaca doa dan bersholawat. Mbah Trimo akan membantu dari jauh. Sedangkan kamu juga harus berusaha untuk membentengi dirimu sendiri dari dalam." ucap Ibu.


Aku mengangguk. Bergegas aku kebelakang, mengisi kendi yang biasa untuk berwudhu dan berdoa sebelum berwudhu. Meminta perlindungan dari Yang Memberi Hidup adalah kunci utama keberhasilan pengobatan ini.


"Lalu, apakah arwah Ranti dan Radit akan berhenti menggangguku setelah ini, Bu?" tanyaku masih penasaran. Ibu tak menjawab, beliau hanya menghembuskan nafas kasar dan mengeluarkannya perlahan.


"Mas." Ratih terbangun. Matanya tampak sayu dan wajahnya masih pucat.


"Minum, Nduk." Ibu berusaha mendudukkan Ratih dan menyodorkan gelas air minum kepadanya.


"Sudah, Bu." Ratih kembali bersandar pada dinding tempat tidur. Ikatan di tangannya sudah ku lepas.


"Apa yang kamu rasakan, Dik?" tanyaku pada wanita yang sudah ku nikahi selama beberapa tahun itu. Ratih menggeleng.


"Maafkan aku, Mas." ucapnya lirih.


"Sudah, sudah. Jangan di pikirkan lagi. Yang penting kamu baik-baik saja." ucapku menenangkan hati Ratih.

__ADS_1


"Maafkan kami yang membawa masalah kesini, Bu." Ratih terisak. Namun Ibu hanya memeluknya.


__ADS_2