
"Kamu mikir apa, Di?" tiba-tiba saja Ibu muncul dari belakang. Aku yang sedang duduk termenung di bangku depan rumah lekas menoleh dan mempersilahkan Ibu untuk lekas duduk di sebelahku. Sudah tak sabar rasanya aku untuk mencurahkan segala isi hati dan pikiran pada wanita yang telah membesarkanku seorang diri itu.
"Bu."
Aku menerima uluran cangkir berisi kopi dari tangannya.
"Apa yang kamu pikirkan?" Ibu duduk di kursi dekat denganku. Aku menghela nafas panjang, menatap jauh ke depan. Bingung ingin memulai cerita dari mana.
"Bu, apa mungkin Ratih bisa di sembuhkan?" lantas aku berpikir kembali tentang kondisi istriku. Jujur, kali ini pikiranku bercabang. Memikirkan Ratih yang kondisinya seperti bukan dia, dan juga Ibra yang tiba-tiba saja mengundurkan diri dan sulit di hubungi. Aku sedang mencoba meminta bantuan salah satu karyawan lainnya untuk mencari tahu kondisi Ibra. Katanya, sejak siang Ibra sudah ijin pulang lebih dulu. Bahkan sampai sekarang kamar kostnya masih kosong. Kata pemilik kos, Ibra pergi bekerja sejak pagi dan belum pulang sampai sekarang.
"Kita berusaha saja, Di. Minta petunjuk sama Allah. Sama yang memberi kita hidup. Bertobat dan memohon ampunan jika kita telah lalai dan banyak melakukan kesalahan." ucap Ibu yang tak ku jawab dengan bantahan apapun.
__ADS_1
Aku dan Ibu duduk dalam diam. Tak ada obrolan apapun diantara kami berdua. Aku yang semula ingin menceritakan semua keluh kesahku, kini hanya bergeming. Sibuk dengan pikiranku sendiri. Mungkin Ibu juga sama. Beliau hanya terdiam dan menatap ke depan. Mungkin Ibu juga sedang memikirkan sesuatu.
"Kapan kamu mau ke rumah Mbah Trimo lagi?" tanya Ibu kembali membuka obrolan.
"Sore ini, Bu." jawabku singkat.
"Ya, kalau jam segini memang dia masih di ladang." ucap Ibu yang ku jawab dengan anggukan kepala.
"Coba kamu mendekat, Di. Siapa tahu Mbah Sum ingin bicara sesuatu." perintah Ibu dan aku pun bergegas berdiri mendekati Mbah Sum yang malah terlihat kikuk saat ku dekati.
"Ada apa, Mbah?" tanyaku dengan nada suara biasa saja. Namun Mbah Sum bukannya menjawab, malah berkali-kali terlihat seperti enggak melihat ke arahku.
__ADS_1
"Mbah." panggilku lagi. Seketika wajah wanita tua itu memucat.
"Di, rupanya istrimu masih merawat bayi bajang itu dirumah kalian." ucap Mbah Sum membuatku terkejut. Bagaimana bisa Mbah Sum mengetahui tentang bayi bajang yang Ratih rawat selama ini.
"Di, pulangkan dia sama Ibunya. Kalau tidak..." Mbah Sum tidak melanjutkan perkataannya. Hanya saja sesekali sorot matanya terlihat memperhatikan sesuatu di belakangku.
"Kalau tidak apa, Mbah?" tanyaku penasaran.
"Kalau tidak, kalian tidak akan pernah bisa memiliki anak selamanya." ucap Mbah Sum membuatku menelan saliva.
"Mak-maksudnya, Mbah?" dari yang pernah ku dengar, memelihara bayi bajang bisa mengundang rejeki. Bahkan rumah makanku yang hampir tutup saja sekarang kembali ramai bahkan lebih ramai dari sebelumnya. Bahkan ada yang bilang jika kita merawat bayi bajang maka suatu saat kita juga bisa di berikan keturunan seperti yang sudah kami inginkan sejak lama.
__ADS_1
"Bayi bajangmu beda, Di. Dia tidak suka memiliki teman di rumah. Dia ingin menguasai kalian. Dia ingin menjadi satu-satunya di keluarga kalian." ucap Mbah sum membuatku tak mampu berkata-kata.