Bayi Ambar

Bayi Ambar
Radit Sebenarnya


__ADS_3

Di dunia ini memang tak hanya di huni oleh kita kaum manusia saja. Bangsa jin pun juga ikut menempati juga. Hanya saja tidak semua orang bisa melihat mereka yang selalu hidup berdampingan dengan kita. Jangan saling mengusik, cukup hiduplah dengan baik dan tidak saling mengganggu satu sama lain. Jangan memanggil ataupun bersekutu dengan mereka kalau kita tidak ingin merugi nantinya. Begitulah kata-kata pernah Ibu ku bilang saat beliau masih hidup. Jangan sampai kita bersekutu dengan mereka, apalagi memuja-muja mereka.


"Apa benar Ratih bersekutu dengan mereka?" otakku berpikir keras, mencoba menerka-nerka tentang ucapan Bu Sofi.


Tok...tok...tok...


Suara kaca jendela kamar di ketuk dari luar. Aku tertegun, berusaha menetralkan hati dan pikiran. Membuang jauh-jauh rasa takut dan mencoba bertingkah sewajarnya. Sosok wanita di kamar belum juga pergi, kini ada lagi yang mengetuk jendela kamar. Gangguan macam apa ini, selama aku tinggal di rumah ini, baru sekarang ini gangguan sering muncul silih berganti.


"Ya Allah, tolong aku." aku malu sebenarnya jika harus meminta pertolongan Allah. Selama ini aku sering lupa, bahkan aku lalai dengan penciptaku. Dan sekarang aku malah meminta pertolongan Nya disaat rasa takut melanda. Ku baca surat-surat pendek yang ku bisa, berharap mampu mengusir gangguan yang ku alami akhir-akhir ini.


Suara ayam jantan berkokok saling bersahutan. Sosok wanita yang sedari tadi berada di samping Ratih pun sudah tak ada. Radit sudah di kembalikan ketempat semula. Akhirnya aku bisa bernafas lega, rasanya lelah sekali semalaman bersama makhluk yang wajahnya saja tak ingin ku lihat. Meskipun postur tubuh sangat mirip dengan Ratih, namun wajahnya terlihat sangat menyeramkan. Berbeda dengan Ratih yang ayu dan enak di pandang.


"Mas, sudah masak ya?" Ratih mendaratkan pantatnya di kursi makan. Selepas subuh tadi aku tak bisa tidur lagi dan memilih untuk berkutat di dapur. Membiarkan istriku terlelap di dalam mimpinya. Aku memandang wajah Ratih yang tampak semakin kurus.


Aku berniat untuk menyelidiki dari mana asalnya Radit. Bagaimana dia bisa memilih kami dan sekarang hidup bersama dengan kami. Tak akan ku biarkan Ratih menderita dan sakit karena Radit. Apa Ratih tak pernah tahu kalau selama ini dia yang menyusui Radit?


"Mas." panggil Ratih membuyarkan lamunanku. Aku bergegas pamit untuk berangkat ke Rumah makan. Akan ku atur strategi agar bisa memisahkan Ratih dengan Radit.

__ADS_1


Tling...tling...


"Maksud, Mas, apa?" jawab Ratih pada pesan yang ku kirim ke handphone nya.


"Bayinya lucu-lucu ya, Dik? Kalau mau, besok minggu kita ke panti untuk melihat-lihat mereka. Siapa tahu ada yang cocok sama kita". jawabku panjang lebar, namun tak ada balasan dari Ratih. Ku tahu Ratih pasti marah, karena dia sudah sangat menyayangi Radit yang jelas-jelas bukan anak manusia.


"Oke." ternyata Ratih menjawab, dan hanya sesingkat itu jawabannya. Aku menghembuskan nafas kasar. Aku tahu Ratih akan marah padaku setibaku di rumah nanti. Ibra menepuk-nepuk lenganku, memberikan suport dan mencoba menguatkan aku dalam menghadapi cobaan seperti ini.


"Jangan ke dukun, Pak. Itu sama saja bohong." nasihat Ibra yang hanya ku jawab dengan anggukan kepala. Aku bingung. mau mulai dari mana semua ini. Aku takut akan salah jalan, dan malah akan semakin menjerumuskan keluargaku ke lubang hitam.


"Rawat saja, Hadi. Dia tidak akan membawa kerugian untukmu. Malah sebaliknya." ucap Bu Sofi yang mampir sekedar untuk bertemu denganku. Sudah beberapa kali Bu Sofi datang ke rumah makan ku semenjak beliau tahu tempat usahaku ini.


"Kamu ingat saat ku minta untuk mendekor kamar di rumahku?" tanya Bu Sofi dan tentu saja aku mengingat semuanya.


"Itu juga untuk bayi seperti anak yang kamu rawat sekarang ini." jawab Bu Sofi perlahan. Aku terkejut di buatnya dengan pengakuan Bu Sofi yang sungguh di luar dugaanku. Ku pikir dulu Bu Sofi akan mengadopsi anak dari panti atau anak dari saudaranya, mengingat beliau sangat menyayangi anak-anak.


Aku mendengarkan cerita Bu Sofi dengan seksama. Mencoba memahami secara rinci tentang bayi bajang itu.

__ADS_1


Ku sesap secangkir kopi yang di sediakan Ratih untukku. Mencoba melawan rasa takut, aku duduk merenung sendirian di teras rumah. Jarak rumah yang lumayan berjauhan dengan para tetangga, membuat suasana desa tampak sepi saat jam baru menunjukkan pukul delapan malam. Sekelebat bayangan hitam tampak melintas di bawah pohon di halaman rumah. Aku mencoba untuk abai dan tak terlalu mempedulikan datangnya sosok itu. Berpura-pura memainkan gawai dan mencoba mengalihkan perhatianku darinya.


Di atas pohon, tampak sosok wanita itu duduk menggantungkan kedua kaki yang tampak berayun-ayun. Jemari tangannya memainkan rambutnya yang menjuntai ke bawah hingga menyentuh tanah. Aku memejamkan mata, berharap sosok itu lekas pergi. Hari masih sore, namun mereka sudah mengantri untuk menampakan wujudnya.


Bergegas aku sesap hingga tandas isi cangkirku. Setengah berlari, aku masuk ke dalam rumah menjumpai Ratih yang sedang menimang-nimang Radit.


"Dik, sampai kapan Radit akan bersama kita?" tanyaku kemudian berharap Ratih tidak akan marah.


"Memangnya kenapa sih, Mas?"


"Mas capek setiap hari di teror oleh setan." jawabku ketus membuat Ratih langsung menoleh ke arahku dan membuatku langsung ciut di hadapannya.


"Maksud Mas Hadi apa?"


"Memangnya kamu tidak merasa ada yang aneh akhir-akhir ini semenjak ada Radit?" tanyaku sambil menunjuk wajah Radit yang ada dalam dekapan istriku itu. Sekilas Ratih memandang ke arah Radit. Ratih terdiam, ia tak mengatakan apapun. Hanya nyanyian kecil yang ia dengungkan untuk menimang Radit dalam gendongan.


"Radit ini keponakan kita, Mas." ucap Ratih membuatku terbelalak. Rasa kantuk yang baru saja menyergap mendadak hilang.

__ADS_1


"Maksudnya, Dik?"


Ratih menceritakan hal yang sebenarnya, dimana tadinya dia memiliki saudara kembar bernama Ranti. Dan Ranti itulah yang sering muncul setiap malam di sekitar Radit dan Ratih. Hanya saja, Ratih tak pernah bisa melihat Ranti, saudara kembarnya itu. Ranti meninggal sekitar dua tahun sebelum Ratih mengenalku. Ratih mati bunuh diri karena frustasi setelah hamil korban perkosaan. Namun kematiannya terlihat janggal, Ratih menganggap kalau saudaranya itu di bunuh dalam kondisi hamil. Bukan karena bunuh diri. Dan janin yang ada di dalam kandungan kakaknya itu pun ikut dimakamkan bersama jasad ibunya. Semua foto dan kenangan Ratih dan Ranti sengaja disimpan, dan mereka sepakat tak akan lagi membahas soal Ranti. Mengingat kondisi ayah Ratih yang semakin tua serta sakit-sakitan, keluarga tak ingin mengingatkan tentang Ranti agar ayahnya tak selalu kepikiran tentang anaknya itu.


__ADS_2