Bayi Ambar

Bayi Ambar
Gangguan Sosok Menyeramkan


__ADS_3

Melihat sosok yang saat ini sedang menatap kami dari luar jendela, membuat tubuh aku dan Ibu bergetar hebat. Dengan susah payah Ibu mundur perlahan dengan posisi duduk, merayap dengan bantuan kedua tangannya mendekat ke arahku. Aku yang sedari tadi berada di balik pintu berusaha menarik tubuh Ibu dan bersembunyi di balik ranjang tempat Ratih terbaring. Dari luar jendela, suara ketukan terdengar halus dan terus menerus. Suara kaca jendela yang sedang di ketuk dengan ujung kuku yang panjang. Aku mengintip dari balik ranjang. Korden jendela yang tersingkap cukup jelas untukku melihat ke arah luar kamar. Sosok itu masih berdiri disana, menatap ke dalam dan memainkan jemari tangannya di kaca jendela. Sesekali dia menoleh, memainkan rambutnya yang terurai. Bola mata yang menjuntai hingga ke pipi beberapa kali ia sibak, namun tetap saja terjatuh lagi dan bergelantungan di kedua pipinya. Tetesan darahnya terlihat mengalir membasahi kedua wajahnya, menetes hingga ke rambutnya yang tak beraturan. Aku bergidik ngeri di buatnya.


"Ibu takut, Di." ucap Ibu. Dengan tangan gemetarnya beliau memeluk erat lengan tanganku. Bisa di pastikan kalau Ibu saat ini memang sangat ketakutan. Aku sungguh merasa bersalah telah membawa masalah ke rumah ini. Suasana rumah yang semula tenang dan tentram kini menjadi mencekam karena kedatanganku. Berharap aku akan mendapatkan solusi dari masalahku, malah membawa petaka bagi Ibu dan Ratih.


"Besok pagi-pagi Hadi akan ke rumah Mbah Trimo, Bu. Hadi akan meminta bantuan Mbah Trimo untuk mengatasi masalah ini." ucapku berbisik mencoba untuk membuat Ibu tenang.


Duukkk...duukkk...duukkk...


Suara ketukan berubah menjadi gedoran kencang. Ibu yang sejak tadi terdiam langsung berteriak saat mendengar jendela di dobrak dengan kerasnya. Ibu semakin erat mencengkeram lengan tanganku. Sedangkan aku semakin merapatkan tubuh pada dinding berharap sosok itu tak melihat kami.

__ADS_1


Duuukkk... dduuukkk...


Ssrreeekkk...ssrreekkk...


Tubuh Ibu semakin menggigil manakala suara ketukan di susul dengan suara kaki yang di seret dengan berat berjalan di depan pintu kamar. Kami yang posisinya tepat di sebelah pintu kamar langsung berjingkat, dan memilih untuk bergeser hingga ke ujung. Mulut Ibu komat kamit membaca doa. Begitu juga denganku, sebisa mungkin aku harus tetap tegar untuk menjaga Ibu supaya lebih tenang.


"Tenang, Bu. Dia tidak akan melukai kita." ku coba menenangkan Ibu.


"Semoga Ratih tidak kesurupan lagi seperti tadi." bisik Ibu membuatku menoleh ke arah Ratih. Terlihat begitu tenang dan damai Ratih di dalam tidurnya. Rupanya air yang di berikan oleh Mbah Sum cukup ampuh untuk menenangkan Ratih hingga sejauh ini.

__ADS_1


Pluuukk...


"Aarrrkkkhhhh..."


Ibu berteriak manakala sebuah tangan menimpa bahunya. Aku yang terkejut ikut melompat dan membentur lemari kayu di sebelahku.


"Astaghfirullah." Ibu mengelus dada saat mengetahui bahwa tangan Ratihlah yang menimpa pundaknya. Sedangkan Ratih yang baru saja terbangun melihat sekeliling seperti kebingungan.


"Ibu dan Mas Hadi kenapa?" tanya Ratih bingung. Aku mendekati Ratih yang masih terikat. Dan benar saja, disitu aku mulai sadar. Tadi sepertinya tangan Ratih menimpa pundak Ibu, lalu sekarang?

__ADS_1


Aku memastikan ikatan pada tangan Ratih. Masih kuat terikat dan belum terlepas. Lalu tangan siapa yang menimpa Ibu tadi?


Aku dan Ibu saling pandang, menoleh kebelakang dan mendapati sosok itu sudah berdiri tepat di belakang kami.


__ADS_2