Bayi Ambar

Bayi Ambar
Satu Minggu Di Kota


__ADS_3

Aku memutuskan untuk menitipkan Ratih di rumah orang tuanya. Untuk sementara, aku akan fokus pada rumah makan yang sudah ku tinggalkan hampir satu bulan lamanya. Pengobatan Ratih di kampung sepertinya membuahkan hasil. Bahkan hingga satu minggu kami sudah kembali ke kota, Ratih tampak baik-baik saja. Bahkan Ratih tak lagi menunjukkan gelagat aneh seperti saat sebelumnya. Ratih tak pernah membahas tentang Radit maupun Mbak Ranti. Bahkan sepertinya Ratih lupa dengan semua hal itu.


"Hallo, Dik. Nanti Mas pulang ke rumah Ibu. Mau ketemu kamu." ucapku di sambungan telepon. Memang rencananya sore nanti aku akan pulang ke rumah mertuaku untuk bertemu istriku.


"Iya, Mas. Hati-hati di jalan." jawab Ratih dengan suara lembut.


Membayangkan kehidupan yang harmonis seperti dulu tanpa adanya gangguan lagi dari makhluk halus membuatku kembali bersemangat untuk mengobati Ratih supaya bisa kembali seperti sedia kala. Aku juga sudah berjanji pada diri sendiri untuk mengajak Ratih berkonsultasi pada dokter untuk program hamil. Berharap dengan cara seperti itu Ratih akan melupakan kesedihan dan tak mengambil jalan yang salah lagi dengan merawat Radit dan di anggap sebagai anaknya.

__ADS_1


"Sepertinya istrimu sangat menginginkan anak, Di. Makanya dia mau merawat anak Kakaknya itu sebagai anak sendiri." ucap Mbah Sum malam itu saat Ratih tengah tak sadarkan diri.


"Tapi, Mbah. Apa kemungkinan bisa lepas?" tanyaku penasaran.


"Semoga saja. Intinya harus ikhlas. Jangan ganggu yang sudah tidak ada. Biarkan mereka melanjutkan urusan mereka sendiri di sana. Kita yang masih hidup jangan ikut campur." nasehat Mbah Sum padaku. Saat itu ada Ibu juga di kamar sedang menemani Ratih. Sedangkan tetangga yang lain sudah memilih untuk pulang.


Aku menceritakan kisah yang selama ini Ratih lakukan. Dari mulai gelagat aneh di rumah, sosok bayi yang menyeramkan dan juga sosok wanita menyerupai Ratih yang katanya saudara kembar Ratih. Apalagi kisah kematian Ranti yang mengenaskan.

__ADS_1


Aku teringat Bu Sofi, mantan atasanku dulu yang juga memelihara boneka arwah. Hanya saja yang ada sama Bu Sofi berwujud boneka. Tidak bergerak dan tidak berpindah tempat. Sedangkan Radit? Dia nyata. Sosok menyeramkan yang menyerupai bayi dan bisa berpindah tempat kemana pun. Bahkan Radit juga menyakiti Ratih dengan menghisap darah melalui kedua payudara istriku.


Aku memutuskan untuk menanyakan semuanya pada mertuaku lagi. Berharap dengan kejujuran mereka semua akan terkuak dan semua akan selesai. Aku lelah menghadapi teror seperti itu.


Seminggu aku tinggal sendiri di rumah. Sedangkan Ratih masih berada di rumah orang tuanya. Setiap malam aku merasa di awasi. Meskipun tidak di ganggu secara langsung, namun aku merasa malamku tidak pernah tenang dan damai. Aku merasa tidur bersama Ratih. Padahal sudah jelas saat ini istriku tidak bersamaku.


Hhhhhmmmm...hhhmmmmm...

__ADS_1


Suara wanita bersenandung terdengar sangat jelas di dapur. Awalnya ku kira Ratih yang sedang memasak. Namun saat aku memastikan dan meyakinkan jika hari masih tengah malam ditambah Ratih yang tak ada di rumah, sudah bisa di pastikan kalau suara itu bukan berasal dari Ratih.


Suara langkah kaki yang melangkah dengan pelan dan suara sesuatu yang diseret perlahan juga terdengar melewati jendela luar kamar tempat aku tidur. Suara itu terdengar seperti seseorang yang sedang mondar mandir dan akan hilang saat adzan subuh berkumandang. Seperti itulah gangguan yang ku alami selama satu minggu ini. Hanya saja, aku tak pernah menceritakan pada Ratih atau siapapun termasuk Ibu.


__ADS_2