Bayi Ambar

Bayi Ambar
Bab 45 Rahasia Orang Tua Ratih


__ADS_3

Bapak melarang Ratih untuk ku bawa pulang. Kata Bapak mertua, beliau merasa terhibur jika ada Ratih di rumah. Aku di minta untuk sering-sering datang saja kerumah. Meskipun ada rasa tak enak karena memang Ratih sudah menjadi tanggung jawabku, aku juga tak ingin membuat Bapak mertua terbebani dengan kondisi Ratih yang seperti ini.


"Hadi, tolong bawa Ratih. Jangan biarkan Ratih disini terlalu lama." Ibu menarik lengan tangan dan membawaku ke dapur. Membisikkan permintaan yang berlawanan dengan keinginan Bapak.


"Hadi memang ingin membawa Ratih, Bu. Tapi Bapak melarang." ujarku.


"Bawa istrimu ke Ibumu. Tolong, jangan biarkan dia seperti ini terlalu lama." ucap Ibu dengan di ikuti air mata yang mengalir dari kedua sudut netranya yang sudah terdapat banyak keriput.


"Memangnya ada apa, Bu, sebenarnya. Tolong beritahu Hadi. Hadi bingung, Hadi merasa tak mengetahui apapun tentang ini." aku merasa ada yang janggal dengan permintaan Bapak dan Ibu mertuaku itu. Bapak menginginkan Ratih untuk tetap tinggal. Namun, Ibu ingin Ratih keluar dari rumah mereka.


"Ikutlah kemari, Hadi. Ibu ingin bicara yang sebenarnya." Ibu memintaku mengikutinya sebuah ruangan yang dulunya di pakai untuk kamar Ranti.


Aku melajukan mobilku perlahan. Banyak hal yang membuatku terkejut. Bisa-bisanya selama ini mertuaku menyembunyikan hal yang sangat penting dan fatal tanpa sepengetahuanku.


"Maafkan Ibu, Di. Ibu terpaksa. Sebenarnya Ibu tidak pernah setuju mereka melakukan hal seperti ini." isak tangis Ibu pecah manakala aku berpindah tempat duduk ke kursi rias milik Ranti.


"Lalu, apa Bapak tidak memikirkan masa depan Ratih nantinya, Bu?" tanyaku lembut, takut akan menyinggung perasaan orang tua wanita yang ku cintai itu.


Ibu menggeleng. Wajahnya sendu, air matanya tak henti-hentinya mengalir, merutuki kebodohannya sendiri membiarkan suami dan anaknya bertindak konyol hingga membuat keadaan Ratih menjadi seperti saat ini.


Kali ini aku masih pulang sendiri. Ratih pun masih tetap enggak untuk ikut pulang denganku. Sedangkan Bapak, memang sudah menginginkan Ratih untuk tetap tinggal.


Kini ku tambah kecepatan laju mobilku. Memilih jalan ke arah di mana Ibuku tinggal seorang diri. Biarlah rasa lelah di tubuh tak ku hiraukan lagi. Aku ingin mencari tahu, apakah Ratih masih bisa di sembuhkan.


Tepat pukul sepuluh pagi aku sudah tiba di rumah Ibu. Namun rupanya rumah dalam keadaan kosong.

__ADS_1


"Ibumu ke ladang, Di. Kamu kok pulang sendirian saja?" tiba-tiba saja Mbah Sum datang dari arah timur.


"Eh, iya, Mbah. Ibu sudah dari tadi, ya?" tanyaku pada wanita seumuran dengan Ibuku.


"Sejak pagi, sebentar lagi pulang. Kamu tunggu saja di rumah Simbah." Mbah Sum menawarkan diri untuk menampungku sementara hingga Ibuku pulang dari ladang.


Segelas kopi panas beliau hidangkan untukku. Di tambah dengan singkong goreng yang sudah agak dingin.


"Makanlah, Di. Simbah cuma punya itu. Tadi goreng banyaj sebelum ke warung." ucap Mbah Sum dan ku jawab dengan anggukan kepala.


"Makanlah dulu. Kamu pasti lapar. Berangkat dari kota jam berapa?" tanya Mbah Sum membuatku urung memasukkan singkong goreng ke dalam mulutku.


"Jam dua pagi, Mbah." jawabku singkat.


"Belum, Mbah. Makanya saya pulang lagi." jawabku singkat. Kali ini aku memilih untuk buru-buru memasukan singkong goreng ke dalam mulut sebelum Mbah Sum bertanya lebih banyak. Setidaknya perutku akan sedikit terganjal sembari menunggu Ibuku datang.


"Hhhmmmm..." terdengar suara Mbah Sum membuang nafas kasar. Sepertinya beliau sedang memikirkan sesuatu.


"Mbah, mari di makan." aku menawarkan singkong yang masih di piring untuk Mbah Sum agar bisa makan bersama-sama.


"Kamu saja, Di. Tadi simbah sudah makan sewaktu masih panas-panas." ucap Mbah Sum dengan mata yang menatap jauh, terlihat sedang menerawang memikirkan sesuatu.


Aku tak berani banyak bertanya. Aku tahu, Mbah Sum pasti juga paham tentang kegelisahanku. Hanya saja beliau terlihat lebih tenang ketimbang aku sendiri.


"Ada apa, Mbah?" tanyaku saat melihat Mbah Sum seperti salah tingkah.

__ADS_1


"Mbah pingin ngomong sebenarnya. Hanya saja..." suara Mbah Sum terjeda.


"Kenapa, Mbah?" aku semakin penasaran di buatnya. Entah apa yang ada di dalam pikiran Mbah Sum sehingga harus berpikir berkali-kali sebelum mengutarakannya.


"Simbah takut kamu tersinggung, Di. Di tambah, wanita itu selalu mengikutimu." ucap Mbah Sum membuatku terlonjak kaget. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan mencari seseorang yang di bicarakan oleh Mbah Sum.


"Ta-tapi saya sudah tidak pernah bertemu dengannya lagi, Mbah." jawabku takut. Seketika bayanganku tertuju pada wajah Ranti yang sudah hancur dan mengerikan sedang menatapku saat ini. Meskipun saat ini aku tak melihatnya secara langsung, namun ingatanku tentang wajah yang pernah ku temui itu langsung saja muncul dan tergambar jelas di hadapanku.


"Baumu saja masih wangi, Di." ucap Mbah Sum sambil mengendus ke arahku. Aku yang sedang memegang singkong yang baru sempat ku gigit sekali itu hanya bisa melongo mendengar ucapan Mbah Sum.


"Saya belum mandi, Mbah. Mungkin wangi parfum mandi." jawabku berusaha mencairkan suasana. Tidak lucu sekali jika pagi-pagi begini malah di suguhi dengan ucapan-ucapan yang menakutkan. Apalagi ini bukan sekedar dongeng atau cerita, tapi aku sendiri yang mengalaminya.


"Memangnya parfum mobilmu bunga melati?" kata-kata Mbah Sum membuat singkong yang sempat ku kunyah terasa terhenti di tenggorokan. Lekas ku sesap kopi hitam buatan Mbah Sum yang rupanya masih panas dan sangat pahit. Seketika aku ingin memuntahkan kembali kopi yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulut, namun aku takut menyinggung perasaan Mbah Sum.


"Kenapa?" rupanya Mbah Sum menyadari perubahan ekspresi wajahku. Seketika wajahku memerah menahan malu.


"A-anu, Mbah. Kopinya pahit." jawabku sambil nyengir.


"Astaghfirullah. Maaf, Di. Simbah lupa kalau bikin kopi buat kamu. Soalnya Simbah biasa minum kopi tanpa gula. Sebentar, ya. Simbah ambil gulanya dulu." bergegas Mbah Sum bangkit dari kursinya dan berjalan tertatih ke dalam rumah. Aku hanya bisa menggeleng melihat Mbah Sum yang terlihat lucu ekspresinya saat ku bilang kalau kopi buatannya sangat pahit.


Aku mengingat kembali kejadian semalam. Dimana saat Ratih bergelayut manja di lenganku, saat itu tercium aroma bunga melati yang sangat kuat. Tak hanya itu, aroma kembang tujuh rupa yang entah apa saja isinya itu tercium di indra penciumanku. Apalagi sikap Ratih yang tidak seperti biasanya.


"Apa mungkin Mbah Sum tahu sesuatu, ya?" gumamku sambil melongokkan kepala ke dalam rumah Mbah Sum pada pintu yang terbuka. Terlihat wanita yang sudah menua itu berjalan sambil membawa toples yang sudah bisa ku duga berisu gula. Dari dalam beliau sudah tertawa lebar, menunjukan deretan giginya yang sudah mulai banyak celah karena sebagian besar sudah meninggalkan tempat peraduannya.


"Maaf, Di. Simbah lupa dimana meletakkan gula. Jadinya mesti di cari dulu." ucap Mbah Sum sambil terkekeh. Aku pun tak sadar ikut tertawa mendengar Mbah Sum yang tertawa geli karena tingkahnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2