Bayi Ambar

Bayi Ambar
Pulang Kampung


__ADS_3

Suara kokok ayam jago saling bersahutan, menyambut mentari yang sebentar lagi akan muncul di ufuk timur. Aku yang memang sudah tidak sabar untuk pulang kampung, sudah mulai sibuk berkemas sejak petang tadi. Sebelum subuh aku pun sudah mulai mengemasi pakaian yang akan kami bawa ke kampung. Bahkan sebagian barang sudah ku masukan ke dalam bagasi mobil.


"Memangnya kita mau sekalian pindahan, Mas?" tanya Ratih saat melihatku memasukkan banyak barang bawaan yang telah ku kemasi. Aku yang mendengar pertanyaan istriku hanya tertawa nyengir. Jujur saja aku ingin tinggal di kampung dalam waktu lama. Aku berharap bisa terlepas dari gangguan-gangguan yang akhir-akhir ini mengganggu kehidupan keluarga kami. Aku juga berniat untuk mendatangi orang pintar atau siapapun yang bisa menolongku keluar dari masalah ini.


Rumah berdinding papan dan memiliki halaman yang cukup luas itu tampak sepi. Meskipun kondisinya masih sama seperti beberapa tahun yang lalu, tepat dimana aku pergi meninggalkan desa ini.


"Mungkin Ibu sedang sholat di dalam." gumamku saat melihat padasan di samping rumah tampak basah di sekitarnya. Tempat itu biasa kami gunakan untuk berwudhu saat akan melaksanakan sholat ataupun sebelum berangkat mengaji ke surau. Dulu, aku tak begitu rajin mengaji. Aku lebih senang bermain bersama anak-anak yang lainnya hingga membuat ibu murka. Beliau akan datang dengan tergopoh-gopoh berjalan cepat sambil membawa ranting kayu kecil untuk mencambukku kalau menolak untuk pulang dan mengaji, dan tangan satunya di gunakan untuk mengangkat ujung jarik yang beliau kenakan sebatas lutut supaya mempermudah Ibu untuk berjalan cepat. Aku mengusap air mata yang tak sengaja menetes mengingat kejadian yang sudah lampau.


Seorang wanita yang sudah tampak sangat tua keluar setelah membuka pintu samping. Mungkin Ibu mendengar suara deru mobilku yang berhenti tepat di sebelah rumah kami. Dengan memicingkan mata, Ibu mengamati kami dari balik daun pintu. Senyumnya mengembang saat mengetahui bahwa beliau kedatangan anaknya yang telah lama di rindukan. Isak tangis terdengar saat ku peluk erat tubuh rentanya.

__ADS_1


Dulu, aku sering sekali pulang ke kampung untuk menjenguk beliau. Namun semenjak adanya pandemi dan semua serba di batasi, aku sama sekali belum pernah pulang lagi.


Begitu bahagianya Ibu menyambut kedatangan kami, meminta aku dan Ratih untuk segera masuk dan menyiapkan apa saja yang beliau punya.


"Itu temannya kok ndak di suruh masuk sekalian?" tanya Ibu membuatku melongo. Aku menengok ke arah pintu di mana Ibu menunjuk ke arah pintu yang terbuka lebar.


"Tidak ada siapa-siapa, Bu." ucapku sambil meneguk air minum yang selalu Ibu simpan di dalam kendi dari tanah liat.


"Ibu cari siapa?" tanyaku memastikan.

__ADS_1


"Itu lo, temanmu mungkin. Tadi Ibu lihat ikut turun dari mobil kalian. Tapi belakangan." ucap Ibu membuatku terperanjat.


"Ibu serius?"


Ibu mengangguk yakin ,tak mungkin juga Ibu akan berbohong padaku. Tubuhku lemas seketika, detak jantungku berpacu dengan kencang membuat aliran darah dengan cepat mengalir ke seluruh tubuh.


Rupanya Ibu masih penasaran. Bahkan setelah aku dan Ratih membereskan semua barang bawaan kami, Ibu masih saja mencari-cari sosok yang katanya temanku dan ikut pulang bersamaku.


"Tidak boleh kalau sudah berkeluarga memiliki hubungan dekat dengan perempuan lain. Apalagi sampai membawanya pulang kesini. Apa kata tetangga nanti?" bisik Ibu saat aku tengah bersantai di halaman samping rumah. Halaman yang tetao rimbun sedari aku masih kecil. Pohon-pohon mangga dan jambu air tampak lebih besar dari waktu aku meninggalkan rumah ini.

__ADS_1


"Apa maksud, Ibu? Hadi tak membawa siapapun kesini kecuali Ratih. Ibu mungkin salah lihat." sejenak Ibu berpikir. Lantas sambil mengusap-usap tengkuk lehernya, beliau pergi dan meninggalkanku masuk ke dalam rumah.


__ADS_2