
Hembusan angin menerpa wajahku membuat jilbab paris yang aku pakai melambai-lambai. Aku hanya mampu diam meratapi keadaan, aku hanya mampu berpikir dengan penuh kegelisahan meruak memenuhi rongga otak.
Aku tak pernah merasa lebih bimbang dan bingung ini, sungguh aku ibarat berpijak di atas bukit tinggi dan ada beberapa orang mengelilingiku siap untuk menangkapku kala aku jatuh, namun sayang bukan bangga atau bahagia yang aku rasakan namun kehampaan tanpa bisa aku kekang yang ada.
Tak sedikitpun terbersit dalam pikiranku, tak ada sedikitpun keinginan aku terjebak dalam virus merah delima ini, ini sungguh klise ku rasa, ini seperti cerita dalam novel metropop yang sering aku baca. Aku melihat dia yang siap menangkapku saat aku terjatuh dari tebing ini, namun ada sebuah keadaan dan ikatan yang harus aku jaga dan tidak membiarkan aku terjatuh ke arahnya. Aku menyukai cowok itu dengan sederhana, dengan memandang ramah tiap senyum yang disebarkannya. Aku baru menyadarinya bahwa aku telah jatuh dalam pesonanya, namun kenyataan menyentak kesadaran bahwa kami tak pernah bisa bersama.
"Mutia, apa jawabanmu?" tanya kak Hasan membawaku kembali ke dunia bernama kesadaran.
Aku hanya memandang ke arahnya dengan rasa hati penuh penyesalan dan permintaan maaf, "maaf kak, tapi aku tidak bisa."
Aku melihat kekagetan dalam pancaran matanya, kemudian dia memberi senyum simentris yang tak pernah aku duga.
__ADS_1
"Jika kau menolakku, apa ini termasuk ke dalam permainanmu?"
"Maksud kak Hasan?" tanyaku heran.
"Aku tahu kau memberi banyak harapan palsu ke semua orang. Apa kau merasa cantik dengan tampang yang kau miliki sehingga bersikap demikian?"
"Aku tidak mengerti, tapi perlu kak Hasan tahu bahwa aku murni mau berteman dengan siapapun tanpa embel-embel rasa yang lain. Mungkin aku terlalu naif jika melarang diriku jatuh cinta, namun aku bisa apa jika aku memang sungguh sangat menghindarinya."
"Bullshit, aku tak percaya." Kak Hasan berkata dengan acuh dan pergi meninggalkan diriku sendiri, aku masih terpaku dengan perkataan ketus dan sikap kasar kak Hasan, aku tahu benar bahwa kak Hasan saat ini tengah melindungi hatinya supaya tak merasa sakit yang amat dalam.
Aku mendengar suara bel berbunyi dan aku melangkah lebih cepat, namun langkahku berhenti seketika saat melihatnya dengan sorot mata tajam dan tak bersahabat. Aku salah apa lagi?
__ADS_1
Tanpa memperdulikan tatapan tajamnya aku langsung bergegas melangkah tanpa mau sedikitpun memandang atau melirik ke arahnya. Aku cukup tahu diri bahwa aku sudah menyakiti hati temannya, namun aku juga harus menjaga dan menyelamatkan ikatan yang berbeda dan mungkin lebih kuat dan hadir sebelumnya.
"Kamu dari mana?" tanya Mira saat aku sudah mendudukkan pantatku.
"Aku baru dari taman belakang," jawabku.
"Ngapain?"
"Ketemu kak Hasan. Dan maaf sepertinya aku tidak bisa membantumu seperti permintaanmu kemarin." Dia hanya diam tidak menyahut sama sekali, membuatku semakin sesak.
---
__ADS_1
sebenarnya ini bukan cerita baru akan tetapi ini akan menjadi cerita baru untuk di mangatoon. selamat membaca, semoga bisa mengambil pelajaran dalam setiap kejadian yang saya ceritakan dan tuang dalam kisah fiksi ini.....
---> Mawarmay