
Dalam suatu kejadian maka ada yang harus dipertaruhkan. Entah itu waktu atau perasaan.
Aku beranjak dari dudukku dan membersihkan rok bagian belakangku, ku genggam sapu tangan kak Bagas dan beranjak hendak ke kelas namun saat aku melewati masjid aku duduk dan melepas sepatuku, aku berniat hendak melaksanakan sholat dhuha.
Aku berjalan menuju ke arah tempat wudhu perempuan. Aku mengambil wudhu dan melangkah masuk masjid. Ah masih ada waktu lima menit pikirku saat aku memasuki masjid.
Selesai melakukan sholat dhuha dua rokaat aku berjalan menuju tempat di mana aku melepas sepatu, bersamaan dengan sosok tubuh yang aku kenal, entah mengapa aku bisa begitu hafal dengan sosok itu tanpa aku sadari dan saat melihatnya aku pasti bisa menebak dengan benar.
Abi, sosok yang aku maksud itu, dia tengah memandang ke arah mataku dan ke arah tanganku. Kemudian dia mengambil sepatunya yang ternyata ada di dekat sepatuku. Dia membawa sepatu itu menjauh dari kawasan masjid. Dia menjauhiku dia tidak menyukai keberadaanku.
Aku menghela napas, rasanya begitu tidak mengenakkan saat kita dihindari oleh seseorang tanpa sebab yang kita ketahui.
Aku memakai sepatuku dan berjalan menuju kelas, saat sampai kelas ternyata masih sepi, hanya ada beberapa anak saja padahal bel tanda masuk sudah berbunyi saat aku berjalan menuju kelas.
Aku mendudukkan pantatku ke kursi dan memasukkan sapu tangan ke dalam tasku, dan saat aku melihat paperbag yang ada di laci aku hanya bisa menghembuskan napas. Aku sebenarnya penasaran apa yang ada di dalamnya, namun aku urungkan untuk membukanya.
"Lo dari mana?" tanya Mira duduk di sampingku.
"Dari masjid," jawabku sambil mengeluarkan buku sosiologi. Kemudian dia hanya diam dan berbicara dengan Madina.
Saat aku memandang ke arah pintu, aku melihat Erly dan Mirza tengah masuk dengan wajah gusar dan gelisah. Aku heran apa yang membuat mereka berdua sedemikian itu. Namun aku urungkan niatku untuk bertanya.
"Lo kemana aja sih, kita cariin tahu," kata Erly dengan nada khawatir.
"Dia dari masjid, kan udah gue bilang gak perlu berlebihan lo dan Mirza aja yang overdosis." Mira yang menjawab pertanyaan Erly sedang aku hanya diam. Sebenarnya aku ingin menjawab namun aku urungkan takut memperkeruh suasana yang kelihatannya tidak nyaman.
Aku memandang ke arah Mirza yang tengah mengacak-acak rambutnya.
"Kamu kenapa?" tanyaku ke Mirza. Dia memandang ke arahku, namun tak menjawab pertanyaan dariku. Aku hanya mengangkat bahu dan bernapas berat.
"Tadi gue khawatir saat lo gak ada di kelas. Gue tahu lo belum begitu mengenal jalan di sekolah ini. Takut lo nyasar." Erly berkata dengan lesu dan tersenyum dipaksakan.
"Sorry ya, buat kamu khawatir," kataku sambil menggenggam tangannya.
"Kita kan sahabat," katanya dengan pelan, sahabat mungkinkah kalian menganggapku sahabat? Kalian menghakimiku tanpa menilai keadaanku dan mau menanyakan kebenarannya terlebih dahulu.
"Terimakasih," bisikku pelan dan tak lama anak-anak masuk ke dalam kelas.
"Ini titipan dari kak Bagas," kata Idris memberiku kotak makan. Aku mengerutkan dahi.
"Hari ini lo dapat bingkisan mulu," kata Mira.
"Gak tahu," kataku pelan. Aku hanya berpikir, mengapa kak Bagas ngasih kotak makannya? Entahlah, nanti aku tanyakan.
"Dris, tadi ketemu kak Bagas di mana?" tanyaku ke Idris.
"Di sekertariatan KRI, dia ada di sana sama kak Abi dan kak Bimbim." Idris menjawab sambil mengeluarkan buku pelajaran, saat aku mau bicara lagi aku melihat bu Lilik sudah ada di depan jadi aku urungkan.
Aku menyimpan kotak nasinya ke dalam laci, dan aku menemukan note.
Jangan lupa makan adikku sayang.
A.B.W
Aku tersenyum membaca note itu, aku bersyukur dan benar-benar bersyukur mengenalnya. Dia benar-benar sosok yang sangat pengertian dan baik.
''Lo kenapa tersenyum?" tanya Mira, aku hanya menggelengkan kepala dan memperhatikan bu Lilik menjelaskan.
-----------Happy Reading------------
''Mir, aku minta maaf ya," kataku sambil berjalan beriringan dengan Mira, kami selesai melakukan sholat dzuhur di masjid sekolah dan ini adalah istirahat kedua. Dan jika kalian tanya keberadaan Madina dan Erly, mereka ada di kantin berburu makanan.
"Lo gak salah kok, sorry ya gue tadi ninggalin lo gitu aja," jawab Mira dengan senyum.
"Maaf aku sebagai teman gak peka banget, tapi beneran aku dan kak Hasan gak ada hubungan kok."
"Iya gue percaya kok sama lo," aku menghembuskan napas penuh syukur dan lega.
"Terus apa isi bingkisan dari kak Hasan?" tanya Mira.
"Aku gak tahu."
"Makanya buka dong," kata Mira lagi, aku hanya tersenyum samar tidak menolak atau mengiyakan perkataannya.
Sesampainya di kelas aku duduk di bangkuku dan membuka kotak makan yang diberikan oleh kak Bagas, aku sempat geli saat melihat kotak makan itu, aku membayangkan bagaimana bisa cowok semanis kak Bagas membawa bekal.
Sambil tersenyum aku melihat menu makanannya, ternyata ada dua tangkup roti berisi coklat dan kacang. Aku memakannya dengan pelan, aku sempat menawari Madina dan Erly yang sudah duduk di bangkunya namun mereka menolak, jika Mira dia tengah bersandau gurau dengan yang lainnya di belakang.
"Mut," panggil Mirza yang jongkok di depan bangkuku, aku mengerutkan dahiku.
"Lo masih marah sama gue?" tanyanya dengan terbata, aku mengambil setangkup roti rasa kacang dan aku sodorkan ke arahnya, dia sempat bingung namun kemudian dia menerimanya.
"Aku gak marah kok," kataku dengan senyum tenang, aku hanya kecewa kepada Mirza bukan marah. Namun, aku tidak akan mengatakan itu kepadanya.
"Thanks," katanya dengan senyum manis.
__ADS_1
"Terimakasih sudah mau menjadi sahabatku." Aku tersenyum dengan tulus ke arahnya, meski aku kecewa keadanya namun aku tidak mau buta dengan perhatian dan kesempatan yang pernah dia berikan kepadaku. Dia menganggukan kepalanya dan berjalan ke belakang bergabung bersama teman cowok lainnya.
"Sepertinya Mirza suka padamu," kata Shinta, cewek kutu buku yang duduk di sebelah kanan Mira, aku cukup terkejut dengan Shinta yang mau berkomentar. Karena selama ini dia hanya diam tak menghiraukan orang lain.
"Kami hanya bersahabat," kataku sambil tersenyum.
"Aku tidak percaya ada persahabatan murni tanpa ada rasa cinta diantara cewek dan cowok." Shinta berkata dengan santai dan kembali membaca buku tebalnya, sedangkan aku hanya mengangkat bahu tidak mengerti. Aku akan selalu menjaga perasaan dan berusaha tetap menjaga persahabatan ini hingga nanti, meski apapun harus aku korbankan. Aku mencintai dan menyayangi Mirza sebagai sahabatku.
"Lo jadi ikut organisasi apa Mut?" tanya Madina sambil menggerakkan kursiku, akupun membalikan tubuhku.
"Aku belum memutuskan."
"Gue mau ikut Pramuka," kata Erly bersemangat.
"Awas tambah item," komentar Mira dan duduk bergabung bersama kami.
"Ih, syirik aja lo," kata Erly sewot.
"Lo jadi masuk apa Mir?" tanyaku ke Mira.
"Gue PMR, lo?" Aku menggelengkan kepala.
"Kita bertiga gak ada yang seorganisasi, lo mau ikut apa?" tanya Madina lagi.
"KRI kayaknya, tapi aku belum ambil formulir."
"Bukannya lo diajakin dan direkomendasiin di OSIS Mut?" tanya Febby tiba-tiba nimbrung.
"Siapa yang rekomin?" tanya Erly penasaran.
"Yakin lo mau tahu?" tanya Febby dengan sinis dan Erly mengangguk.
"Kak Hasan dan Mirza." Jawaban membuat mereka melotot gak percaya. Aku juga sempat kaget, bukan karena kak Hasan tapi ke Mirza soalnya kalau kak Hasan sudah pernah bilang ke aku. Tapi Mirza, aku langsung mengarahkan mataku ke dia tapi dia sepertinya tidak menyadari.
"Kok gue gak tahu?" tanya Madina.
"Lo kan kemarin datang telat pas test," jawab Febby pelan.
"Lo gak mau masuk OSIS?" tanya Febby kepadaku, aku hanya geleng-geleng karena memang dari awal aku tidak berminat masuk OSIS, aku ingin menjadi siswa biasa saja tidak mau jadi terkenal apalagi pusat perhatian.
"Kenapa?" tanya Mira, dan diangguki oleh Erly. Sedang Febby sudah beranjak pergi.
"Aku gak minat," jawabku cuek. Dan aku melihat wajah lega di ekspresi mereka. Aku tahu mereka tidak menginginkan keberadaanku di organisasi itu.
-----------Happy Reading------------
"Gue berani bertaruh kalau kak Hasan suka sama Mutia," kata Tiara yang masih bisa aku dengar meski dia sudah berbisik-bisik dengan genknya.
"Oke, kita bertaruh."
"Apaan?"
"Mutia bakal berat pertemanan atau percintaan?"
Setelah itu aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan lagi, karena mereka semakin memelankan suaranya.
"Pagi-pagi udah datang aja lo," kata Mirza yang baru saja datang.
"Dari pada telat Za," kataku sambil kembali konsen ke novel yang aku baca.
"Lo udah ngerjain PR kimia belum?" tanya Mirza, aku mengangguk.
"Boleh pinjam gak, gue dah ngerjain sih cuman gak PD aja." Aku mengeluarkan buku tugasku dan memberikannya kepada Mirza, setelah itu aku kembali membaca novelku.
"Assalamualaikum," sapa Erly ceria yang berjongkok di depan mejaku,
"Waalaikumsalam, seneng banget kayanya?" tanyaku menggoda,
"Hehehe, seneng banget hari ini aku berangkat bareng doi."
"Waw, perkembangan yang saknifikan." Aku tersenyum melihat dia salah tingkah.
"Woe, mang lo dah ngerjain PR cengengesan gak jelas," kata Mirza sambil mengembalikan bukuku.
"Ah lo mah gak bisa lihat gue seneng dikit." Erly menjawab dengan sewot. Aku hanya tersenyum dan geleng-geleng. Aku tahu ada pancaran rasa sayang diantara keduanya. Namun mereka berdua sama-sama gengsi––gede egonya.
"PR woe, dah ngerjain?" tanya Mirza. Erly pun langsung nepuk jidatnya dan menyambar bukuku.
"Gue dah ngerjain tapi masih kurang 8." Erly berkata sambil ribet ngeluarin bukunya dari tas.
"Sama aja lum ngerjain kali Ly," kata Mirza sambil berdecak.
"Tapi paling ndak gue dah ngerjain 2 nomor kali Za, lagian semalam ngapain lo gak ngasih tahu gue," kata Erly dengan nada ketusnya.
"Kan semalam gue nelpon lo, napa lo gak tanya?"
__ADS_1
"Ya kan gue lupa."
"Udah jangan berantem. Er, kamu buruan bentar lagi bel loh," kataku menengahi, karena jika tidak ada yang menengahi mereka pasti akan cek-cok terus tanpa henti.
Mirza memandang ke arahku kemudian mengangkat bangkunya dan mendekat ke tempatku.
"Mut, lain kali lo kasih cerita ke gue ya tentang novel yang lo baca,'' kata Mirza pelan.
"Kenapa kamu tidak membaca sendiri?" tanyaku sinis, sebenarnya aku hanya merasa tidak enak jika bicara sama Mirza dengan raut wajah lembut dan pelan seperti ini. Aku lebih nyaman dengan Mirza yang ceplas-ceplos seperti biasanya.
"Gue ingin denger dari mulut lo," kata Mirza dengan nada yang biasa dia gunakan membuatku lega.
"Insya Allah," jawabku dengan senyum dan ku lihat senyum juga terlihat di bibirnya.
"Woe, pagi-pagi udah pacaran mulu lo berdua," kata Irfan yang baru datang dengan Idris.
"Iya, bikin kita yang jomblo iri aja," sergah Ridwan yang baru datang.
"Apaan sih kalian ganggu aja," jawab Mirza membuat mereka berdecak.
"Kita gak ganggu, kita cuman mau ngingetin ati-ati banyak syetan berkeliaran." Idris berkata dengan tampak dibuat seserius mungkin. Membuatku geli.
"Kalian tu syetannya, jadi perlu diusir." Mirza berkata sambil mengangkat kursinya kembali ke dekat mejanya.
"Elah Za, lo mah sama gue gitu. Abis manis sepah dibuang." Irfan berkata dengan wajah dan nada drama kingnya.
"Woe ambigu amat ucapan lo," kata Ridwan sambil jitak kepala Irfan.
"Wee sakit tau," kata Irfan tidak terima dan ganti menjitak Ridwan namun belum sempat mendarat di jidad Ridwan, Ridwan keburu kabur lebih dulu.
"Woe, kalian rusak kosentrasi gue," teriak Erly yang melihat Irfan dan Ridwan kejar-kejaran, ini bukan sekedar kejar-kejaran ala india namun mereka kejar-kejaran dengan ceroboh sampai mengenai anak-anak lain dan mendapat tabokan juga pukulan. Dan hal ini membuat kelas menjadi rame, aku hanya terkekeh melihat tingkah mereka.
"Ngapain sih mereka?" tanya Mira yang baru datang, aku hanya ketawa kecil dan mengangkat bahu. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Apa iya aku harus menjelaskan panjang mulai dari mereka yang menggodaku tentu saja tidak.
Entah karena apa, tiba-tiba suasana kelas jadi sepi tidak ada yang bersuara, dan saat aku mengangkat wajah dari novel yang aku baca dan memandang ke arah Mira, dia memberi kode dengan matanya menuju ke arah pintu, dan tanpa sadar aku langsung memandang ke pintu dan di sana sudah ada senior yang waktu itu memberiku kartu ujian tengah berbicara serius dengan Mirza dan Madina. Mereka bertiga seperti ada sedikit cek-cok.
"Ada apa?" tanyaku ke Mira.
"Gak tahu, gue denger kemarin kak Sisi sempet nyamperin Madina gitu dan ngatain Madina keganjenan dan yang semacamnya."
"Terus Mirza ngapain?" tanyaku heran. Dan Mira hanya mengangkat bahu acuh. Setelah itu saat aku melihat ke arah pintu di sana tinggal Mirza yang bicara dengan Madina. Dan nampak dari ekspresinya dia sedang kesal. Hingga dia mengepalkan kedua tangannya. Aku tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, aku hanya bisa melihat ekspresi mereka.
"Ni buku lo," kata Erly yang tak ku sadari sudah berdiri di sampingku.
"Ada apa?" tanya Erly heran memandangku. Aku hanya melihat ke arah Mirza dan Madina.
"Oh mereka berdua, Madina juga kelewatan sih kemarin, apa lagi bawa nama Mirza segala." Erly berjalan menuju keributan antara Mirza dan Madina, aku hanya mengerutkan dahi tidak paham. Mungkin nanti aku akan minta penjelasan kepada mereka putusku setelah aku tidak bisa menebak apa yang terjadi.
Tak lama aku melihat Madina dan Erly masuk namun aku tidak melihat Mirza,
"Mana Mirza?" tanyaku dan Mirza sudah duduk di sebelahku. Aku beranjak dan duduk di tempat duduk Irfan yang kosong,
"Ada apa?" tanyaku pelan kepada Mirza.
"Madina bawa-bawa nama gue ke dalam masalahnya dengan kak Sisi anak XII- IPS 2."
"Masalah apa?" tanyaku heran.
"Gebetan." Mirza beranjak dari duduknya dan meninggalkan diriku, aku hanya melihat dia yang berjalan bergabung bersama yang lainnya. Hari ini jam pertama kosong karena ada pertemuan ketua kelas dan jajarannya membahas tentang lomba dalam rangka HUT RI jadi kelas jadi rame bak pasar sayur yang banyak pembelinya.
Aku mendudukkan pantatku di kursi, hingga kak Bagas tiba-tiba sudah ada di depanku.
"Kantin yuk," ajaknya santai.
"Masih pagi kali kak," jawabku pelan, dalam hati aku penasaran ngapain cowok satu ini pagi-pagi udah ngajakin ke kantin.
"Gue mumpung punya waktu buat traktir lo, kan gue udah janji sama lo masak udah berbulan-bulan masih belum gue tepatin."
"Ya Allah kak, itu mah bercandaan aja kali."
"Udah deh ayuk!"
"Bentar," kataku ke kak Bagas, dan aku lihat kak Bagas menghampiri Shinta.
"Mir, aku ke kantin dulu ya sama kak Bagas."
"Ngapain?" tanyanya heran.
"Mau nagih traktiran," jawabku pelan.
"Iya deh, jangan lama-lama takutnya entar ada guru yang masuk," pesannya yang aku angguki.
Ternyata bukan hanya aku yang diajak, namun juga dengan Shinta. Katanya kak Bagas sih biar aku gak sendirian.
------------------
__ADS_1