
Aku melihatmu dengan jendela duniaku, aku ingin menyentuhmu dengan tanganku.
Aku berharap bisa tersenyum dan menyapamu, karena melihat tanpa senyum membuat diriku lemah dan layu.
----------------
Aku terduduk di ruang KRI dalam diam, aku sudah memegang surat pengunduran diriku sebagai anggota, aku masih menunggu kedatangan kak Bagas.
Aku memandang ke atas dan menghembuskan napas berat. Virus ini begitu melukaiku, sanggupkah diriku bertahan.
Ya Allah jika rasa ini memang baik untukku maka biarkan rasa ini bersemayam di dadaku, namun jika rasa ini buruk bagiku maka buang jauh dari jangkauanku.
"Ada apa?" tanya kak Bagas,
"Eh, ini surat keluar dari komunitas," kataku sambil menyodorkan amplop dan langsung beranjak dari duduk.
Sejak insiden itu, aku sudah mulai menghindari banyak orang. Semua yang berkaitan dengan kejadian itu mulai aku buang. Tapi sungguh itu rasanya tidak menyenangkan.
"Kenapa?" tanya kak Bagas, aku menjawab tanpa membalikkan badan. "Untuk kelas XI kan udah gak wajib, jadi aku tak ingin mengikuti kegiatan apapun."
"Alasan yang tidak masuk akal," kata kak Bagas dengan nada mencemooh.
"Aku terima komentar kak Bagas."
"Jangan campurkan urusan pribadi dengan komunitas."
"Aku tidak akan mencampurkannya, oleh sebab itu aku keluar dari komunitas." Kataku memandang ke arahnya, dia hanya berdecak sebal dan melipat kedua tangannya di dada.
"Beri alasan yang masuk akal," kata kak Bagas dengan nada songongnya, hal yang tak pernah aku ketahui.
"Aku tidak memiliki alasan yang bisa aku utarakan."
"Lantas, mengapa mengajukan pengunduran?"
"Karena aku ingin keluar."
"Jangan mempersulit, lakukan saja lo gak tahu apa yang terbaik bagi orang lain." Suara itu, suara yang aku rindukan sepenuh hatiku.
Hah apa yang baru saja aku pikirkan, rindu? Haruskah aku mengakuinya? Eh tapi bagaimana bisa suara itu terdengar di sini.
Ingin sekali aku berbalik dan memandang wajah pemilik suara itu, namun mengingat semua yang terjadi aku tak memiliki keberanian untuk melakukannya. Aku terdiam membisu tak mampu membalikkan badanku untuk sekedar menyapa.
"Tapi alasannya gak masuk akal banget, Kak." Kak Bagas menjawab dengan tegas seolah-olah dia tidak terima dengan perkataan Abi.
Abi, ah menyebut namanya saja sudah membuat getaran di dalam benakku, bolehkah aku berharap dia jodohku kelak?
Apakah aku terlalu egois jika memikirkan itu?
Aku tak pernah tahu apa yang ada dalam pikiranku, yang aku tahu dan aku sadari apa yang aku lakukan selalu bertolak belakang dengan hal yang aku pikirkan.
"Bagian mana yang gak masuk akal?" tanya Abi yang sudah duduk santai di samping kursi yang aku duduki, sedang posisiku sedang berdiri di depan kursi.
Dan entah dapat hipnotis dari mana yang jelas aku tiba-tiba saja mengikuti duduk dengan santainya. Ah, ini pertemuan kami kedua setelah dia lulus. Aku pikir setelah pertemuanku di halte bus itu kita tak akan berjumpa lagi karena jarak yang kami miliki. Tapi, Allah memiliki jalan cerita sendiri.
"Dia keluar gara-gara kejadian yang lalu." Kak Bagas menjawab dengan tenang dan duduk bersandar di kursi depan kami, seolah-olah tengah menyidang kami berdua.
Atau
Kami berdua tengah berkolsultasi???
Ah, mengapa aku jadi tak fokus dan memiliki pikiran bercabang dan beranak pinak seperti ini.
"Dari mana kak Bagas berpikir seperti itu?" tanyaku tidak terima, sambil membuang cabang pikiran yang tak berguna.
"Lantas alasan apa lagi?" tanya kak Bagas menyudutkanku.
"Kan, aku udah bilang di kelas XI aku gak ingin ikut kegiatan apapun. Aku ingin menjalani masa abu-abuku sesuai dengan harapanku."
"Memangnya kamu gak ingin berorganisasi?" tanya kak Bagas dan aku hanya menggelengkan kepala.
"Aku ingin jadi siswi yang biasa, tidak menonjol sedikitpun."
"Sudah selesai kan?" tanya Abi tiba-tiba. Sedang kak Bagas hanya menghembuskan napas beratnya.
"Aku ingin bicara sama dia, lo bisa keluar bentar?" ucap Abi membuatku berdiri dari kursiku. Ah, aku gak hanya akan keluar sebentar tapi akan keluar dan gak balik lagi.
Aku menggurutu dan itu hanya aku lakukan di dalam hati mama berani aku memgucapkan langsung. Meski sejengkel apapun aku, tapi aku tetap menjaga ucapanku. Karena kata bang Adi bahwa hal yang paling tajam itu adalah ucapan dan ucapan itu gak bisa ditarik ulang jadi lebih baik menjaga ucapan atau diam.
"Bukan kamu tapi Bagas." Abi berkata lagi hingga aku mendengar decakan dari mulut kak Bagas.
__ADS_1
Aku hanya diam, bingung dengan keadaan. Jadi, yang diusir bukan diriku tapi kak Bagas. Emang mau membicarakan apa jika denganku?
"Pintunya jangan ditutup, tapi usahakan jangan ada yang lihat" pesan Abi saat kak Bagas mencapai pintu.
"Duduk," perintah Abi membuatku memandang ke arahnya, namun entah ini sebuah anugerah atau musibah mata kami bertemu dan saling menatap hingga hembusan napas keluar dari bibirnya, membuat diriku tersadar dan memalingkan wajahku darinya.
Aku merasakan kehangatan di pipiku, sungguh rasa malu begitu mendominasiku.
Aku mendengar suara kursi bergeser, aku menoleh dan dengan isyarat mata Abi menyuruhku untuk duduk di kursi yang sudah dia tata menghadap ke arahnya, dengan canggung aku mendaratkan pantatku ke kursi.
Cukup lama keheningan terjadi, hingga Aku mendengar deheman darinya yang memiliki dua pertanda, dia sedang membasahi rongga tenggorokan atau dia tengah mencari perhatian. Dan aku masih berpikir mana yang dia harapkan? Opsi satu atau opsi kedua.
"Apa lantai itu lebih menarik untuk dilihat saat aku ingin bicara?" tanyanya dengan nada tegas, membuatku mau tak mau mengangkat wajahku dan memandang ke arahnya, namun jangan berpikir aku akan memandang langsung ke wajahnya, ah mana berani aku, aku memandang lurus ke bagian dadanya tepatnya di saku yang bertulisan merk kemeja yang dia pakai.
Ah, lihat perbedaan diantara kita sudah sangat jelas, seragam yang aku gunakan dan kemeja yang dia gunakan.
"Dengarkan baik-baik, aku tak mengharapkan balasan darimu aku hanya ingin mengatakan ini untuk pertama dan mungkin bisa jadi yang terakhir kalinya juga, aku tak tahu jalan takdir yang akan kita jalani. Jadi ingat benar apa yang aku katakan." Dia berkata dan memberi jeda sejenak, mendengar keseriusan yang dia ucapkan membuatku menatap ke arah wajahnya---matanya yang lebih tepat.
Mata kami saling bertatap, aku melihat senyuman di bibirnya. Itu sudah cukup bagiku untuk mengikis rasa rindu yang tak aku akui.
"Jika cinta adalah sebuah rasa bahagia, nyaman dan damai saat bersama, ada rasa ingin melindungi, rasa ingin selalu bersama dan selalu ingin menjaga. Maka aku mencintaimu dan sungguh-sungguh mencintaimu dalam setiap tarikan napasku sejak setahun yang lalu kala Aku menangkap tubuhmu yang jatuh ke dalam dekapan pelukanku." Aku hanya bisa terdiam dengan mulut membuka dan menutup seperti ikan ada di aquarium namun kekurangan air.
Aku tak mampu mengeluarkan suaraku, hingga tanpa terasa air mata meleleh di pipiku.
Ah, ada apa dengan mataku?
Mengapa butiran mutiara itu meluncur begitu saja?
Aku tak tahu apa fungsi otakku, karena saat ini sepertinya otakku sedang tidak berfungsi sama sekali, aku merasa sensor motorikku tak bisa menyampaikan perintahnya menuju otakku.
Aku merasakan sebuah tangan lembut menghapus air yang mengalir di pipiku.
"Aku tak butuh balasanmu, aku juga tak mengharapkan air matamu. Jadi aku minta simpan semua ini sebagai kenangan di masa abu-abumu." Dia berkata lagi dengan lembut dan masih meletakkan tanganya di pipiku.
Aku terhipnotis dengan belaian ini, pusatku hanya ada di satu titik yaitu di mata hitam pekat itu. Aku seolah ada di dunia berbeda yang hanya menyisakan kita berdua.
Aku melihat wajahnya menunduk ke depan wajahku hingga wajah itu begitu dekat denganku, aku menahan napas dengan dada berdegub tak karuan. Aku hanya berkata di dalam hati apa yang akan dia lakukan, sungguh saat ini aku tak mampu menggerakkan tubuhku,
Apa aku sudah benar-benar kehilangan fungsi tubuhku?
Saat wajah kami hanya tersisa satu jengkal, tiba-tiba aku merasakan tanganku digenggam dan dibawa ke arah bibirnya, aku hanya mampu diam dan diam dengan hati menghangat dan jantung berdisko riang, cukup lama telapak tanganku di kecup, tiba-tiba dia mengecup jari telunjuk dan jari tengahku kemudian meletakkan dua jari itu di bibirku.
"Aku ingin membawamu ke dalam dekapanku dan bersikap egois dengan semua ini, aku ingin memperjuangkan semuanya. Namun aku tak bisa karena aku tahu kau tak akan mampu melakukan semua itu." Abi berkata dan kembali ke duduknya membuatku bernapas lega.
Ah, bolehkah aku berharap lebih suatu saat nanti?
"Anggap yang baru kita lakukan itu hanya sebatas kenangan yang akan kau lupakan dengan berjalannya waktu, namun perlu kamu ingat bahwa aku akan berusaha tetap mengingat kenangan itu." Abi berdiri dan menepuk lembut puncak kepalaku dan bergegas meninggalkanku.
Aku termenung mencerna ucapannya dan kini aku merasa diajak terbang tinggi dan dihempaskan ke dasar yang paling dalam.
Ah, apa sebenarnya yang aku harapkan?
Kemudian entah karena apa, aku tiba-tiba menangis tersedu-sedu tanpa menghiraukan keberadaanku saat ini. Yang aku tahu, perkataan terakhir itu menohok hatiku, hingga harapanku yang baru ku bangun terkikis habis tiada tersisa.
Hingga aku merasakan sebuah pelukan dan saat aku mendongak melihat wajah sendu Erly. Aku memeluknya erat dan bahkan sangat erat.
Aku menumpahkan segala rasa yang tak pernah aku duga dalam dekapan sahabatku. Aku tak mampu bercerita atupun berkata namun aku berharap Erly menyadari semua bahwa aku hanya butuh sandaran untuk melepas semua.
-------------------
"Minumlah," kata kak Bagas memberiku minuman, dia baru datang setelah aku membereskan wajah berantakanku.
Ah, aku sunggu malu.
"Terimakasih." Aku menerimanya dan aku melihat wajahnya yang tersenyum ramah.
"Ada apa?" tanyaku pelan, saat melihat kak Bagas yang hanya tersenyum. Aku menoleh ke arah Erly yang juga mandangku, namun dia tapi mengeluarkan suaranya hanya mengangkat bahunya acuh dan kembali memainkan ponselnya.
"Kalian sama kacaunya," kata kak Bagas sambil tertawa kecil. membuatku semakin mengerutkan dahi tak mengerti.
"Apa yang kacau?" tanyaku heran. Sedang sang tersangka hanya mengacuhkanku dengan merapikan beberapa berkas formulir tanpa menjawab bahkan memberi sedikit klue.
"Cuci muka dulu gih, abis ini ikut kita makan-makan sama senior." Kalimat yang keluar dari bibir kak Bagas, aku hanya mengangkat bahu acuh.
"Jika kau menolak aku tidak akan menyetujui pengunduran dirimu." Aku melotot tak suka dengan ancaman yang keluarkan dari bibir tipis itu.
Aku geram namun tak bisa menolak dan akhirnya aku berjalan dengan menghentakkan kakiku.
Aku keluar dari ruangan sempit itu, aku menunduk saat melihat beberapa senior yang sedang duduk bergerombol di teras koridor selain itu banyak alumni yang berseliweran karena hari ini adalah cap tiga jari dan pengambilan ijazah.
__ADS_1
Aku berjalan seorang diri, aku memilih lewat halaman dibanding lewat koridor. Aku melangkah lurus menuju ke satu bangunan yang dibangun memanjang di samping bangunan kecil yang aku ketahui sebagai sanggar pramuka.
Aku masuk ke dalam, ada cermin dan westafel. Aku mencuci mukaku dan mengeringkannya dengan tisu yang aku bawa di saku seragamku.
Setelah membenarkan jilbabku aku keluar dan berpapasan dengan beberapa kenalanku dari kelas lain, kami hanya saling menyapa 'say hallo' kemudian aku melangkah memasuki basecame KRI di sana sudah ramai, ada kak Dilan, kak Bagas, dan ada juga kak Hasan. Kami saling menyapa dan kak Dilan langsung mengajak kami semua ke cafe yang dekat halte bus.
Aku hanya heran pada diriku sendiri, kalaupun kan Bagas gak mau ACC surat pengunduran diriku kan aku bisa mengajukan ke senior lainnya. Ah, kemana otakku?
Aku jalan di belakang para senior dengan Erly, kami berdua hanya diam mendengarkan pembicaraan para senior yang berjalan di depan, sambil sekali-kali kita berdua saling pandang kemudian mengangkat bahu seolah tengah bertukar tanya jawab.
Hingga di dalam kafe ternyata sudah ramai, bahkan di sana ada Mira, Madina, Mirza, Siska, Shinta dan banyak lagi anak yang cukup menonjol di angkatanku. Aku mengambil duduk di meja yang sa dengan kak Bagas, di meja itu ada 6 kursi dan yang diduduki masih lima tersisa satu. Aku duduk dengan kak Bagas, Erly, kak Dilan, kak Sisi. Satu kursi yang tepat di samping kananku kosong masih kosong.
Saat sosok Abi datang aku memiliki sedikit harapan bahwa dia akan duduk di kursi itu, namun harapanku lenyap saat dia hanya memandang sepintas ke arahku kemudian melengos pergi memilih duduk bersama kak Hasan dan kak Bimbim yang terpisah tiga meja dariku.
Aku menunduk sambil meremas ujung seragamku, aku merasa teracuhkan, harapan itu benar-benar pupus. Aku yang baru diterbangkan seolah terhempaskan hingga dasar. Apa yang sebenarnya aku pikirkan dan harapkan? Bukankah kini semuanya sudah jelas?
Sudah lupakan.
Jangan berharap kepada manusia, besar kemungkinan akan kecewa. Ah aku jadi ingat meme gambar salah satu tokoh kartun itu.
Aku dan dia tak akan pernah memiliki jalan yang sama, jalan kami berbeda dan aku harus menyadari itu mulai saat ini. Benih rasa mungkin sama dengan yang lainnya namun harapan besar kini telah tertelan dengan keadaan.
Makan pun dilaksanakan dalam keseruan, kegiatan seperti ini sering dilakukan oleh anggota comunitas satu dengan yang lainnya supaya bisa menjalin komunikasi yang baik.
Kebanyakan pokok permasalahan yang dibahas adalah seputar kampus, ujian tulis, SNMPTN undangan dan bidik misi.
Mereka saling berbagi informasi, namun sayang fungsi ingatanku dan konsentrasiku sepertinya tidak berfungsi dengan baik, terbukti dari aku yang tak mampu mencerna segala informasi.
"Kak, aku---" perkataanku terputus kala Abi tiba-tiba sudah berdiri di samping kak Sisi.
"Bro, gue balik duluan ya." Abi berkata kepada kak Dilan.
"Kenapa buru-buru, gak seru ah," jawab kak Dilan tak terima.
"Gue musti packing, belum kelar." Abi menjawab lagi dengan santai.
"Besok take off jam berapa?" tanya kak Bagas yang ku lihat sambil melirik kepadaku.
Aku melotot tidak suka dengan sorot matanya. Apaan juga gak jelas.
"Jam 12, kenapa mau nganter?" tanya Abi dengan sinis, namun bukan dalam artian sebenarnya dia hanya pura-pura terbukti dengan kekehan yang keluar dari bibirnya.
"Gak, siapa tahu ada yang mau nyusulin gitu kayak di sinetron."
"Dasar korban sinetron gak mutu," sahut kak Sisi sambil menatapku penuh arti. Ada apa sebenarnya dengan mereka, Mengapa seolah tengah menyindirku.
Aku memandang ke arah kak Dilan yang juga tengah tersenyum kepadaku.
Sreek.... Aku berdiri dari kursiku, "maaf, aku harus pulang lebih dulu. Sudah dijemput." Aku berkata dengan nada tidak enak hati. Aku tidak bohong kalau telah dijemput karena tadi saat di depan kafe aku sudah sms kakak iparku untuk menjemput.
"Dla kenapa?" tanya kak Sisi, dengan wajah penuh penyesalan aku berkata, "maaf kak, udah dijemput di depan. Gak enak buat kakak iparku nunggu lama. Aku duluan ya, Er duluan."
Erly mengiyakan dengan mengangguk kemudian aku mengucapkan salam, belum juga dijawab aku sudah melenggang pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang sulit aku mengerti seorang diri.
Aku melangkah keluar kafe, hingga aku merasakan ada yang mencekal tangan kiriku, sehingga aku langsung membalikkan badan.
"Kak Hasan?" ucapku ragu, dia tersenyum sinis.
"Kau sudah berhasil membuat hubunganku dengan Abi merenggang." Kalimat itu muncul dan terdengar begitu memilukan. Sungguh aku tak memiliki niat sedikitpun melakukan semua itu. Sudah satu semester berjalan namun kenapa masalah ini tak berujung?
"Mengapa kau tak menerima cinta Abi?'' tanya kak Hasan sinis.
"Kau sengaja mempermainkan kita bukan?" Aku tidak menjawab aku hanya diam, berharap dia mengerti perasaanku yang sesungguhnya.
Mengapa aku jadi serba salah begini?
"Maaf kak, saya sudah dijemput. Assalamualaikum." Aku melepas cekalannya kemudian berbalik dan berjalan menuju seberang jalan di mana kakak iparku sudah menunggu.
"Maaf menunggu lama," kataku sambil nyengir.
"No problem, ini." Kakak iparku memberikan helm kepadaku kemudian dengan senang hati aku menerimanya dan memakai di kepalaku.
"Ayuk naik," ajaknya aku mengangguk dan menaiki jok motor bagian belakang sambil mengucapkan doa naik kendaraan di dalam hati.
Aku melepas segalanya, dan setelah ini aku akan menjalani masa abu-abuku dengan cerita baru.
Abi dan Kak Hasan hanya bagian dari kenangan yang akan menjadi hal yang bernama masa lalu.
Keinginan untuk bertemu kembali sepertinya akan aku kubur dalam-dalam. Kejadian ini adalah kenangan hitam dibalik putih seragamku.
__ADS_1
---------------