
Manusia mungkin bisa merancang masa depannya dengan begitu indah dan mudah. Akan tetapi jangan melupakan satu hal bahwa Allah lah yang berkehendak atas segalanya.
--------------------
Terkadang aku merasa masalah itu akan selesai begitu saja saat kita hanya diam menerima, namun tidak semua masalah bisa terselesaikan dengan cara seperti itu.
Seminggu sudah aku berstatus sebagai anak SMA. Dan selama seminggu itu pula masa penjajakan yang diberikan oleh dewan guru, 3 hari kami mengikuti MOS dan 3 hari kita mengenal lebih dekat seluk beluk sekolah.
Dan hari ini adalah hari senin, dan upacara akan dilaksanakan. Setelah itu kami akan belajar sebagaimana mestinya sebagai seorang siswa.
Upacara bendera telah usai dan kami harus melakukan kegiatan belajar sebagai mestinya. Pelajaran pertama adalah Fisika, namun karena jamnya kemakan oleh upacara jadi Fisika hari ini bebas. Dan dilanjutkan pelajaran Biologi, suasana kelas begitu menyenangkan saat pelajaran Biologi, tidak tegang karena gurunya termasuk guru yang ramah selain itu juga ada banyolan dari anak-anak yang membuat kita tertawa. Hingga tanpa terasa jam pelajaran Biologi pun berakhir dengan tanda bel istirahat.
Setelah bu Darma guru Biologi menutup perjumpaan dan beranjak keluar kelas, anak-anak menjadi sibuk membereskan peralatan dan juga ada yang langsung ngacir keluar kelas.
"Kantin yuk," ajak Mira kepadaku, aku hanya menggelengkan kepala.
"Maaf, aku sedang tidak berminat." Bukan tidak minat, hanya saja aku tidak suka situasi ramai dan berjubel. Tahu sendiri kan kondisi kantin kalau waktu istirahat –––ramai.
"Kenapa sih lo? Selalu alasan aja diajak ke kantin." Mira sewot, karena penolakanku.
"Maaf, lain kali deh. Sungguh aku lagi gak mood," kataku memelas berharap dia mau mengerti. Namun tanpa ku sangka Erly malah menarik tanganku untuk berdiri.
"Gue gak nerima penolakan, yuk kantin." Dia mengeretku keluar kelas.
"Bentar, aku ambil uang dulu."
''Buruan," teriak Madina gak sabar, aku hanya mengangguk dan berjalan dengan santai.
Kantin, adalah tempat yang paling aku hindari. Karena tempatnya yang ramai juga berjubel antara lelaki dan perempuan, apalagi aku bukan tipe orang yamg bisa makan dengan banyak orang, aku merasa tak enak saja entah karena apa.
"Duduk sana," kata Mira menunjuk meja yang kosong. Kami melangkah dan mengambil duduk di tempat selera masing-masing. Tempat duduknya ada delapan, karena kami mengambil meja panjang.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Erly.
"Aku soto sama es jeruk," kata Madina.
"Aku bakso dan es jeruk." Mira menimpali.
"Kamu Mut?" tanya Erly.
"Aku ikut kamu pesan aja, sekalian bantu bawa."
"Okey, yuuk," kata sambil menggandeng tanganku.
Kami melangkah menuju stan makanan dan mengambil mampan untuk membawa makanan, Erly membawa makanan milik Mira dan Madina, sedang aku membawa milik milikku sendiri dan milik Erly.
Saat dekat dengan meja, ternyata sudah ditempati oleh senior, menyisakan dua tempat duduk. Jika Erly paling ujung terpaksa aku duduk di samping senior itu.
Aku meletakkan makanan Erly di depannya dan mengambil duduk dan aku mendengar kursi sampingku bergeser.
"Mau kemana Bi?"
"Mau cuci tangan." Aku yang mendengar perbincangan itu baru menyadari bahwa yang duduk di sampingku adalah Abi.
Aku melihat Madina dan Mira yang sedang makan dengan santai dan saling bercanda, aku mengukir senyum tipis, kemudian aku merasakan seseorang duduk di sampingku, namun aku enggan untuk sekedar melihat. Erly tiba-tiba menyenggol lenganku, saat aku menatapnya dia memberi isyarat dengan matanya menuju mangkokku yang masih utuh, mungkin dua sahabatku juga menyadari itu.
"Kenapa gak dimakan?" tanya Madina sambil curi-curi pandang ke sebelah kiriku.
"Eh, ini mau dimakan kok."
"Jangan cuman dipandangi Mut, itu gak bikin kenyang loh," kata seseorang yang aku hafal suaranya, dan saat aku memandang ke sumber suara aku melihat senyum manis tercetak di bibirnya.
"Loh, ada kak Hasan," kataku sambil nyengir. Sungguh aku tidak berpikir sama sekali tentang hal itu.
"Dari tadi kali Mut, kemana aja, sih?" kata Madina sewot. Aku hanya tersenyum tipis.
"Ngelamun mulu sih," kata Mira nampak sinis meski disembunyikan dengan nada menggoda. Entah kenapa aku merasa ada yang tidak beres dengan semua ini.
"Maaf," kataku sambil mulai mengambil garbu dan memasukkan siomai ke mulutku.
"Aku ingin coba mie milik lo, Er," kata Mira sambil mengulurkan tangannya dan tanpa sengaja menyenggol gelas air putih milikku. Dan kejadian itu terjadi begitu cepat, sehingga aku tidak bisa menghindari dan membuat rokku basah.
"Ya Allah Mir, hati-hati dong," kata Erly cukup kencang. Mungkin dia juga kaget dengan kejadian cepat itu tadi.
"Sorry gue gak sengaja," kata Mira kemudian mereka berdebat gak jelas sedang aku hanya bisa mengibatkan rokku yang basah.
"Nih," kata seseorang sambil memberikan tisu kepadaku dan beranjak pergi, saat aku menoleh aku hanya melihat punggungnya saja. Aku hanya mampu mengumamkan ucapan terimakasih secara pelan.
"Kamu gak papa?" tanya kak Hasan yang membawa tisu juga.
"Tidak Kak, cuman basah sedikit."
"Maaf ya Mut, gue gak sengaja," kata Mira membantu mengeringkan rokku dengan tisu.
"Lain kali hati-hati," kata kak Hasan. Kemudian dia pamit ke kelas lebih dahulu, tidak lupa menepuk kepalaku pelan sebelum beranjak dan diikuti teman-temannya.
"Lo akrab banget sama kak Hasan," kata Madina pelan. Saat kami sudah mulai makan kembali.
"Gak juga, biasa kok."
"Lo punya hubungan?" tanya Madina lagi dengan sorot curiga. Aku hanya menggelengkan kepala.
"Kok bisa akrab gittu, jarang lo ada yang bisa akrab dengan kak Hasan." Aku hanya mengangkat bahu cuek, mau bagaimana lagi aku memang tak tahu harus menjawab apa.
"Lo gak nyembunyiin sesuatu dari kita kan?" tanya Mira curiga.
"Apa sih yang aku mau sembunyiin?" tanyaku heran.
"Ya sapa tahu lo ada hubungan dengan kak Hasan."
__ADS_1
"Udah deh Mir, Mutia kan dah bilang gak ada ya pastinya gak ada kan jangan paksa gittu." Erly mengunyah makanannya dengan santai aku hanya diam tak tahu harus berkomentar apa. Dan pikiranku melayang ke tisu yang aku pegang di tangan kiriku.
"Kak Abi baik ya, ngasih lo tisu," celutuk Madina dengan pandangan yang sulit aku artikan, jadi dia melihat bahwa yang memberi tisu tadi Abi.
"Kebetulan dia bawa aja kali," kataku ala kadarnya. Kemudian kami terdiam dan melanjutkan makan masing-masing.
-----------Happy Reading------------
Bukan hal mewah yang diharapkan, hanya hal sederhana namun berguna. (Kru Kepo)
--------------------
Waktu berjalan dengan cepat tanpa disadari, hingga aku kini sudah bisa menilai sesuatu dengan pengamatan dan pendengaran. Dan aku kini cukup mengenal kawasan sekolah dengan baik.
Ini adalah bulan kedua aku duduk di bangku ini, mengenakan seragam kebanggaan––abu-abu putih.
"Assalamualaikum," sapa Mirza duduk di bangkunya dan menghadap ke arahku.
"Waalaikumsalam," jawabku dengan senyum tipis.
"Nyezz banget rasanya, pagi-pagi disuguhi senyum manis melebihi manisnya madu," kata Mirza dengan senyum menawannya, dan mungkin senyum itu bisa membuat para fansnya meleleh. Ya, masih juga dua bulan bersekolah Mirza termasuk ke katagori siswa yang banyak fansnya, selain karena tampan, ramah dan bijaksana dia juga memiliki kepandaian yang lumayan bisa dibanggakan.
"Gombal, gak mempan mas sama saya," kataku dengan nada santai.
"Yee, ini jujur dari lubuk hati terdalam. Kalau tidak percaya belah dada Akang," kata Mirza drama king. Sedang aju jangan tanya aku sudah tidak bisa menahan tawaku.
"Jangan percaya, dia dia playboy cap buntut," kata Madina memasuki kelas dan duduk di tempat Mira yang masih kosong.
"Apaan sih teman mantan ganggu aja," kata Mirza kemudian beranjak dari duduknya dan bergabung bersama anak-anak cowok yang duduk di pojokan.
"Yach, malah pergi. Za gue belum selesai," teriak Madina dan spontan aku menutup dua telingaku yang tertutup jilbab putihku.
"Males gue ngobrol sama lo, bosen." Mirza menjawab dengan cuek.
"Napa sih Mirza perasaan sensi banget sama gue?" tanya Madina pelan.
"Aku gak tahu, kamu ada salah kata atau gimana gitu?"
"Perasaan gak deh, aneh tu anak sejak beberapa hari ini," kata Madina menerawang menghadap ke papan.
"Kemarin pas ikut seleksi OSIS dia juga cuekin gue, padahal gue udah ngomong panjang lebar."
"Mungkin dia sedang kesel, ya nanti coba kamu tanya baik-baik."
"Kalau dia sedang kesel, napa dia masih mau ngobrol sama lo?" tanya Madina membuatku terdiam dan mengunci rapat-rapat mulutku. Kemudian Madina memandang ke arahku dengan curiga.
"Woe!! ngapain pada pandang-pangan kayak gitu?" tanya Erly yang sudah ada di depan mejaku.
"Ini kita lagi bahas–" "kenapa lo resek banget dan suka ganggu orang?" kalimatku dipotong oleh Madina. Sepertinya Madina tidak ingin membahas tentang Mirza di dekat Erly, ya mungkin menjaga hati Erly mau bagaimanapun kan Erly mantan pacar Mirza.
"Ciye, pagi-pagi udah gosipin gue aja," kata Erly menggoda dan berjalan menuju bangkunya yang diikuti Madina.
"Ciye barengan," kata Erly lagi kemudian mendapat toyoran dari Madina.
"Diem lo," kata Madina membekap mulut Erly biar gak nyerocos.
Kemudian Mira datang dengan wajah cerahnya, duduk di sampingku dan langsung memelukku membuat aku dan yang lainnya bingung.
"Ada angin apa lo cengengesan gak jelas macam tu," kata Madina ketus, *** aku tahu dia sedang menggoda Mira.
"Ciye yang abis ketemu doi," goda Zahwa, salah satu teman di kelasku.
"Ciyeeee...." seru yang lainnya secara bersamaan, aku yang melihat itu hanya tersenyum dan memandang ke arah Mira yang wajahnya sudah merah seperti tomat.
"Apaan sih, ih Zahwa mah suka banget buka kartu," kata Mira dengan nada manja.
"Kalau dah jadian PJnya jangan lupa," teriak Idris dari belakang.
"Iya kalau jadian, kalau jadi korban PHP gimana?" kata seseorang yang ada di belakang, aku gak tahu siapa.
"Ye, lo mah kalau syirik bilang aja," kat Erly membela.
"Gue mah gak syirik, buat apa juga di sekolah ini banyak cogan kok. Oh ya Mir, jangan mimpi kejauhan jatuh terasa sakit," kata suara itu lagi.
"Lo kenapa sewot sih Ra?" tanya Madina dengan nada sinis.
"Gue gak sewot, cuman mau ngingetin doang," kata Tiara santai.
"Udahlah, masak gituan aja didebatin," kata Febby melerai, dia masih berdiri di depan pintu, sepertinya dia baru datang.
Febby adalah sosok dewasa yang dihormati, jadi jika dia sudah buka suara biasanya anak-anak langsung nurut apa yang dia katakan. Aku melihat dia berjalan ke arahku dan berdiri di depan mejaku.
"Ada titipan buat lo," kata Febby meletakkan paperbag ukuran sedang di depanku, aku hanya memandang dia heran.
"Kenapa liatin gue kayak gittu?" tanya Febby, sedang anak-anak sudah kembali dengan aktifitas masing-masing.
"Memangnya dari siapa?" tanya Mira penasaran.
"Inikan untuk Mutia, kenapa lo yang kepo?" tanya Febby ketus, entah karena apa aku melihat sejak kenal Febby selalu ketus ke Mira.
"Lo gak mau?" tanya Febby lembut.
"Memangnya dari siapa, Feb?" tanyaku takut-takut, kemudian aku melihat Febby memandang sinis ke arah Mira kemudian kembali memandangku dengan senyum manis.
"Yakin mau tahu?" tanyanya dengan senyum menggoda, aku hanya mengerutkan dahi kemudian menganggukan kepala.
"Dari Cogan nomor 2." Febby menjawab dengan kencang, membuat semua terpekik.
"Waw, gue bilang juga apa, jangan ngarep terlalu tinggi jatuh sakit." Suara Tiara memecah keheningan.
__ADS_1
"Memangnya cogan nomor 2 itu siapa?" tanyaku dan Mirza bebarengan, ternyata tu anak sudah duduk di bangkunya.
"Lo gak tau?" tanya Febby geli, aku menggelengkan kepala dan memandang ke arah Mira, namun dia langsung membuang muka.
"Cogan nomor dua itu adalah–––" kata Febby menggantung dan memandang kearah Mira dan Mirza secara bergantian dan memandangku kemudian mendekatkan wajahnya ke arahku.
"Kak Hasan," katanya pelan.
"Oh, kak Hasan," kataku santai.
"Lo santai amat dapat bingkisan dari kak Hasan?" tanya Febby penasaran.
"Terus aku harus gimana?" tanyaku polos.
"Ya jingkrak-jingkrak atau histeris kek," jawabnya heran. Aku mengerutkan dahiku kemudian tersenyum.
"Gak perlu kali, thanks ya," kataku, Febby hanya beranjak tanpa menjawab.
"Ciye, dapat bingkisan dari ketua OSIS," goda Mirza, aku hanya diam dan menyimpan paperbag ke laci.
Tiba-tiba semua pada berdiri mengerumuni diriku, "buka dong, pingin tahu isinya," kata Erly kepo.
"Gak ah, entar aja. Privasi." Aku berkata dengan menekan kata privasi.
"Lo ada hubungan apa sama kak Hasan?" tanya Tiara dengan penasaran.
"Gak ada, cuman senior dan juniornya."
"Gak usah bohong deh, gue beberapa kali lihat lo jalan menuju gerbang bareng kak Hasan saat pulang sekolah. Gak mungkinkan kebetulan, orang kelas kita ada di sini dan kelas kak Hasan ada di bagian timur." Tiara berkata dengan nada menggoda. Iya sih aku sering ketemu kak Hasan saat pulang dan sering ngobrol bareng gittu, dia orangnya asyik dan sangat ramah apalagi dia selalu memiliki topik pembicaraan yang menarik dan nyambung.
"Dan gue pernah lihat lo dibonceng kak Hasan pas pulang sekolah, hayo ngaku," kata Meta, membuatku melotot. Ternyata mereka sering merhatiin diriku. Tapi kapan aku diboncengin kak Hasan? Ah mereka hanya mengada-ada saja. Perasaan aku belum pernah pulang bareng, hanya kadang kala dia nganter aku sampai halte. Tapi soal hubungan, memang gak ada yang spesial hanya biasa saja.
"Ada hubungan apa?'' tanya Tiara lagi, dengan nada yang semakin mendesak.
"Gak ada kok, tenang aja cogan kebanggaan kalian masih tetap single," jawabku santai. Kemudian mereka menghembuskan nafas, mungkin mereka lega karena orang yang mereka kagumi masih single dan masih ada kesempatan untuk PDKT. Kemudian bel tanda masuk berbunyi dan mereka dengan sendirinya kembali duduk di meja masing-masing.
------------Happy Reading------------
Pondasi sebuah hubungan itu adalah sebuah kepercayaan dan keterbukaan. (Kru Kepo)
----------------------------
"Kamu kenapa Mir? Perasaan dari tadi kamu diem aja," kataku dengan penasaran.
"Gue gak papa." Dia beranjak dari duduknya dan menarik tangan Madina dan keluar kelas tanpa memerdulikan teriakan Erly.
"Dia kenapa sih, Er?" tanyaku bingung.
"Lo tu polos pa bloon sih?" tanya Zahwa tiba-tiba. Aku sedikit termenung sejenak mendengar perkataan kasar itu, sejujurnya aku merasa sedikit sakit. Namun aku mencoba mengabaikannya.
"Maksudnya?" tanyaku heran. Sedang Erly sudah beranjak meninggalkanku dengan Zahwa.
"Lo bener-bener gak peka ya, Mira tu suka sama kak Hasan," kata Zahwa dengan nada sinis, lagi-lagi nada yang tak menyenangkan.
"Tapi lo dengan santainya deketin kak Hasan, katanya lo temennya tapi kok lo malah nikung teman sendiri." Zahwa berkata dengan sinis dan meninggalkan diriku sendiri dalam kebingungan.
"Sudahlah, tak perlu lo pikirin. Terkadang kita memang harus bisa menjaga perasaan orang lain." Mirza menepuk bahuku. Aku sadar mereka menyalahkanku atas kejadian Mira, padahal aku tidak tahu apa-apa. Jika masalah kepekaan aku memang tidak peka, tapi aku dan kak Hasan tak memiliki hubungan apa-apa. Harusnya mereka juga menyadari posisiku.
Aku paham, dalam perkataan Mirza barusan juga tersirat bahwa dia juga menyalahkanku. Aku melepas tangan Mirza yang ada di bahuku dan aku memandangnya dengan penuh rasa sakit. Aku pikir dia adalah sahabat yang mengerti aku ternyata salah, Mirza sama saja dengan mereka–––hanya menghakimiku.
"Gue gak maksud nyalahin lo, gue cuman berharap lo peka dengan lingkungan." Entah mengapa aku merasa sangat cengeng sekali, karena aku merasa mataku mulai buram dan ada air mengalir dari mataku menelusuri pipiku.
"Lo kok nangis sih," kata Mirza dan tangannya mengulur hendak menghapusnya namun aku tepis, aku melihat ekspresi kagetnya namun aku hiraukan dan beranjak pergi keluar kelas.
Aku mendengar Mirza memanggilku, namun aku menulikan telingaku dan berjalan menuju taman sekolah yang ada di belakang gedung XI-IPS. Aku duduk di bawah pohon dan menangis tersedu-sedu, aku tak menghiraukan jika ada siswa yang melihat tapi yang aku tahu di sini sepi tidak ada siapapun dan jarang sekali ada yang menjamah.
Tak lama aku melihat ada yang berjongkok di depanku dan memberikan sapu tangan, saat aku mendongak aku melihat wajah kak Bagas yang sedang tersenyum menenangkan, senyum yang biasanya terasa manis.
"Terima kasih," kataku dan mengambil sapu tangannya untuk membersihkan mata dan ingusku.
"Lo jijik banget sih!" seru Kak Bagas, aku hanya terkekeh. Kemudian dia duduk di sebelahku.
"Lo ada masalah?" tanya kak Bagas, tapi aku tidak menjawab, karena saat hidungku normal aku mencium bau parfum yang aku hafal, saat aku mengedarkan pandangan aku tak menemukan siapa-siapa.
"Lo nyari siapa?" tanya kak Bagas ikut mengedarkan pandangan. Aku hanya menggelengkan kepala.
"Apa yang kakak lakukan di sini?" tanyaku penasaran.
"Menghibur adik kecilku yang sedang sedih," jawabnya memandang ke arahku dengan sinar mata teduhnya, membuatku salah tingkah.
"Lo kenapa? Ada masalah lo bisa berbagi ke gue," katanya dengan nada penuh sayang.
"Hidup itu memang penuh masalah bukan, jadi hal semacam ini sudah biasa."
"Ya, anggap saja masalah itu sebuah ujian dari Allah. Seseorang pernah bilang padaku saat aku terpuruk 'masalah adalah ujian dalam kehidupan. Jangan biarkan dirimu menyalahkan takdir seperti yang lainnya. Biarlah mereka menghakimi dirimu seperti apapun akan tetapi kamu harus mempercayai dirimu sendiri dan melangkah dengan jalan yang bemar dan mencari jalan yang benar' begitu," kata kak Bagas.
"Dari mana kakak tahu bahwa aku dihakimi secara tidak adil?" tanyaku penasaran, karena dalam perkataan itu tersirat hal itu.
"Bukankah itu yang terjadi pada setiap orang, kita selalu tidak mempercayai diri kita sendiri, sehingga mudah terluka saat orang lain menghakimi kita. Dan musuh terbesar kita adalah hakim dari manusia. Bukan begitu?" Aku menganggukan kepala, benar. Apa yang dikatakan kak Bagas adalah benar.
"Terima kasih Kak," kataku mencoba tersenyum, semoga senyumku tidak terasa hambar. Ingin rasanya aku memeluknya tapi aku tahu batasan-batasan dalam pergaulan.
"Tersenyumlah, karena dengan tersenyum kamu akan membawa kebahagiaan bagi orang lain. Dan jauh di sana pasti ada yang selalu mengharapkan bisa melihat senyum milikmu." Aku tersenyum dan menerima minuman gelas yang diberikan oleh kak Bagas.
"Kami menyanyangimu, jika kamu tidak memiliki alasan untuk tersenyum maka tersenyumlah untuk kami dan jadikan kami alasanmu." Kata kak Bagas dan dia tersenyum kepadaku sebelum beranjak meninggalkanku. Aku masih sangat bingung dan mencerna kata 'kami' yang dia maksud.
Kenapa ini tadi aku melo banget, berlagak berlari meninggalkan Mirza kayak dalam drama saja, ah mungkin pikiranku terkontaminasi dengan drama yang aku tonton dan mulai sekarang sepertinya aku harus mengurangi nonton drama.
-----------Thank for Reading------------
__ADS_1