Berawal Dari Abu-abu

Berawal Dari Abu-abu
Keluarga Yang Mengejutkan


__ADS_3

Begitulah kehidupan,


Ada yang kita tahu, ada pula yang tidak kita tahu.


Yakinlah, dengan ketidak-tahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri.


(Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu)


-------------------


Malam yang cerah, dengan berjuta bintang menghiasi langit gelap pekat tanpa hadir sang purnama. Suara serangga seperti nyanyian alam yang menenangkan, hembusan angin bak sebuah belaian penuh puja.


Mutia duduk di meja kerjanya, dia membuka jendela kamarnya, membiarkan rasa dingin merasuki tubuhnya.


Dia tengah termenung, dia memikirkan banyak hal. Mulai dari pekerjaan hingga perasaan.


Mutia kembali mendesah dan bernapas berat, kala apa yang dia pikirkan tak menemui titik kepastian.


Dia kini tengah memikirkan cara jitu untuk membuat salah satu bisa memahami penjumlahan dan mampu menghafalnya. Karena ada beberspa anak yang masih sering kesulitan menjumlahkan angka yang sama. Sudah banyak cara yang diusahakan namun masih belum jua berhasil.


Mutia sudah mengajarkan penjumlahan dengan cara susun, cara menjumlahkan setara dan juga dengan cara paling absurd yaitu penyimpanan. Tapi hasilnya masih nihil. Ada satu anak yang akan lupa di keesokan harinya, sedangkan jika harus mengulang lagi dia khawatir materi tidak alan habis dan masa semester di depan mata.


Dia beberapa kali melihat ke kalender pembelajaran dan silabus secara bergantian. Mutia memandang jauh ke depan, pena yang ada di tangannya dia ketukan di dahinya.


Mutia kemudian mengingat sesuatu, tidak hanya pola pembelajaran dia yang harus disesuaikan, akan tetapi pola pengasuhan di rumah juga harus disesuaikan. Kan percuma jika di sekolah guru memberikan pembelajaran dengan metode yang bisa dianggap sempurna akan tetapi di rumah sang anak di didik dengan cara yang berbeda atau lebih parahnya lagi dibiarkan tanpa belajar.


Mutia segera mencari keberadaan ponselnya, dia mencari nomor Riana untuk menanyakan perihal kondisi keluarga dari muridnya yang sedikit bermasalah.


Setelah membicarakan banyak hal dengan Riana, Mutia menemukan satu titik temu, dan semoga rencannya berjalan dengan baik sehingga masalahnya akan terpecahkan.


Mutia tersenyum, kemudian dia melingkari beberapa tanggal dan membereskan meja kerjanya. Tidak lupa dia menutup jendela dan kordin. Dia menyalakan mp3 murrottal yang dia tinggal masuk kamar mandi, berganti baju tidur dan mengambil wudhu.


Setelah selesai ritual sebelum tidur Mutia berbaring di kasurnya, dia masih enggan memejamkan matanya. Pikirannya masih terbayang akan kejadian di sore itu, saat pertama kalinya menurut Mutia Abi datang ke rumahnya setelah dia bertemu di taman bermain.


Sore itu, setelah melakukan sholat asar, Mutia, Fahri, Rouf naik motor Mutia. Dilan mengendarai motornya sendiri dan Abi tentu mengendarai mobilnya sendiri.


Sesampainya di rumah Mutia, ternyata keluarga yang tadi pergi ke mall sudah datang, mereka dihubungi terlebih dahulu oleh Sisi. (Yang lupa siapa Sisi baca part di masa SMA, Sisi adalah teman se-geng Abi)


Mereka masuk disambut oleh Zahra dan Alya,


"Assalamualaikum," salam mereka saat masuk rumah.


"Waalaikumsalam Warohmatullah," jawab dua gadis berbeda usia itu.


"Dlo, gerombolan kak Mutia kok lebih banyak?" tanya Alya dengan santai, sambil mengamati setiap sosok yang masuk rumah.


"Ayo, silahkan duduk," kata Rouf menghiraukan ucapan Alya.


"Terimakasih," kata Abi yang mengambil duduk di dekat Dilan. Dan si kecil Fahri sudah duduk di pangkuan Dilan.


Mutia mengerutkan dahinya melihat kelakuan sang adik. Karena baginya, Dilan dan Fahri itu cerminan dirinya dan Dilan---tak pernah akur.


Namun, yang kini tengah dia lihat adalah Fahri yang begitu nempel dengan Dilan. Aneh bukan?


Mutia hanya menggelengkan kepalanya, kemudian berpamitan ke belakang untuk mengambil minum.


"Kerja di mana, Bi?" tanya Rouf memulai percakapan.


"Dia seorang Arsitek, Uf." Dilan menjawab dengan tegas, dia tahu kebiasaan sahabatnya yang satu ini jika ditanya masalah tempat kerja dia pasti akan diam dan tersenyum tipis saja.


"Wah, Arsitek muda. Kapan-kapan kalau mau renovasi rumah lumayan ya entar dapat diskon," kara Rouf dengan nada setengah bercanda.


"Mahal Bro, dari pada pakai jasa dia lebih baik buat beli mobil." Dilan kembali bersuara.


"Ya siapa tahu sama saudara," kata Rouf menatap Abi penuh arti.


"Bisa diatur," komentar Abi sambil sesekali bermain dengan Fahri.


"Eh, tapi kamu tahu gak. Kalau si doi gak suka sama pekerja kantoran?" tanya Dilan tiba-tiba, Abi menoleh ke arah Dilan dan Rouf bergantian.


"Dia pernah ngomong kok dulu," kata Abi sambil mengingat masa 9 tahun yang lalu saat MOS. Waktu itu senior membahas tentang bakat, minat dan pekerjaan di masa depan. Namun, Mutia yang paling berbeda, jika teman-tenannya mayoritas ingin punya pasangan seorang pengusaha atau pekerja kantoran tapi dia ingin memiliki pasangan hidup orang sederhana memiliki usaha sederhana pula. Saat ditanya alasannya, dia hanya menjawab supaya ayah dan ibunya memiliki banyak waktu untuk anak.


"Ah, itu bisa diubah nanti. Ini aja kak Rifa tengah berusaha mengubah pola pandang Mutia tiga tahun belakangan ini. Dia mulai bekerja di kantor namun masih mengurus Arka dengan baik." Alya keluar dengan membawa baki berisi gelas, dan di dalam gelas ada minuman berwarna hijau.


"Silahkan Mas," kata Alya kemudian duduk di samping Rouf.


"Kayaknya Al belum kenal sama mas yang itu deh," kata Alya menoleh ke arah Abi.


"Ya kenal dong," kata Rouf santai.


"Kenalin dong mas," bisik Alya sambil melirik malu ke arah Abi.


"Alah, belaga biasanya ada cowok bening dikit langsung nyosor," sahut Dilan santai saat melihat wajah malu-malu meong milik Alya.


"Apaan sih kak Dilan," sahut Alya tak terima, dan keluarlah sifat aslinya.


"Apa?" tanya Dilan tanpa dosa, sambil meminum jus melon yang sudah dihidangkan.


"Ih, kak Dilan nyebelin. Pantes aja gak laku-laku." Alya berkata dengan sinis, Abi terkekeh pelan.


"Eh, gue laku ya," kata Dilan tak terima.


"Apa buktinya?"tanya Alya dengan berani.


"Lihat aja, kalau aku udah jadi kakak iparmu. Aku bully setiap hari," kata Dilan gemas.


"Apa kakak ipar?"


"Iya, kenapa?" tanya Dilan sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Emang kak Mutia mau?" tanya Alya penuh kemenangan.


"Tanya aja langsung ke orangnya," sahut Dilan santai, membuat Alya kelabakan sendiri. Rouf sudah tidak tahan dengan perdebatan mereka.


"Tu, tanya," kata Dilan menunjukkan Mutia yang tengah keluar dengan beberapa cemilan.


"Tanya apa?"


"Emang kakak mau nikah?" tanya Alya.


"Iya, kenapa?" tanya Mutia santai sambil menurunkan toples dan piring.


"Beneran?" tanya Alya penasaran dan masih belum puas.


"Ayah, lihat siapa tamu kita," teriak Fahri melihat bayangan sang ayah melewati ruang tengah.


"Fahri," panggil Mutia mengingatkan.


"Maaf kak," kata Fahri penuh sesal dan mendekati sang kakak yang masih berjongkok di dekat meja.


"Fahri janji tidak mengulang lagi," kata Fahri sambil bersandar manja ke tubuh Mutia.


"Ah, drama ibu dan anak," kata Alya sinis. Mutia membelai kepala Fahri dengan sayang seraya tersenyum tipis.


"Sana Fahri masuk, bilang sama ayah. Terus mandi," kata Mutia penuh sayang.


Fahri mengangguk dan berlari ke belakang, seranya membawa baki Mutia tanpa diminta tolong.


"Kak, dia siapa?" tanya Alyaa menujuk ke arah Abi.

__ADS_1


"Udah ngobrol dari tadi belum kenalan?"


"Gak ada yang mau jawab." Alya berkata dengan manja.


"Ya tanya dong, kakak namanya siapa, boleh kenalan gak?"


"Ih, kakak mah." Mutia tersenyum menggoda.


"Dlo, ada tamu.'' Ayah Mutia keluar dari ruang tengah. Kemudian menjabat tangan Dilan, sambil menanyakan kabar dan kemudian beralih kepada Abi.


Mata tuanya menatap Abi penuh arti, saat berjabat tangan ayah Mutia tersenyum ramah.


"Apa kabar?" tanya ayah Mutia.


"Baik, Om." Ayah Mutia masih mengamati Abi sebelum menepuk bahu Abi beberapa kali.


"Ok, Mutia kebelakang, ayuk Al." Mutia meninggalkan empat lelaki itu di ruang tamu.


Mutia berjalan menuju dapur dengan pikiran mengambang.


Apa kabar?


Itu adalah pertanyaan sang ayah kepada Abi, belum pecah teka-teki tentang Fahri yang mengenal Abi. Kini bertambah lagi teka-teki dari sang ayah yang sepertinya sudah lama mengenal Abi.


"Ada apa Mut?" tanya Sisi yang tengah menyiapkan piring di meja makan.


"Gak apa kok Kak," kata Mutia menuju dapur.


"Siapa tamunya?" tanya Sisi ke Alya yang tengah makan pisang goreng.


"Teman kak Dilan kayaknya," kata Alya beranjak menuju wastafel. Alya memang tidak seberapa menyukai Sisi, karena dulu Alya sempat memendam rasa kepada Rouf. Dan saat Rouf menikah dengan Sisi, dia menjadi tidak menyukai wanita yang tengah hamil muda itu.


"Kak Sisi duduk aja, biar Mutia yang ngelanjutin." Mutia muncul dengan membawa semangkok besar sayur.


"Iya, kok rasanya pening ya," kat Sisi berkeluh kesah. Biasa bukan oramg yang hamil muda itu sering berkeluh kesah karena rasa tidak nyaman, resah dan menginginkan sesuatu yang tidak dia mengerti.


"Sudah istirahat aja," kata Mutia sambil melangkah ke arah dapur.


"Mutia," panggil Sisi,


"Iya."


"Tamunya siapa?"


"Oh, kak Dilan dan Abi." Mutia kembali akan melangkah, namun wajah terkejut Sisi membuat dia mengurungkan niatnya.


"Ada apa kak?" tanya Mutia memandang Sisi curiga.


"Gak papa, udah lama gak ketemu Abi," kata Sisi pelan.


"Ke depan aja, gak papa kok."


"Gak enak, mereka sepertinya membicarakan hal serius." Sisi menoleh ke arah depan, hanya suara samar yang terdengar. Dan hal itu sangat tidak jelas di pendengaran ke duanya.


"Palingan juga bicarakan bisnis atau politik. Paling mentok juga bicarain bola." Mutia berkata dengan nada tidak suka.


"Masak iya," kata Sisi penasaran.


"Ya sering kali begitu bukan kalau lelaki berkumpul." Mutia menyahut dengan tenang.


"Dan kalau perempuan yang berkumpul, maka akan menggosip 'kan." Rouf menyahut dengan santai.


Mutia hanya menghela napas, dia langsung berjalan ke belakang. Dia tidak mau melihat drama suami istri itu, dia tahu benar apa yang akan terjadi saat Rouf saudara sepersusuannya bertemu dengan Sisi istri dari Rouf.


"Mau kemana?'' tanya Rouf menggoda, dia tahu kejengahan Mutia setiap kali dia hanya bertiga.


"Ke dapur," jawab Mutia, meski kesal dia selalu tetap menjawab pertanyaan saudaranya.


"Kak, kata kak Mutia gak boleh teriak-teriak." Zahra dan Fahri berkata bersamaan. Mereka berdua turun dari tangga.


"Maaf,'' kata Rouf, melotot ke arah Mutia yang tersenyum sambil meletakkan sepiring lauk.


"Udah beres, noh." Mutia berjalan menuju Zahra dan Fahri.


"Wah, adik kakak sudah harum. Cium dong," kata Mutia. Saat hendak mencium kedua adiknya berhenti karena sebuah suara.


"Jangan mau, kak Mutia bau." Sang ayah dan ke dua tamunya sudah berdiri di ruang makan.


"Kak Abi," teriak kedua adiknya berlari meninggalkan Mutia. Abi berjongkok dan memeluk duo kembar. Mutia menoleh dengan tatapan tak percaya.


"Sepertinya kamu udah bukan favorit lagi deh, Dek." Rouf berkata dengan menggoda, Mutia memasang wajah datarnya, kemudian pamit untuk membersihkan diri meninggapkan gelak tawa di ruang itu.


Di keluarga Mutia, memang makan malam sebelum maghrib, dan jika ada yang bukan makhrom maka lelaki makan lebih dahulu baru nanti jika sudah selesai perempuan akan makan.


Keakraban Abi dengan keluarganya membuat Mutia heran, karena selama ini tidak ada sedikitpun pembahasan tentang Abi. Bahkan saat dia bertanya dengan adiknya malam harinya, sang adik tidak memberi jawaban yang bisa membuat Mutia tidak merasa janggal.


Mutia kembali menatap langit-langit kamarnya, malam semakin larut namun mata Mutia masih tetap enggan untuk terpejam.


Suara murottal sudah mencapai surat an-naba' sesekali Mutia mengikuti, sesekali pula dia menguap. Setelah yakin dia mulai mengantuk Mutia melakukan rutinitas sebelum tidurnya.


Mutia membuka matanya kembali, kala pintu kamarnya dibuka, dia bangun dari rebahan dan menoleh ke arah pintu.


Zahra?


Mutia memandang heran sang adik, bukan karena apa. Hanya saja dia merasa aneh dengan kehadiran sang adik di malam hari.


Ini sudah pukul sembilan, biasanya sang adik sudah digiring tidur oleh sang mama jam delapan.


"Ada apa?" tanya Mutia buka suara, dia melihat sang adik Membawa bonekah kainnya dan menutup pintu.


Zahra melangkah mendekati kakaknya tanpa bicara, dia merebahkan tubuhnya di samping sang kakak.


Mutia kembali merebahkan diri, ini pertama kalinya Zahra mendatanginya di malam hari.


"Kak, Zahra tidur sama kakak ya," kata Zahra yang sudah siap memejamkan mata.


Mutia hanya tertawa geli melihat tingkah sang adik. Lihatlah, adiknya meminta izin setelah dia nyaman berbaring. Maka apakah ada lagi jawaban selain 'iya' 'yes' 'na'am' 'iyo' dan jawaban yang serupa lainnya lagi.


"Kenapa tiba-tiba?"


"Kak, masak tadi Fahri kasih ceramah tentang aturan tidur yang aku gak tahu." Mutia memiringkan tubuhnya menghadap sang adik.


"Jadi biar aku juga bisa ceramah kayak Fahri, aku mau tidur sama kakak." Mutia melongo, lihat apa coba yang ada dipikiran kalian mendengar ucapan santai anak kecil ini.


"Jadi, ceritakan kak." Mutia menoleh ke arah sang adik. Dia memandang horor sang adik yang memasang wajah polosnya.


Mutia menghela napas, dia merapikan selimutnya. "Kenapa gak minta diajari Fahri?"


"Gak mau ah, entar Fahri besar kepala." See, anak sekecil ini udah memiliki gensi yang sangat tinggi. Fahri itu saudaranya, dia bahkan udah hidup dalam satu rahim bersama. Ckck bukankah pedidikan itu benar-benar sangat penting.


"Tidur adalah Salah Satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :


وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ


"Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya adalah tidur kalian di malam dan siang hari." (QS. Ar Rum: 23)


Tidur adalah kenikmatan dan karunia dari Allah subhanahu wa ta'ala, Maka sepantasnyalah bagi seorang muslim untuk beradab dengan adab-adab syar'i." Mutia memulai apa yang pernah diajarkan kepada adik lelakinya---Fahri.


"Introfeksi diri, sebelum tidur hendaklah seseorang mengintropeksi dirinya atas segala perbuatan yang ia telah lakukan di siang hari, maka jika ia mendapati kebaikan maka hendaklah dia memuji Allah subhanahu wa ta'ala dan jika dia mendapati kejelekan hendaknya ia segera mohon ampun dan bertobat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala." Mutia memberi keda menoleh ke arah sang adik.

__ADS_1


"In.... in.... Apa Kak?" tanya Zahra dengan wajah lucu.


"Intopeksi diri atau muhasabah, aku istilah yang mudah dipahami itu kita mengingat hal yang sudah kita lakuan. Kita pilah, jika kita berbuat salah segera bertaubat. Taukan maksudnya," kata Mutia dan Zahra mengangguk. Memang dua Adiknya ini sudah dididik dengan sangat baik oleh sang mama. Jadi lihatlah kepandaian yang dimiliki sang adik yang masih duduk di bangku TK B ini.


"Lanjut, Kak." Perintah Zahra, membuat Mutia menggelenglan kepala. Adiknya yang satu ini emang sangat keras kepala dan sedikit egois.


"Bersegera untuk tidur. Ini adalah adab yang ke dua."


"Dari Aisyah "Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam tidur di awal dan bangun diakhir malam lalu Beliaupun sholat." Hadits ini menunjukkan bahwa diantara hikmah disyariatkannya tidur bersegera adalah seseorang bisa bangun di tengah malam untuk tegak melaksanakan shalat dan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala."


"Mengapa?" tanya Zahra heran.


"Sebab itulah, di dalam di dalam hadist yang lain Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam melarang suatu perbuatan yang bisa menyebabkan seseorang untuk sulit bangun di malam harinya yaitu bercerita, bercanda, berbincang-bincang setelah sholat Isya dam sebagainya."


"Berarti kalau abis sholat isya gak boleh ngobrol dong." Mutia mengangguk.


"Dalam hadits Abu Barzah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Abu Barzah berkata:


كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا


"Adalah Nabi Shallallahu salam membenci tidur sebelum isya dan berbincang-bincang setelahnya." Muttafaqun 'alaih adalah yang meriwayatkan hadits itu."


''Adab yang ketiga adalah dibencinya tidur sebelum isya karena dikhawatirkan akan luput darinya sholat Isya tepat pada waktunya dan dibencinya berbincang-bincang setelah isya karena dikhawatirkan tidak akan bisa atau sulit bangun pada malam harinya." Zahra menatap wajah sang kakak dengan kagum. Dia mulai menyadari, mengapa Fahri begitu menyanyangi kakak perempuannya itu.


"Adab selanjutnya adalah berwudhu sebelum tidur. Hayo, udah wudhu belum? Sangat dianjurkan bagi seseorang yang hendak beranjak tidur untuk berwudhu terlebih dahulu." Mutia mencubit hidung sang adik dengan gemas.


"Kakak cantik, nanti kalau besar aku mau kayak kakak." Zahra menatap mata Mutia dengan sayang, membuat mata Mutia berkaca-kaca. Di dalam hati dia senantiasa bersyukur atas nikmat Allah yang memberinya keluarga yang sangat luar biasa. Bukankah ini sangat mengejutkan? Di masa lalu dia diberi keluarga yang tak sempurna, namun kini Allah mengganti dengan keluarga yang sangat luar biasa. Inilah buah dari sebuah kesabaran.


"Iya, nanti kalau besar kamu pasti akan cantik. Mungkin lebih dari kakak. Yang penting selalu berperilaku baik, karena sebagai seorang muslimah itu adalah cerminan diri." Zahra membelai pipi sang kakak dengan senyum hangat.


"Lanjut kak," kata Zahra pelan.


"Sampai mana ya tadi, oh ya. Disunnahkan juga untuk menghempaskan sprei atau membersihkan tempat tidur, dan hal tersebut dilakukan 3 kali." Mutia berkata sambil menunjukan jarinya.


"Ih kakak, itu empat bukan tiga." Zahra memprotes Mutia, karena dari lima jari yang dia tunjukan Mutia hanya meneluk ibu jarinya.


"Iya ya, kalau tiga gimana dong," kata Mutia menggoda. Zahra menekuk jari kelingkingnya kemudikan berkata, "ini baru tiga."


Mutia membelai rambut sang adik sambil mengucapkan beberapa pujian dan ucapan terimakasih karena diingatkan.


"Dimakruhkan tidur tengkurap. Sebagaimana hal tersebut ditunjukkan dalam Hadits Abu Dzar رضي اللّه عنه


مَرّ بي النبيُّ صلى اللّهُ عليه وسلّم وأنا مُضْطجع على بطني فركضني برجله وقال يا جنيدب إنما هذه ضجعة أهل النار


Nabi Shallallahu 'alaihi Wassalam pernah melintasiku ketika aku sedang berbaring tengkurap, Lalu Beliau membangunkanku dengan kakinya. Dan berkata Ya Junaidab; ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penduduk neraka." Mutia melihat binar mata sang adik yang sudah meredup.


"Makruh untuk tidur di rumah yang tanpa penghalang atau penutup (tempat terbuka). Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Ali bin Syaiban bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi Wassalam bersabda:


مَنْ بَاتَ عَلَى ظَهْرِ بَيْتٍ لَيْسَ لَهُ حِجَابٌ فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ


Barangsiapa yang tidur pada malam hari di atas rumah yang tidak ada penutup diatasnya, maka sungguh telah hilang jaminannya. Hadits Riwayat Abu Daud."


"Menutup pintu, jendela dan memadamkan api atau lampu sebelum tidur. Dari Jabir radhiyallahu ta'ala anhu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Padamkanlah lampu di malam hari, apabila kalian hendak tidur tutuplah pintu, tutuplah bejana-bejana, dan tutuplah makanan dan minuman." Hadits riwayat Muttafaqun 'alaihi."


"Didalam hadits Abu Musa Al 'Asy'ary radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya api ini adalah musuh kalian, maka jika kalian hendak tidur Padamkanlah." Hadits ini diriwayatkan oleh Muttafaqun 'alaih."


"Dari Jabir radhiyallahu anhu:


Rasulullah shalallahu alaihi wasallam: "Tutuplah pintu-pintu, sebutlah nama Allah, karena Syaithan tidak akan membuka pintu yang terkunci." Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim."


"Berkata Ibnu Daqiqil 'Ied rahimahullah: "Pada perintah menutup pintu terdapat kebaikan agama dan dunia, penjagaan diri dan harta dari pelaku kerusakan terutama Syaithan, adapun sabda Beliau: *maka syaithan tidak akan membuka pintu yang terkunci*, isyarat bahwa perintah untuk menutup disini untuk kebaikan agar syaithan tidak berbaur dengan seseorang." ini bisa dilihat Fathul Bari: 11/57." Mutia memberi jeda, "Zahra tahu kan, siapa Muttafaqun 'alaih?" Mutia terkekeh, dia melihat sang adik sudah tidur dengan lelapnya. Kemudian dia membenarkan posisi selimut dan mulai bersoa sebelum tidur.


Sebelum tidur juga membaca ayat Kursi, dan dua ayat terakhir surat Al Baqarah, membaca surat Al-ikhlas, Al Falaq, dan An-Naas.


Sebagaimana hal tersebut ditunjukkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallohu 'anhu tentang kisah pertemuannya dengan Syaithan, lalu Syaithan berkata;


ﺇِﺫَﺍ ﺃَﻭَﻳْﺖَ ﺇِﻟَﻰ ﻓِﺮَﺍﺷِﻚَ ﻓَﺎﻗْﺮَﺃْ ﺁﻳَﺔَ ﺍﻟْﻜُﺮْﺳِﻲِّ، ﻟَﻦْ ﻳَﺰَﺍﻝَ ﻣَﻌَﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﺎﻓِﻆٌ، ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻘْﺮَﺑُﻚَ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ ﺣَﺘَّﻰ ﺗُﺼْﺒِﺢ


" Jika engkau beranjak ke ranjangmu maka bacalah ayat kursy, terus menerus Allah akan menjagamu, dan Syaithan tidak akan mendekatimu hingga pagi."


Lalu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:


ﺻَﺪَﻗَﻚَ ﻭَﻫُﻮَ ﻛَﺬُﻭﺏٌ، ﺫَﺍﻙَ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ


"Ia telah jujur kepada engkau padahal ia pendusta, itu adalah Syaithan." (HR. Bukhari (5010) )


Dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:


ﻣَﻦْ ﻗَﺮَﺃَ ﺑِﺎﻟْﺂﻳَﺘَﻴْﻦِ ﻣِﻦْ ﺁﺧِﺮِ ﺳُﻮﺭَﺓِ ﺍﻟْﺒَﻘَﺮَﺓِ ﻓِﻲ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ ﻛَﻔَﺘَﺎﻩُ


"Barangsiapa yang membaca dua ayat diakhir surah Al-Baqarah disatu malam maka hal tersebut akan mencukupi."


(Muttafaqun 'alaih)


Dari 'Aisyah radhiyallahu anha:


"Sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam jika beranjak ketempat tidurnya disetiap malam maka Beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya dan meniupnya serta membacakan padanya; Qul Huwallohu Ahad dan Qul A'udzu Birabbil Falaq dan Qul A'udzu Birabbinnas, lalu mengusapkan keseluruhan tubuhnya, beliau mulai dari arah kepala, wajah dan setelahnya dari bagian tubuhnya, hal itu Beliau lakukan tiga kali."


(HR. Bukhari (5017) )


Setelah membaca ayat kursi dan tiga surat terakhir dalam Al-Quran maka, membaca doa sebagaimana telah datang dalam sebuah hadits Yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan dihasankan oleh Imam Al Albani Rahimallahu ta'ala:


Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berdoa sebelum tidur:


اللَّهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ


"Ya Allah lindungilah aku dari siksaan-Mu pada hari Engkau membangkitkan para hamba-hamba Engkau."


Membaca doa:


Bismikallahumma amutu wa Ahya.


"Ya Allah, Dengan nama Engkau aku hidup dan aku mati." (Muttafaqun 'alaih, dari hadits Hudzaifah radhiyallahu 'anhu.)


Apabila di saat tidur merasakan kegelisahan atau ketakutan, maka hendaknya berdoa:


أَعُوْذَ بِكَلَمَاتِ اللّهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَ مِنْ عِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَنْ يَخْضَرُوْنِ


(a'uudzu bikalimaatillaahit taammati min ghadhabihi wa syarri 'ibaadihi wa min hamazaatisy syayaathiini wa an yahdhuruun)


"Aku berlindung dengan kalimatullah Yang Sempurna dari murka-Nya, Siksaan-Nya dan dari kejelekan hamba-hamba-Nya serta dari gangguan syaitan serta kehadiran mereka." (HR.Abu Dawud di Hasankan Oleh Syekh Al Albani )


Dan yang terakhir dari adab tidur adalah meembaca doa bangun tidur saat bangun.


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ


(alhamdu lillahil ladzii ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wailaihin nusyuur)


"Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan hanya kepada-Nya lah kami kembalikan." (Muttafaqun 'alaih, dari hadits Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu anhu.)


---------------


Waaah.....


Puanjang sekaliiiii......


Ini part 3300 kata lebih lo, bahkan hampir 3400 kata.


Semoga bermanfaat...😉😉😉😉😉

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca, jangan bosen yaaa....,😂😂😂


__ADS_2