
Benih cinta datang karena terbiasa.
Tresno jalaran songko kulino. (Kru Kepo)
------------
Aku berjalan menuju ke kelas dan di depan perpustakaan ada Abi, kak Bagas, Mira dan Madina sedang ngobrol.
Apa yang harus aku lakukan?
Menyapakah atau tetap berjalan pura-pura tidak melihat. Aku masih berdiri, bingung dengan semua yang terjadi.
Mira, aku jadi ingat bahwa temanku itu menyukai kak Hasan. Apa sebaiknya aku comblangin aja ya sama kak Hasan?
Aku merasa ada seseorang yang tiba-tiba menarik tanganku, karena kaget aku hanya diam dan mengikuti langkah kakinya.
Mirza, dialah yang menarikku menuju kelas, hingga membuatku lega karena terbebas dari kebimbanganku.
"Ngapain lo bengong di tengah jalan?" tanya Mirza setelah kami duduk di bangku masing-masing. Jalan? Hiperbola banget sih, orang juga jalanan lebar.
"Aku cuman bingung saja," kataku jujur. Entah mengapa aku merasa nyaman dengan posisi ini, dimana aku memiliki sahabat yang begitu memperhatikanku seperti--Mirza.
"Kenapa?"
"Tadi ada Madina, Mira, Abi dan kak Bagas di depan perpus," kataku pelan.
"Kenapa dengan mereka?"
"Aku bingung, mau nyapa atau berjalan pura-pura gak lihat. Mau nyapa mereka nampak serius takut ganggu, mau gak nyapa dikira aku sombong." Entah mengapa aku berkata jujur yang jelas aku hanya ingin mengungkapkan apa yang ada dalam benakku.
"Cuek aja, lakukan segala sesuatu itu bukan karena pernilaian orang akan tetapi karena kamu nyaman." Mirza beranjak dari duduknya meninggalkan diriku yang masih termenung.
Lidahku terasa kelu, seolah-olah enzim dalam mulutku mengering tanpa sisa, aku tak sanggup mengucapkan satu katapun yang tersisa hanya sorot mata penuh tanya.
"Lo kenapa?" tanya Erly, sedang aku hanya membuka dan menutup mulutku, entah ada apa denganku.
"Kayak ikan ****** mau perang aja," komentar Mira sambil meletakkan tasnya. Aku menghembuskan napas.
"Kenapa sih?" tanya Madina yang berdiri di depan bangku milikku dengan menatap heran.
Aku menggelengkan kepala dan tersenyum, entah enyah kemana suaraku dan kabur kemana kosa kata yang selama ini aku pelajari, yang jelas saat ini bibirku terasa kelu, otakku tak mencerna setiap sensor yang disambungkan dan pita suaraku tak berfungsi.
"Lo kenapa sih?"
"Kenapa bilang dong, jangan cuman diem aja," kata Mira.
"Aku gak apa-apa." Akhirnya aku mampu melewati fase tidak mengenakan tadi.
"BTW, lo kemarin kemana?" tanya Erly dengan nada menggoda.
"Iya iya, kemarin pas abis pertandingan gue sama Erly nyariin lo, tapi gak ketemu."
"Emm, aku pulang."
"Pulang? Yakin langsung pulang?" tanya Erly gencar menggoda, membuatku sedikit salah tingkah dan merasa hangat di pipiku.
"Iya, langsung pulang kok."
"Yakin?" tanya Madina dengan memandang curiga, seolah-olah tengah menyelidiki kasus.
"Ya udah kalau gak percaya," kataku akhirnya.
"Emangnya ada apa? Aku ketinggalan apa?" tanya Mira yang sejak tadi hanya menyimak.
"Kemarin tu ada yang tarik-tarikan manja, Mir." Erly berkata dengan nada manja-manja macam apa gittu.
"Siapa?" tanya Mira antusias.
"Kak Abi sama Mutia." Madina berkata dengan tidak rela.
"Boong mah mereka. Gak ada adegan itu."
"Ciyeee...." seru Erly menggoda.
"Emm, Mut dicari kak Hasan di teras," kata Zahwa memandang tak enak ke arah Mira. Aku mengangguk dan berterima kasih.
"Aku keluar sebentar ya," pamitku kepada teman-temanku yang tiba-tiba diam.
Aku bergegas keluar kelas, di sana berdiri kak Hasan dan kak Huda.
"Sorry ganggu, hari sabtu aku tunggu di taman belakang bangunan IPS waktu istirahat." Kak Hasan pergi tanpa menunggu jawabanku. Aku heran dia mengajak atau memerintah. Kenapa itu orang berubah jadi macam kak Dilan sih. Banyak gaul sama kak Dilan buat virus jutek dan diktaktornya menular.
"Dasar kak Dilan," kataku pelan.
"Aku kenapa?" tanya kak Dilan yang berdiri di sampingku dan meneteng paperbag ungu milikku. Dloh milikku, mengapa ada di tangan kak Dilan? Ah, sampai lupa pasti paperbag itu tadi ketinggalan di mobil.
"Woe, gue kenapa?" tanya kak Dilan.
"Itu tadi, kak Hasan ngajak ketemuan tapi maksa kayak--" kataku menggantung dan melirih cowok itu dan dari sudut mataku ku lihat dia tengah menautkan alisnya menunggu kelanjutan ucapanku.
"Kayak--" pancingnya.
__ADS_1
"Kayak sifat kak Dilan. Mungkin karena keseringan gaul sama kak Dilan jadinya menular." Aku berkata dengan pelan dan menunduk.
"Karena lo udah ngatain gue, jadi lo harus traktir makan gue dan teman gue."
"Dlah mana ada seperti itu."
"Kalau gak ada ya gue bikin adalah."
"Dasar gak konsisten, bentar-bentar ber'aku kamu' trus ber'gue lo'."
"Bodoh, masalah buat lo," kata dia dengan nada jutek.
"Gak juga sih, cuman terasa aneh."
"Bodoh ah, gue tunggu. Nih paperbag lo." Kak Dilan mengulurkan paperbag punyaku dan beranjak meninggalkan teras kelasku.
Aku memandang hingga sosok jutek itu menghilang dari kekuatan mataku melihat. Walau aku tahu kak Dilan adalah orang yang baik, relitanya aku sudah beberapa kali ditolong, tapi entah karena apa kak Dilan dan aku selalu bersikap selayaknya tom dan jerry setiap kali bertemu. Jarang sekali kami tidak berdebat, jika tidak adu cek-cok rasanya hambar ibarat sayur sup tanpa garam.
"Ciyeeeeee.... suit.... suit...." suara berasal dari kelasku, saat aku berbalik ternyata anak-anak ngintip pembicaraan kami dari jendela. Karena dilanda malu aku langsung masuk kelas dan duduk.
"Jadi gebetan lo siapa, Mut?"
"Kak Dilan?"
"Atau kak Hasan?"
"Atau kak Abi?"
"Siapa lagi?"
"Kak Bagas, cowok manis aktifis KRI."
"Yang mana Mut?" desak teman-teman kelasku, aku hanya diam dan tersenyum. Masih banyak lagi pertanyaan yang terlontar namun aku enggan untuk menjawab. Karena aku tidak tahu apa jawaban yang tepat dari pertanyaan mereka.
Tiba-tiba Tiara bertanya. "Mut, kemarin gimana sih ceritanya?"
"Cerita apa?" tanyaku polos seperti tidak tahu maksud terselubung dari pertanyaan itu.
"Itu lo yang kapten basket tarik tangan lo," kata Dita menjelaskan dan diangguki yang lainnya.
Kemudian aku menjelaskan secara singkat padat berisi kepada mereka sama seperti cerita yang aku ceritakan kepada Madina, Erly dan Mira beberapa saat yang lalu. Aku yakin mereka akan terus mendesakku jika aku tak bercerita.
Aku sungguh heran, mengapa mereka begitu peka sekali? Aku saja jika mereka ada skandal dengan senior cuek-cuek aja, kenapa mereka kepo sekali dengan apa yang terjadi padaku.
---------Happy Reading--------
Hembusan angin menerpa wajahku membuat jilbab paris yang aku pakai melambai-lambai. Aku hanya mampu diam meratapi keadaan, aku hanya mampu berpikir dengan penuh kegelisahan meruak memenuhi rongga otak.
Tak sedikitpun terbersit dalam pikiranku, tak ada sedikitpun keinginan aku terjebak dalam virus merah delima ini, ini sungguh klise ku rasa, ini seperti cerita dalam novel metropop yang sering aku baca. Aku melihat dia yang siap menangkapku saat aku terjatuh dari tebing ini, namun ada sebuah keadaan dan ikatan yang harus aku jaga dan tidak membiarkan aku terjatuh ke arahnya.
Aku menyukai cowok itu dengan sederhana, dengan memandang ramah tiap senyum yang disebarkannya. Aku baru menyadarinya bahwa aku telah jatuh dalam pesonanya, namun kenyataan menyentak kesadaran bahwa kami tak pernah bisa bersama.
"Mutia, apa jawabanmu?" tanya kak Hasan membawaku kembali ke dunia bernama kesadaran.
Aku hanya memandang ke arahnya dengan rasa hati penuh penyesalan dan permintaan maaf, "maaf kak, tapi aku tidak bisa."
Aku melihat kekagetan dalam pancaran matanya, kemudian dia memberi senyum simentris yang tak pernah aku duga.
"Jika kau menolakku, apa ini termasuk ke dalam permainanmu?"
"Maksud kak Hasan?" tanyaku heran.
"Aku tahu kau memberi banyak harapan palsu ke semua orang. Apa kau merasa cantik dengan tampang yang kau miliki sehingga bersikap demikian?"
"Aku tidak mengerti, tapi perlu kak Hasan tahu bahwa aku murni mau berteman dengan siapapun tanpa embel-embel rasa yang lain. Mungkin aku terlalu naif jika melarang diriku jatuh cinta, namun aku bisa apa jika aku memang sungguh sangat menghindarinya."
"Bullshit, aku tak percaya." Kak Hasan berkata dengan acuh dan pergi meninggalkan diriku sendiri. Aku masih terpaku dengan perkataan ketus dan sikap kasar kak Hasan, aku tahu benar bahwa kak Hasan saat ini tengah melindungi hatinya supaya tak merasa sakit yang amat dalam.
Aku menghembus napas dengan besar, berniat mengurangi rasa sesak di dalam dadaku. Kemudian aku melangkah meninggalkan taman belakang tempat aku dan kak Hasan janji temu beberapa hari yang lalu.
Aku mendengar suara bel berbunyi dan aku melangkah lebih cepat, namun langkahku berhenti seketika saat melihatnya dengan sorot mata tajam dan tak bersahabat.
Aku salah apa lagi?
Tanpa memperdulikan tatapan tajamnya aku langsung bergegas melangkah tanpa mau sedikitpun memandang atau melirik ke arahnya. Aku cukup tahu diri bahwa aku sudah menyakiti hati temannya, namun aku juga harus menjaga dan menyelamatkan ikatan yang berbeda dan mungkin lebih kuat dan hadir sebelumnya.
"Kamu dari mana?" tanya Mira saat aku sudah mendudukkan pantatku.
"Aku baru dari taman belakang," jawabku.
"Ngapain?"
"Ketemu kak Hasan. Dan maaf sepertinya aku tidak bisa membantumu seperti permintaanmu kemarin." Dia hanya diam tidak menyahut sama sekali, membuatku semakin sesak.
Dua hari yang lalu Mira minta tolong padaku untuk mendekatkanku dengan kak Hasan, aku setuju-setuju saja karena itu tidak berpengaruh banyak padaku. Namun, setelah hari ini mungkin semua itu akan berubah aku mungkin tak akan pernah mampu lagi menahan dan melakukan segalanya.
Pelajaran hari inipun berjalan dengan baik, tak ada sedikit masalah yang halauku namun entak mengapa hati ini tetap dipenuhi rasa yang bernama kegelisahan.
----------------------
Seminggu berlalu dengan cepat, aku tak tahu apa yang berubah namun satu hal yang aku yakini bahwa semua tak lagi sama.
__ADS_1
"Hai Mut," sapa Cindy anak X-2 dengan mensejajarkan langkahnya denganku.
''Hay," balasku dengan senyum tipis.
"Wah gak terasa ya kita sudah hampir memasuki ujian semester," katanya dengan antusias.
"Iya, ternyata waktu berjalan dengan cepat."
"Lo dah ada rencana belum mau ambil jurusan apa?" tanya Cindy.
"Aku belum tahu, mau lihat dulu nilai ujian semester baru nanti bisa nentuin."
"Oh ya, di organisasi KIR kebetulan mau ngadain semacam tes IQ gittu, cuman bayar 10.000 ribu kok. Siapa tahu kamu berminat untuk mengetahui minat dan bakat."
"Dibuka untuk umum atau hanya untuk anggota?"
"Sepertinya dibuka untuk umum."
"Kamu mau ikutan?" tanyaku penuh harap. Karena jika dia ikutan aku mau sekalian minta didaftarkan.
"Gak ikut deh kayaknya, soalnya kegiatan di luar jam sekolah. Sedangkan diriku harus pulang tepat waktu." Cindy berkata dengan ekspresi sedihnya membuatku jadi tidak enak hati.
"Dla, memangnya kenapa harus pulang tepat waktu?"
"Soalnya aku diantar jemput."
"Oh, ya kamu kan bisa izin gitu sama orang tua." Aku mencoba memberi saran supaya dia bisa ikut, bukan hanya karena aku ingin ikutan tapi juga karena ekspresi wajahnya yang membuatku tidak tega.
"Soalnya yang jemput bukan ortu gue," jawabnya pelan.
"Terus?"
"Sebenarnya setiap pulang sekolah gue dijemput pacar. Sedang pacarku gak suka nunggu lama." Mendengar itu aku hanya mengangguk, entahlah aku tak memiliki komentar sama sekali. Aku merasa itu tidak perlu soalnya aku tahu aku tak boleh mencampuri urusan pribadi, selain itu adalah masalah prinsip.
Aku memiliki prinsip tidak akan memiliki hubungan bernama pacaran, akan tetapi orang lain belum tentu menera prinsipku ini bukan. Lihat saja kejadian sepekan yang lalu, orang seperti kak Hasan saja tak mau menerima prinsip yang aku miliki.
"Gue ke kelas duluannya," kata Cindy membuatku berhenti dan tersenyum.
"Iya, terima kasih infonya." Cindy bergegas memasuki kelas sambil mengacungkan jempolnya.
Aku berjalan menuju lorong kelas sebelas, aku ke sana mau menemui salah satu senior yang akan mengisi kajian rutin di KRI.
Sepanjang lorong koridor dipenuhi dengan beberapa gerombol siswa kelas sebelas meski ada beberapa juga ada dari kelas sepuluh juga kelas dua belas namun yang paling dominan tetap sang tuan rumah yaitu kelas sebelas.
Bangunan kelas sebelas berada di bagian depan bangunan yang mengelilingi lapangan yang digunakan untuk upacara.
"Mutia,'' panggil mas Ahmad sambil melambaikan tangannya ke arahku.
"Assalamualaikum, Mas Ahmad." Aku menyapanya.
"Waalaikumsalam."
"Ini Mas, materi yang diminta."
"Oh ya, kamu beneran gak akan datang besok?" tanya mas Ahmad sambil membuka resuman materi yang aku berikan.
"Maaf, tapi besok aku ada acara keluarga," Aku menjawab dengan pelan.
Besok memang akan ada acara keluarga, kakak perempuanku satu-satunya akan berkunjung, jadi gak enak kan kalau aku pulang telat, apa lagi kejadian semacam ini sangat langka terjadi kakakku satu-satunya itu sudah sangat lama tak menemuiku terhitung sejak dia menikah sekitar empat tahun yang lalu, bisa dibayangkan rasa rindu yang kami miliki.
"Ya sudahlah tak masalah, tapi jangan keseringan absen," kata mas Ahmad dengan nada bercanda diakhir kalimat. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
"Ciyeee, Amat diapeli cewek," kata salah satu teman mas Ahmad yang tidak aku ketahui namanya. Kata-kata itu membuat teman-teman mas Ahmad yang ada di kelas keluar.
"Ciye...." mereka semua menggoda membuat diriku malu, karena tidak tahan kejahilan dan godaan akupun berpamitan untuk kembali ke kelas dengan alasan bel hampir berbunyi.
Meski aku sudah berjalan meninggalkan mas Ahmad dan teman-temannya, samar-samar masih terdengar suara mereka yang masih saling melempar ejekan, tanpa terasa sudut bibirku tertarik ke atas membentuk yang namanya senyuman.
Aku melangkahkan kakiku menuju ke koridor kelas sepuluh dengan tenang.
"Korban baru," kata suara yang yang sudah aku hafal. Aku menoleh ternyata sosok yang sudah sepekan ini menghindariku kini tengah bersandar di tembok dengan santai dan memamerkan senyum sinis.
"Kak Hasan," panggilku dengan ramah tak mengindahkan pertanyaan dan ekspresi sinisnya. Aku melihat dia menaikkan salah satu alisnya dan tersenyum meremehkan.
"Lo berani panggil namaku?"
"Heemm, memangnya kenapa?" tanyaku polos.
"Gak usah berlagak polos," katanya sinis.
"Aku beneran gak tahu maksud Kakak."
"Jangan tampakkan wajah polosmu. Itu tak akan berpengaruh." Kak Hasan berkata sambil berlalu hingga menyisakan banyak tanya dalam benakku.
Kak Hasan berubah. Itulah yang sebenarnya terjadi. Namun aku terus menyangkalnya selama ini dan kini masih bisakah aku terus menyangkal?
Inilah hal yang aku tidak sukai dari sebuah hubungan bernama ''FREANDZONE" karena jika tidak kuat hati akan menimbulkan perselisihan dan permusuhan.
Aku menghembuskan napas berat kemudian membalikkan tubuh hendak kembali melangkah, namun langkah kakiku ku urungkan saat melihat dua sosok yang tengah berdiri di depanku, kini benakku sedang berperang.
Apakah mereka mendengar apa yang aku bicarakan tadi?
__ADS_1
-------------