Berawal Dari Abu-abu

Berawal Dari Abu-abu
Di Balik Sebuah Cerita


__ADS_3

Teman,


Suatu saat nanti matamu akan melihat kekuranganku.


Suatu saat nanti telingamu pasti akan mendengar kekuranganku.


Dan suatu saat nanti pasti hatimu akan terlukai dengan sikapku.


Itulah Aku....


Aku bukan manusia yang sempurna.


Oleh sebab itu aku butuh kamu, sebagai temanku.


-------------------------


Aku membuka lemari bajuku, aku mengamati pakaian yang cocok aku gunakan untuk mengikuti clasical meeting sore ini.


Ya, setelah perdebatan panjang dan saling adu argumen gak jelas dengan Shinta akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti event menulis yang kemarin brosurnya aku terima dari Riska.


Kalian percaya atau tidak itulah nyatanya, tadi pagi saat perpindahan jam pelajaran aku berdebat dan berbagi cerita dengan Shinta, iya Shinta yang itu.


Shinta yang sebangku denganku dan yang tak banyak bicara, entah ada angin apa tadi dia bisa bercerita sepanjang jalan pantura.


Tadi pagi, diperpindahan jam ke-3 menuju jam ke-4. Anak dari jurnalis masuk ke kelas-kelas, untuk mengumamkan tentang event menulis itu.


Dan karena ini diadakan oleh orang luar sebagai sponsornya maka anak jurnalis mewajibkan dari setiap kelas mengirim satu perwakilannya dan jika ada yang ingin daftar individu sangat diterima.


Jadi, dari kelas kami Marta sebagai perwakilannya. Karena dia pernah memenangkan lomba artikel yang di sponsori oleh kepala sekolah tahun lalu.


"Mut, lo gak mau ikutan?" tanya Shinta setelah semua kembali tenang dan sibuk dengan aktifitas menunggu guru datang.


"Belum tahu, tapi kayaknya enggak deh," jawabku sambil mengeluarkan buku Biologi.


"Kenapa? Gue yakin karya lo lebih bagus dari yang lainnya deh. Lo masih ingatkan waktu lomba mading tahun lalu. Artikel karya lo ngalahin punya Marta yang juara satu loh." Shinta berkata dengan nada serius, dan aku hanya menoleh dengan senyum tipis. Bukan karena apa, entah dia sadar atau tidak dia baru saja bicara panjang sekali.


"Kalau artikel itu menjadi bagus bukan karena penulisnya aja Shin, akan tetapi pokok pembahasan yang menarik juga." Aku memasukkan kembali tas ku ke dalam laci, kemudian aku melihat Ana berbalik badan.


"Tapi artikel itu juga menarik karena penulisnya juga kok, Mut," kata Ana membuat Shinta memekik setuju.


"Iya, tapi kan yang dominan pokok pembahasan, bukan?"


"Enggak, gini ya Mut coba lo bikin tulisan yang temanya sama dengan yang lainnya. Pasti pembahasan dan bahasanya gak akan sama. Dan menurut gue tulisan lo enak kok dibaca pembawaannya menarik. Gak terlalu formal dan membosankan."


"Iya kah?" tanyaku dengan nada menggoda.


"Ni anak ngeyel banget sih," kata Shinta jengkel. Aku suka saat melihat banyak ekspresi yang diperlihatkan Shinta.


"Ya, menurut kalian enak untuk dibaca tapi belum tentu yang lainnya kan?"


"Duh, bukannya lo jadi pemenang artikel favorite di lomba mading? Jadi menurut yang lain enak dibaca juga kan." Shinta berkata dengan meyakinkan. Ah, lomba mading. Mengingatkan akan kejadian yang udah berlalu.


Memang benar yang dikatakan Shinta, akan tetapi kenapa aku masih ingin diyakinkan yang lebih lagi ya. Aku masih merasa minder untuk mengikuti event besar seperti ini, apa lagi ini dibuka untuk umum juga sama sponsor.


"Tapi kan buktinya di event yang diadakan pak kepsek aku gak menang," kataku dengan santai. Aku memandang geli ke arah Ana, sedang Shinta hanya berdecak tidak suka.


"Iya ya, kok lo gak menang sih waktu itu," jawab Ana heran aku hanya tersenyum penuh arti.


"Padahal kan waktu itu tema ditentukan, jadi pembahasannya sama," kata Lana yang ikut menghadap ke belakang.


"Mungkin waktu itu jurinya sedang butuh artikel yang pembawaannya formal, maklumlah kan waktu itu jurinya guru-guru yang nampak selalu serius dan kaku," kata Ana membuatku terkikik geli.


"Mang lo ikutan lomba itu, Mut?" tanya Shinta membuat kami bertiga noleh ke arahnya, dan kemudian mereka langsung menoleh ke arahku menunggu jawabanku.


Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala, kemudian aku melihat Lana dan Ana mendesah sambil memperlihatkan wajah jengkelnya.

__ADS_1


"Pantes aja lo gak menang," kata Ana ketus, aku hanya terkikik pelan.


"Ada bu Dewi," kata Shinta saat guru biologi kami memasuki kelas membuat pembicaraan kami terputus.


Jika mengingat kejadian hari ini, memang benar-benar sesuatu sekali, bagaimana tidak aku sampai mendapat cemoohan dari kak Bagas, meski aku tahu itu bukan dari hatinya dia hanya jengkel saja dengan ku.


"Katanya gak mau menonjol, kok lo ikutan event besar juga. Gak konsisten banget." Begitulah kurang lebih perkataan yang keluar dari bibirnya dengan nada sinis yang membuat hatiku sedikit tergores rasanya.


Aku mengambil kemeja warna ungu muda aku gandengkan dengan rok warna hitam, aku memilih rok yang berbentuk A biar memudahkanku untuk melangkah. Ku gunakan jilbab langsung jadi dari merk yang lumayan terkenal.


Aku ingat jilbab ini dibelikan kak Rifa saat aku dua bulan mulai memakai jilbab, saat itu aku memakai baju terusan berwarna ungu muda dengan motif bunga kecil berwarna abu-abu. Karena tidak memiliki jilbab berwarna ungu yang senada jadi memakai jilbab warna abu-abu dan mungkin kakak ku yang satu itu melihatnya, hingga pas akhir bulan tepatnya setelah makan di luar sebagai rutinitas kami berdua saat kak Rifa habis gajian kakakku itu memberiku jilbab ini.


Setelah rapi aku mengambil tas miringku yang berwarna ungu juga namun kali ini ungu tua, aku memasukkan buku agenda kecil, bolpoin, tisu, sabun cuci muka dan tak lupa handphone.


Tak lupa juga aku mengecek di reseting kecil di dalam tas, di sana masih ada uang beberapa lembar yang kiranya masih cukup untuk makan dan transpotasi pulang pergi, ini kebiasaanku aku selalu menaruh uang di setiap tas yang aku miliki, karena aku jarang sekali membawa dompet. Pikirku itu begini, ngapain bawa tas bawa dompet kalau uangnya hanya sedikit, malah bikin berat bawaan saja.


Setelah siap aku keluar kamar menuju rak sepatu, di sana aku mengambil sepatu templetku yang warnanya cocok dengan pakaian yang aku kenakan, dan aku siap untuk berangkat.


Aku diantar bik Sum ke halte dengan mengendari motor metic yang bik Sum kendarai setiap datang ke rumahku.


Sampai halte aku harus menunggu terlebih dahulu, aku menyisingkan lengan untuk melihat jam, namun aku baru ingat jika aku lupa tidak memakainya. Padahal jam tangan itu adalah perkara yang jarang aku lupakan.


Aku mendesah jengkel karena lupa, kemudian dengan terpaksa aku membuka tas dan menyalakan handphone kwuerty yang bertulisan X2 di bagian atas.


Jam menunjukkan pukul 14.03 sedang meeting dimulai pukul 14.30. Aku akan terlambat jika aku tidak segera mendapatkan kendaraan untuk menuju ke sekolah.


Aku memasukkan kembali handphoneku kemudian aku duduk mencoba tenang, aku mengetukkan kakiku ini adalah ciri khas ala Mutia saat dia tengah gelisah. Aku akan menggerakkan apapun untuk mengurangi kegelisahan.


------------------------


Aku memasuki kelas X-3 dengan terburu-buru, aku langsung mengambil duduk di pojokan paling depan yang masih kosong.


"Kenapa Lo?" tanya Kamil, anak IPS.


"Tadi aku kira sudah telat, jadi aku lari dari gerbang." Aku menjawab dengan napas masih belum teratur.


"Iya kah?" tanyaku sambil berengut sebal. Kamil mengangguk meyakinkan.


''Pantesan sepi," kataku melepas tasku kemudian aku meletakkannya di atas meja. Aku bingung mau bicara apa sama Kamil.


"Lo sekelas sama dua ketua OSIS dan juga sama kapten basket. Wah lengkapnya di kelas lo."


"Ya begitulah, kebetulan yang nyata bukan."


"Lo perwakilan kelas atau daftar sendiri?" tanya Kamil lagi, kali ini dia menoleh ke arahku.


"Daftar sendiri kok, soalnya yang jadi perwakilan kelas ada Marta, kan dia pernah menang event juga." Aku menjawab sambil menoleh ke arah Kamil, namun si Kamil malah gak fokus, terlihat beberapa kali melirik ke belakangku.


Karena penasaran akupun menoleh ke belakang, dan di sana ada Desi dan Mala yang tengah berbincang seru dan sekali-kali si Mala juga melirik ke arah kami.


Desi dan Mala adalah anak kelas bahasa seangkatanku, aku mengenal mereka hanya sebatas dengan nama saja, soalnya dulu Mira sering bercerita tentang mereka.


"Kenapa?" tanyaku pelan ke Kamil.


"Apanya?" tanya Kamil heran mungkin dia gak sadar bahwa dia tengah ketangkap basah.


"Mereka berdua," kataku sambil memberi kode ke arah dua orang yang tengah membicarakan film korea itu.


"Hah? Maksudnya?" tanya Kamil bingung juga gugup. Aku tersenyum penuh arti.


"Lo naksir siapa?" tanyaku berbisik ke arahnya, mendekat tapi ada jarak aku menghalangi bibirku dengan tangan di sisi sebelah kanan.


"Siapa yang naksir, ngoco lo." Kamil beranjak dari duduknya dan keluar kelas.


"Kemana Mil?" tanyaku geli, ternyata cowok punya sisi naif juga, pakai mengelak segala.

__ADS_1


"Cari angin," jawabnya sambil teriak karena dia sudah ada di dekat pintu.


Aku mendesah karena duduk sendiri lagi, tak ada teman yang ku ajak bicara, mau nimbrung ke yang lainnya aku merasa tak enak diri juga tak nyaman dan tak nyambung dengan pokok pembahasan.


"Kamu akrab banget kayaknya sama Kamil?" tanya Desi yang sudah duduk di kursi yang ditempati Kamil tadi.


Aku menoleh sambil tersenyum, "gak juga kok, cuman kita pernah ikutan event bareng jadi lumayan akrablah." Desi memandang ke arahku heran. Dia seperti ada yang ingin ditanyakan namun dia urungkan.


"Kenapa?" tanyaku membuka jatan untuknya.


"Enggak, heran aja lo kayaknya akrab banget sama cowok-cowok yang terkenal di sekolah ini." Desi menoleh ke arahku, aku hanya memandang ke arah pintu dengan tatapan kosong, aku tak fokus.


"Gak juga kok Des, aku mengenal mereka juga karena unsur ketidaksngajaan. Mungkin kebetulan kami bernaung di organisasi yang sama atau ada kegiatan yang sama." Desi mengangkat salah satu sudut bibirnya, bolehkah aku menilai bahwa itu adalah senyum sinis?


Aku tidak tahu apa masalahnya denganku tapi yang pasti dia sepertinya tak seberapa menyukaiku. Bahkan mungkin dia membenciku.


Aku tidak menyukai situasi ini, situasi yang aku nampak canggung untuk bicara, sedang Desi masih setia duduk di dekatku. Aku lebih baik sendiri daripada berbicara dengan orang lain namun hanya sebatas sindiran atau hinaan semata.


"Mut, kamu ikutan?" tanya Tiara yang melangkah mendekatiku, aku sunggu bersyukur di dalam hati, bahwa Tiara menyelamatkanku dari keadaan tak menyenangkan ini.


"Iya, kamu juga?" Tiara mengagguk sambil sibuk memasukan mukena ke dalam tasnya.


Tiara memang sosok yang sedikit endel dan cerewet, namun dia anak yang baik meski lidahnya juga tajam. Dia juga taat beragama, maksudnya meski dia bergaul dengan anak-anak yang gak sholat tapi dia beda dia tetap menjalankan sholatnya.


Saat semester dua di kelas X aku sering sholat dzuhur  bareng dia. Karena tau sendiri dua dari temanku menjauhiku.


"Iya, gue ikutan. Padahan gue mah apa atuh, nulis masih amatiran." Dia kemudian dengan seenak jidadnya menyuruh Desi pindah duduk, aku hanya memandang takjub karena Desi menurut begitu saja.


"Kenapa? Si mulut cabe ngomongin apaan?" tanya Tiara setelah bisa mendapatkan duduk si Desi.


"Mulut cabe?" tanyaku heran.


"Iya, si Desi tu lo maksudku. Dia tu kalau ngomong gak pernah disaring. Filternya jebol kali, ngomong nyelekit amat." Dialah Tiara yang aku maksud dengan berlidah tajam, dia selalu mengeluarkan apa yang dia katakan tanpa saringan. Namun yang aku suka dia gak munafik, baik di depan buruk di belakang.


"Dia cuman bilang kalau aku dekat dengan anak-anal yang terkenal di sekolah." Tiara mendengus nampak kesal.


"Pasti dia ngomongnya ketus, dah jangan dipikirin. Dia tu cuman iri aja sama lo, soalnya dia gak bisa tu deketin si Kamil."


"Jadi Desi suka sama Kamil?" Tiara mengangguk, "tapi si Kamil sukanya sama si Mala." aku hanya ber'oh' ria. Pantas saja sejak tadi Desi sering curi lihat ke arah aku dan Kamil. Kemudian kami berbincang banyak hal sambil menunggu orang dari penerbitan datang.


------------------


Karena bosan menunggu pihak penerbitan aku memainkan ponselku, aku main game ular merah yang suka memakan bola-bola yang berwarna merah.


Setelah beberapa kali game over, aku mendengar anak-anak mulai mengambil duduk di kursi, dan ternyata orang yang kami tunggu tengah berdiri di depan.


Setelah acara perkenalan diri, mereka berdua yang ada di depan itu membahas perihal materi yang akan dijadikan event.


Jadi tema event itu adalah kisah inspiratif bertema "hijrah" dan waktu yang ditentukan adalah selama 7 hari sebanyak 10 lembar denga kriteria spasi 1.5 ukuran margin normal dan ukuran kertas A4. Dikirim via box dengan disertakan data diri. Selain dikirim dalam bentuk print out juga mengirim via e-mail.


Aku menghela napas berat, kala info yang disampaikan sudah selesai namun masih banyak pertanyan tak bermutu keluar dari teman-temannya juga junior senior yang juga mengikuti event yang sama.


Apalagi beberapa kali aku memergoki salah satu dari orang penerbitan itu melirik dan memandang ke arahku penuh arti, bukan sok cantik atau apa namun hal itu memang benar adanya.


Padahal aku yakin benar bahwa aku sama sekali tidak mengenalinya. Bahkan meski digoda teman-temannya pun, cowok itu masih sering melempar senyum kepadaku, hal itu sungguh membuatku muak.


Aku benci diperlakukan sedemikian itu, aku sungguh muak dengan pandangan itu. Ingin rasanya aku bergegas pergi dari tempat ini, namun apa dayaku jika aku tak memiliki keberanian itu.


Dan akhirnya, hal yang aku tunggupun datang juga, setelah salam penutup terjawab dan sebagian dari kami bergegas untuk segera keluar ruangan, begitu pula denganku.


Aku menganggukan kepala sambil berlalu dari dua orang penerbitan yang aku kenal namanya Rouf dan Rida.


Namun, baru beberapa langkah mendekati pintu aku mendengar ada suara manggilku, "Mutia." Aku menoleh ke belakang dan cukup terkejut saat tahu orang yang memanggilku adalah Rouf.


Apa dia mengenalku?

__ADS_1


Dari mana dia tahu namaku?


---


__ADS_2