Berawal Dari Abu-abu

Berawal Dari Abu-abu
Hasan lagi-lagi lebih dulu


__ADS_3

Ini bukan ajang siapa cepat dia dapat. Tapi ini ajang siapa yang terpilih dia yang tepat. (Kru Kepo)


---------------


Mutia melangkah memasuki kantor dengan buku di tangannya, dia nampak anggun dan bijaksana.


"Maaf Bu, mau tanya," kata seorang perempuan yang memakai baju batik dengan pakaian rapi. Rambutnyapun disanggul dengan rapi untuk memberi kesan dewasa.


"Iya, ada yang bisa dibantu," jawab Mutia dengan santun. Bahkan sosok remaja itu memandang Mutia dengan kagum.


"Saya Bella, mahasiswa semester 6 yang akan melakukan observasi di sekolah ini. Dan kebetulan saya ketinggalan rombongan. Bisa minta tolong tunjukkan ruang Dewan guru?"


"Baiklah, mari ikut saya," kata Mutia sambil berjalan lebih dahulu dan diikuti Bella.


Kedua gadis itu berjalan bersamaan menuju ruang dewan guru, setelah menemui gerombolan temannya Bella berpamitan kepada Mutia dan tidak lupa mengucapkan terimakasih.


Mutia melihat sisi ceria tanpa beban pada diri Bella, hingga menghadirkan rasa iri tersendiri di sudut hatinya. Tak ingin memupuk lebih lama rasa iri itu, Mutia bergegas beranjak dan duduk di kursinya.


Dia sekolah ini memang disediakan secara private ruangan khusus wali kelas. Karena selain mengajar, Mutia adalah wali kelas 3 jadi dia memiliki ruangan yang ada di dekat ruang kurikulum. Ruangan itu ditempati Riana dan Mutia.


Riana adalah guru partner, bisa dibilang dia guru multi study. Dia ikut mengajar semua pelajaran meski tidak memegang pokok materi, dia selalu ada di kelas untuk melihat perkembangan anak didiknya.


"Dlo, Bu Riana tidak di kelas?" tanya Mutia terkejut. Tadi dia mengucap salam sebelum masuk ke dalam dan dia mendengar jawaban.


"Tidak Miss, ini saya sedang mengatur jadwal parenting kelas kita," jawab Riana masih sibuk membolak-balikkan kertas dan sesekali dia melihat ke ponselnya.


Mutia meletakkan buku yang dia bawa ke mejanya, kemudian dia ikut duduk di lantai bersama Riana.


Di ruangan ini ada dua meja kerja, satu meja besar yang ada di tengah ruangan dan yang satu meja kecil panjang yang ada di pojokan sebelah kanan lurus dengan pintu masuk. Di meja besar hanya ada globe, tempat bolpoin, buku dan beberapa pigora, sedang di meja panjang––meja Riana ada komputer dan beberapa tempat file. Kalau mesin printer dan foto kopy ada di TU.


"Ada yang dibantu?" tanya Mutia.


"Ini Miss lihat saja buku penghubungnya, kalau mungkin Miss ada ide tambahan. Dan ini ada daftar kegiatan di rumah juga." Mutia langsung membukanya, di halaman pertama ada profile siswa dan walinya, kemudian ada surat pernyataan persetujuan dari orang tua, Mutia cukup takjub kala melihat tanda tangan orang tua wali ada di atas materia 6000.


Kemudian dia membalik, ada kegiatan rutin anak dan beberapa kegiatan kunjungan guru pendamping.  "Benar-benar terjadwal," guman Mutia pelan.


"Ini jadwal yang bikin kita atau orang tua?" tanya Mutia kepada Riana.


"Itu jadwal dari sana Miss, kalau yang jadwal kunjungan itu dari kita. Tapi, selama ini saya jadi pendamping itu masih belum kondusif. Soalnya kan biasa guru kalau udah libur pada mager." Mutia menganggukan kepala.


"Bagaimana dengan kelas yang lainnya?" tanya Mutia sedikit menelisik.


"Kelas lain ya sama saja kayaknya, Miss. Tapi kurang tahu juga sih." Mutia mangut-mangut. Dia mencoba mengingat dan menggali otak untuk mencetuskan sebuah ide.


"Kalau melakukan pembaharuan harus nunggu rapat dulu atau bagaimana?" tanya Mutia penasaran.


"Ke tim kurikulum, nanti disetor ke tim kreatif parenting. Biasanya kalau ada ide baru itu nanti dicoba di kelas pemberi ide kalau udah dapat ACC." Riana menjelaskan dengan sabar.


"Aku ada ide, kamu bisa tolong ajuin gak? Kan aku terhitung baru jadi belum kenal benar seluk-beluknya." Riana mengangguk semangat.


Riana adalah guru yang aktif, jadi dia begitu senang mendapat patner Mutia yang juga kreatif dan inovatif.


"Bagaimana kalau kita adakan kumpulan parenting di suatu tempat, seperti timezone, play ground, taman dan kawasan edukasi lainnya."


"Dananya Miss?" tanya Riana.


"Kumpulan wali dong, kan mereka beruang tuh." Mutia berkata dengan santai.


"Memang boleh?" tanya Riana penasaran.


"Kita adain semacam arisan gitu, jadi setiap sebulan sekali atau sesuka hati wali murid. Nah nanti sang wali yang dapat arisan menentukan tempatnya. Bagaimana? Sebelumnya dikumpulan nanti kita tanyakan ke wali murid dulu pendapat mereka."


"Boleh juga, sekalian piknik." Riana menimpali dengan ceria. Kemudian mereka seru membahas banyak hal yang akan diajukan ke tim kreatif tentang kegiatan selama wisata edukatif itu berlangsung.


----------------------


Mempertahankan itu lebih sulit dibanding menggapai.


Soalnya kalau udah lepas sulit digapai.(Kru Kepo)


--------------


Siang yang terik, seterik pancaran mata yang mengeliat tak nyaman. Ada banyak pertimbangan dalam setiap langkah.


Mutia keluar dari kawasan sekolahan menuju parkir motor, saat dia tengah memakai sarung tangannya Mutia melihat seorang anak duduk sendiri di ayunan. Dia tersenyum kemudian melangkah menuju tempat duduk anak kecil itu.


Dia mengenali anak kecil itu bernama Arsa, dia duduk di samping Arsa yang nampak cemberut. Dia membelai kepala Arsa dengan sayang.


Dia merasa Arsa mengingatkan dia dengan seseorang dari masa lalu. "Arsa belum dijemput?" tanya Mutia dengan pelan.


"Belum, hari ini kamis. Harusnya Arsa dijemput ayah kecil, tapi sepertinya ayah kecil lupa lagi." Arsa mengadu dengan logat kekanakannya––manja.


"Ya sudah, mau Ibu temani menunggu." Mutia menawarkan diri.


"Apa Miss cantik tidak keberatan?" tanya Arsa seperti orang dewasa. Miss cantik, itulah sebutan anak kelas 3 kepada Mutia, padahal dia selalu membahasakan dirinya ibu atau bu Mutia. Namun anak-anak tetap selalu memanggilnya miss cantik. Bahkan banyak wali murid yang juga manggil Mutia dengan panggilan itu juga.


"Tentu saja tidak," jawab Mutia sambil berdiri dan mengayun ayunan yang ditempati Arsa. Membuat Arsa menekik bersemangat.

__ADS_1


"Arsa senang?" tanya Mutia masih mengayun. Arsa yang girang hanya menganggukan kepala.


"Sudah Miss," kata Arsa setelah lama mereka saling tertawa bersama.


"Ayuk berteduh, disini panas," ajak Mutia sambil menggandeng tangan kecil Arsa.


Mereka berdua duduk di dekat tempat menunggu jemputan anak dengan memegang minuman berkemasan. Mereka berdua asik berbincang dan bercerita banyak hal seolah mereka memang sudah akrab sebelumnya. Padahal Mutia baru mengajar sekitar dua pekan di sekolah itu.


Tanpa sengaja, tangan Mutia mengambil pin nama yang terlepas milik Arsa.


Dia termenung saat membaca nama nama lengkapnya.


"Arsakha Abiyana Rahman," kata Mutia pelan. Hingga dia dikagetkan dengan teriakan Arsa.


"Om Hasan." Mutia langsung mendongak, dan dia menemui pemandangan yang sangat indah.


Seorang lelaki menggendong Arsa sambil berputar dan tertawa bersama. Dan saat dia melihat sosok lelaki itu hatinya mencelos, bagaimana tidak lelaki itu adalah Muhammad Nur Hasan. Sosok senior SMA-nya.


Seolah dia diingatkan kembali ke masa lampau, setiap kali dia bertemu dengan orang-orang yang berkaitan dengan masa abu-abu putih yang kata orang kenangan yang indah itu.


Mutia tak menyadari bahwa dua lelaki berbeda umur itu sudah berdiri di depannya,


"Miss," panggil Arsa menyadarkan lamunan Mutia.


"Iya, ini nama Arsa lepas." Mutia memberikan pin nama yang ada kancingnya itu kepada Arsa.


"Kenalin om, ini miss cantik yang nemenin Arsa," kata Arsa dengan manja. Hasan hanya melihat ke mata Mutia dengan pendangan penuh arti.


"Kamu tahu, kami sudah saling kenal." Hasan tersenyum  senyum yang menurut Mutia aneh dan perlu dicurigai.


"Jadi Arsa sudah dijemput, Miss pamit ya," kata Mutia menghiraukan ucapan Hasan.


"Iya Miss, tapi Arsa belum dijemput." Arsa berkata dengan lesu kemudian duduk.


"Dla, ini dijemput om-nya," kata Mutia sedikit heran, dia menoleh ke Hasan namun lelaki itu sama sekali tidak membantu dia hanya mengangkat dua bahunya.


"Om kecil bukan menjemput Arsa, dia mau menjemput pacarnya." Arsa berkata dengan nada sinis sambil melirik Hasan. Mutia mengerutkan dahi kemudian melirih sosok om kecil yang dimaksud Area.


Lirikan sinis dari Arsa bukan membuat Hasan takut tapi malah terbahak. Mutia menggaruk puncuk hidungnya salah tingkah.


"Kamu bisa bareng om kok, Ar." Hasan ikut membujuk Arsa.


"Nah, itu om-nya mau nganterin," kata Mutia bersemangat, hingga memekik. Hasan tersenyum melihat tingkah Mutia yang kadang ke kanakan.


"Tapi aku gak suka duduk di belakang," kata Arsa lagi.


"Ada es krim," tawar Bella yang sudah berdiri di samping Hasan.


"Ayo pulang," kata Arsa sambil mencium pipi Mutia.


"Hay boy, dilarang genit." Hasan berseru sedang Mutia hanya diam bingung melihat tingkah mereka.


"Jadi kami ngajar di sini," kata Hasan membuat senyum tipis di bibir Mutia hilang.


"Iya," jawab Mutia pelan sambil berdiri.


"Gak nyangka, takdir kita rumit serumit benang." Hasan berkata dengan tenang. Mutia tidak menjawab hanya tersenyum tipis seraya melihat interaksi Bella dan Arsa yang nampak akrab.


"Dia sepupuku," kata Hasan saat Mutia hanya memandang ke arah depan.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Hasan lagi.


"Dari sekian banyak pertanyaan, kak Hasan nanya hal yang basi tahu," jawab Mutia dengan nada biasa seperti dulu, dulu sebelum kejadian yang menyebabkan kesenggangan diantara ke duanya.


"Kenapa?" tanyanya heran. Sedang Mutia tersenyum kecil. Ah, mungkin sudah saatnya melangkah ke depan tanpa bayangan masa lalu.


"Aneh tahu kak, kakak kan udah lihat aku sehat wal afiat seperti ini. Masih tanya lagi. Selain itu bukannya lima bulan lalu kita bertemu juga di reuni."


"Bukan itu yang aku maksud," kata Hasan tersenyum renyah. Sedang Mutia hanya melongo.


"Aku nanyain keadaan hatimu?'' kata Hasan dengan nada menggoda. Mutia merengut tidak suka.


"Baik," jawa Mutia singkat.


"Maaf untuk yang lalu," kata Hasan.


"Sudahlah kak, yang lalu biar berlalu." Mutia menjawab dengan bijak.


"Kamu udah tau dong, siapa Arsa?" Mutia tersenyum tipis dan mengangkat kedua bahunya.


"Arsa itu anak...." perkataan Hasan terpotong suara telepon. Setelah mengangkat teleponnya dia berpamitan kepada Mutia.


Hasan bergegas memasuki mobilnya, saat dia menyalakan mesin mobilnya dia melupakan sesuatu. Dia lupa meminta kontak Mutia. Tapi dia tidak ambil pusing dia yakin akan bertemu lagi. Apa lagi dia tahu tempat kerjanya. Dia masih menang banyak untuk kembali memulai.


"Kak, kenapa buru-buru?" tanya Bella heran. Dia baru saja masuk dengan Arsa yang tengah asik makan es krim di jok belakang.


"Kakak ada panggilan mendadak," jawab Hasan menjalankan mobilnya.

__ADS_1


---------------


Mutia menghela napas, banyak hal yang terjadi dan banyak hal pula yang tersimpan dari memori.


Mutia menaiki motor kesayangannya menuju ke sebuah kafe, tempat dia berjanji temu dengan salah satu wali murid yang ingin berkonsultasi di jam luar sekolah. Apakah boleh? Mutia membolehkan yang penting dia memiliki waktu senggang.


Dia membelokkan motor kesayangannya dan memarkirkan. Saat melepas sarung tangannya dia dikejutkan dengan sebuah suara.


"Masih cinta aja sama si pinky."Pinky adalah sebutan motor kesayangan Mutia, motor yang dia dapat dari sang ayah setelah menerima SIM (surat izin mengemudi).


"Allahuakbar, Kak Dilan," seru Mutia cukup kencang. Dilan hanya acuh, dia menggunakan jaket dan helmnya.


"Kok kakak di sini?" tanya Mutia setelah menenangkan detak jantungnya yang menggila karena terkejut.


"Baru makan siang," jawab Dilan acuh.


"Oh ya, aku denger kemarin ikut reuni. Kenapa kangen ya?" Dilan bertanya dengan nada menggoda. Meski suaranya tertelan, karena Dilan menggunakan helm.


"Gak, kebetulan lagi ngurus surat pindah kerja, jadi sekalian aja." Mutia berkata dengan santai.


"Ketemu dia dong," kata Dilan dengan menggoda.


"Apaan sih," kata Mutia memalingkan wajahnya.


"Cieee.... Memerah," kata Dilan sambil memutar motornya.


"Udah, gak usah merah-merah, aku mau balik dulu. Bye Mutia, Assalamualaikum." Dilan menjalankan motornya meninggalkan Mutia yang hanya bisa menggeleng dramastis.


Mutia menjawab salam kemudian terdiam sejenak sebelum kembali menghela napas, dia heran entah karena apa, dia merasa jika sudah bertemu dengan Dilan dia memiliki mood yang baik kembali.


Mutia meletakkan sarung tangannya di atas jok motor dengan jaketnya, kemudian melangkah memasuki kafe.


"Assalamualaikum, maaf bu menunggu  lama," sapa Mutia kepada salah satu wali murid.


"Waalaikumsalam, tidak kok saya saja yang sepertinya datang lebih awal," kata Bu Rahma ibu dari Saski salah satu siswi dalam kelasnya.


"Mau pesan apa, Miss?" tanya bu Rahma menawarkan.


"Saya pesan minum saja, mungkin ibu ada rekomendasi?"


"Di sini jus dan sari buahnya diacungi jempol, Miss. Saski aja sangat suka."


"Wah boleh dicoba," kata Mutia sambil membuka menu. Tak lama pelayan datang, Mutia memesan sari jeruk lemon dengan sedikit madu. Sedang bu rahma memesan jus semangka.


Mutia diam sejenak, mengamati gerakan bu Rahma. Bukan mengawasi dia hanya ingin membaca gestur tubuh. Atau dalam ilmu pendidikan biasa disebut bahasa tubuh.


"Maaf lo ya Miss, kalau saya menggangu waktunya," kata bu Rahma basa-basi.


Mutia tidak menjawab dia hanya mengangguk dan tersenyum ramah. Dia masih ingin mastikan saja bahwa ibu yang ada di depannya ini bukan tipe ibu yang dominan. Karena dari pola bicara dan gerakannya bisa dinilai demikian.


"Saya hanya ingin curhat saja, siapa tahu Miss Mutia ada solusi."


"Masalah apa ya, Bu?" tanya Mutia dengan santai.


"Begini Miss, sudah hampir satu pekan ini Saski gak mau belajar. Baik di rumah atau di tempat les. Guru lesnya saja sampai kualahan menghadapi Saski yang hanya mau bergerak gak mau diam. Apa lagi kalau di rumah,  kelakuannya sangat mengesalkan dia membuat semua hal menjadi mainnan." bu Rahma mulai mengeluarkan keluhannya.


"Dan juga Miss, papinya Saski membiarkan saja. Anak itu terlalu dimanjakan oleh ayahnya, jadi apa aja yang dia mau selalu dituruti." Mutia masih diam mencerna setiap kata yang diucapkan bu Rahma.


"Miss tahu, dalam sepekan ini Saski sudah memecahkan vas bunga, piring antik, dan guci kesayangan saya. Dan kalau saya tegur dia akan marah dan jika saya keras sedikit dia langsung menangis." Kalimat bu Rahma terpotong dengan kedatangan pelayan.


"Terimakasih," kata Mutia kepada pelayan.


Setelah lama diam, Mutia mulai buka mulut, "terus inginnya Bu Rahma bagaimana?''


"Saya ingin Saski jadi Saski yang dulu, yang nurut ucapan saya, gak mbangkang dan gak cengeng." Mutia mengangguk.


"Begini Bu, sebelumnya saya mau tanya," kata Mutia dengan memberi sedikit jeda  dan saat bu Rahma mengangguk setuju baru dia mengeluarkan suara kembali.


"Apa bapak dan ibu belakangan ini tidak memiliki banyak waktu untuk bermain bersama Saski?"


"Iya, saya saat ini tengah sibuk dengan bisnis online yang baru saya rintis. Dan bapaknya juga sering lembur. Kadang berangkat saat Saski belum bangun dan datang setelah Saski tidur." Mutia mengangguk mengerti.


"Mungkin Saski saat ini berada dalam masa ingin diperhatikan. Jadi dia slalu membuat ulah supaya ibu dan bapak memperhatikan  karena saat di sekolah Saski nampak normal saja."


"Jadi saya harus bagaimana?" tanya bu Rahma pelan.


"Usahakan banyak waktu bersama, Bu. Mungkin dengan memberi perhatian  lebih seperti mengantar ke sekolah, membawakan bekal, menjemput dan selalu menanyakan aktifitas dia di sekolah sekaligus mendengarkan ceritanya."


"Tapi saya kan sibuk?"


"Pekerjaan bisa menunggu, tapi apakah hati anak yang polos harus menunggu?"


"Baiklah akan saya coba," kata bu Rahma tidak rela. Mutia hanya tersenyum tipis kemudian menghabiskan minumannya.


Anak tidak hanya butuh materi dari orang tuanya, akan tetapi anak juga membutuhkan sebuah rasa yang bernama kasih sayang. Dan menyanyangi anak itu mudah, cukup dengan memberi perhatian dan selalu ada saat dibutuhkan.


--------------

__ADS_1


__ADS_2