Berawal Dari Abu-abu

Berawal Dari Abu-abu
Lamaran Untuk Mutia


__ADS_3

Telah diciptakan dua insan yang hidup di dunia.


Taqdir Allah yang menyatukan jodoh manusia.


Mengingatkan hati hidup ini hanya sementara.


Jangan jadi kau memikirkan materi semata.


(Syair Nasyid Ar-Royyan)


---------------


Malam cerah, secerah senyum sang rembulan yang mewarnai. Secerah sang bintang yang berkeliaran di langit luas.


Malam yang cerah, secerah angan yang terbang ke bayangan penuh kenangan, bercumbu mesra dengan ingatan yang tak pernah padam.


Mutia Syarifa, gadis yang malam ini tengah tersenyum lebar memandang kekasih sang bintang, pelengkap sang langit dan teman setia sang malam.


Malam ini, entah gadis itu memiliki alasan apa jika ada yang bertanya, malam ini tak seperti biasanya. Di malam yang cerah ini, Mutia menyendiri di samping rumah dengan saling berpandang dengan sang rembulan.


Malam ini, Mutia berubah menjadi sosok gadis sebagai mestinya, dia merasakan adal keresahan dan juga kegundahan. Namun malam ini Mutia juga tersenyum dengan lebarnya.


Ingatannya kembali ke memori dua tahun yang lalu, tepatnya saat dia tengah mengikuti sebuah kajian rutin yang diadakan organisasi rohis dalam fakultasnya.


"Assalamualaikum," sapa seorang lelaki yang Mutia tak kenal kala itu.


"Waalaikumsalam Warohmatullah," jawab Mutia dengan menundukan pandangan, dia tidak melihat jelas wajah lelaki di depannya, dia hanya berusaha mengingat suaranya saja jika suatu saat berjumpa.


"Maaf mengganggu, ukhty." Lelaki itu mencoba berbasa-basi dan hal ini sungguh mengganggu Mutia.


"Tidak, ada yang bisa dibantu?" tanya Mutia hanya saya batas untuk kesopanan, karena jelas Mutia bukan tipe orang yang suka basa-basi. Karena menurut dia itu terasa basi dan gak berguna, masih mending nasi basi untuk dibuat pakan ayam kalau basa yang basi kan gak ada gunanya.


"Saya mau tanya, boleh?" Mutia sepertinya sudah ada di ambang batas kesabaran. Dia tak berniat berduaan di sini. Saat ini dia ada di depan ruang rapat rohis, dia tengah menunggu salah satu teman kontrakannya.


"Maaf sebelumnya, bisa langsung ke pokok pembahasan. Sepertinya tidak indah dipandang jika kita hanya berbicara berdua di tempat yang bisa dibilang sepi ini." Mutia berkata dengan tegas, lelaki itu menghela napas beberapa kali.


"Sebenarnya saya juga enggan berbasa-basi, tapi saya tahu akan terasa aneh jika saya langsung to the point." Lelaki itu berkata tidak kalah tegasnya, Mutia tersenyum tipis. Dia jadi menerka apa yang diinginkan lelaki di depannya ini.


"Saya hanya ingin menanyakan sesuatu," kata lelaki itu dengan tegas. Mutia dia ingin mendengar kelanjutan ucapan lelaki itu.


"Apa antum masih free?" tanya lelaki itu tanpa tedeng aling-aling. Alias tembak langsung. Mutia mendongak sejenak untuk melihat ekspresi wajah lelaki itu.


Mutia pikir akan ada wajah datar, namun di luar dugaan yang dia lihat adalah wajah yang merona dan tingkah yang gak wajar. Mutia tersenyum sambil menggelengkan kepala geli.


"Maaf sebelumnya," kata lelaki itu salah tingkah.


"Saya bukan penganut paham pacaram sebelum menikah, jadi bisa disimpulkan sendiri bukan," kata Mutia sambil membereskan buku yang ada di pangkuannya. Dia beranjak dari duduknya.


"Saya permisi, Assalamualaikum." Mutia melanglah meninggalkan lelaki yang masih salah tingkah.


Seminggu setelahnya, Mutia bertemu kembali dengan lelaki itu saat dia berjalan menuju gerbang hendak pulang. Dia hanya menundukan kepalanya tak berniat menyapa, bukan kerena sombong tapi dia tidak yakin dengan kebenaran bahwa lelaki itu adalah lelaki yang sama---dia ragu dengan ingatanya.


Mutia melanglah dengan santai sambil mengumamkan beberapa ayat yang dia hafalkan--murojaah.


Hingga tiba saat dia melupakan ayatnya dia berhenti, dia berpikir sambil mengingat kelanjutan ayatnya. Hingga tanpa sengaja dia mengucapkan dengan cukup keras dan saat dipotongan ayat itu dia lupa.


Sebuah suara melanjutkan ayatnya membuat dia terpekik senang dan melanjutkan berjalan, setelah ayat itu selesai dia baru menyadari sesuatu yang mengganjal.


"Tadi ada sebuah suara," kata Mutia kemudian menoleh ke belakang. Ada dua lelaki yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.


Satu lelaki yang tengah tersenyum adalah lelaki yang sepekan lalu, meski dia sedikit ragu. Dan satu lelaki dengan wajah datar yang menatapnya kemudian memalingkan wajahnya.


Mutia merasa tidak mengenalinnya, kemudian Mutia kembali berbalik dan melangkah. Namun Mutia sadar dia tengah diikuti. Karena sedikit tidak nyaman dia berbelok dan duduk di sebuah bangku di pinggir jalan.


Dua lelaki itu diam beberapa langkah, "Boleh saya tahu alamat rumah dan nomor orang tuamu?" lelaki yang dibilang Mutia berwajah datar tadi mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


"Maaf, untuk apa?" tanya Mutia heran. Dia sudah merangkai banyak prasangka baik dan buruk di dalam otaknya. Tapi sepertinya prasangka yang dia rangkai kebanyakan buruk.


"Untuk melamar anaknya," kata lelaki itu dengan tegas, sedang lelaki yang satunya hanya nyengir tak jelas.


"Maaf, sepertinya anda salah orang," kata Mutia jengkel, saat ini dia tak sedang ingin bercanda, dia sedang mood mode down.


"Apa wajah saya terlihat ada tanda bahwa saya bercanda?" tanya lelaki itu masih dengan wajah aslinya--datar.


Mutia menggaruk hidungnya yang tak gatal. "Saya bahkan tidak mengenal Anda," kata Mutia dengan nada yang kurang bersahabat, jangan salahkan Mutia jika dia sewot. Maklum hari ini tanggal waktu tamu bulanan Mutia datang dan selain itu dia tengah kesal karena dosen yang dia tunggu hampir satu jam ternyata mengganti jam kuliahnya. Padahal hari ini Mutia hanya menghadiri mata kuliah satu saja.


"Nama saya Syarif Abdul Majid, semester akhir di fakultas yang sama dengan mu." Mutia menggaruk keningnya yang tiba-tiba terasa gatal. Ingin rasanya menghardik lelaki di depannya, namun Mutia masih bisa menahan emosinya.


Mutia mengambil napas dalam-dalam, sambil memicingkan matanya ke arah lelaki yang sepekan lalu bertemu dengannya yang kini tengah tertawa.


Emangnya ada yang lucu?


Mutia menghembuskan napas berat, dia berdiri dari duduknya. Dia merapikan pakaian yang dia gunakan hanya sekedar formalitas setelah duduk.


Dia menoleh ke arah dua lelaki yang saat ini menatap heran ke arahnya. Dengan santai Mutia menyebut alamat rumahnya dan nomor telepon ayahnya, dia tak hiraukan jika lelaki itu tidak siap menerima ucapannya, kemudian dia menutup dengan salam dan bergegas meninggalkan dua lelaki yang saat ini tengah diam memandang Mutia dengan heran. Entah apa yang ada di dalam pikiran dua lelaki itu, Mutia tak mau ambil pusing.


-------------------


"Apa yang kamu lakukan?" tanya sang ayah duduk di samping sang anak.


"Tidak ada, hanya tengah bergenit ria dengan sang bulan." Mutia masih asik dengan teman sang malam.


"Kamu sudah dewasa," kata sang ayah membelai pucuk kepala Mutia.


"Iya dong, anak guru besar Universitas Kota." Mutia berkata dengan bangga.


"Tapi kok belum nikah, ya?" tanya sang ayah dengan menggoda. Mutia yang sangat langsung menurunkan bahunya lemas.


"Nikah bukan patokan dewasa kan, Yah."


"Iya sih, cuman takut gak laku aja." Mutia berengut, dia tahu ayahnya bukan sekedar bercanda.


"Astagfirullah, benar. Ya Allah anak jagoanku akan segera menikah." Mutia melotot mendengar ucapab sang ayah.


"Ayah," kata Mutia manja.


"Ada apa?" tanya sang ayah tanpa rasa bersalah.


"Ih, Mutia belum mau nikah." Mutia duduk di kursi samping sang ayah sambil menyandarkan kepalanya manja.


"Ingat ucapan adalah doa," kata sang ayah.


"Mutia akan menikah, tapi tidak dalam waktu dekat," kata Mutia membenarkan ucapannya.


"Emang kamu tahu?" tanya sang ayah dngan nada serius. Mutia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kalau gak tahu kok ngomong gitu. Gak baik mendahului kehendak." Mutia semakin menyandarkan kepalanya hal paling nyaman di kala hati gundah-gulana.


"Mutia belum mau pisah sama ayah," kata Mutia lagi, dia memandang langit bertabur bintang, ada sedikit ketakutan yang tak kasat mata di dalam lentera dunia Mutia.


"Emang kalau kamu menikah kamu bakal pisah sama ayah?" tanya sang ayah sambil membawa sang anak dalam dekapan. Dhimas tahu ada ketakutan tersendiri di dalam diri sang anak, namun perlu diketahui juga dia masih enggan melepas anaknya. Namun waktu terus berjalan dan Mutia sudah sangat matang untuk membina rumah tangga.


"Ya kan kalau Mutia menikah, Mutia bakal ikut suami," kata Mutia pelan kemudian mengeratkan pelukan. Ya, bukankah saat menikah seorang wanita harus mengikuti kemanapun perginya sang suami. Seorang istri dan suami itu ibarat burung dan sayap, jika terpisahkan maka tidak akan lengkap dan sempurna.


"Tapi tetap bisa bertemu sama ayah, kan?" Mutia mengangguk setuju.


"Tapi gak bisa seintens seperti saat ini." Ayah Mutia menghela napas.


"Hidup itu berjalan ke depan, kita tidak akan tetap ada di tempat saat kita berpijak. Kita harus maju ke depan untuk bertemu banyak hal. Bertemu orang baru, suasana baru dan mungkin menyelesaikan masalah lama yang terbawa ke masa depan." Mutia mengangguk setuju saat awal ucapan sang ayah, namun dia langsung mendongak saat mendengar ucapan terakhir sang ayah.


'Menyelesaikan masalah lama yang terbawa ke masa depan.'

__ADS_1


"Maksud ayah?" tanya Mutia memandang intens sang ayah, menilai setiap mimik wajah yang diperlihatkan. Namun dia hanya mendapatkan satu hal, wajah tenang dan berwibawa.


"Ayah akan jujur padamu," kata sang ayah serius, Mutia melepas pelukannya  kemudian duduk tegak.


Ayah Mutia menghela napas, kemudian menoleh ke arah Mutia dan tersenyum tipis. Dia kembali memandang lurus ke depan.


"Apa yang kamu khawatirkan tentang pernikahan?"


"Tidak ada," jawab Mutia cepat. Sang ayah kembali menghela napas.


"Mutia, menikah itu sunah rosul lo,'' kata sang ayah.


"Iya memang menikah adalah sunah rosul, dan Mutia masih mau disebut golongan dari nabi Muhammad oleh sebab itu suatu saat Mutia akan menikah."


"Kapan?" tanya sang ayah menoleh ke arah Mutia, kini ganti Mutia yang menghela napas.


"Mutia tidak tahu ayah, jodoh bisa datang kapanpun, bukan? Seperti kata Ayah, kita tidak bisa menentukan takut mendahului kehendak."


"Mutia, kamu memang tahu jika ayah pernah gagal dalam membina tumah tangga. Tapi itu takdir ayah, itu pelajaran bagi ayah juga orang di sekitar ayah untuk mengambil pelajaran yang ada. Dan ayah yakin 100% bahwa kamu memiliki takdir sendiri dalam hidup kamu. Yang perlu kamu lakukan adalah tidak melakukan kesalahan yang sama dengan ayah." Mutia diam memandang kosong ke depan.


"Lihat, kak Rifa sama-sama anak ayah. Tapi dia tidak memiliki takdir seperti ayah bukan. Dalam segala hal pasti ada ibbroh yang bisa diambil. Jadi apa yang kamu takutkan?"


"Yang Mutia takutkan adalah Mutia salah mengambil langkah dan memilih, ayah. Mutia takut, jika Mutia suatu saat berubah pilihan di tengah jalan."


"Hai, lihat ayah," kata ayah Mutia sambil memegang bahu Mutia untuk menghadap ke arahnya.


"Setiap keputusan itu menanggung resiko, jadi kita harus siap menerima konsekuensi dari pilihan kita," kata sang ayah meyakinkan.


"Mutia tahu ayah," kata Mutia melepas tangan ayahnya kemudian kembali bersandar di bahu ayahnya.


"Lantas?" tanya sang ayah dengan nada santai.


"Masalah mau nikah sama siapa?" tanya Mutia sambil cekikikan, meski di dalam hati dia merasa teriris-iris saat mengucapkannya. Dia seperti perawan tua yang tak laku.


Perawan tua yang tak laku?


Apa saat ini status Mutia seperti itu?


Sang ayah hanya terkekeh melihat kegusaran sang anak, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Ada yang Mutia tunggu untuk melamar? Atau ada yang perlu ayah lamar?" tanya sang ayah dengan wajah curiga.


"Apa sih ayah, gak ya. Mutia mau dilamar gak mau melamar. Apa kata dunia?"


"Kenapa emangnya, bukankah dulu Khodijah melamar Nabi Muhammad lebih dulu, apa salahnya perempuan melamar lelaki?"


"Iya, tapi beda aja gitu, Yah." Mutia masih kukuh pada pendiriannya.


"Katanya masa emansipasi wanita, laki-laki dan wanita berkedudukan sama." Dhimas masih menggoda anaknya. Melihat wajah protes sang anak membuat dia sedikit lega.


"Ya sudah, ayo masuk." Dhimas mengajak Mutia masuk, karena hari menginjak semakin larut dan udara terasa semakin mencekik dengan sejuta rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh.


"Ayah, adakah sesuatu yang ayah sembunyikan?" tanya Mutia saat ada di depan pintu.


Dhimas menghela napas, dia berbalik menghadap ke arah Mutia. "Apa Dilan belum bercerita?" tanya Dhimas. Mutia mengerutkan dahinya berpikir kemudian menggelengkan kepala.


"Apa hubungannya dengan, kak Dilan?"


"Dia juga tahu semuanya, maafkan Ayah Mutia," kata ayah Mutia sambil menyentuh bahu anaknya.


"Kenapa ayah meminta maaf?" tanya Mutia heran, dia kembali berpikir berat hingga kerutan di dahinya bertambah.


Ada apa dengan Ayah dan Dilan?


"Ayah menerima lamaran seorang lelaki beberapa tahun yang lalu," kata Dhimas lirih.


"Maafkan ayah, sungguh ayah hanya ingin yang terbaik untukmu. Ayah tak ingin memaksakan kehendak ayah. Tapi entah karena pesona apa sehingga ayah dengan mudah mengiyakan lamaran itu." Mutia memandang takjub sang ayah, dia tidak menyangka akan hal ini. Dia tidak marah hanya saja dia merasa sangat terkejut dengan berita ini.

__ADS_1


"Jangan bilang kak Dilan–––" kalimat Mutia tak dilanjutkan karena melihat sang ayah menganggukkan kepala.


----------------


__ADS_2