Berawal Dari Abu-abu

Berawal Dari Abu-abu
Kelas (penghuni) Baru


__ADS_3

Yang baru belum tentu lebih baik, namun yang baru bisa kita jadikan lebih baik dari yang lama. (Kru Kepo)


---------


Tahun ajaran baru berada di depan mata, ada rasa haru biru menggema di setiap pikiranku. Liburan kenaikan kelas ini aku habiskan di rumah ibuku, tak banyak yang aku lakukan. Sebab bayangan setiap kejadian selama setahun berjalan ini cukup mengusikku.


Bagaimana tidak, di mana aku akan menemukan ketenangan jika rasa bersalah begitu nyata terasa.


Wajah sedu dan cuek itu begitu melukaiku, aku tidak tahu apa yang benar, namun yang aku ketahui bahwa aku tak boleh bertumpu pada keegoisan.


Aku hanya berharap takdir kita berada di jalan yang sama pada waktu kedepannya.


Sang kapten basket dan pak ketos, kini hanya bagian dari kenangan yang ada di masa lalu, namun tidak menutup kemungkinan akan hadir kembali di masa yang akan datang.


Aku melangkah memasuki gerbang sekolah, terasa ramai karena hari ini adalah masa orientasi siswa. Seperti bagaimana masaku dulu tidak ada MOS yang aneh-aneh, hanya ada beberapa turing sekolah dan pengenalan seluk beluknya.


Aku melangkah menuju ke aula, karena papan pengumuman kelas ada di sana, sebelum sampai aula aku melewati perpustakaan aku berhenti sejenak. Ada senyum yang aku ukir kala ingat perkataan sederhana itu.


Ah, lupakan tak semua sudah berakhir sekarang biarkan takdir memilih jalannya sendiri.


"Hay, ngapain diam di sini?" tanya Shinta.


"Tidak, aku hanya sedang berpikir sesuatu."


"Apa?" tanyanya penasaran.


"Kau tahu aku menjadi perusak hubungan persahabatan, aku sungguh melukai banyak orang."


"Siapa yang bilang?" tanya Shinta lagi dengan nada malasnya.


"Aku yang merasa demikian Shin. Lihat hubungan kak Hasan dan Abi, selain itu lihat hibunganku dengan Mira dan Madina yang juga merenggang." Aku menjelaskan dengan pelan apa yang ada di pikiranku, kemudian aku melihat ekspresi mencemooh dari Shinta.


"Kau terlalu baik sehingga meletakkan kesalahan ada di pundakmu. Sudah jangan salahkan dirimu, semua memang sudah ditakdirkan seperti itu. Mungkin rasa suka saja yang datang tidak pada waktu yang tepat." Aku hanya diam, tidak mengerti apa yang tersirat di dalam ucapan itu namun aku tetap diam.


Kemudian aku mengajak Shinta berjalan menuju papan pengumuman untuk melihat di kelas apa kita akan memulai cerita baru di tahun ajaran baru ini.


"Hai Mut," sapa Mira biasa namun terkesan datar, ah memang sejak kami melakukan kosultasi minat, bakat dan kejuruan hubunganku dengannya sedikit merenggang.


"Hai Mir, udah lihat pengumuman?" balasku ramah seperti biasa, sedang Shinta sudah izin lebih dulu untuk melihat papan pengumuman.


"Udah, kebetulan banget gue sekelas sama Madina." Dia menjawab dengan enggan. Kemudian tak lama ada anak yang memanggilnya dan dia meninggalkanku begitu saja tanpa pamit dulu.


Aku memandang ke arahnya menghilang di balik sanggar pramuka. Aku mendesah berat, sungguh ini sangat tidak mengenakkan.


Kemudian aku berjalan menuju papan pengumuman yang sudah dekat dengan tempatku berdiri. Di depan papan masih cukup ramai, aku hanya berdiri lima langkah dari kerumunan itu, ada rasa enggan menyapaku saat di depan keramaian itu, hingga pikiranku melayang ke setahun yang lalu yaitu kejadian di mana awal mula aku mengenal Mirza dan awal mula aku menyium bau parfumnya.


Entah karena aku terlalu mendalami nostalgiaku atau memang karena sebuah kecerobohan semata.


Aku merasa ada yang menabrakku dan aku terdorong ke belakang bukan hanya itu aku juga merasa ada yang memegang tanganku supaya tak terjatuh. Aku diam aku merasa de veju, aku sedikit demi sedikit mengangkat kelopak mata yang sedari tadi aku pejamkan.


Hal pertama yang aku lakukan adalah menatap ke arah tanganku yang dipegang seseorang dan seseorang itu adalah Shinta.


Ya Shinta, teman pendiamku yang memegang tanganku supaya tak terjatuh. Aku segera berdiri dengan tegak dan bernapas lega.


Hemmm.... Apa yang sebenarnya aku lakukan, hal itu tak akan terulang kembali jadi jangan berharap lebih. Ingat simpan semua kenangan itu di sudut memori.


"Lo gak papa?" tanya Shinta. Aku menggeleng entah karena masih syok atau karena kecewa aku merasa enggan mengeluarkan suaraku.


"Tu anak gak ada penyesalan sedikitpun langsung aja ngacir tanpa minta maaf," gerutu Shinta sambil memandang ke arah anak membawa ransel warna kuning.


"Udah gak papa, udah nemu kelasnya?"


"Udah, kita sekelas XI IPA2."


"IPA 2?" tanyaku meyakinkan, dia mengangguk kemudian menarik tanganku menuju bangunan yang ada di sayap sebelah kanan bagian sekolah.


Ya, jika dulu kelasku ada di sayap bagian kiri kawasan sekolah sekarang kelas baruku ada di sebelah kanan.


Aku melangkah mengikuti langkah kaki Shinta, aku percaya kemanapun langlah Shinta pasti akan menuju ke kelas baru kami.


--------Happy Reading-------


Sebaik-baik manusia adalah manusia yang berguna bagi manusia lainnya.


---------


Lantai dua, di sinilah kelasku berada diantara kelas IPA 1 dan IPA 3. Aku dan Shinta memasuki kelas dan di sana sudah cukup ramai. Aku dan Shinta mengambil duduk di bangku barisan paling timur no. 3 dari depan dan dari belakang. Karena sepertinya bangku paling depan hanya itu yang tersisa.


Aku menduduklan pantatku dan meletakkan tasku di laci.


"Hai Mut, kita sekelas," sapa Ana temanku yang aku kenal di KRI. Aku mengangguk dan tersenyum.


Kemudian beberapa anak menghampiri ke bangkuku dan kami saling berkenalan. Di depanku duduk Ana dan Lana sedang di belakangku ada Irvan dan Dwi.


Meski baru satu hari di kelas ini, aku sudah cukup mengenal cukup banyak anak. Karena kami bernaung di organisasi yang sama atau karena dulu kita sempat satu kelompok saat MOS.


Ada juga karena kami satu kelas saat pelajaran agama.


Ya, di sekolahku ini setiap pelajaran agama di pisah jadi ada beberapa anak yang akan berpindah kelas.


"Lo mau balik atau mau lihat MOS?" tanya Shinta kepadaku.


"Aku mau pulang aja deh kayak ya, jugaan aku gak ada yang dikerjakan."


"Loh Mut, bukannya lo jadi kandidat yang ngisi MOS dari bagian KRI ya?" tanya Lana kepadaku, dia juga anggota KRI.

__ADS_1


"Aku udah bilang kalau gak bisa kok ke kak Bagas," jawabku pelan. Ya, aku memang terpilih tapi aku enggan melakukannya jadi aku minta digantikan.


Apalagi aku memiliki rencana sendiri setelah ini yang bersangkutan dengan organisasi itu.


"Kenapa? sayang tahu, kan kesempatan emas buat berkembang."


"Gak papa," jawabku singkat.


Kemudian kita beranjak dari kursi, aku diantar Shinta sampai depan gerbang,


"Hati-hati ya, sampai jumpa hari senin." Shinta menjabat tanganku, ya aku akan masuk hari senin saja, setelah masa MOS selesai. Karena selama masa MOS tidak ada pelajaran.


"Iya, see you again. Assalamualaikum," jawabku sambil senyum.


"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarrokatuh." Aku melangkah meninggalkan sekolah menuju halte bus.


Saat aku duduk di halte bus di sana ada beberapa anak juga yang aku kenal, namun aku tidak menyapa bukan karena sombong tapi karena mereka sedang asik berbicara dengan teman lainnya. Jadi aku hanya mengumbar senyum saat mata kami saling beradu.


"Hai Mut," sapa seorang cowok yang memakai helm berwarna putih dan saat membuka kaca helmnya aku mengenalinya sebagai teman baruku penghuni kelas IPA 2 dan duduk tepat di bangku belakangku.


"Iya," jawabku.


"Yuk, gue anter pulang. Kebetulan gue gak buru-buru." Dia memberi tawaran, namun hal itu membuatku heran.


Aku baru mengenalnya beberapa menit yang lalu dan dia sudah berbaik hati mengantarku.


Entah mengapa pikiran buruk menghantuiku seketika, ada rasa wawas dan tidak nyaman.


"Oh tidak terimakasih," jawabku datar.


"Kenapa?" tanyanya heran.


"Gak papa, entar ngerepotin."


"Gak kok, kan gue yang ngasih tawaran.''


"Gak deh, aku naik bus aja. Terima kasih atas tawarannya."


"Ya udah gue gak maksa. Gue duluan Assalamualaikum." Aku mengangguk dan menjawab salamnya. Tak butuh waktu lama dia menyalakan motor dan menjalankan motornya.


Aku menghembus napas cukup keras, aku heran dengan kebaikannya. Irvan ya dia adalah Irvan. Aku baru tahu namanya hari ini, tapi aku sudah beberapa kali melihatnya datang ke kelas untuk menemui Feby salah satu teman sekelasku sewaktu kelas X dan sekarang ada di kelas Bahasa.


Aku melihat dia cukup dekat dengan Feby dan kedekatannya dalam artian tidak normal maksudku bukan hanya sebatas teman namun ada yang lebih saat aku melihat pancaran dari mata Feby. Bukannya aku sok tahu, tapi setiap orang pasti melihatnya jika dia melihat kala Feby menceritakan cowok itu.


Tak selang beberapa waktu, bus yang aku tunggupun datang dan dengan cepat aku masuk dan mengambil duduk. Aku melihat ada bangku kosong di barisan no dua dari belakang, aku duduk di sana dan mengambil tempat di dekat jendela.


Setelah jalan beberapa meter aku merasa ada yang duduk di sampingku, namun aku tak ada niatan untuk menoleh.


Pandanganku masih terpaku ke arah langit yang nampak cerahnya.


"Kak Dilan," panggilku dengan nada renyah. Entah mengapa dari sekian banyak orang yang aku kenal selama bersekolah hanya kak Dilan yang memiliki sikap yang sama.


"Lo bahagia banget kayaknya ketemu gue," katanya dengan nada mencemooh. Namun karena aku sedang bahagia jadi aku tak menghiraukan.


"Kok kak Dilan bisa di sekolah?" tanyaku menyadari suatu hal yang tak wajar.


"Siapa bilang gue ke sekolah?" tanyanya dengan nada tak mengenakkan.


"Dla terus dari mana?" tanyaku heran.


"Aku baru melakukan sesuatu di sekitar sekolah."


"Oh, kirain ada perlu di sekolah." Aku menjawab dengan pelan kemudian aku menyadari bahwa kak Dilan tidak menggunakan seragam dia hanya menggunakan celana selutut berwarna biru tua dan kaos berkerah berwarna biru muda paduan yang cukup baik.


"Ngapain lo lihat gue kayak gitu?" tanyanya dengan nada curiga.


"Mamangnya aku melihat kayak gimana? Aku biasa aja," jawabku santai.


"Lo lihat gue kayak mau nelanjangin gue."


"What????" teriakku sambil melotot, tidak hanya itu saja namun tanganku secara refleks sudah langsung mencubit lengannya dengan ganas.


"Auh, ampun Mut." Kak Dilan berteriak sambil menghindariku.


"Makanya ngomongnya disaring," kataku dengan bersungut-sungit.


Dia sungguh menyebalkan bagaimana bisa dia bisa mengatakan hal sevulgar itu. Ah, dia bisa meracuni pikiranku.


"Loh emang benar kali. Lo aja yang gak nyadar."


"Gak, aku hanya mengamati bahwa kakak gak pakai seragam gitu aja." Jawabku tidak terima.


"Iya, tapi jangan lagi lihat cowok kayak gitu. Lo bisa diterkam tahu."


"Hah?????"


Aku melongo tidak mengerti apa yang dia katakan, sungguh itu bahasa yang aneh menurutku. Bagaimana bisa aku diterkam? Siapa yang menerkam? Terus masak hanya menilai saja diterkam?


Aku mengerutkan dahiku, aku merasa tak mengerti.


"Kenapa? Ayo turun." Ajak kak Dilan dan saat aku menoleh ke sekeliling ternyata kami sudah bus berhenti di halte dekat perumahan.


Aku turun dari bus dan merapikan seragamku. Saat aku melihat ke sekeliling untuk mencari keberadaan kak Dilan, aku melihat kak Dilan sedang ngobrol dengan dua orang yang ada di sepeda motor dekat halte.


Aku melangkah mendekati kak Dilan, namun baru beberapa langlah aku mulai mengenal suara itu, itu adalah suara miliki Abi. Ya Abi orang yang aku hindari sejak insiden tak mengenakkan beberapa bulan yang waktu lalu.

__ADS_1


Awalnya aku akan mengajak kak Dilan jalan masuk perumahan bersama, namun niatku sepertinya harud ku urungkan. Aku melanglah begitu saja melewati tiga orang itu, jika kalian tanya siapa yang satunya aku tak mengenalinya.


"Woe Mut, tungguin gue napa," teriak kak Dilan, aku hanya menoleh sejenak kemudian meringis kala mataku bertemu dengan mata Abi dan kak Hasan bergantian.


"Sorry Kak, aku buru-buru," jawabku dan membalikan badan untuk melanjutkan langkah kakiku.


Aku tak menyadari jika satu orang lainnya itu tadi adalah kak Hasan. Entahlah apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.


Baru beberapa langkah aku mendengar suara motor mengikuti langkahku, namun aku dengan cuek tetap berjalan. Entah apa yang ada dipikiranku namun aku tak mau berharap lebih. Aku berhenti saat mendengar suara itu.


"Mut, kenapa jalan terus sih? Ayo naik."


Aku menoleh dan kemudian ketawa gak jelas saat melihat orang yang mengendarai motor.


"Eh," aku hanya mampu mengeluarkan kata itu sambil naik ke jok belakang. Aku melirik sejenak ke arah tiga lelaki yang kini tengah mengamatiku.


Aku kemudian memandang ke arah depan. Hingga tanpa terasa aku sudah turun dari motor dan berjalan memasuki rumah dengan pelan tapi pasti.


"Assalamualaikum," ucapku bersamaan dengan lelaki di sampingku.


"Waalaikumsalam," jawab seorang wanita berjilbab yang tengah menggendong anak berumur 3 tahun. Dia adalah kakak perempuanku dan yang berdiri di sampingku ini adalah suaminya yang artinya dia adalah kakak iparku.


"Dlo, kok bisa barengan?" tanya kakakku yang cantik itu.


"Iya tadi ketemu Mutia di depan gerbang perumahan." Kakak iparku menjawab sambil membawa kantong plastik.


Ah, kenapa sejak tadi aku tak menyadarinya? Sekarang pertanyaan dari dalam pikiranku terjawab sudah, ternyata kakak iparku itu baru dari supermarket yang ada di gang sebelah perumahan untuk berbelanja, makanya kami bertemu.


"Kenapa diam aja sih, Mut?" tanya kak Rifa kepadaku sambil memandangku heran.


"Iya, dari tadi diam saja biasanya kan nyerocos tak dapat berhenti," sambung kak Darma.


"Eh," kata itu yang malah keluar dari bibirku.


"Ada apa?" tanya kak Darma dengan curiga.


"Gak papa, hanya kesel aja. Masak udah jauh-jauh ke sekolah gak dapat pelajaran sama sekali." Akhirnya pita suaraku berfungsi kembali.


"Dla, namanya juga awal masuk kan dah biasa." Jawab kak Rifa sambil menurunkan Arka dari pangkuannya dan membuka kresek yang dibawa suaminya.


"Tapi tetap saja kesel kak. Udah ah Mutia mau masuk dulu." Aku melangkah menuju kamarku, sebelum kakakku yang tak pernah mau kalah berdebat itu kembali mengeluarkan suaranya.


Aku masuk ke dalam kamar, melepas sepatuku dan meletakkannya di rak sepatu yang ada di pojokan, kemudian aku meletakkan tasku di kolong meja belajar. Aku melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci kakiku dan mukaku, setelahnya aku mengganti seragamku dengan pakaian rumah, rok panjang sampai mata kaki dan kaos panjang yang tidak ketat. Serta memakai jilbab langsung jadi, sebelum keluar mengambil minum aku menghempaskan tubuhku lebih dulu ke single bad yang ada di kamarku.


Aku memejamkan mataku, sorot mata tidak suka itu menghantui pikiranku. Aku langsung membuka kembali mataku, aku bangun dari rebahan.


Sebenarnya di sudut hatiku aku merindukan pembicaraan kami bersama, aku merindukan ucapan datar dari dia dan aku juga merindukan sapaan ramah darinya.


Tapi entah mengapa hatiku dan pikiranku lebih terluka dibanding sebelumnya, apa aku menyukai dia? Entah dorongan dari mana tapi aku ingin sekali mendengar suaranya, meski tadi aku mendengarnya namun hal itu masih belum membuat ku mengikis keinginan untuk menderngarnya lagi.


Ah, ada apa denganku, tidak aku tidak boleh terlalu berharap. Aku tidak boleh memikirkannya, ini yang terbaik tak ada yang lebih baik dari ini.


Aku akan menutup semua akses, tapi tidak ku pungkiri aku mengharapkanya.


Ah, aku mulai tak waras rasanya. Bismillah, aku bisa melupakannya aku yakin aku bisa menerima semua ini. Ya Allah jangan buat aku mengharapkannya.


Ah, lebih baik aku dinginkan dulu otakku, aku melangkah menuju dapur untuk menuntaskan keinginanku–––mendinginkan otak.


"Kenapa sih Dek? Kok murung aja," tanya kak Rifa yang ternyata juga ada di dapur. Aku masih diam, aku mengambil air di kulkas dan menuang air itu ke gelas kemudian meminta air hangat ke kak Rifa.


Setelah mencampur air hangat dan dingin, Aku duduk di kursi meja makan dan dari sana aku bisa mengamati kakakku yang sedang masak.


"Kenapa?" tanya kakakku lagi.


"Lagi kesel kak," jawabku akhirnya.


"Kenapa?" tanyanya lagi, apa gak ada pertanyaan lain selain 'kenapa' dari tadi tanyanya itu aja, dumelku di dalam hati.


"Aku kan punya temen, nah temenku tu suka sama cowok. Dan cowoknya itu suka sama aku. Terus temenku itu tiba-tiba menghindari dan menjauhiku. Kan aku jadinya kesel sendiri."


"Masih kecil gak usah suka-sukaan sama cowok." Kak Rifa berkata dengan tegas.


"Mutia kan gak bilang suka sama cowok, Kak."


"Iya, kakak tahu. Kakak hanya ngingetin aja hubungan yang halal itu jauh lebih indah. Serahkan masalah jodoh sama yang Memiliki Kuasa."


"Iya kakak, Mutia juga nolak kok kak."


"Nah itu baru adik kakak. Dan untuk temen kamu itu lebih baik adik jelasin, bahwa adik gak ada hubungan apapun. Kalau masih gak terima ya sudah diam saja yang penting adik tidak melukainya dan adik gak berbuat salah padanya. Dalam artian adik tetep menjaga hubungan dengan baik. Jangan dicuekkin, tetep dibaikin seperti biasa. Masalah dia menghindari adik itu udah bukan urusan adek yang penting adalah adik bersikap baik. Mengerti," kata Kak Rifa panjang, tapi perkataan itu seolah magnet yang membuka pintu hingga cahaya menerobos menyinari sisi gelap dalan diriku.


"Mutia ngerti," kataku dengan senyum merekah. Ada sedikit kelegaan di dada ini, ah mungkin hal ini yang aku butuhkan. keterbukaan dengan seseorang yang memiliki kedudukan netral. Dia tidak dlam kondisi memihak pada diriku atau pada diri lawanku. hehehe.... Lawan, macam apa aja.


"Udah sana istirahat," perintah kak Rifa, tanpa menunggu perintah lagi aku sudah ngacir melangkah menuju kamarku.


Aku ingat sebuah pemikitanku yang sudah lama aku rencanakan, aku harus mengetik sesuatu. Aku mengambil laptop di ruang kerja ayah sebelum masuk ke dalam kamar karena komputerku CPUnya masih diservis dan sebelum terbelai dengan sapuan lembut sang mimpi aku sudah harus menyelesaikan tujuanku.


-------------------


Mungkin saat membaca terasa mlencong-mlencong...


Itu karena ceritanya melompat ya, ada alur mundurnya, selain itu yang diceritakan hanya hal-hal penting aja, hehehe....


Penting menurut mawarmay..😂


Happy reading....

__ADS_1


__ADS_2