
Saya lebih suka lamunan untuk masa akan datang daripada sejarah masa lalu. (Thomas Jefferson 1743-1826)
--------
"Assalamualaikum," sapa Mutia saat masuki ruangannya.
"Waalaikumsalam," jawab Riana yang masih berkutat dengan komputer.
"Bagaimana keputusan musyawarah kemarin?" tanya Mutia sambil mengambil beberapa buku di meja.
"Alhamdulillah mencapai mufakat, wali murid setuju. Tapi wali murid banyakan ngasih saran di rumah aja dari pada di luar. Mungkin sesekali out bond gak papa. Tapi kalau parenting rutinnya di rumah aja, dua pekan sekali." Mutia mengangguk tanda setuju.
Sebenarnya setelah rancangan kegiatan yang Mutia rilis mendapat ACC dari tim kreativitas dia sangat bahagia dan langsung saja membuat agenda musyawarah dengan para wali dan dewan guru pengajar. Namun sayang, dia tak melihat jadwal sehingga pas hari H dia ada acara keluarga mau tak mau dia harus absen.
Perlu dimaklumi, saat ini dia tidak hanya memiliki satu keluarga besar, namun dua. Iya, keluarga dari ayah dan keluarga dari ibu. Belum lagi keluarga dari ayah baru dan ibu baru. Banyak bukan, jadi maklum saja jika di akhir pekan kadang dia sibuk dengan segala urusan keluarga.
Ini masih belum seberapa, nanti saat Mutia menikah maka keluarganya akan bertambah lagi, yaitu keluarga dari suami yaitu keluarga mertu.
"Ya gak papa, kita mah ngikut aja. Sekalian nyambung silaturahmi." Mutia duduk sambil mengamati jurnal mengajar. Saat ini dia tengah mencari tahu laporan bulanan seperti biasa dia lakukan di akhir bulan. Mencari guru yang kurang aktif hadir dan materi yang disampaikan pula sesuai perkembangan atau tidak.
"Oh ya, di awal udah di minta bunda Arsa." Mutia menoleh cepat ke arah Riana.
"Bunda Arsa?" tanya Mutia meyakinkan.
"Iya, ada apa, Miss?" tanya Riana agak heran dengan nada terkejut patner di kelasnya.
"Gak papa, rumahnya di mana?"
"Oh, di perumahan Cempaka." Mutia mengangguk.
"Oh ya, Miss. Di jadwal parenting pertama kita membahas tentang minat dan bakat. Miss Mutia sudah menyiapkan materi. Ini untuk besok loh."
"Udah ada kok, Bu. Untuk anak-anak rencana mau kegiatan apa?"
"Belum tahu Miss, nanti sore rencananya saya mau survei."
''Kok mendadak?" tanya Mutia sedikit terkejut.
"Iya Miss, soalnya tiga hari Miss gak masuk saya jadi repot sendiri. Anak-anak mulai manja minta ditemani terus belajarnya jadi ya gak bisa keluar. Sedang di luar jam sekolah saya 'kan ada kelas di sekolah terbuka.'' Mutia meringis merasa bersalah, karena dia sudah mengambil cuti selam tiga hari secara mendadak dan dia sulit dihubungi.
"Maaf ya, saya jadi merepotkan." Riana menoleh ke arah Mutia, sambil berkata . "Itulah gunanya tim, saling membantu."
Mutia tersenyum, dia bersyukur memiliki patner seperti Riana. Meski dia hanya guru pembimbing namun dia memiliki tingkat kecekatan yang sangat aktif.
"Ya sudah, nanti kita ke rumah Arsa,'' putus Mutia.
"Iya, Miss. Ini juga saya sudah buat daftar yang seperti Miss bilang. Nanti kita lihat lokasinya, kemudian tinggal memilih dari daftar ini kegiatannya apa aja. Ternyata sungguh memudahkan."
"Iya," kata Mutia membaca secara teliti daftar kegiatan yang sudah dibuat Riana secara rinci. Dari nama kegiatan, materi, bahan dan tutorialnya.
"Baiklah, hubungi keluarga Arsa. Nanti kita bisa datang jam berapa."
"Sudah, jam berapa aja bisa jawabnya." Mutia menoleh ke arah Riana dengan senyum mengembang.
See, Riana adalah sosok guru yang harus jadi panutan. Dia sudah menghandle banyak hal sendiri dengan inisiatif aktif.
"Terimakasih banyak ya Bu Riana. Anda sungguh sangat membantu pekerjaan saya." Mutia berkata dengan tulus.
"Itu sudah tugas saya."
----------------
Mutia melangkahkan kakinya menuju sebuah rumah mewah, rumah bergaya modern dengan halaman yang dangat luas, sungguh berbeda dengan rumah milik ayahnya yang hanya memiliki halaman seluas 2x3 meter saja.
Dia takjub, benar-benar takjub. Bagaimana tidak halaman luas ini dibuat sebagai lapangan bermain. Jarang sekali ada keluarga yang menyediakan wahana bermain untuk anaknya di zaman sekarang. Kebanyakan dari mereka lebih suka membawa anaknya ke mall, atau mengenalkan gadget, atau ke tempat bermain lainnya.
Riana menyentuh bahu Mutia, dia menoleh kemudian tersenyum. "Halamannya luas, mungkin anak-anak akan suka jika kita buat out bond dengan beberapa peralatan camping." Mutia mengeluarkan idenya.
"Iya Miss, kebetulan nanti bu Diana dan Bu Lyla akan membantu acara parenting kita ini."
"Semakin banyak yang bantu semoga berjalan lancar ya," kata Mutia penuh harap.
"Iya, ayuk masuk," ajak Riana. Mutia mengangguk. Dia melupakan sebuah fakta besar. Bahwa jika dia ke rumah Arsa berarti dia juga tengah mengunjungi kediaman seorang Abinaya Rahman.
"Assalamualaikum," salam Riana sambil mengetuk pintu. Mutia masih fokus ke arah halaman besar dengan menerka sebuah kegiatan yang akan dia lakukan. Dia sudah merancang banyak hal di otaknya. Dia jadi teringat Fahri, anak kecil yang aktif itu pasti senang sekali diajak bermain di tempat yang seluas ini.
"Assalamualaikum," salam Riana sekali lagi.
__ADS_1
"Kamu beneran udah janjian kan?" Riana mengangguk sebagai jawaban.
"Ingat adab bertamu, jika sudah tiga kali ketukan dan salam belum ada jawabaan kita harus pulang dulu." Mutia berkata dengan nada menggoda. Riana tersenyum menanggapinya, dia tahu apa yang diucapkan atasannya itu memang benar adanya oleh sebab itu tidak mengelak.
Siapa berani mengelak hadits nabi?
Ceklek, suara pintu dibuka dari dalam. "Waalaikumsalam," kata suara bass menampilkan sosoknya, Riana menghembuskan napas.
"Bu Riana," sapa Abi cukup terkejut, kemudian dia menunduk ke bawah dan melihat pakaian yang dia pakai. Riana cukup terpesona dengan Abi yang berpakaian santai, celana kain tebal dibawah lutut dan kaos yang mencetak tubuh berwarna putih berlengan pendek.
Karena Mutia merasa aneh dia mendekati pintu, dia tidak seberapa jelas orang yang membuka pintu.
"Apa ibu Anandhi ada di rumah?" tanya Mutia mengejutkan Abi yang tengah malu dengan pakaian santai yang dia pakai.
Dia langsung mendongak dan mendapati Mutia di samping Riana tengah memandang lurus.
"Oh, Bunda dan Anandi masih pergi keluar. Mari silahkan masuk," kata Abi dengan sedikit kikuk, Mutia menyentuh Riana dan mengikuti masuk.
Mutia baru sadar, jika dia ke rumah Arsa sama saja dia ke rumah Abi, dia bernapas berat. Saat memasuki rumah Abi dia pikir akan diberi sajian foto keluarga bahagia, namun tidak sesuai dugaan di dinding hanya ada ukiran nama Arsa di sebelah pintu masuk lebih dalam.
"Silahkan duduk, Bunda masih di jalan. Saya permisi ke belakang." Abi berpamitan kepada tamunya dan melangkah masuk ke dalam.
"Itu tadi pak Abi, arsitek terkenal." Riana membuka suara dengan semangat. Mutia hanya tersenyum tipis.
"Miss tahu taman kota dekat masjid besar?" tanya Riana dengan nada masih penuh semangat. Mutia mengangguk.
''Itu pak Abi arsiteknya, hebat kan. Apalagi Arsa sepertinya menuruni kejagoan pak Abi dalam menggambar." Mutia hanya mengangguk saja, masih banyak lagi pujian yang dilontarkan Riana, namun tak sedikit pun Mutia ada niatan menyela atau menanyakan lebih lanjut, dia hanya mengiyakan saja.
Tak lama seorang paruh baya keluar dengan membawa mampan berisi minuman dan toples kue kering. Paruh baya itu menyajikan untuk Mutia dan Riana, kemudian berpamitan untuk ke belakang karena pekerjaan yang belum selesai.
Mutia mengeluarkan map dari dalam tasnya, dia membuka dan mulai mengamati isinya. Sedang Riana kembali berkutat dengan ponselnya dan mulai menghubungi via chat untuk memesan segala sesuatu yang dibutuhkan.
"Maaf menunggu lama, tapi bunda bilang suruh tunggu sebentar." Abi yang entah sejak kapan sudah duduk di sofa single yang ada di dekat pintu masuk.
"Iya pak Abi, tidak apa-apa. Kami datang 30 menit lebih awal dari janji." Riana meletakkan ponselnya kemudian menoleh ke arah Abi, sedang Abi hanya menunduk.
"Maaf sebelumnya, kedatangan kami kemari untuk meninjau tempat yang akan kami gunakan untuk parenting besok. Maaf jika kami mengganggu istirahat Anda." Mutia menutup berkasnya dan menyimpan kembali di dalan tas, sebagai bentuk kesopanan.
"Tidak masalah, toh tidak setiap akhir pekan." Abi menjawab dengan santai, sedang Riana tersenyum sumringah saat niatnya disambut baik oleh sang pemilik rumah.
"Assalamualaikum," salam banyak suara dari luar.
"Nah, mereka datang saya tinggal ke belakang."
"Iya, terimakasih."
"Maaf lo ya menunggu lama," kata Anandi yang menjabat tangan Riana dan Mutia bergantian.
"Mari silahlan duduk," kata Anandi kemudian dia ikut duduk.
"Bagaimana, apa saja yang perlu disiapkan?" Anandi mulai membuka suara tanpa harus menghabiskan waktu untukĀ basa-basi. Hal ini membuat Mutia senang, karena Mutia bukan tipe orang yang suka basa-basi.
"Begini, untuk acara besok, sepertinya kami membutuhkan ruangan yang luas dan dikosongkan seperti aula. Apa bisa?"
"Oh, ada di belakang. Ruang bermain dan teater nanti bisa kita gunakan."
"Bisa kami lihat, mungkin jika tidak memungkinkan untuk menggunakan kursi kita bisa pakai tikar atau karpet." Mutia memberi usul. Riana mengangguk kemudian mengajak tamunya masuk menuju ruangan yang dimaksud.
"Ruangannya ada di sini, nanti tamu bisa lewat pintu samping. Jadi tidak jauh masuknya."
"Mau menggunakan ruangan teater?" tanya Abi bergabung.
"Iya, buat acara ibu-ibu.''
"Tapikan butuh waktu dan tenaga untuk membereskan mainan Arsa dan beberapa barang." Mutia melihat diskusi keluarga itu hanya memalingkan wajahnya, sedang Riana jangan di tanya dia senyum dengan indah merasa terpesona.
"Untuk pemindahan barang, nanti kami bisa bantu pak Abi." Riana memberi usul, membuat Abi menyadari bahwa dia berbicara di depan guru Arsa.
"Ya, hal itu tidak masalah." Abi melirik Mutia yang tengah mengamati Arsa berenang di sebelah samping ruangan.
"Bagaimana kalau ruangannya biar diurus Abi, dan kita langsung pasang alat camping di depan. Sepertinya sudah sampai." Anandi memberi usul saat melihat sebuah mobil menurunkan beberapa barang.
"Iya Bu, bagaimana Miss?" tanya Riana, Mutia tergagap sejenak kemudian mengangguk.
"Kenapa? Pingin renang juga?" tanya Abi kepada Mutia.
"Enggak," jawab Mutia lirih hendak beranjak.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Abi melihat Mutia tergagap lucu.
"Mau ke depan," jawab Mutia santai. Dia merasa gugup saat ini, entahlah berada di dekat Abi dengan jarak yang tak bisa dibilang dekat juga jauh ini membuat bayangan memori di ruang KRI sembilan tahun yang lalu tiba-tiba terlintas dalam bentuk gambar buram yang seolah mengejeknya.
"Lantas siapa yang membantuku membereskan ruangan ini?" tanya Abi dengan wajah biasa, tak sedatar tadi.
Mutia berdehem untuk mengembalikan suaranya, dia menoleh ke ruangan luas itu kemudian ke Abi.
"Nanti biar saya cari orang buat bantu," kata Mutia. Abi terkekeh kemudian berjalan mengikuti Mutia.
"Miss cantik," panggil Arsa dengan nada renyahnya. Dia berlari ke arah Mutia dengan tangan direntangkan.
"Jangan peluk,'' kata Abi menyambut sang anak sambil membopong.
"Kenapa?" tanya Arsa tidak terima.
"Ayo masuk ke dalam, kamu basah dan apa tidak malu dengan Miss cantik pakai baju seperti ini." Abi membawa Arsa masuk, kemudian Nana tersenyum melihat kelakuan anaknya.
"Assalamualaikum, Bun." Mutia yang sadar dari keterkejutan mendekati Nana sambil menjabat tangan. Ada rasa hangat kala mendengar kata miss cantik keluar dari bibir Abi.
"Waalaikumsalam, Bunda kangen banget." Nana memeluk Mutia dengan erat. Mutia berpikir, apa iya diantara mereka ada fase di mana saling merindu. Jika selama ini mereka berdua hanya bertemu dan menyapa dua kali dan itupun tidak ada pembicaraan panjang.
"Bagaimana kabar kamu?" Nana melepas pelukannya.
"Alhamdulillah baik, Mutia lihat Bunda juga baik dan sehat. Awet muda lagi," kata Mutia dengan nada renyah, entahlah dia merasa nyaman berada di dekat ibu Abi.
"Kamu bisa aja," kata Nana sambil menepuk bahu Mutia.
"Beneran Bun, apa resepnya?"
"Bahagia dan bersyukur," kata Nana menghela Mutia untuk duduk di kursi.
"Gak sabar Bunda ingin ketemu kamu, saat waktu itu Abi bilang kalau miss cantik-nya Arsa itu kamu." Mutia tersenyum menanggapi.
"Terimakasih sudah membuat Arsa jadi mencintai matematika." Mutia tersenyum lebar.
"Itu sudah jadi kewajiban Mutia sebagai guru," kata Mutia bijak. Nana tersenyum dengan bahagia.
"Miss cantik," panggil Arsa yang sudah berpakaian rapi.
Dia langsung menghampiri Mutia, berjabat tangan.
"Miss, besok lusa aku mau dikhitan," kata Arsa dengan nada renyah. Dan bahagia khas kecil. Yang menjadi pertimbangan anak itu tahu tidak khitan itu apa?
"Sudah berani?" tanya Mutia dengan nada menggoda.
"Kata ayah, harus berani."
"Arsa, panggil kakak. Jangan ayah, nanti kak Abi gak laku-laku." Nana mengingatkan anaknya. Mutia menoleh ke arah Nana dengan terkejut. Kakak, ayah? Maksudnya apa?
"Berani kok Miss," kata Arsa menghiraukan peringatan sang bunda.
"Berani 'kan ayah kecil," kata Arsa meminta dukungan.
"Iya berani," kata Abi tergagap karena sejak tadi menoleh ke arah Mutia.
"Arsa tahu, nanti kalau Arsa sudah dikhitan Arsa gak boleh berjabat tangan atau saling menyentuh dengan teman juga perempuan yang bukan saudara." Mutia menatap Arsa yang tengah bingung.
"Kenapa?" tanya Arsa lesu.
"Karena, Arsa sudah masuk ke fase yang namanya dewasa atau baligh. Nah, di masa itu Arsa harus menjaga diri. Harus lebih teliti dengan kebersihan pakaian, tempat juga tubuh. Menyentuh yang bukan saudara atau makhrom itu haram hukumnya. Haram itu apa bila dilakukan mendapat dosa dan ditinggalkan mendapat pahala."
"Jadi aku gak boleh salim sama miss cantik," kata Arsa. Mutia menggeleng.
"Bunda, aku gak mau khitan." Arsa berkata kepada sang bunda. Kini Mutia menyadari satu hal, Arsa adalah adik Abi bukan anaknya. Dia segera beristighfar kala ingat bahwa dia sempat berprasangka buruk.
"Dlo, kok begitu. Dengar Arsa," kata Mutia turun dari kursinya dan berjongkok di depan Arsa.
"Berkhitan itu mensucikan diri, Sayang. Jadi wajib. Jangan tidak mau melakukan karena sebuah hal yang membatasi. Ingatkan pesan pak Damar, aturan bukan untuk membuat kita buruk namun sebagai ujian memperkokoh keimanan. Ingat kan," kata Mutia dengan sabar. Arsa mengangguk kemudian dia berkata dengan semangat bahwa dia mau dikhitan. Tak lama Nana pamit mengajak Arsa ke belakang, karena mau makan siang yang terlambat karena Arsa baru datang langsung berenang.
Mutia bangkit dari jongkoknya, dia menoleh ke arah Abi yang tengah tersenyum.
"Kenapa?" tanya Mutia heran.
"Tidak, kamu sangat cocok jadi ibu." Abi tersenyum, yang menular ke Mutia.
"Mutia," sebuah suara yang dia ingat memanggil namanya dari arah depan. Entah mengapa membuat dadanya berdegup dengan kencang. Ada rasa yang tak bisa dia diskripsikan untuk saat ini.
__ADS_1
Dia menoleh, dan sosok dewasa itu ada di dekat pintu ruang tengah dengan wajah datar, seolah menghakimi Mutia yang tengah berbuat salah.
--------------