Berawal Dari Abu-abu

Berawal Dari Abu-abu
Seulas Persahabatan


__ADS_3

Sebelum membaca aku ingatkan. Apa yang dilakukan Abi dan Mutia hanya boleh dilakukan bagi kalian yang suami istri. Ingat baik-baik.


------


Orang bilang,


Sahabat itu seperti angin.


Ada, terasa tapi tidak terlihat.


Sahabat itu seperti kaki kanan dan kiri, jarang sejajar saat berjalan namun bersama kala diam.


----------


Setelah Dilan keluar dari mobil Abi, Mutia membuka matanya. Sebenarnya dia sudah sadar sejak Dilan membicarakan dirinya tadi namun dia enggan untuk membuka mata.


Sebelum turun Dilan berkata. "Bi, nitip Mutia ya." Abi hanya menaikan satu alisnya, dia heran kenapa sahabatnya berkata seperti itu.


"Any time," jawab Abi datar, dia heran kenapa sekarang sedikit sensitif ya kalau menyangkut Mutia. Entah dia tidak rela ada yang membahas istrinya terlalu dekat. Seperti tadi saat pembahaaan Bagas sebenarnya dia ingin sekali berkata bahwa Mutia adalah istrinya.


"Usahakan dia tidur nyenyak dan selamat sampai tujuan. Assalamualaikum." Kemudian Mutia mendengar pintu mobil dibuka dan ditutup.


Abi menoleh ke arah Mutia yang membenarkan hijabnya yang nampak kusut. "Kenapa Dilan jadi posesif banget aih?" tanya Abi membaut Mutia sedikit heran.


"Wajarlah posesif, orang abang tukang PHP." Shinta menyahut dengan ketus, dia masih sibuk dengan ponselnya.


"Apa sih ikutan aja," sahut Abi kemudian menghadap ke depan. Tak lama menoleh ke belakang lagi. "Ini aku jadi sopir kalian?" Mutia terkekeh sedang Shinta hanya memutar dua bola mata.


"Baiklah, jadi dua sahabat. Kalian mau langsung pulang atau mampir ke suatu tempat?" tanya Abi sambil menjalakankan mobilnya.


"Gak usah lebay deh Bang. Ngomong aja kalau mau berlama-lamaan." Shinta berucap dengan nada jahil. Mutia hanya terkekeh pelan.


"Kalau aku ingin berlama-lamaan seperti tuduhanmu berarti kita langsung pulang." Abi berkata dengan penuh arti.


"Ya udah langsung antar pulang aja, aku udah capek banget pingin tepar di kasur." Shinta berkata dengan nada lelahnya, maklum dia baru saja perjalanan dari batam menuju Surabaya dengan pesawat dan menuju kota ini dengan jalur darat jadi tubuh cukup terasa lelah tetapi juga ada rona bahagia tersendiri.


"Beneran langsung tidur ya sampai rumah, gak ada ganggu-ganggu." Abi berkata dengan nada mengancam, Mutia hanya diam saja mendengarkan.


"Iya," kata Shinta. "Oh ya Mutia, besok temenin cari SKCK ya. Aku mau cari kerjaan di kota ini." Mutia hanya diam, dia bingung harus menjawab apa.


"Harus besok ya?" tanya Mutia sbil melihat ke arah Abi berharap mendapat bantuan.


"Ya gak sih, kapan kamu kosong aja, aku mah mau istirahat dulu." Shinta berkata dengan santai. "Lihat besok ya," kata Mutia yang dijawab anggukan kepala.


"Emang kamu udah gak papa sama Anandi?" tanya Abi kepada Shinta.


"Aku bukan bermalam beberapa hari di rumahmu. Bahkan mungkin cuman semalam kalau gak aku mau menginap di rumah tante Ira."


"Emang kenapa?"


"Tanya aja langsung ke Shnta, ngapain coba tu anak musuhi sepupunya."


"Dlah, aku gak memusuhi hanya gak suka aja Bang." Shinta membenarkan ucapan Abi untuk membela diri.


"Dia ampek kabur ke Batam cuman mau menghindari Anandi. Tau alasannya apa?" Mutia menggelengkan kepala.


"Dia posesif kepada sahabatnya," kata Abi menoleh ke arah Mutia sepersekian detik.


"Maksudnya?"


"Udah jangan didengerin," kata Shinta ketus membuat Abi tertawa.


"Bang, kayaknya aku lihat rona bahagia mewarnai wajahmu deh. Beda seperti enam bulan yang lalu setelah reoni deh." Shinta menatap Abi dengan wajah ganjil.


Abi terkekeh. "Masak sih, kelihatan banget ya? Aku memang sedang bahagia." Mutia tersenyum mendengar ucapan sang suami ada rona merah dan perasaan hangat menghampirinya.

__ADS_1


"Terserah Abang lah," kata Shinta tak acuh.


Mobil yang dikendarai Abi memasuki gerbang rumah, dan berhenti di samping rumah. Shinta keluar dari mobil dengan santainya dan diikuti oleh Abi, tak lama Mutia keluar membuat Shinta terkejut.


"Dlo Bang, Mutia belum diantar pulang," kata Shinta membuat Abi terkekeh kecil, kemudian dia menghampiri sang istri yang tersenyum malu-malu.


"Dia sudah ada di rumahnya," kata Abi menarik pinggang istri hingga mendekati tubuhnya. Shinta hanya dia mengamati dua orang yang saat ini tengah adu cekcok karena tangan seorang lelaki melingkar di pinggangnya.


"Jangan bilang...." kalimat Shinta mengambang karena Abi dengan tegas berkata. "Iya." Shinta langsung berlari dan memeluk tubuh Mutia dan jingkrak-jingkrak seperti anak kecil.


"Bang, beneran?" tanya Shinta penuh semangat. Abi tersenyum sambil mengangguk.


"Tapi tunggu dulu," kata Shinta menjauhkan tubuhnya. Abi dan Mutia saling memandang. "Kenapa aku tidak diundang?"


Mutia tersenyum sedang Abi hanya mengangkat bahu acuh, tak ada niatan sama sekali untuk menjawab. "Kalian," kata Shinta geram. Abi menggandeng sang istri dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Bang, aku belum selesai," kata Shinta mengikuti dua langkah pengantin baru itu.


"Besok, bukankah kamu memiliki waktu yang luas. Jadi semua tanda tanya yang ada di otakmu itu dikeluarkan besok."


"Tidak bisa, pokoknya malam ini Mutia adalah sahabatku. Jadi malam ini dia akan tidur bersamaku." Shinta menarik tangan kanan Mutia dan mengajaknya berjalan. Abi tidak mau tinggal diam, dia langsung menarik pinggang sang istri.


"Maaf, dia adalah istriku. Dan sebagai istri sholehah dia tidak akan tidur bersamamu karena suaminya melarang. Dan istriku pasti mengikuti permintaan suaminya."


"Tapi," kalimat Shinta tak dilanjutkan karena kemunculan Nana di ambang pintu dan membuat Abi menang telak dibanding Shinta.


-----------


Dari bertemu kita belajar menjalani dan dari berpisah kita belajar mengenang. (Kru Kepo)


----------


"Kamu hari ini akan keluar bersama Shinta?" tanya Abi merapikan pakaian yang dia gunakan setelah kembali masuk ke dalam kamar sehabis sarapan.


"Tidak sepertinya, kenapa?" Mutia merapikan krah kemeja Abi setelah memasangjan dasi sang suami. Jangan lupa wajah malu-malu yang dinampakan oleh Mutia.


"Hari ini sebenarnya Mutia tidak ada jam mengajar, Mas." Mutia mengeluarkan suara setelah mengalihkan pandangannya, dia bisa tersesat jika tetap menatap mata itu.


"Kenapa tidak pergi saja dengan Shinta?" tanya Abi heran, Mutia tersenyum kemudian menggeleng. ''Sepertinya Shinta masih capek, tadi aku lihat dia tidur setelah sholat subuh."


"Jadi dia masih tidur?" tanya Abi tidak percaya, Mutia mengangguk kydian dia melihat Abi menggelengkan kepalanya dan tersenyum miris. "Sungguh tidak berubah."


"Kenapa?" tanya Mutia heran mendengar ucapan sang suami. "Tidak ada, hanya saja Shinta akan tidur setiap ada waktu. Ya biasanya dia menghabiskan waktu libur dengan tidur. Lihat saja di akan bangun saat lapar dan kembali tidur." Mutia terkekeh mendengar Abi berkata denga nada kesal, sepertinya suami Mutia itu tidak menyukai kebiasaan sepupunya.


"Tapi dia sudah sedikit berubah," kata Abi dengan senyum manis dan bahagia. "Dia sudah mulai menutup auratnya, dia mulai berhijab." Entah karena senang atau memang sengaja Abi langsung memeluk sang istrinya. "Aku sangat bahagia melihat perubahan itu enam bulan yang lalu." Abi kembali berbicara dan men ceritakan banyak hal kepada Mutia.


"Baiklah," kata Mutia melerai pelukan, selain kakinya nampak capek terus berdiri sambil berpelukan dia harus segera berangkat. "Kenapa?" tanya Abi heran. Mutia memberi isyarat dengan mengerling ke arah jam yang ada di dinding.


"Ya Allah, Rasa terlambat," kata Abi segera mengambil tas kerjanya dan mencium kening sang istri. Mutia tersenyum dan mengikuti langkah suaminya keluar kamar.


"Arsa," panggil Abi namun tidak ada sahutan.


"Arsa mana Bun?" tanya Abi di depan pintu rumah.


"Dia sudah berangkat," jawab Nana sambil menatap geli sang putra, dia bukan lagi Abi yang dulu yang selalu tepat waktu dan mengutamakan segalanya untuk keluarga. Yang ada di depannya kini adalah Abi yang berbeda yang entah karena virus merah delima itu atau karena memang otaknya yang sudah berubah bila sudah di dekat sang istri seperti melupakan segalanya.


"Dlo kan biasanya berangkat sama Abi, Bun." Nana terkekeh kemudian melirik ke arah Mutia yang berdiri canggung. Mutia menyadari kegelisahan seorang ibu yang anaknya baru saja menikah.


"Kan udah ada istri, Abi harus mengantar Istri bukan," kata Nana dengan tenang, "tapi kan bisa bareng Bun. Kan sejalan juga."


"Sama papamu dia juga sejalan," kata Nana tersenyum. Abi menghela napas kemudian dia kembali masuk ke dalam rumah.


"Kamu gak jadi berangkat, Bi?" tanya Nana heran.


"Hari ini Rabu Bun. Ingatkan?" Abi masuk ke dalam kamar kembali, Nana menghembuskan napas berat.

__ADS_1


"Kenapa Bun?" tanya Mutia hati-hati, Nana tersenyum kemudian menceritakan kebiasaan Abi di hari Rabu dan Kamis. Di hari rabu Abi selalu berangkat siang karena di hari itu biasanya dia tidak memegang proyek dan di hari kamis dia selalu pulang lebih awal karena berjanji akan menjemput Arsa.


--------


Setelah menghabiskan waktu setengah harinya bersama Shinta, Mutia saat ini menapakan kakinya di sebuah gedung sebuah perusahan property yang lumayan terkenal. Namun bukan itu tujuannya, dia kemari bukan ke perusahaan itu namun ke kantor sang suami yang ada di gedung ini. Abi adalah seorang arsitek yang bernaung di gedung yang sam dengan perusahaan property, itu semua karena pemilik perusahaan itu adalah ayah tiri Abi yang tak lain adalah mertua Mutia saat ini.


Setelah bertanya kepada resepsionis yang ada di lobi, Mutia menuju lantai kantor dang suami menggunakan benda persegi yang sepertinya kedap suara dan nampak kamera pengintai di salah satu sudut.


Keluar dari lift Mutia langsung berjalan menuju beberapa kubinel yang ada di sebuah ruangan yang luas dan sebuah ruangan yang nampak tertutup.


"Assalamualaikum," Mutia memberi salam kemudian seorang wanita yang dikenal Mutia mendongak menatap mutia dengan raut wajah terkejut.


"Madina," kata Mutia liroh, Madina nampak tersenyum miring, dia sudah menguasai dirinya.


"Iya kenapa?" tanya Madina ketus, Vino salah satu teman kerja Madina menatap heran.


"Maaf?" Mutia tersenyum ramah, sedang Madina membuang muka. Melihat hal itu Mutia hanya tersenyum kecut kemudian melirik ke arah Vino yang nampak salah tingkah.


"Pak Abi ada?" tanya Mutia entah kepada Vino atau Madina. Mutia jadi serba salah dan tidak enak.


"Ngapain lagi nyariin Abi?" tanya Madina dengan ketus. Mutia hanya tersenyum miris, dia berdoa semoga ada yang menolongnya.


"Ada Mbak, di dalam." Vino akhirnya membuka suara, Mutia mengangguk kemudian dia tersenyum dia kembali menole ke arah Madina yang nampak melotot.


"Terimakasih," kata Mutia sambil melangkah mendekati pintu.


"Kamu gak berhak masuk ke ruangan itu," kata Madina heran. Mutia hanya tersenyum kemudian mengucapkan salam dan membuka pintu. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Abi lirih, dia masih berkutat dengan meja yang disediakan untuk arsitek.


"Maaf pak, gadis ini nyelonong masuk," kata Madina mengikuti Mutia masuk ke dalam ruangan Abi.


Abi mendongak saat mendengar ucapan Madina, dia menampakan wajah datar ke arah Madina, membuat madina tersenyum penuh kemenangan. Kemudian saat mata tajam Abi menemukan sosok istrinya yang berdiri canggung dia menghel napas kemudian menaruh pensilnya dan menatap lembut, semua itu tak luput dari penglihatan Madina.


"Tinggalkan kami berdua," kata Abi menghadap ke ara Madina, dengan percaya diri Madina mengangguk, saat di dekat pintu Abi kembali bersuara. "Jangan lupa tutup pintunya."


Madina langsung menoleh ke arah Abi, "tapi pak, berduaan di ruang tertutup akan mengundang fitnah." Abi menatap tajam ke arah Madina sedang Mutia melihat itu hanya bisa membeku.


"Aku tidak perduli," kata Abi final. Madina menghela napas kemudia melangkah dan membuka pintu lebar-lebar. Dia menolak ide Abi untuk menutup pintu.


"Madina tolong tutup pintu, bukan membuka pintu. Kamu tahu bahasa indonesia bukan."


"Gak baik pak berdua-duaan di ruang tertutup, yang ketiga adalah syetan." Abi melangkah mendekati pintu. "Berduan denga istri itu ibadah." Abi langsung menutup pintu tak membiarkan Madina menyahut ataupun melihat wajah terkejut Madina.


"Hai," kata Abi lembut sambil menyentuh bahu sang istri.


"Wajah Mas tadi menakutkan," kata Mutia tidak membalas sapaan Abi. Abi terkekeh kemudian memeluk sang istri.


"Aku sedang kesal sejak tadi menggambar tidak bisa lurus, ditambah sifat pembangkang Madina yang semakin harisakn menjadi membuatku ingin memakanmu." Abi berkata sambil menggerakan wajahnya di leher sang istri.


"Geli Mas," kata Mutia sambil tertawa karena perlakuan Abi.


"Mas," kata Mutia dengan nada penuh peringatan.


"Maaf," kata Abi sambil mengajak duduk.


"Kenapa menyuruh ke kantor?" tanya Mutia penuh selidik. Abi tersenyum kemudian menggenggam tangan Mutia.


"Hasan mengundangku makan siang bersama, sebagai tasyakuran diresmikannya klinik miliknya tiga hari yang lalu," kata Abi menatap bola mata Mutia dengan gusar. Mutia mengerutkan dahinya heran.


"Kenapa?" tanya mutia sambil meletakan satu tangannya lagi di atas tangan Abi yang menggenggam tangan miliknya.


"Sebenarnya, dulu kamu pernah menyukai Hasan?" tanya Abi tidak yakin, Mutia tersenyum sambil mengangguk. Abi tersenyum kecut, dia membuang muka.


"Bahkan sekarang aku masih menyukainya," kata Mutia miris seolah dia tengah kecewa. Dia menatap sang suami yang menoleh tajam ke arahnya. Mutia tersenyum miris sedang Abi menghela napas.

__ADS_1


"Tapi ternyata aku menikah dengan sahabat baiknya," kata Mutia sambil tersenyum memandang wajah kecewa sang suami yang begitu terlihat dari guratan yang terpahat dengan nyata.


-----------


__ADS_2