
Mutia saat ini sedang duduk termenung di pinggir ranjang tidurnya, saat ini dia tengah menanti sesosok lelaki yang telah mengambil alih kedudukan sang ayah yang menjadi nomor satu.
Apa yang diharapkan dari pernikahan mendadak ini, dia hanya memberi waktu keluarganya untuk menyiapkan acara selama empat hari. Jadi jangan salahan keadaan, ini kenyataan hidup tidak mudah membuat pernikahan yang besar di waktu yang relatif singkat. Dan Mutia menyadari itu, sejak awal Mutia memang tidak terlalu suka keramaian dan kemegahan jadi dia merencanakan permintaan aneh ini sudah sejak lama.
Acara pernikahannya sederhana, ijab kabul di lakukan di masjid perumahan, dan dilanjutkan dengan walimatul ursy di kediaman keluarga Mutia.
Ingatan Mutia kala mendengar suara Seorang lelaki yang mengambil alih tanggung jawaban sang ayah, hingga tanpa terasa air matanya mengalir tanpa mampu dia cegah.
Dan dia seolah belum disadarkan dari lamunan panjangnya, saat setelah melakukan beberapa prosesi, diantaranya menandatangani surat nikah kemudian penyerahan mahar. Kemudian mereka kembali ke rumah, belum ada acara cium tangan suami istri atau yang lainnya, karena menurut Mutia itu hal yang sakral akan dilakukan di tempat yang tertutup dan pribadi.
Setelah sampai di tempat walimah dan beberapa prosesi acara seperti kutbah walimah dan semacamnya, dilanjutkan acara makan-makan. Undangan hanya keluarga dan juga beberapa tetangga dekat.
Masih ingat di dalam memorinya bagaimana seorang Dilan tersenyum dengan sempurna setelah mengucapkan doa pengantin ke arah suaminya. Bahkan Bagas melirik ke arahnya dengan senyum penuh arti dan juga binar jenaka.
"Assalamualaikum," salam dari suara yang dia amat kenal, dan saat ini berstatus sebagai suaminya.
Mutia mendongak, dia bisa melihat senyum itu. Senyum indah hingga mata yang menampakan binar bahagia. Senyum yang dulu sangat dia idolakan karena keramahannya. "Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarrokatuh."
Mutia beranjak dari duduknya, dia nampak canggung. Dia bingung hendak mendekat namun kakinya kian berat, namun jka diam akan sampai kapan mereka hanya akan saling diam tanpa bergerak.
Mutia menelan ludahnya dengan sudah payah, dia mengambil napas sambil menunduk, dia masih menormalkan detak jantungnya juga rasa bahagia yang tengah menyapanya. Dia sungguh merasa konyol saat ini.
"Kenapa kamu menunduk?" Mutia langsung mendongak, dan dia dihadapkan dengan dada bidang yang ada d depannya. Dia heran kapan lelaki itu mendekat?
Mutia mulai mengingat sesuatu, dia pernah ada di situasi ini beberapa bulan yang lalu. Dia mendongak dan matanya langsung segaris lurus dengan mata tajam nan hitam pekat milik seseorang yang berstatus suaminya mulai beberapa jam yang lalu. Dia menelan ludah gugup. Apa lagi saat dia melihat senyum itu tercetak di bibir lelaki itu, secara refleks dia mundur. Dan naas terjadi dia malah terjatuh dengan posisi duduk di ranjangnya.
Lelaki itu dia kemudian, dia mengedarkan pandangan dan melangkah mengambil kursi di dekat meja. Mutia sama sekali tidak melepaskan pandangan dari sosok penuh wibawa itu. dia seperti mendapatkan kejutan yang tiada habisnya.
"Perlu kita mengulanginya?" Mutia menatap suaminya yang duduk di depannya.
Lelaki itu mengulurkan tangannya, dia menanti Mutia untuk menyambutnya. Dengan canggung Mutia menyambut tangan kokoh itu kemudian dia mencium punggung tangan suaminya di dalam hati dia mengumamkan doa bentuk baktinya kepada sang suami. Tak jauh beda dengan lelaki itu dia mengusap pucuk kepala istrinya dan mengucapkan doa kebaikan.
Tanpa terasa, buliran airmata meleleh di pipi Mutia, dan dengan halus sang suami menghapusnya, kemudian mendekatkan bibirnya ke kening sang istri.
"Bukankah aku berjanji akan merengkuhmu ke dalam pelukan meski aku tak kan mampu," kata lelaki itu sambil menangkup kedua pipi Mutia, dan Mutia tersenyum dalam isak tangis.
Kemudian dua anak manusia itu saling berpelukan dan saling melindungi satu sama lain. Mereka berdua menyadari satu hal bahwa cinta itu nyata dan membahagiakan. Dan cinta akan datang pada hati dan waktu yang tepat. Dan ada yang pernah menyangka jika perjalanan cinta mereka nampak begitu sederhana diwarnai dengan warna hitam, putih juga dihiasi warna tak pasti yaitu abu-abu.
"Sholat pengantin dulu." Mutia mengangguk tanda mengerti, mereka mengurai pelukan kemudian saling memandang satu sama lain. Mutia tahu jika doa adalah senjata paling ampuh yang dimiliki oleh setiap insan.
------------
Bahagiaku adalah melihatmu sebagai orang terakhir kala mata akan terpejam. Dan melihatmu yang menjadi pertama kali saat mata terbuka. Dan bahagiaku tak bisa ku ungkapkan dengan kata hanya mampu kugumamlan dengan ucapan, Alhamdulillah.
-----------
Udara pagi semakin mendingin dan suara adzan bersahutan untuk memanggil setiap insan yang masih berkemelut dengan dunia bawah sadarnya. Mutia mengeliat tidak nyaman dalam tidurnya, Mutia merasa ada sesuatu yang aneh menghinggapi perasaannya. Mutia perlahan membuka matanya dan menyesuaikan dengan cahaya di kamarnya. Lamat-lamat Mutia melihat jam yang ada di dinding. Ah, sepertinya dia kesiangan.
Mutia duduk dan merasakan ada benda di atas perutnya, dia langsung menoleh ke sebelah kiri sisi ranjangnya. Mutia menutup mulutnya yang hampir berteriak. Ingatkan Mutia bahwa dia sudah menikah kemarin. Mutia tersenyum dengan rasa sedikit bersalah kemudian dia melihat wajah lelap suaminya dan memindahkan tangan yang ada di pangkuannya.
Ah, suami. Terasa begitu asing di bibir Mutia namun dia tetap mengumamkan seraya tersenyum kecil. Kemudian pandangan Mutia jatuh pada ranjang tempat baju kotor yang ada di pojokan.
Rasa hangat mengaliri pipinya, dia merasa sangat malu mengingat apa yang telah terjadi semalam. Dia menutup wajahnya beberapa kali kemudian dia tersenyum sendiri. Benar adanya yang dilakukan dengan lebel halal itu sungguh menakjubkan, Mutia merasakan hal itu sendiri.
Dengan pelan Mutia beringsut hendak menuruni ranjang, dia membenarkan rambutnya kemudian dia berdiri menggunakan sendal. Mutia beranjak ke arah handuk kemudian dia melangkah memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri persiapan sholat subuh.
Beberapa menit berlalu, Mutia keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar, dia menggunakan abaya berwarna toska, dia mendekati sang suami yang masih terlelap dalam belaian iming-iming sang mimpi. Dengan mengumpulkan keberanian yang dia miliki, Mutia mendekati sang suami yang masih di bawah lindungan selimut.
Mutia duduk di sisi ranjang, dia bingung harus membangunkan dengan cara semacam apa, dia tidak berpengalaman. Mutia menepuk bahu sang suami pelan.
Dia bingung harus memanggil suaminya dengan sebutan apa? Sungguh ini suasana yang sangat membingungkan untuk Mutia. Dia hanya menepuk bahunya terus menerus, karena lelah dia berinisiatif untuk membuka korden jendela supaya lampu menerangan dari luar menyoroti kamarnya dia juga akan beranjak untuk menyalakan lampu untuk mempermudah membangunkan sang suami jika cahaya terang.
Mutia masih akan beranjak dari duduknya dan merealisasi niatannya, akan tetapi semua itu gagal karena tiba-tiba tubuhnya terbanting ke ranjang dengan posisi terlentang dan separuh tubuhnya ditindih tubuh suaminya.
Mutia menelan ludahnya dengan kesusahan dia merasa gugup dan merasa tidak nyaman. Sungguh ini hal yang sangat baru untuknya.
"Selamat pagi, Istri," kata lelaki yang kini tengah membuka matanya dengan sempurna, ada senyum yang tercipta di bibir lelaki yang baru saja bangku dari bawah sadarnya.
"Assalamualaikum," salam Mutia dengan suara cicitan. seperti suara burung yang berkicau patah-patah. Membuat lelaki itu terkekeh.
"Waalaikumsalam, Istri," kata lelaki itu seraya kembali terkekeh. Dia menyadari benar sikap sang istri, dia juga merasakannya akan tetapi dia mencoba mengabaikan, karena di berpikir bahwa semua canggung siapa yang akan mencairkan?
"Selamat pagi juga, Suami," jawab Mutia dengan malu-malu, bisa dilihat dari semburat merah di pipi putihnya.
"Sepertinya sebentar lagi iqomah.'' Lelaki itu langsung bergegas mencium kening sang istri kemudian berlari menuju kamar mandi tidak lupa menyambar handuk yang ada di ranjang.
Mutia termenung sesaat kemudian dia tersenyum dia merasa penuh dengan apa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Kemudian Mutia mengambil baju yang ada di gantungan untuk di siapkan di ranjang. Baju itu adalah baju yang digunakan suaminya saat sholat pengantin. Mengingat hal itu Mutia tersenyum malu-malu.
"Terimakasih sudah disiapkan," kata lelaki yang terlihat segar itu, Mutia tersenyum kemudian menjabat tangan sang suami yang tengah buru-buru akan berlari ke masjid.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarrokatuh." Mutia melangkah menutup pintu kamar kemudian bersiap diri untuk melaksanakan sholat subuh.
----------
Mutia duduk di atas kasur sambil bersandar, bibirnya bergerak pelan melontarkan beberapa ayat Al-Quran sedang matanya dia pejamkan.
"Assalamualaikum," bisik sebuah suara dari sisi kanannya, membuat Mutia terlonjak kaget dan langsung membuka matanya.
"Waalaikumsalam," jawab Mutia sambir berisut ke sebelah kiri memberi ruang duduk yang nyaman untuk sang suami.
"Lanjutkan." Mutia menggeleng sambil menutup Al-Qurannya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Ada yang ingin aku tanyakan," cicit Mutia membuat sang suami mengulum senyum.
"Aku bisa melihat dari raut wajahmu." Mutia memberikan Al-Qurannya untuk disimpan di nakas.
"Apa yang ingin kamu ketahui?" tangan lelaki itu menarik Mutia untuk bersandar, dan membuat dirinya juga bersandar dan menaikan kakinya.
"Bi, emmm maksudku Mas." Mutia merasa kurang nyaman dengan panggilannya, biasanya dia merasa nyaman dengan memanggil nama tanpa embel-embel, akan tetapi entahlah sejak sah menjadi istrinya Mutia merasa kelu menyebut nama sang suami.
"Kamu boleh memanggilku sesuka hatimu," kata Abi dengan santai, membuat Mutia meringis.
"Mas," panggil Mutia.
"Iya," jawab Abi sambil mengalungkan tangannya di pinggang sang istri, membuat rona merah langsung menjalar ke pipi Mutia.
"Mas," panggil Mutia lagi, dia seolah ingin menghilangkan gugup pada dirinya.
"Iya," jawab Abi lagi dengan pelan, dia menghayati setiap kata yang keluar dari bibir sang istri.
"Mas."
"Iya."
"Mas."
"Apa akan terus seperti ini?" tanya Abi dengan nada menggoda, Mutia menutup wajahnya sambil tertawa kecil.
"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Abi sambil mengamati setiap gerakan sang istri.
"Semuanya," jawab Mutia sambil mendongak.
"Bertanyalah aku akan menjawab." Mutia menggeleng tidak setuju.
"Kenapa?"
"Aku ingin Mas yang bercerita," kata Mutia dengan tidak sadar sudah mengeluarkan nada manja. Abi tersenyum menyadarinya. Dia tahu ini berarti istrinya sudah nyaman berada di sekitar dirinya.
"Aku bingung harus memulai dari mana," kata Abi dengan nada tegas namun ada kelembutan di dalamnya.
"Aku juga iya," jawab Mutia malu-malu. Mutia mengakui bahwa dirinya sungguh berubah saat ini, entahlah sifat kekanakannya tiba-tiba muncul dengan sendirinya.
"Bagaimana kalau dari, siapa Anandi?" Abi mengerutkan dahi kemudian dia mengangguk.
"Kenapa dengan Anandi?" tanya Abi, Mutia mendongak menatap wajah sang suami. Dia tengah menimang haruskah dia bertanya secara frontal atau secara tersirat.
Mutia mendesah, kemudian mengalihkan pandangan ke segala arah. "Dia bisa menyentuhmu sesuka hati."
Abi menyentuh dagu sang istri untuk dibawa ke arahnya, Mutia mengedipkan mata beberapa kali. "Dia dulu adalah salah satu prioritas yang aku miliki setelah Bunda."
Mutia tetap menatap mata Abi, dia berkedip beberapa kali kemudian matanya jatuh pada bibir tipis sang suami. Kemudian dia melepaskan sentuhan Abi dan membuang muka, dia kecewa dengan jawaban sang suami.
"Kamu boleh menanyakan apapun yang mengganjal di pikiranmu. Tapi jangan memalingkan muka seperti itu." Mutia masih bungkam, Mutia mengambil napas kemudian dia membenarkan jilbabnya.
"Aku akan buatkan sarapan," kata Mutia hendak beranjak dari duduknya, namun ditahan oleh Abi.
"Kita belum selesai bicara," kata Abi membawa Mutia kedalam kukungannya. Mutia tidak berontak dia hanya diam saja.
"Anandi adalah saudara kembarku, dia diasuh oleh tante Bagas sejak kecil karena suatu hal. Aku bahkan baru mengetahui setelah lulus SMA." Mutia menatap tanpa kedip wajah Abi yang tak berekspresi. Mutia mengulurkan tangannya dengan gemetar untuk menyentuh rahang Abi, karena gemetar tangan itu seolah menempuh jarak yang begitu jauh, karena tidak sabar Abi membawa tangan Mutia ke bibirnya kemudian memberi ciuman-ciuman kecil.
"Apa yang ingin kamu ketahui lagi?" tanya Abi dengan senyum dan memberi kecupan kecil di tangan Mutia.
"Geli Mas," rajuk Mutia sambil tertawa kecil. Abi tersenyum kembali.
"Rasanya seperti mimpi," kata Abi menatap wajah Mutia dengan intens.
"Mimpi?" tanya Mutia polos, entahlah di mana Mutia meninggalkan otak cerdasnya, sejak menikah kurang dari duapuluh empat jam yang lalu dia semakin lambat mencerna ucapan.
"Iya, bersamamu itu seperti mimpi," kata Abi membuat semburat merah menghiasi pipi Mutia dan senyum malu-malu terbit tanpa bisa dicegah.
"Ini butuh perjuangan panjang, sepuluh tahun. Kamu bisa bayangkan lamanya," kata Abi lembut dengan tangan menyembunyikan anak rambut Mutia yang terlihat ke balik jilbab.
"Aku terlalu mudah didapatkan, bukan?" tanya Mutia dengan wajah murung. Abi menaikan satu alisnya, kemudian mendesah. Ah, istrinya ternyata tidak sedewasa yang dia lihat karena sejak beberapa jam yang lalu sudah banyak kali istrinya itu merajuk. Tapi itu bukan halangan untuk Abi, dia bukan kecewa tapi dia bahagia bisa melihat sisi lain dari sifat seorang Mutia.
"Aku membutuhkan waktu sepuluh tahun, kamu bilang kamu terlalu mudah didapatkan? Kalau kamu mudah mungkin sekarang kita sudah memiliki beberapa anak." Abi berkata dengan santainya, membuat Mutia melotot.
"Kenapa?" tanya Abi melihat ekspresi melotot sang istri, kemudian dia menyadari istrinya tengah malu, lihat dia bersembunyi.
"Kamu tahu, selama ini aku begitu menahan semuanya. Kamu tahu untuk mendekatimu aku butuh waktu lama. Karena aku takut kamu membenci diriku karena perbuatanku dulu," kata Abi sambil mendekap sang istri.
"Kenapa aku harus membenci?" tanya Mutia sambil mengeratkan pelukannya. Entah pergi kemana rasa malu itu, dia sudah dengan berani memeluk sang suami.
"Kamu ingat di hari pertama kali aku menyentuhmu, itu adalah dosa terbesar yang sangat aku sesali. Aku sungguh menyesal, aku menghardik diriku sendiri karena tidak bisa menahan rasa itu semakin dalam. Dan karena itu juga aku lebih memilih menjauh darimu." Abi berkata dengan lembut. Mutia mendongak melihat ekspresi wajah menyesal Abi.
"Apa yang ku lakukan itu dosa Mutia, tidak seharusnya aku melakukannya. Kamu tahu bukan dari pada bersentuhan dengan selain makhrom lebih baik ditusuk besi dari bara api. Tapi apa aku menyentuhmu, sejak saat itu hanya satu ketakutanku, besi panas dan kebencian darimu." Mutia menangis dalam diam, tidak ada isakan hanya kristal bening membasahi pipinya dengan garis lurus.
"Kita yang salah, Mas. Karena aku juga terlena." Abi menghapus sisa air mata Mutia, dia tersenyum sambil mengangguk.
"Jadi Mas takut aku membenci?" tanya Mutia, dan Abi mengangguk. "Aku juga takut dibenci, maka dari itu aku menghindar kemungkinan kita bertemu."
"Apa lagi kamu selalu mengabaikan undangan dariku, dan menghindariku. Itu menguatkan keyakinan kamu tak menyukaiku. Tapi aku memang tidak tahu diri masih terus mengikatmu dengan lamaranku." Abi terkekeh sendiri.
"Pantas saja semua orang gencar sekali menggagalkan perkenalanku dengan lelaki." Mutia berengut, terbersit dalam ingatan tentang hal itu.
"Mereka menjagamu untukku. Sepertinya aku harus sangat berterimakasih kepada Dilan." Abi berkata dengan nada menggoda, bukan tersinggung akan tetapi Mutia malah tertawa kecil.
"Benar sekali, dia seperti sahabat sejati untukmu dan pengawal pribadi untukku."
__ADS_1
"Bukan seperti tapi dia memang sahabat sejati." Abi berkata dengan tegas nan lembut. Mutia mengangguk untuk membenarkan ucapan Abi.
"Shinta pasti akan marah besar mendengar pernikahan kita," kata Abi tiba-tiba. Mutia menyadari itu sahabat diamnya itu pasti akan merajuk apa lagi sudah hampir sebulan dia tidak mendengar kabar sama sekali.
"Dia masih di rantauan. Itu bisa dijadikan alasan." Mutia berkata sambi terkikik geli, dia tengah membayangkan ekspresi wajah Shinta yang datar.
"Kamu masih sambung dengannya?" tanya Abi,
"Masih."
"Gitu dia aku tanya keberadaanmu tiga tahun yang lalu dia bilang tidak tahu," kata Abi kesal namun malah mengeratkan pelukan. Mutia terkekeh geli dengan ucapan Abi, dia tahu Shinta akan menjaga rahasia sekecil apapun itu.
"Aku juga mau dipeluk," kata Fahri sambil membuka pintu dengan kencang, membuat dua orang anak manusia itu langsung bangun dan tertawa.
"Tunggu dulu," kata Mutia saat Fahri mau memeluknya, membuat Fahri berengut tidak suka. Sedang Abi menaikan satu alisnya, curiga.
"Jawab dulu pertanyaan Kakak dengan jujur dan benar." Fahri mengangguk.
"Dari mana tahu nama kak Abi?" Fahri diam sedang Abi juga sama penasarannya. Dengan pelan Mutia berlari ke arah pintu dan menguncinya saat melihat gelagat sang adik mau kabur.
"Kamu tidak bisa kabur," kata Mutia dengan senyum penuh kemenangan.
"Ini rahasia Kak," kata Fahri melas.
"Oh, jadi sekarang mau main rahasia-rahasiaan. Baiklah, Fahri boleh keluar.'' Mutia membuka pintu. 'Semudah itu?' pikir Abi. "Jangan minta penjelasan apapun kepada Kakak." Mutia melanjutkan kemudian kembali duduk di samping Abi dan bersandar manja. Abi tersenyum melihat taktik yang sedang dijalankan sang istri.
Fahri menoleh ke arah pintu kemudian dia menoleh ke arah sang kakak, ada rasa tak rela saat sang kakak bersandar kepada lelaki lain. "Bukankah kak Abi janji tidak akan mengambil kak Mutia dari Fahri." Abi menatap ke arah Fahri, dia kagum dengan daya ingat adik iparnya itu.
"Kak Abi tidak mengambil kak Mutia dari Fahri, tapi mengambil dari Ayah. Karena yang berhak atas kak Mutia ayah bukan Fahri." Mutia memeluk lengan Abi dengan manja sambil melirik sang adik yang nampak bingung dan raut tak suka.
"Baiklah, Fahri kasih tahu." Fahri mendekat kemudian duduk di pangkuan Abi dan melepas tangan Mutia.
"Tunggu dulu, Fahri cemburu sama kak Mutia apa kak Abi?" tanya Mutia gemas dengan kelakuan sang adik. Abi hanya tertawa geli dengan tingkah adik kakak yang satu ini.
"Mau dengar tidak sih, Kak." Mutia cemberut sambil mengangguk. Dia gemas namun juga penasaran.
"Adek tahu dari ayah, kata ayah kalau ada kakak yang bernama Abinaya Rahman dan itu teman kak Mutia berarti dia itu suami masa depan kak Mutia. Dan bila ada yang mendekati selain kak Abi, maka Fahri harus melarangnya." Fahri menatap wajah Mutia yang memerah kemudian wajah Abi yang sumringah.
"Jadi kita tim?" tanya Abi sambil mengangkat tangan mengajak tos.
"Tim," seru Fahri bersemangat.
"Ayah," teriak Mutia denga gemas membuat Abi dan Fahri tertawa.
------------
Fahri berjalan menuruni tangga dengan ceria diikuti sepasang pengantin baru yang alan melakukan sarapan bersama untuk perrama kalinya.
"Waaah, pengantin barunya kalau gak disusul gak turun-turun," goda Rifa yang siap untuk berangkat ke kantor.
"Apaan sih Kak," sahut Mutia denga waja memerah malu, sedang Abi hanya tersenyum tipis.
Abi mengambil duduk kemudian Mutiamengbilkan makanan untuk sarapan, "mau seberapa?"
"Sudah cukup," kata Abi melihat nasi yang ada di piring yang dipegang sang istri.
"Mutia," panggil Rouf yang baru mengambil duduk.
"Iya," jawab Mutia sambil menuang air putih di gelas Abi.
"Punya kakak mana?" tanya Rouf dengan senyum menggoda.
"Kamu mah gak kehitung sekarang, Uf. Ada yang baru." Rifa menjawab dengan nada menggoda dan sesekali melirik sang adik yang wajahnya memerah.
"Kok gitu?" tanya Rouf tak terima.
"Ya iyalah kan sekarang ada suami."
"Kak Rifaaa," seru Mutia merajuk. Rifa dan Rouf tertawa bahagia.
"Jangan menggoda adikmu," kata Dhimas yang masuk ke ruang makan bersama sang istri.
"Ayah," panggil Mutia manja sambil menggandeng Dhimas untuk duduk.
"Eh, gak boleh." Alya melepas tangan Mutia di lengan sang ayah.
"Papa sekarang punya Alya, dan kak Mutia udah punya kak Abi," kata Alya mengajak Dhimas duduk. Mutia hanya diam memandang sang ayah dan adik. Sedang Rouf dan Rifa sudah beranjak berangkat kerja setelah berpamitan.
Abi yang awalnya hanya diam saja menoleh le sang istri yang sejak tadi digoda keluarganya, dia sedikit terkejut melihat wajah murung Mutia. "Kenapa?" Abi membawa Mutia untuk duduk, Mutia hanya menggelengkan kepala.
Dhimas menyadari perubahan sang anak, dia hanya tersenyum sedang sang mama sudah terkekeh.
"Fahri dan Zahra sudah berangkat, Ma?" tanya Mutia sambil meminum jus stroberi miliknya.
"Sudah, tadi bareng kakakmu, kamu kerja sayang?"
"Iya Mah, maklum Mutia tidak ambil cuti." Mutia terkekeh pelan.
"Pengantin baru kok kerja," celutuk Sisi yang baru akan bergabung, dan secara spontan Alya langsung berpamitan untuk berangkat ke kampus.
"Al makannya belum habis," kata Dhimas sedang Alya sudah tidak mendengarkan, di sudah tunggang langgang.
"Kamu juga kerja, Bi?" tanya Sisi. Abi mengelap bibirnya kemudian mengangguk. Entah mengapa Mutia melihat gelagat tak nyaman pada suaminya saat Sisi bergabung makan bersama.
Kemudian Abi mengajak Mutia untuk segera berangkat meninggalkan meja makan dan meninggalkan mertua serta ipar sepersusuan Mutia.
__ADS_1
--------