Berawal Dari Abu-abu

Berawal Dari Abu-abu
Awal (harapan) Baru


__ADS_3

Masa lalu, biarlah masalalu. Jangan kau ungkit ingatkan aku. (Kru Kepo)


--------


Ada banyak hal yang mungkin telah terjadi, meski tanpa kita sadari. Inilah yang namanya takdir hidup, tidak bisa dipaksakan dan juga tidak bisa dibiarkan tanpa sebuah usaha.


Lelaki dengan pakaian rapi itu berdiri di depan lift dengan termenung, dia merasa tidak asing dengan gestur tubuh seorang karyawan yang berdiri membelakanginya. Gadis itu memakai gamis berwarna biru langit dengan jilbab lebar dan berbalut blezer Berwarna senada dengan jilbabnya. Gadis itu nampak angun dengan gaya sederhananya.


"Pak Abi, lift sudah mau menutup." Kata lelaki yang berdiri di samping Abi untuk mengingatkan atasan-nya.


"Iya terimakasih." Abi masuk ke dalam lift diikuti oleh asistennya. Abi lebih sering bekerja di rumah, oleh sebab itu dia membutuhkan asisten sebagai penggantinya di kantor.


"Siapa karyawan bergamis biru langit tadi?" tanya Abi membuat heran asistennya.


"Dia meneger pemasaran yang baru dipindahkan pak Rama dari kantor pusat."


"Siapa namanya?" tanya Abi begitu penasaran, karena dia sunggu mengenal sosok itu. Namun belum sempat dijawab oleh asisten-nya pintu lift terbuka dan mengharuskan pembicaraan mereka terputus.


Abi memasuki ruangannya tanpa memperdulikan sekertarisnya. Ya, dia memiliki sekertaris. Dua bahkan, dia hanya seorang arsitek namun dia dilengkapi dengan fasilitas yang memanjakan. Semua ini dikarena sosok seorang Arrama Setiawan, seorang pengusaha property yang cukup terkenal. Dan beliau adalah ayah tiri Abi. Ayahnya melarang Abi bekerja sendiri karena takut itu menjadi alasan untuk tidak ikut berkumpul bersama keluarga.


"Maaf pak Abi, ini data yang bapak minta." Kata sekertarisnya dengan tenang, meski di dalam hatinya berdegub dengan kencangnya.


"Madina, tolong undur jadwal rapat hari ini. Dan jangan ada yang mengganggu sampai selesai makan siang." Abi berkata dengan tegas, membuat Madina yang hendak berkomentar mengurungkannya. Dan Madina izin untuk undur diri, dalam hati dia berpikir mengapa Abi berubah menjadi sosok yang tak dikenali dan merasa tidak mengenalinya.


Apakah profesional itu seperti ini?


Tapi di jam kerja saja dia juga masih bersikap cuek dan tidak mengenalinya.


"Maaf mbak, apa pak Arsiteknya ada?" tanya seorang gadis bergamis biru.


"Maaf, beliau sedang tidak mau diganggu sampai jam makan siang selesai," jawab Madina tanpa menghiraukan orang yang diajak bicara. Dia sudah cukup kesal dengan sikap bossnya pagi ini.


"Ya sudah, saya menitip berkas ini untuk dititipkan ke pak Rama untuk diperiksa. Saya permisi," kata gadis itu meski di dalam hati dia juga merasa dongkol karena diacuhkan begitu saja. Dan tanpa berpikir panjang gadis itu segera meninggalkan tempat itu dan memasuki ruangan sempit yang akan mengantarkannya menuju lantai dasar. Karena gadis itu berniat untuk pulang.


"Madina, adakah berkas yang perlu saya tanda tangani?" tanya Abi saat sudah ada di depan meja sekertaris.


"Ini pak ada titipan untuk pak Rama," Madina memberikan dua buah map berbeda warna.


"Ini dari pemasaran, siapa yang mengantar?" tanya Abi ingin meyakinkan sesuatu. Dia yakin jika sosok yang dia lihat tadi benar sesuai dugaannya maka gadis di depannya ini pasti juga mengetahuinya.


"Kurang tahu pak, yang jelas seorang wanita." Madina menjawab dengan bingung karena tadi sempat mengacuhkan tanpa melihat wajahnya. Dan dia heran saat melihat raut wajah kecewa nampak jelas tercetak di aura Abi.


"Ya sudah, taruh di ruangan saya." Abi berjalan menuju lift tanpa menghiraukan wajah heran Madina.


"Tadi itu yang nganter cewek cantik seperti bidadari, Mad." Kata Vino, sekertaris satu yang juga membantu kerja Abi. Abi memang menyediakan dua sekertaris dengan jenis kelamin berbeda. Fungsinya adalah untuk menyalurkan berkasnya dan hanya lelaki yang memasuki ruangannya namun Madina tidak memahami itu dia tetap sering keluar masuk ruangannya.


"Oh ya?" tanya Madina meyakinkan.


"Kamu mengenalnya Vin?" tanya Abi dengan datar.

__ADS_1


"Oh iya Pak, beliau manager pindahan dari pusat. Beliau dimutasi ke kantor bawah supaya beliau tetap bisa bekerja di kantor kita. Saya diberitahu pak Rama bahwa beliau berencana mengundurkan diri dengan alasan ikut suami pindah dan kebetulan pindahnya ke kota ini jadi di mutasi ke kantor ini."


"Siapa namanya?" tanya Abi lagi, membuat Vino dan Madina heran dengan tingkat keingintahuan Abi yang tiba-tiba meningkat. Padahal Abi yang menjadi atasanya adalah sosok yang datar.


"Namanya bu Syarifa Handayani," jawab Vino membuat Abi menghembuskan napas bertanda bahwa dia nampak lega hingga mengundang kecurigaan semakin dalam.


------------Happy Reading-----------


Syarifa Mutia, gadis pemilik lesung pipit itu tersenyum saat melihat bangunan yang ada di depannya. Dia bahagia melihat tempat kerjanya yang baru, dia merasa sudah nyaman meski masih baru saja menginjakkan kakinya.


"Bu Syarifa ya?" tanya seorang yang berseragam batik biru dan bertag nama Arriana Wijaya.


"Iya, saya Syarifa," kata Mutia sambil menjabat tangan begitu pula dengan Riana, dia juga menyebut namanya.


"Mari saya antar ke ruang Dewan," ajak Riana dengan sopan, dan diikuti oleh Mutia.


Dengan senyum anggunnya, gadis itu menyapa para dewan guru lainnya, dengan sikap ramah dan bawaan yang riang membuat Mutia mudah akrab dengan yang lainnya, baik seusia atau lebih tua.


"Begini bu Mutia, kami akan meletakkan ibu menjadi guru matematika untuk kelas pemula, yaitu kelas satu, dua dan tiga. Dan untuk segala teknisinya bisa ditanyakan kepada bu Endang selaku dulu guru kelas tiga. Nanti Anda juga sebagai wali kelas, di kelas tiga" Mutia tersenyum ramah.


Setelah perbincangan mengenai aturan juga segala hal tentang tugasnya, Mutia melangkah keluar ruangan dewan ditemani oleh Riana yang akan menjadi patner mengajarnya. Di sekolah ini memang ada dua guru di dalam kelas, tapi hanya untuk pelajatan pokok saja seperti matematika.


Mereka berkeliling ibarat tour gaude dengan pengunjungnya. Mengenal seluk beluk sekolah barunya.


"Berapa lama kamu bekerja di sini, Bu Riana?" tanya Mutia sambil mengamati beberapa sudut ruangan.


Setelah selesai dengan aktifitas berkenalannya, Mutia izin untuk undur diri lebih dahulu. Karena dia akan mulai kerja minggu depan tepatnya lima hari dari hari ini.


-------------------


Mutia memasuki rumahnya dengan hati yang riang, dia tersenyum bahagia seolah tak pernah ada sedikit pun luka mengusiknya.


Rumah, dulu dia enggan menyebutnya rumah, namun sekarang rumah adalah sesuatu tersendiri baginya dan bagian ke dua yang dia rindukan setiap harinya.


"Assalamualaikum," salam gadis itu seraya memasuki rumah yang sama yang dulu sempat dia tempati.


"Waalaikumsalam," jawab dua suara anak kecil, dia tersenyum ada kebahagiaan tersendiri saat mendengarnya.


Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan menemui dua anak berumur lima tahun yang begitu menggemaskan.


"Zahra, Fahri," panggil Mutia membuat dua anak kecil yang sepertinya baru saja berebut mobil-mobilan itu menoleh dan meninggalkan mainannya begitu saja dan berlari sambil memeluk kaki Mutia.


"Kakak," panggil keduanya.


"Aku dulu," kata Zahra dengan sewot.


"Aku yang duluan," Fahri tidak mau kalah.


"Ada apa ini?" tanya seorang paruh baya yang datang membawa dua gelas susu berbeda warna.

__ADS_1


"Aku mau Bunda," kata Zahra langsung berlari, sedang Fahri masih tetap memeluk kaki Mutia dan memandang ke arah saudara kembarnya dengan wajah sedih.


Mutia berjongkok sampai badannya sejajar dengan adik seayahnya itu.


"Ada apa?" tanya Mutia sampil mengelus rambut sang adik.


Fahri tersenyum, kemudian menggeleng kepalanya lucu. Mutia terkekeh kemudian mengajak sang adik duduk.


"Ini minumnya adek, Kak." Ibu si kembar itu memberikan segelas susu ke Mutia, kemudian menggendong Zahra ke dalam biar tidur siang.


"Fahri belum tidur Kak, tolong ditidurin ya," kata sang bunda kepada Mutia. Iya, ibu si kembar adalah mama baru Mutia, dia adalah istri ayahnya. Dia adalah wanita yang sama yang ditemui Mutia keluar dari rumahnya saat dia masih SMA.


"Iya Ma," kata Mutia sambil memberikan segelas susu coklat ke Fahri yang hanya meluk lengan Mutia.


Fahri memang adik Mutia, tapi tingkah keduanya bak seorang anak dan ibunya. Entahlah, ikatan darah mereka sepertinya lebih kental. Pernah selama sebulan Fahri ditinggal ibunya namun dia biasa saja hidup dengan Mutia, berbeda dengan Zahra. Sedetik ditinggal ibunya saja sudah membuat gempar dunia.


"Minum dek, baca basmala dulu." Fahri mengikuti perkataan Mutia.


"Ingat," kata Mutia.


"Isrobumastna wa stulasah, minumlah dua atau tiga kali teguk,'' kata Mutia dan Fahri berucap bersamaan.


Setelah susu habis Mutia, mengambil gelasnya dan menggendong Fahri menuju ke dalam kamarnya, tak lupa meletakkan gelas di meja dapur saat dia melangkah ke kamar.


"Adek cuci tangan di kran bawah, ya." Mutia menurunkan Fahri di depan pintu. Sedang Mutia meletakkan tasnya di almari, kemudian melepas sepatu dan kaos kakinya yamg tak lupa dia taruh di balik pintu.


Setelah itu dia mengganti jilbab lebarnya dengan jilbab kecil yang biasa dia pakai di rumah. Setelahnya menyusul sang adik yang ternyata tengah asik bermain air.


"Dek, masuk kamar mandi kaki mana dulu?" tanya Mutia yang ada di depan pintu, seolah hendak melangkahkan kaki kanan dan kirinya menggoda.


"Kaki kiri, Kakak," kata Fahri gemas.


Mutia mengucapkan doa secara keras, kemudian memasuki kamar mandi dengan kaki kiri terlebih dahulu.


"Ih, adek Kak Mutia pintar." Fahri tersenyum dan menghampiri sang kakak dengan membiarkan krannya tetap menyala.


"Airnya Dek," teriak heboh namun dengan suara lirih. Kemudian dengan hebohnya Fahri segera mematikan kran air.


"Sudah?" tanya Mutia. Fahri mengangguk dan keluar dari kamar mandi dengan kaki kanan.


Mutia mencuci mukanya dan kaki, kemudian mengikuti sang adik yang sudah melepas bajunya dan berbaring di kasurnya.


Mutia hanya menggelengkan kepala, kemudian melirik keranjang baju kotornya dan menemukan baju yang dipakai sang adik sudah bertengger di sana.


"Doa dulu, Dek." Fahri sudah tidak menyahut, dan ternyata sang adik sudah terlelap dalam belain pikiran bawah sadarnya.


Mutia menyelimuti sang adik dengan selimut tipis, kemudian dia membuka almari dan mengambil baju. Dia melangkah menuju kamar mandi dan berganti pakaian serta bersiap sholat dzuhur.


--------------

__ADS_1


__ADS_2