
Aku melihatmu dengan dua bola mataku.
Aku membelai bayangmu dengan dua tanganku.
Meski aku berlari bersembunyi dari cengkramanmu.
Meski aku menghindari semua tatapan tajammu.
Tetap saja.
Aku terjebak dalam permainan takdirmu.
Aku meraung menepis segala bayangmu.
Dan aku yang akan selalu bersembunyi darimu.
-------------------
Aku terduduk di kursi belajarku. Aku membuka buku agendaku dan mengambil tinta di laci. Aku menimang saat akan mulai menitikan tinta hitamku.
Aku memandangmu di balik mata terpejamku.
Aku memanggilmu dalam raungan bayangan dalam diamku.
Aku melihat luka terpahat dalam sorot matamu.
Lelehan darah mengalir dalam setiap ucapanmu.
Aku menangisimu dalam diamku.
Berharap kau tahu akan isi hatiku.
Tanpa terasa air mataku menetes melewati pipiku. Aku terdiam kemudian menghapusnya. Aku termenung mengingat setiap saat yang aku lalui bersama kak Hasan.
Ah, kak Hasan yang ramah, baik dan pengertian. Ada yang salahkah dengan semua ini?
Aku hanya berpikir mungkin kami salah dalam menafsirkan kedekatan ini. Kak Hasan yang baik hati kini berubah menjadi kak Hasan yang tak terkenali.
Aku terdiam dalam lamunan membayang, karena tak kuasa dengan semua ini aku beranjak dari dudukku dan membaringkan tubuhku di kasur singleku.
Aku memandang ke langit-langit kamarku, berpikir banyak hal tentang keputusanku dalam membuka hidup baru dan membuka sosialisasi supaya aku tidak dicap antisosial.
Aku kembali memikirkan kembali kedekatanku dengan sederetan makhluk yang bernama lelaki. Mulai dari awal pertemuanku dengan Mirza, mulai kedekatanku dengan kak Bagas, saat-saat aku adu argumen dengan kak Dilan dan terakhir adalah saling pandang dalam diamku dengan Abi.
Ah, mengingat Abi aku jadi mengingat kejadian tadi pagi, masih terbayang dalam ingatanku kejadian itu.
"Kak Hasan," panggilku dengan ramah tak mengindahkan pertanyaan dan ekspresi sinisnya. Aku melihat dia menaikkan salah satu alisnya dan tersenyum meremehkan.
"Lo berani panggil namaku?"
"Heemm, memangnya kenapa?" tanyaku polos.
"Gak usah berlagak polos," katanya sinis.
"Aku beneran gak tahu maksud Kakak."
"Jangan tampakkan wajah polosmu itu di depanku itu tak akan berpengaruh." Kak Hasan berkata sambil berlalu hingga menyisakan banyak tanya dalam benakku.
Kak Hasan berubah. Itulah yang sebenarnya terjadi namun aku terus menyangkalnya selama ini, dan kini masih bisakah aku terus menyangkal?
Inilah hal yang aku tidak sukai dari sebuah hubungan bernama ''FREANDZONE" karena jika tidak kuat hati akan menimbulkan perselisihan dan permusuhan. Aku menghembuskan napas berat kemudian membalikkan tubuh hendak kembali melangkah, namun langkah kakiku ku urungkan saat melihat dua sosok yang tengah berdiri di depanku, kini benakku sedang berperang. Apakah mereka mendengar apa yang aku bicarakan tadi?
''Dla kak Dilan.... Abi," kataku lirih sambil melihat ke sekeliling, hanya ada beberapa anak yang
lewat.
Kak Dilan menaikkan satu alisnya, sedang Abi hanya memamdang datar ke arahku, aku jadi salah tingkah dengan tatapam dua orang di depanku.
"Kenapa?" tanya kak Dilan dngan nada curiga.
"Gak papa, hanya kaget aja lihat kakak udah ada di sini. Udah dari tadi?"
"Mau tahu atau mau tahu banget?" tanya kak Dilan menggoda sambil menaik turunkan alis.
"Biasa aja, dan cuman mau tahu aja." Aku menjawab dengan cuek dan membuang muka karena entah mengapa aku merasakan pipiku menghangat karena pandangan intens meski datar dari Abi yang belum juga beralih sejak tadi.
"Sudah sejak beberapa saat yang lalu," jawab Abi dengan tenang, membuatku menoleh.
"Terkadang ada saatnya kita mengucapkan sesuatu untuk menyakiti seseorang dengan tanpa sadar. Atau kadang kita juga mengatakan sesuatu yang menyakiti orang lain bertujuan untuk membangun pertahanan diri untuk bertahan dan berdiri tegak dengan wajah mendongak. Jadi jangan masukkan semua ucapan orang lain ke dalam hati." Abi berkata dengan tegas dan tanpa mengalihkan pandangan dari kedua bola mataku. Aku terdiam entah karena ucapannya atau karena sorot mata yang tulus yang ada di depan mata.
"Jangan mudah terprovokasi hanya karena sebuah ucapan." Abi berkata lagi sambil beranjak melewatiku begitu saja. Aku terdiam mencerna ucapan itu, ada makna yang tersembunyi di baliknya, tapi sepertinya otakku masih belum bisa mencerna.
__ADS_1
"Aku sebenarnya tidak percaya dengan apa yang aku lihat tadi. Tapi satu hal yang pasti, bahwa dia hanya mencoba mempertahankan egonya, biasalah cowok kan egonya tinggi. Apa lagi seorang Hasan yang selalu mendapatkan apa saja yang dia harapkan jadi penolakan itu sesuatu hal yang sangat melukai harga dirinya." Kak Dilan berkata dengan nada seriusnya, tanpa menunggu responku dia sudah menepuk bahuku dan melakukan hal yang sama dengan Abi---melewatiku.
Aku berbalik ternyata Abi masih berdiri di sana menunggu sang sahabat, aku mengerutkan dahinya kala melihat senyum menenangkan terpatri di wajahnya.
Ah, senyum itu apa artinya?
Apa aku salah melihatnya?
Iya, pasti aku salah melihatnya. Kan tadi aku sedang tidak fokus, aku hanya berhalusinasi sepertinya. Tapi terasa nyata.
Argggh....
Aku gulang-guling di atas kasurku sambil memeluk gulingku. Hingga tanpa terasa semua terasa gelap dan aku lupa akan segalanya dan terbuai alunan merdu sang malam yang mengantar ku ke dalam kungkungan bawah sadar.
----------------------
Sang surya memancarkan teriknya, tepat pukul delapan pagi, namun teriknya sudah mengalahkan siang hari. Aku berjalan menuju masjid untuk mengambi Al Quran terjemah. Kebetulan guru agamaku yang menyuruhku. Aku berjalan keluar masjid dan menghampiri Mira yang sudah menunggu.
"Al Quran yang ada terjemahnya gak ada," kataku sambil duduk di teras dan memakai kembali sepatuku.
"Dlah, kok bisa?" tanya Mira heran, aku mengangkat bahuku acuh.
Harus bagaimana lagi aku tidak tahu menahu juga perihal ini.
"Lo kan anak KRI, coba deh lihat di sekertariatan." Mira mencarikan solusi, aku tidak menjawab aku hanya mngangguk dan mulai melangkah.
Baru juga beberapa langkah aku berhenti memandang ke arah segerombol anak seangkatanku yang aku sendiri tidak tahu kelas X apa, yang aku amati kelihatannya mereka baru saja selesai olahraga. Hal itu terlihat dari baju yang dia sampirkan di bahu.
Dan kini dengan seenaknya saja makan dan minum sambil jalan dan membuang sampah sembarangan. Ckck, sesuatu yang membuat geram.
Aku termenung dan berhenti sejenak, aku memandang ke arah kantin kemudian memandang ke arah lima anak lelaki yang berjalan dengan santainya ke arah sebelah kananku.
"Kamu kenal mereka?" tanya Mira yang mungkin penasaran dengan sikapku yang hanya diam dan memandang gak jelas ke arah mereka.
"Aku gak kenal," jawabku sambil mengambil bungkus minuman gelas dan bekas snak.
"Ngapain sih lo?" tanya Mira sambil mencekal tanganku dengan tujuan melarangku mengambil sampah.
"Aku sedang ambil sampah," kataku sambil melepas tangan Mira.
"Buat apa?" tanya Mira malas.
Aku melangkah menuju tong sampah yang ada di bawah pohon dengan perasaan dongkol, bukan karena gak ikhlas melakukannya namun karena aku sungguh prihatin dengan mereka yang tahu dampak membuang sampah sembarangan akan tetapi tidak melakukan hal yang seharusnya.
Aku dulu pernah tinggal di sebuah kota yang rawan banjir setiap musim penghujan dan pada saat itu, aku masih duduk di bangku sekolah dasar.
Aku cukup merasa kesulitan, bagaimana tidak aku hanya tinggal dengan ibu dan semua yang aku miliki basah. Meski kami tidak sempat merasakan yang namanya tinggal di pengungsian namun hal iti juga cukup menggunjang jiwaku dan mencetak diriku menjadi seperti ini terhadap sampah dan orang berpendidikan namun tak memiliki kemampuan untuk buang sampah di tempat yang benar.
"Ayuk," ajakku setelah mencuci tanganku di kran dekat masjid.
"Lo tu kenapa sih ambisius banget kalau soal sampah?" tanya Mira sambil berjalan beriringan ke sekertariatan KRI.
"Aku pernah merasakan yang namanya susah karena sampah, dan aku tak ingin orang lain merasakannya," jawabku pelan.
"Yang tentang lo jadi korban banjir itu?" tanya Mira lagi seolah meyakinkan dirinya.
Aku memang sudah pernah bercerita perihal banjir itu kepada teman-temanku bertepatan karena ada organisasi yang meminta sumbangan ke kelas untuk korban bencana alam.
"Iya," jawabku pelan.
"Gue yang ambil, lo tunggu sini." Mira memasuki sekertariatan KRI, aku heran yang anggota kan aku kenapa yang masuk malah Mira. Aku cuman geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Lo gak kesambet kan?" tanya sebuah suara yang datang dari sebelah kiriku dan di sana di dekat pintu XII IPA 1 berdiri seorang Hasan.
Ah, mengapa bertemu lagi sih. Aku masih belum siap mental jika harus mendengar perkataan kasarnya.
Kalian pasti bingung kan mengapa ada kak Hasan, aku melupakan sebuah fakta bahwa di depan IPA 1 adalah IPA2 dan sekertariatan KRI ada di sebelah kelas XII-IPA1.
"Gak kok kak," jawabku pelan tidak berani memandang aku menundukan kepala, namun sudah beberapa saat namun dia tak kunjung jua mengeluarkan suara lagi, saat aku mendongak ternyata sudah tidak ada siapa-siapa di tempat itu.
Aku melihat ke sekitar, namun aku juga tidak melihat siapapun, hingga aku merasa ada yang menepuk bahuku,
"Lagi cari siapa?" tanya Mira.
"Gak ada, ayuk balik." Mira mengangguk dan kamipun kembali ke kelas. Kami berjalan beriringan namun tak ada suara sedikitpun yang keluar dari bibir kami.
Aku melihat Mira yang tersenyum sendiri, sebenarnya ada rasa penasaran di lubuk hatiku akan tetapi aku menahannya, bukan karena aku tak perduli akan tetapi lebih ke tidak mau mengusik privasi.
"Assalamualaikum," sapaku sambil mengetuk pintu kelas.
"Waalaikumsalam," jawab serentak dari dalam kelas, aku dan Mira berjalan menuju kak Suryadi yang sepertinya tengah menunggu kami.
__ADS_1
"Ini pak Al Qurannya," kata Mira meletakkan Al Quran di atas meja.
"Mengapa lama sekali?" tanya pak Sur, begitulah kami memanggil.
"Tadi kami ke masjid akan tetapi di sana tidak ada jadi kami berinisiatif meminjam ke sekertariatan KRI." Aku menjawab dengan sopan, kemudian kami disuruh untuk kembali duduk.
Aku duduk dan menghela napas, beginilah resiko jika duduk di depan guru sering menyuruh ini itu.
----------------
"Minggu depan ujian semester pertama, lo udah lunasin administrasi belum?" tanya Madina saat kita makan di kelas. Kami sengaja membawa makanan ke dalam kelas.
"Aku udah," jawabku santai sambil menggigit roti bakarku.
"Lo Er, Mir?" tanya Madina menghadap ke arah dua orang itu bergantian.
"Udah juga, kenapa?" tanya Mira dan Erly bersamaan.
"Gue pingin tahu aja kita sekelas atau tidak." Madina menjawab dengan cuek dan kembali makan nasi kuningnya.
"Liburan pada kemana?" tanya Erly mengalihkan pembicaraan. Itulah Erly, cewek dengan sejuta pembahasan. Ada aja yang dia jadikan pokok pembicaraan, kadang aku heran sendiri dia mendapat ide dari mana.
"Lo tu ujian aja belum udah liburan melulu," sahut Mira dengan nada mengejek.
"Jangan bilang lo belum merencanakannya gue yakin udah," jawab Erly tak terima.
"Ya gitu deh, gue mau ikut kegiatan anak-anak kan lumayan buat PDKT." Mira berkata dengan santainya dan dengan senyum merekah.
"Ye, ingat kak Hasan tu dah lengser, mana mungkin doi ikutan LDK." Madina berkata dengan mengejek.
"Ah lo tu ngerusak suasana tahu, gak tahu kalau gue lagi seneng aja."
"Tapi ada benernya lo, Mir." Erly menyahut membenarkan argumen Madina.
"Iya juga ya," jawab Mira dengan nada lemah.
"Ya sapa tahu jadi bintang tamu, kan bukan hal baru kalau senior hadir bahkan kadang alumi juga hadir kan," sahutku tanpa ku sadari. Haah.... Kenapa mulutku gak bisa direm sih, kenapa malah ikut campur.
"Waaah, thank you Mutia. Lo emang pemberi semangat," kata Mira sambil memeluk tubuhku dengan bersemangat.
"Jadi lo bakal ikut LDK?" tanya Madina meyakinkan dan aku melihat Mira mengangguk dengan bersemangat.
"Mang kalian gak ikut?" tanya Mira dengan sengit.
"Gue sama Erly ikut dong, ya gak Er."
"Iya dong, masak anak kekinian gak ikut," jawab Erly membanggakan diri.
Aku mengerutkam dahi, kemudian aku terkekeh melihatnya kemudian tiga sahabatku menoleh ke arahku.
"Kenapa?" tanyaku heran melihat ekspresinya.
"Lo bakalan ikut juga kan?" tanya Madina dengan pelan seolah takut menyinggungku. Aku tersenyum kemudian menggelengkan kepala.
"Kenapa?" tanya Mira dan ku lihat diangguki oleh yang lainnya.
"Aku mau ke rumah ibuku. Kalian tahu kan aku memiliki dua rumah, selain itu aku tak minat untuk ikut." Aku berkata dengan tenang, aku melihat mereka mendesah pelan.
"Kenapa sih lo harus pulang ke rumah ibumu?" tanya Erly dengan lesu.
"Dia kangen juga kali sama ibunya," sahut Madina dengan ketus.
"Hehehe.... Iya juga ya," jawab Erly pelan.
"LDK kan 3 hari sebelum liburan selesai kan?" tanya Mira.
"Iya," jawab Madina.
"Lo gak bisa gitu balik sebelumnya kan kita libur dua minggu," kata Mira menatapku dengan penuh harap.
"Sorry tapi gak bisa, aku udah dibeliin tiket sama ibuku, dua hari sebelum masuk untuk balik ke sini." Jawabku dengan wajah tak enak.
Tapi memang benar aku tak ingin ikut LDK kalaupun aku ada waktu, jadi saat ibuku memintaku berkunjung dengan senang hati aku melakukannya.
"Udah deh, gak masalah dia gak ikut jangan bebani pikiran Mutia dong," kata Madina menengahi, aku tersenyum.
"Tapi jangan lupa oleh-olehnya ya," kata Erly sambil nyengir.
"InsyaAllah," jawabku tenang sambil membawa sampah yang sudah dimasukkan ke kantong plastik hitam menuju tempat sampah yang ada di depan kelas.
--------------------
__ADS_1