Berawal Dari Abu-abu

Berawal Dari Abu-abu
Study Tour dan Virus Delima


__ADS_3

"Cinta adalah perasaan yang tak akan pernah hilang dengan mudah. Karena cinta yang sebenarnya tersimpan rapi di rongga dada dan berada di organ bernama hati."


•••


Pagi ini nampaknya alam tengah bahagia, terbukti dari langit yang nampak berwarna biru cerah dengan awan putih menghiasi. Aku melangkah menuju perpustakaan, ujian nasional sudah berlalu beberapa minggu yang lalu, kami selaku kelas sebelas memasuki waktu ujian, jadi aku berinisiatif mengembalikan buku dikta ke perpustakaan lebih awal supaya nanti memudahkan persyaratan pengambilan raport.


"Dlo Mut, lo di sini?" tanya Vino salah satu anak seangkatanku, aku kenal dia sebatas nama saja, selain itu dia juga sering pinjam buku jika dia lupa membawa buku. Tentu pinjamnya tidak ke aku, tapi ya dia sering keluar masuk kelasku jadi sering melihat dan tahu nama masing-masing.


"Iya mau balikin buku," jawabku sedikit cuek. Kemudian aku pamit masuk ke perpus lebih dulu.


Setelah mengikuti rangkaian persyaratan aku melangkah menuju koridor ruang BK, namun sebelumnya aku menoleh ke kiri dan memandang tiga huruf yang tertempel di pintu. Setelah lama memandang, aku kembali berjalan dan fokus ke arah tujuanku.


"Hay," sapa Riska berjalan mensejajari langlahku.


"Hai, cerahnya...." godaku, membuat Riska tersipu malu.


"Eh apaan sih," katanya dengan menutup wajahnya, kami berjalan beriringam hingga dia membuka suara dengan melontarkan pertanyaan yang menurutku sedikit aneh.


"Mut, Islam itu susah bener ya?" Aku menoleh ke arahnya, sampai menghentikan langkahku, aku masih diam.


"Kenapa? Gue salah bicara ya?" dia merasa tak enak hati, aku tersenyum kemudian memandang ke arah arloji yang ada di pergelangan tanganku.


Aku menggapai tangannya dan mengajak dia duduk di kursi depan sebuah ruangan yang nampak sepi.


"Maaf ya," kataku pelan, aku melihat senyumnya dan anggukan kepalanya.


"Aku hanya kaget saja saat kamu bertanya tentang keyakinanku," aku mulai berbicara dan menghadap lurus ke depan, di depan sana ada sebuah pohon rindang yang sengaja di biarkan tumbuh besar untuk meneduhkan. Aku tersenyum bayangan pertama kali bertemu kembali terniang. Ah, lupakan. Itu perintah pikiranku namun entah diterima atau tidak oleh hatiku.


"Aneh banget ya?" tanya dia dan saat aku menoleh dia ternyata melakukan hal yang sama.


Aku menggeleng dan tersenyum, aku hanya kaget saja sebenarnya. Aku belum pernah menghadapi hal seperti ini, jadi aku susah mendiskripsikannya.


"Sebenarnya kemarin gue ketemu sama seseorang, gue suka sama dia sejak pertama kali melihatnya." Dia mulai bercerita dengan wajah berbinar, namun beberapa saat wajahnya murung.


"Setelah gue dekati, ternyata dia berkeyakinan sama kayak lo." Aku mengerutkan dahi tanda masih bingung.


"Sebenarnya gue menyukai seseorang beragama Islam. Gue deketin dia. Pingin kenal lebih jauh gitu." Aku memandang takjub ke arahnya, dia tersenyum lembut ke arahku. Senyum yang sangat indah, senyum yang mampu membuat kaum adam terpikat dalam jeratannya, bukan berlebihan namun begitu adanya. Aku yang perempuan saja mengagumi senyum itu apa lagi lelaki?


"Gue udah banyak tanya sama tante soal Islam, namun entah mengapa setiap membahas tentang Islam gue selalu ternianga wajah tenangmu yang anehnya tak membosankan." Aku mengerutkan dahiku,


Dia mengejekku atau memujiku?


Itu pertanyaan hanya aku ucapkan di dalam hati. Aku masih diam menunggu kelanjutan ceritanya.


"Gue berniat menanyakan banyak hal kepadamu, supaya aku gak kesulitan deketin si doi," katanya tenang, tegas dan dengan senyum indah menghiasi. Hal itu membuatku tersedak ludahku sendiri.


Aku bingung bagaimana menjelaskan padanya, tentang islam. Aku menoleh ke segala arah.


"Islam itu mengikat kuat, Ris. Jadi dalam berbagai aspek sudah memiliki aturan tersendiri. Begitu pula dalam bergaul. Dalam islam tidak mengajarkan perkenalan dekat antara lelaki dan perempuan seperti pacaran, TTM dan sejenisnya. Tapi yah banyak juga yang masih melanggarnya. Entahlah, yang penting Islam agama yang completed bagiku, ada aturan yang membuat kita harus berjalan sesuai petunjuk." Aku menoleh ke arahnya.


"Maaf, bukan mau membanggakan Islam. Tapi setiap orang bolehkan menguatkan keyakinan." Dia tersenyum kemudian mengangguk.


"Jadi islam itu terkekang ya," katanya tiba-tiba. Aku menoleh kemudian menggeleng.


"Tidak juga, setiap aturan yang dibuat pasti ada positifnya. Contoh kecil, dalam Islam dilarang minum sambil bernapas. Sedang ilmu kedokteran menemukan bahwa minum sambil bernapas bisa menyebabkan kita tersedak, karena saat kita bernapas maka katup rongga tenggorakan bagian pernapasan akan terbuka, dan saat minun jika rongga itu terbuka maka bisa menyebabkan air yang kita minum salah jalan dan menyebabkan kita tersedak. Selain itu juga, jika kita minum kemudian bernapas, padahal yang kita keluarkan adalah karbondioksida dan dalam kandungan air ada oksigen bukan." Dia menatap takjub ke arahku, dia mengangguk sambil tersenyum.


"Aku tidak bisa nengajarimu tentang Islam jika hanya untuk mendekati cowok. Maaf ya, aku memiliki prinsip yang mungkin sedikit kolot," kataku penuh penyesalan, kemudian aku lihat dia mengangguk mengerti. Aku menghela napas, semoga apa yang aku putuskan benar.


Tanpa terasa bel tanda peringatan lima menit lagi berbunyi, bertanda bahwa kami harus mengakhiri pembicaraan ini, tadi sebelum berpisah di ujung koridor aku mengulang permintaan maafku berulang kali. Aku merasa tidak enak hati dengannya, namun kembali ke prinsip yang aku pegang, tak sedikitpun aku ingin melonggarkannya.


Aku melangkah dengan riang menuju kelas, sesekali menjawab sapaan dari teman seangkatan juga junior yang kebetulan aku kenal.


-------------------------


"Em Mut, nanti temenin aku ke galeri ya," pinta Shinta saat kami masih sibuk di toko pakaian.


Ya, kami tengah berbelanja untuk kebutuhan study tour. Katanya sih pada pingin beli jaket, tapi namanya cewek gak remaja gak dewasa kalau sudah masuk toko mah sudah lupa tujuan utamanya.


"Mau ngapain?" tanyaku sambil buka-buka baju lengan pendek yang nampak imut-imut menurutku.


Ah, pantas saja remaja zaman sekarang suka sekali pakai baju yang pas body, orang bajunya imut begini berbanding terbalik dengan baju islami. Jadi lebih menarik. Wah, ini PR buat desainer pakaian Islami supaya membuat baju yang lebih menarik namun sesuai standart berpakaian yang dianjurkan dalam Islam supaya tidak kalah dengan baju kekinian.


"Tadi tante Nana minta tolong suruh ambil foto yang udah dicetak," jawab Shinta sambil mengambil kaos lengan panjang.


"Bagus gak?" tanyanya, Aku mengangguk.

__ADS_1


"Couplean yuk," ajaknya dengan senyum bahagia.


"Bolehlah, oh ya rencana aku gak bawa baju untuk study tour, soalnya beli di sana aja lebih simple deh." Aku mengambil baju yang sama dengan Shinta dan melihat ukurannya untuk menentukan yang pas untukku.


"Kenapa?" tanyanya heran. Jangan salah meski Shinta cenderung tetap pendiam, namun jika sudah dengan ku dia sudah mulai banyak bertanya dan bercerita.


"Simple Shin, gak banyak bawaan. Aku cuman bawa tas srempang sama paperbag buat bawa kue aja." Kami melangkah menuju kasir, setelah membayar kami berdua berjalan keluar toko baju, kami menuju kawasan aksesoris.


"Kamu mau beli?" tanyaku sambil membawa plastik belanjaan. Dia menggeleng terus menarik tanganku menuju ke galeri. Sebuah ruko yang membuka jasa mencetak foto yang masih ada di satu kawasan.


"Bentar, tolong ya," kata Shinta sambil memberikan kresek belanjaannya kepadaku. Dia tengah sibuk Mengambil sesuatu dari dalam tas.


Kami melangkah menuju ke depan, yang diberi batas sebuah etalase.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya seorang perempuan. Mungkin dia adalah pramuniaga di ruko ini.


"Mau ambil cetakan foto," kata Shinta sambil menunjukkan selembar kertas.


"Tunggu sebentar," kata perempuan itu dengan ramah.


"Duduk Mut," ajak Shinta sambil meletakkan pantatnya di atas kursi tanpa lengan yang sudah disediakan.


Kami menunggu dalam diam, aku dan Shinta sama-sama tengah mengamati beberapa foto yang sudah dipajang di dinding dan juga di atas etalase.


"Ini Dek, tolong dicek." Shinta beranjak dari duduk dan membuka setiap lembar album berwarna coklat yang nampak sangat elegan.


Aku berdiri dan ikut melihat, entahlah rasa penasaran begitu mendorongku.


"Lihat Mut, mereka mirip gak?" kata Shinta memperlihatkan wajah Abi dengan seorang gadis seusianya.


Ah, rasanya ada yang menyengatku. Aku masih tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Shinta.


Setelah melihat dan tidak ada yang cacat, album itupun dimasukkan ke dalam paperbag berukuran cukup besar. Kami meninggalkan tempat itu setelah menyelesaikan transaksi.


Kami berdua duduk di bangku halte dekat kawasan kami berbelanja.


"Dia Anandhi, saudara sepupu kak Bagas," kata Shinta tiba-tiba, aku tahu arah pembicaraannya namun aku tetap diam. Nama itu adalah nama yang sama dengan nama pengirim pesan dinding itu. Jadi mereka memiliki sebuah ikatan sekarang.


Nyes, ada efek dingin dan bergetar di dadaku, aku tak tahu itu tanda apa tapi yang aku tahu bahwa aku tak merasa nyaman.


"Lo sebenarnya milih siapa diantara bang Abi dan kak Hasan?" tanya Shinta pelan.


"Milih?" tanyaku heran. Dia mengangguk pasti.


"Aku memilih siapapun yang ditakdirkan Allah untukku." Aku menjawab dengan bijak. Dia tersenyum dan mengatakan bahwa diriku selalu seperti itu.


Ya, aku seperti ini. Aku akan berjalan menelusuri jalan tanpa memiliki tujuan yang pasti untuk masa depanku. Aku hanya ingin menikmati setiap kejutan yang aku hadapi di setiap jalan yang dilewati oleh langkah kaki.


"Oh ya, kata tante Nana 'terimakasih kadonya' beliau jadi gak enak, gak ngundang malah dikirim kado." Dia mengatakan hal itu dengan ekspresi tak enak juga, aku hanya tersenyum kemudian kami kembali diam hingga menunggu jemputan datang.


------------------------


Di musim panas kala itulah kadang delima akan retak.


Delima retak karena suhu yang melampaui batasannya. Meski retak buah di dalamnya tidak rusak, dalam artian buah delima masih bisa dinikmati rasa asam manisnya.


-----------------------


Sore ini, hujan sepertinya masih enggan untuk turun, namun aku tetap membawa payung lipat di dalam tas ranselku.


"Ingat, sering kasih kabar ke ayah," pesan ayah saat tadi mengantarku, ternyata ayahku masih saja protectif.


Aku mengambil duduk di belakang pak supir selang satu tempat duduk. Ya, saat ini aku tengah berangkat ke kota yang terkenal akan buah apelnya–––Malang.


"Mut, lo jadi bawa ransel?" tanya Shinta saat dia baru meletakkan tas di tempat tas yang ada di atas tempat duduk.


"Iya, kata Ayah nanti baju kotornya mau ditaruh mana kalau gak bawa tas, gitu." Aku semalam memang aempat adu argumen tentang bawaan sama ayah, dan kenyataanya aku kalah.


"Gue juga mikir gitu, makanya gue bawa tas besar," kata Shinta duduk di sampingku dan mengatur sandaran kursi untuk mendapatkan kenyamanan yang dia cari.


"Lo tu perfect banget ya Mut," kata Shinta aku melepas airphone yang ada di telingaku dan menoleh.


"Kenapa?" tanyaku heran, jarang sekali seorang Shinta menilai penampilan seseorang. Dia tipikal orang yang apa adanya, entah orang glamour atau biasa dia tak akan menilai dengan sebelah mata. Tapi kali ini ada apa?


"See, lo pakai kaos warna putih dengan kombinasi ungu dan memakai rok panjang dan jilbab berwarna senada dengan kombinasi baju–––ungu. Terus sepatu pakai warna putih tulang sama kayak baju, jam tangan warna ungu dan tas srempang warna ungu juga." Aku melihat apa saja yang disebutkan oleh Shinta, kemudian aku hanya nyengir gak jelas.

__ADS_1


"Biar cucok aja," jawabku asal.


"Lo cantik, sederhana dan menyenangkan. Pantas kalau lo jadi rebutan," kata Shinta yang awalnya dengan raut wajah serius berubah menjadi menggoda.


"Apaan sih," jawabku dengan tersipu malu. Shinta mengambil satu air phone ku dan memasangnya di telinga kemudian menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata.


Kami diam dalam sepanjang perjalanan, perjalanan menuju Malang lebih dari seharian, kami berangkat sore dan diusahakan malam sampai hotel kami menginab. Kemudian paginya kita akan langsung menuju Jatim Park, Musium angkot. Kemudian kembali ke hotel di sore hari. Menjelang magrib kita akan menuju alun-alun Batu dan sholat di masjid agung kemudian baru ke BNS.


Aku memainkan ponselku, aku main sodoku yang mencocokan angka. Sambil mendengar rekaman ceramah di telingaku,


"Mutia tidak tidur?" tanya pak Jono salah satu guru pembimbing, aku melihat jam yang sudah menunjukan pukul sepuluh malam.


"Iya Pak," jawabku sambil mematikan ponselku dan merapikan air phone ku. Dua benda itu aku masukan ke dalam tasku yang aku gantung di depanku tepat pada sandaran kursi depanku.


Aku menoleh ke arah Shinta dan membenarkan jaket yang digunakannya untuk selimut.


Jaket, aku lupa membawa tadi aku taruh di jok belakanh mobil ayah. Aku menepuk jidadku sendiri, aku menoleh ke samping semua anak yang tadi ramai sudah mulai tak terdengar suaranya. Aku sedikit berdiri menutup AC yang ada di atas, masalah jaket mungkin aku bisa membelinya nanti di sana.


"Lo kenapa sih Mut?" tanya Kamil yang abis dari bagian depan bus.


"Aku dingin Mil, tapi lupa gak bawa jaket," kataku merasa tak enak.


"Udah tutup ACnya?" tanyanya sambil mengecek, aneh ngapain tanya kalau akhirnya dia cek sendiri.


Dia berlalu berjalan kembali ke belakang sambil merayap berpegangan sandaran kursi satu dengan satunya, karena bus berjalan dengan tidak seimbang sambil bergoyang-goyang.


Aku menghembuskan napasku dan memejamkan mataku sambil meluruskan kakiku, tangan ku lipat di dada menyembunyikan di balik lengan satu dengan yang lainnya supaya tidak terasa dingin.


"Lo mau pakai syal gue, Mut?" tanya April yang duduk di depanku.


"Gak deh terimakasih, entar kamu kedinginan. Aku gak papa kok, udah sampai sini bentar lagi juga sampai," jawabku halus. Aku tak enak memakai barang orang lain takutnya dia hanya basa-basi, apalagi aku gak kenal dengan dia, tahu namanya aja baru tadi tanya Shinta.


Dia kembali duduk dan aku memejamkan mataku kembali, hingga aku merasakan ada yang meletakkan sesuatu di tubuhku, aku langsung membuka mataku. Dan yang aku lihat tangan Kamil menyelimutiku dengan jaketnya.


"Sorry Mut," kata Kamil sambil menggaruk keningnya, aku yakin itu tidak gatal namun dia tengah salah tingkah.


"Gak papa kok, kamu selimutan pakai apa kalau jaket kamu pinjamkan ke aku," kataku sambil tersenyum.


"Gue kan cowok lebih kuat dari cewek," jawabnya dengan wajah jail, kalau dia seriusan aku bakal acungi jemol, namun ini dia dengan mode on jailnya, harus gue acungi apa dong?


Bogeman?


Atau


Pisau?


Hehehe, dasar Mutia gak tahu terimakasih.


"Gue dibawain selimut sama mama," katanya sambil senyum canggung.


"Oh," jawabku singkat, ya benar Kamil selain letoy dia juga terkenal dengan sebutan anak mama. Apa-apa kata mama dan mama bilang.


"Gue ke belakang," katanya sambil kembali ke belakang.


"Thank ya Mil," kataku pelan saat aku menoleh aku melihat dia tersenyum dan mengangguk.


Aku kembali memposisi dudukku dan menggunakan jaket Kamil untuk selimut. Aku memejamkan mataku dan bersyukur dipinjami Kamil jaket jadi aku tidak kedinginan.


Kalian mau tahu kenapa Shinta tidak bangun meski aku bergerak terus, jawabannya karena dia tadi sebelum berangkat minum obat butiran kecil berwarna kuning, kata dia sih biar gak mabuk di jalan.


Ya, Shinta mabukan dia gak bisa naik bus terlalu lama, entahlah kayak semacam phobia gitu kali ya kalau kelamaan di dalam bus. Tapi kalau cuman sebentar limabelas atau tigapuluh menit dia masih kuat tapi selebihnya dia gak bisa. Jadi dia minum obat itu dan sepertinya saat ini obat itu tengah bekerja dan membuatnya tertidur di perjalanan.


-----------------------


Malam gelap tak menjadi penghadang bagi perjalanan kami, setelah melakukan perjalan panjang kami memasuki kawasan Batu. Ah, kalian tahu rasanya badanku pegal semua, bukan hanya karena tidur sambil duduk akan tetapi juga karena jalan yang berlenggak-lenggok.


Aku jadi ingat dengan pelajaran fisika di kelas dua SMP tentang pengungkit sederhana dan pengungkit rumit. Di bab itu juga dijelaskan tentang bidang miring, dan jalan di pergunungan yang berputar-putar itu gunanya adalah membantu kita untuk menuju tempat tujuan.


Kami masuk ke jalan satu arah atau kembar yang dipisahkan. Ah aku sulit menjabarkannya, yang jelas jalan ini dibelah menjadi dua yang ke kanan berada di kanan dan ke kiri berada di kiri.


Kami belok ke kanan di sebuah perempatan jalan ada tanda rambu-rambu lalulintasnya. Entah berbelok atau tidak akan tetapi aku merasa lurus terus, kemudian aku melihat di pojokan ada musium angkot, dan kami masih lurus terus hingga kami berbelok ke kiri dan memasuki sebuah kawasan hotel yang nampak sederhana di depan, tidak begitu luas, terbukti dari tempat parkir bus yang harus di luar.


Akhirnya kami sampai di hotel. Dan kini saatnya kita meluruskan tubuh dan beristirahat mengumpulkan tenaga untuk esok hari.


---

__ADS_1


__ADS_2