
Wahai hati yang tengah merindu.
Merindu hati yang pilu.
Kepiluan yang membekukan hati.
Wahai Hati yang masih menanti.
Menanti, sebuah kepastian yang terpendam.
Terpendam dalam jurang yang begitu dalam.
Bersabarlah, karena akan ada buah yang indah.
--------------------
Aku berbaring di atas kasurku, aku meraih handphone X2 milikku. Ku membuka aplikasi browser bersimbul 'O' berwarna merah. Setelah loding beberapa saat, aku mengetik '0.facebook.com' Ini adalah layanan buka internet gratis khusus facebook dari layanan provider yang aku gunakan.
Setelah menunggu beberapa saat aku melakukan log in di akunku, aku langsung menuju beranda. Dan yang paling atas berandaku adalah status dari Abi.
Rahman.Abiyana
"Aku bahagia mengenal dia, dan kini aku benar-benar bahagia."
Apa maksudnya, dia?
Siapa yang dimaksud Abi, sayang sekali aku tak bisa membuka gambar karena di 0.facebook.com tidak menampilkan gambarnya. Ada rasa penasaran bersemayam di dalam pikiranku.
Yang menyukai banyak, ada juga beberapa komentar kepo. Aku membaca beberapa komentar yang memgucapkan selamat ada juga yang berkomentar bahwa dia normal juga.
Apa maksudnya coba?
Tanpa berpikir panjang aku menjalankan kusorku menuju namanya dan klik. Langsung masuk ke dalam profilnya.
Aku diam memandang ponselku sejenak, haruskah diriku mencari tahu perkembangannya?
Aku menimang semuanya, membandingkan baik dan buruknya. Tapi anehnya, tanpa persetujuanku tangan ini sudah bekerja lebih dahulu.
Dasar otak tak sinkron.
Aku membaca beberapa statusnya dan juga pesan dinding dari teman-temannya. Saat aku mendapati satu pesan yang ditulis oleh seorang gadis yang entah mengapa membuatku merasa sesak.
"Aku bahagia karena kamu memperjelas status kita."
Apa maksud dari pesan itu?
Apa dia sudah, ah lupakan. Aku tak ingin memikirkannya lagi, aku langsung menutup aplikasi dan meletakan handphone di atas nakas.
Aku merapikan tempat tidurku dan berbaring kembali, sambil memandang ke langit kamar aku menggumankan doa sebelum tidur dan memakai selimutku.
Dan kini aku siap untuk bernaung di bawah belaian sang malam di gemerlap iming-iming sang mimpi.
---------------------------
Pagi yang tenang, setenang nyanyian dari langit yang berkumandang. Rintikan mutiara dunia menghujani dengan penuh kelembutan. Sang surya bersembunyi sebentar untuk memberi kesempatan.
Langit nampak tenang dengan warna putih keabu-abuan, warna yang merata meski terkesan menakutkan. Namun, ada satu hal yang terlupakan ada ketenangan yang tercipta. Inilah nyanyian alam.
"Kamu gak mau ayah antar, Sayang?" tanya ayah saat aku masih mengintip keadaan di luar dari jendela ruang tamu.
"Ayah tidak terepotkan?" tanyaku pelan. Aku cukup tahu diri untuk menjadi anak yang mandiri. Tempat ayah mengajar berbeda jalan dari tempatku menuntut ilmu, ibarat di peta aku di ujung selatan sedang ayah bekerja di ujung utara. Jadi itu akan sangat merepotkan jika aku berangkat bersama ayah.
"Siapa sih yang gak mau direpotin sama anak sendiri, justru ayah malah senang karena ayah merasa berguna." Aku tersenyum tipis, kemudian duduk di sofa di dekat ayah. Dengan sikap bermanja-manja aku menyandarkan tubuhku.
''Memangnya ayah gak suka anaknya mandiri?" tanyaku dengan nada merajuk, sesekali mendongak melihat wajah ayah.
"Bukan tidak suka, hanya saja ayah merasa gak berguna." Aku mendongak memandang wajah sayu yang kini mulai menua itu dengan senyum tipis. Ah ayahku, manusia yang menjadi cinta pertamaku di dunia kini dia nampak tua.
"Ayah selalu berguna bagi Mutia, ayah adalah pelindung Mutia setelah perlindungan dari Allah. Mutia yakin jika Mutia sakit, ayahlah orang yang pertama akan merasakan sakit yang Mutia rasakan. Jadi ayah sangat berguna bagi Mutia." Aku merasakan butiran air mataku memeleh mengaliri pipiku, dan aku merasakan pelukan ayahku. Aku heran dan entah mengapa hari ini aku bawaanya ingin menangis saja, ada rasa sesak di dalam dada yang seakan memancingku untuk mengeluarkan air mata.
"Ayah masih enggan melepas kamu Sayang, tapi sepertinya kamu memang benar-benar sudah dewasa." Ayahku menghapus sisa aliran yang membasahi pipiku. Aku mengangguk setuju jika saat ini aku sudah dewasa tanpa terasa.
Dulu kala masih kecil, aku selalu memiliki keinginan untuk segera tumbuh besar supaya aku bisa melakukan segala hal yang aku inginkan sendiri. Namun kini, aku ingin kembali menjadi sesosok balita yang dihujani seribu kasih sayang dari semua orang hingga tak terhingga.
Apa ini salah?
Bukankah ini sifat manusiawi?
Selalu merasa kurang atas apa yang telah dimiliki. Tapi sungguh, jika bisa waktu berputar dan bisa memilih. Aku memilih menjadi balita yang tak tahu apa-apa dibanding menjadi dewasa dan mengenal banyak hal.
"Sudah, ayo Ayah antar," kata ayah kemudian kami berdiri bersama-sama. Sambil merapikan seragamku aku melangkah menuju garasi rumah, tak lupa aku membawa payung lipat dan payung besar untuk kami nanti turun dari mobil.
Aku duduk di samping tempat duduk sang driver, aku mengamati wajah ayahku yang nampak tenang dan berwibawa saat mengemudikan mobil kesayangannya. Aku sungguh suka aura wajah yang ditampakannya, meski aku lebih suka senyum yang menghiasi wajah beliau.
Dia sosok pelindung yang kuat, aku sangat bangga memilikinya. Hingga tanpa sadar aku berpikir bahwa aku tak pernah mau berbagi dirinya dengan siapapun, bahkan kak Rifa.
"Jangan memandang ayah seperti itu, nanti kamu bisa jatuh cinta," kata ayah dengan suara menggoda dan senyum tertera di wajahnya. Ah, itu ekspresi favoritku.
"Apa? Jatuh cinta???" kataku dengan wajah dibuat sesyok mungkin, padahal di dalam hati aku tengah berbunga-bunga, hingga ekspresi dan konotasi ucapanku membuat ayah terkekeh.
"Waah ide yang bagus itu, Yah. Jadi aku tak perlu patah hati," kataku dengan antusias. Dengan wajah berbinar, entah apa yang barusan aku ucapkan. Itu keluar begitu saja tanpa aku pikirkan terleboh dahulu.
"Patah hati?" tanya ayahku meyakinkan apa yang dia dengar dari ucapanku. Aku melengos kala ayah menangkap ucapanku itu. Ah, aku buka kartu. Bukankah spontanitas itu sebuah kejujuran?
"Iya Ayah, patah hati." Aku melihat ayahku tengah mengerutkan dahinya, jika seperti itu ayahku sungguh terlihat lebih tua dari biasanya.
Mungkin alangkah lebih baiknya jika aku segera memintanya untuk menikah, sebelum beliau dinyatakan tidak laku.
Ah menikah, sanggupkah aku menerima hal itu?
Sebenarnya di lubuk hatiku aku merasa ada yang kosong dan perlu di isi, oleh sebab itu aku mulai meraba segala hal yang kurang dalam hidup ini. Dan aku menemukannya–––melihat ayah menikah.
"Mutia, dengar ayah baik-baik." Ayah berkata dengan serius, membuat pandanganku fokus ke arah beliau, meski beliau masih sibuk dengan kemudinya.
Ada apa ini?
Kenapa jadi deg-degan katak gini?
__ADS_1
Aku buat salah apa ya? Aku mulai menerawang mengingat setiap detail kejadian hari ini.
"Ayah tidak melarang kamu jatuh cinta, namun ayah secara pasti melarang kamu untuk pacaran. Kamu tahu kan sayang maksud ayah." Aku mengangguk, aku masih ingat pesan itu dulu saat aku masih di bangku SMP.
"Rasa suka dengan teman lelaki itu wajar adanya, namun yang tak wajar itu memiliki hubungan yang tak selayaknya. Coba kamu bayangkan, jika kamu berhubungan dengan cowok, abis itu kamu memiliki perselisihan dan merenggang bukankan itu memberi kesan tidak nyaman. Dan kamu pasti tahu siapa yang dirugikan? Yang jelas adalah kamu. Jadi jangan menjalin hubungan yang tidak berguna. Ingat jodoh akan menjemput kamu tepat pada waktunya. Jadi jangan pinjamkan dirimu pada orang lain biar jodoh kamu juga tidak dipinjam orang lain." Begitulah nasihat ayah dulu.
Beruntung bukan aku memilikinya? Beliau adalah perisai di dalam hidupku.
"Yah, sebenarnya Mutia menyukai seseorang, namun seseorang itu sulit tergapai karena keterbatasan dan jarak yang membentang." Ayahku terkekeh saat mendengar penuturanku. Aku heran, apa ada yang lucu? Kan aku bicara serius.
Ah, ayah selalu seperti ini.
"Bahasa kamu jadi puitis banget sih," goda ayahku, membuat rona merah menghiasi pipiku karena aku merasakan rasa hangatnya.
"Suka itu wajar dan lakukan sewajarnya. Ayah yakin jagoan putri ayah ini pasti bisa melakukan yang terbaik untuk menguasai rasa sukanya." Ayah memutar setirnya ke kiri dan menghentikan mobilnya di depan sekolah.
"Kita sudah sampai tuan putri," kata ayahku sambil tersenyum. Aku mengangguk bahagia. Menjabat tangannya tak lupa mencium pipi kirinya. Dan aku mendapatkan balasan dicium keningku.
Setelah melakukam rutinitasku, aku membentangkan payung lipat berwarna ungu di dalam dan abu-abu di luar itu. Dan keluar mobil, tak lupa mengucapkan salam dan melambaikan tanganku.
Kata 'hati-hati' tak lupa keluar dari bibirku dan bibir ayahku. Aku bergegas menuju ke gerbang, di sana sudah ada pak Rahmad yang berdiri, aku menyapa beliau sambil berlalu. Aku tidak menyempatkan diri untuk ngobrol karena ku lihat beliau tengah sibuk menata parkiran, selain itu suasana tengah hujan.
Ah hujan, aku jadi ingat sebuah hadits yang aku baca dalan sebuah artikel. Yang menceritakan tentang Rosulullah yang selesai sholat subuh kemudian mengatakan bahwa hujan itu adalah rahmad, maka siapa yang berburuk sangka dengan hujan maka dia mencela rahmat dari Allah. Pokoknya isinya kurang leboh seperti itu, aku lupa-lupa ingat.
Aku berjalan menuju kelas dengan langkah pelan, saat melintasi parkiran kendaraan bermotor aku melihat Ryan, aku menyapanya dan menawari ke kelas bersama. Jadilah kami sepayung berdua. Jangan beranggapan sesuatu, aku hanya murni mau menolong. Meski sepanjang berjalan ada beberapa siswa-siswi yang menoleh dua kali untuk memastikan apa yang dia lihat. Aku tetap acuh, tak perduli karena tujuan awalku hanya menolong tidak lebih.
"Makasih ya," katanya saat aku sibuk melipat payungku. Aku tersenyum dan mengangguk. Kemudian kami berjalan bersama, kami membicarakan banyak hal tentang pelajaran.
Mulai dari pekerjaan rumah yang diberikan bu Wina yang bejibun, bagaimana tidak kemarin tanpa menjelaskan tiba-tiba bu Wina guru matematika menyuruh mengerjakan soal sebanyak 60 soal, dan harus rinci dengan caranya meski itu adalah pilihan ganda.
Coba bayangkan beratnya tugas itu.
Setelah itu kami membahas tentang pelajaran olahraga yang ada di jam pertama dengan keadaan cuaca hujan seperti ini, hingga tanpa sadar kami sudah ada di depan kelas.
"Gue duluan," kata Ryan, aku mengangguk dan melangkah mendekati pojokan pintu untuk meletakan payungku.
Aku masuk ke dalam kelas yang nampak ramai bak pasar sayur, ada yang mengeringkat baju dengan mengipaskan buku, ada yang berebut kipas angin, ada yang mengibaskan dan menyisir rambut. Hari ini kami menggunakan seragam olah raga, jadi semua menggunakan celana panjang.
Meski SMA ku ini kebanyakan tidak berjilbab namun pakaian mereka tetap sopan, terbukti dari seragam standar dari sekolah semua menggunakan rok panjang, walaupun baju ada yang pendek untuk yang tak berjilbab dan panjang untuk yang berjilbab. Jadi jangan mencari siswi yang menggunakan rok selutut karena itu tidak ada di keseharian kecuali hari tertentu. Seperti saat upacara bagi pembawa bendera.
Ya, begitulah peraturan di sekolah ini. Menakjubkan bukan?
Aku melangkah menuju kursiku sambil berjabat tangan dengan siswi lainnya seraya berbasa-basi. Anggaplah sebuah briefing pagi.
"Lo bawa jilbab ganti gak?" tanya Shinta sambil menbenarkan keruncit rambutnya.
"Bawa kok, kenapa?"
"Gak, nanti kalau kehujanan kan jilbab lo basah jadi harus ganti biar seragam lo gak ikutan basah," kata dia kemudian duduk, mandang ke depan dengan murung.
"Iya bawa kok, kita sepemikiran." Aku mengikuti jejaknya untuk duduk. Sesekali meliriknya. Aku berpikir belakangan ini ada yang tidak beres dengan sahabat diamku yang satu ini.
Tapi apa?
"Lo udah denger berita kemenangan kelas bahasa di event menulis?" tanya Shinta pelan, sepertinya dia merasa tak enak. Aku tersenyum dan mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
"Mutia," panggil sosok lelaki itu, membuatku berhenti.
----
Senyum senjata ampuh untuk menutup diri, namun Diam ternyata tak kalah ampuhnya. (Kru Kepo)
----------------
"Iya, saya," jawabku tidak menyembunyikan rasa terkejutku. Bagaimana tidak terkejut, dia mengetahui namaku. Padahal aku bisa meyakinkan bahwa aku sama sekali tidak kenal atau mengenali dirinya.
"Gak perlu terlalu formal," kata Rouf sambil melambai tangan. Dia nampak begitu santai terbanding terbalik denganku yang saat ini terasa kaku.
"Bisa ngobrol sebentar," pintanya kepadaku. Aku merasa tak enak hati, aku menoleh ke sekeliling saat ini kami jadi pusat perhatian, aku mengangguk ragu untuk menyetujui permintaannya. Aku merasa tak sopan jika menolaknya.
Kami melangkah keluar dan duduk di teras, kebetulan di kelas satu tepat di teras ada tempat duduknya.
"Kamu pasti bingung karena aku tahu namamu," kata dia memulai pembicaraan, aku hanya mengangguk enggan mengeluarkan suara. Sesekali aku menatap tidak enak ke sekeliling.
"Sebenarnya aku juga belum mengenalmu, namun aku sudah tahu namamu dan fotomu dari seseorang." Dia memandang ke arahku penuh arti.
Aku masih memikirkan yang dia katakan, jika dia mengenalku karena sebuah foto, jangan bilang dia pembunuh bayaran. Aku memandangnya dengan tatapan menilai.
Emmm....
Sepertinya dia tak terlihat seperti itu. Jika dia pembunuh bayar pasti dia memiliki wajah yang seram, tapi ini wajahnya cukup ramah lingkungan.
Dan jika dia hendak membunuhku pasti dia tidak akan menampakkan dirinya di depan korbanya. Aku kembali menoleh ke arahnya, dia nampak kurang nyaman dengan pandangan menilaiku namun apa perduliku.
Aku hanya menggelengkan kepala menyadari pemikiran konyolku.
"Siapa yang memberikan foto itu?" tanyaku penasaran. Selain penasaran juga berharap bisa menghilangkan paranoidku.
"Ayahmu," jawabnya santai.
"Aku senang bisa melihatmu langsung, benar kata ayahmu jika kau adalah gadis yang unik dan baik. Aku bisa melihat dari raut wajahmu." Aku masih terpaku dalam pikiranku.
Untuk apa ayah memberikan fotoku kepadanya?
Jangan bilang ini seperti cerita telenovela atau sinetron-sinetron itu. Bahwa ayah tengah menjodohkan diriku. Aku menggelengkan kepala dengan cepat, membuang pemikiran itu. Aku masih 16 tahun, ayah tak serius menjodohkan diriku 'kan?
Aku menghela napas saat lelaki itu berpamitan untuk pergi karena tak enak meninggalkan patnernya.
Aku hendak beranjak namun aku urungkan saat melihat Desi dan Madina di depanku. Aku mengerutkan dahi bingung dengan ekspresi sinis mereka.
Apa aku berbuat hal yang salah?
"Gue kira lo bakal berubah setelah kejadian kemarin, tapi enggak lo gak pernah akan berubah," kata Madina sambil berdecak sebal.
"Maksudnya?'' tanyaku bingung, aku benar-benar tidak paham dengan arah pembicaraannya. Dia tiba-tiba muncul dan berkata sesuatu yang tak aku pahami, saat ini moodku sedang buruk jadi aku hatus benar-benar menjaga tekanan emosi.
"Lo niat banget sih tebar pesona, lo kira dengan deketi kak Rouf lo bakal bisa menangin event ini? Cara lo tu muna tau gak," sahut Madina, aku melihat Desi tersenyum sinis.
__ADS_1
Aku cukup tersinggung dengan ucapan Madina, aku bukan malaikat yang akan menerima semua cercaan ini begitu saja, aku sudah cukup diam dalam tingkahnya selama ini.
Aku tahu bahwa dia menghasut beberapa orang dengan membeberkan sesuatu yang tak sesuai dengan diriku hingga beberapa temanku lainnya menjauhiku, namun aku hanya diam karena aku berpikir tak ada gunanya meladeni sifat kekanak-kanakannya.
"Aku memang tidak tahu arah pembicaraan kamu, ini bukan drama. Ini kehidupan nyata jadi aku cukup tahu bahwa cara yang kamu ucapkan itu tak akan berhasil." Aku melihat wajah kaget mereka berdua, kemudian aku tersenyum tipis, "kalau tidak tahu kebenaranya jangan asal bicara, itu akan menimbulkan fitnah saja."
Aku beranjak dari dudukku, aku merapikan pakaianku dan hendak melangkah sebelum sebuah suara terdengar, "jangan bersikap munafik, gue tahu lo hanya malu karena ditolak dan malu karena kita telah mengetahui akan busukmu dibalik wajah polosmu."
Aku terdiam terpaku, aku tak pernah merasa sehina itu selama ini dan tak pernah ada seseorangpun yang mengatakan hal sekasar itu padaku.
Aku diam dalam posisiku, aku seolah tak memiliki tenaga untuk melangkah. Ingin rasanya aku merobek mulut tak tahu sopan santun itu, namun aku tidak mungkin melakukannya.
Ya Allah kuatkan hamba, tipiskan emosi hamba. Aku membaca ta'awud berulang-ulang, mengambil napas dengan rakus dan menghembuskan dengan pelan.
Aku merasa ada yang menarik lenganku, saat aku melihat siapa yang memegangku aku mencoba tersenyum meski gagal.
"Lo gak papa?" tanya Feby sambil menuntunku ke tempat duduk dekat pos satpam. Aku menggelengkan kepalaku, "aku tidak apa-apa."
"Sorry gue telat datangnya," kata Feby penuh penyesalan, aku tersenyum dan kembali menggeleng.
"Terimakasih sudah menolongku," kataku lirih sambil mendongak ke atas, menghalau air mata yang hendak jatuh. Aku tidak boleh menangis, itulah yang aku rapalkan di dalam hati.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanyaku setelah menguasai diri.
"Seseorang yang lo kenal dan gue kenal," kata dia dengan senyum penuh misteri. Aku tersenyum dan menggenggam tangannya, aku sungguh berterimakasih padanya, aku tak tahu apa jadinya jika tadi dia tidak membawaku pergi.
Bisa jadi aku akan kehilangan kontrolku dan menyerang balik Madina dengan kata-kata yang mungkin akan menyakiti dirinya juga diriku atau lebih parah lagi aku akan diam dan menangis di depan mereka.
"Lo gak papa?" tanya Shinta menyadarkanku dari ingatan kejadian dua minggu yang lalu.
"Gak papa kok," jawabku sambil merapikan tasku yang ku masukan laci.
"Gue masih heran, kenapa lo tiba-tiba memutuskan tidak jadi ikut event menulis itu," kata Shinta memandang curiga, Ana dan Lana langsung menoleh ke belakang, sepertinya mereka juga penasaran.
"Gak papa kok, aku hanya kurang pas aja dengan tema yang diusung." Shinta hanya diam sedang Ana dan Lana mangut-mangut tanda mengerti.
"Gue gak percaya, pasti ada hal lain dibaliknya." Aku memang tidak menceritakan apapun pada siapapun, aku bahkan meminta kepada Feby untuk merahasiakan kejadian itu.
"Aku kan sudah bilang gak ada kok Shin," kataku tergagap, aku merasa terintimidasi dengan pandangan Shinta.
"Woe, ditunggu pak Jono di lapangan." Suara itu menyelamatkanku dari terpojokkan pandangan Shinta. Ah, lebih baik melihat Shinta bertanya banyak hal dari pada diam dan memandang curiga.
Aku menghembuskan napas berat kemudian melangkah menuju keluar kelas bersama yang lainnya.
Semoga itu tadi pambahasan terakhir tentang masalah itu, aku tak mau terlarut-larut dan terus-terusan mengingat kejadian tidak mengenakan itu.
--------------
Kami berjalan menuju lapangan out door yang ada di belakang, tak menghiraukan gerimis yang menyebar.
Kami baris memanjang di lapangan basket, dikomando oleh Ryan dengan posisi cowok di sebelah kanan dan cewek di sebelah kiri.
Setelah mengambil jarak dengan merentangkan tangan, kami mulai berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Setelah selesai berdoa aku menengadahkan kepalaku ke atas, aku ingin merasakan terpaan rintik hujan.
Shinta yang ada di sebelah kananku juga melakukan hal yang sama, Shinta pernah bilang padaku dia tidak suka hujan, namun dia bahagia melihat hujan.
Bukankah itu sesuatu yang aneh?
Aku dulu sempat menanyakan alasannya namun dia sepertinya masih enggan bercerita. Mungkin itu sbuah rahasia yang tidak sembarabgan orang boleh tahu.
Pemanasan dimulai, kami menengklengkan kepala ke kanan dengan hitungan 2x8, kemudian pindah ke kiri. Menengok ke kanan dan kekiri dengan hitungan yang sama, dan beberapa senam tangan sederhana seperti dua tangan di dada digerakkan lurus kemudian digoyang merentang secara seimbang. Di akhir pemanansan kami lari mengelilingi lapangan sebanyak tiga kali.
Aku berlari dengan santai dan diam, aku ingin menikmati guyuran air dari langit ini. Aku baru mendapat dua kali putaran namun yang lain sebagian besar sudah selesai.
"Mut, hujan itu menenangkan dan menggelisahkan secara bersamaan ya," kata Shinta membuatku menoleh ke arahnya. Dia hanya memandang kosong ke depan.
"Mengapa kamu berpikir seperti itu?" tanyaku heran, dia berhenti dari larinya. Aku melihat wajahnya yang memerah dan matanya berkaca-kaca.
Aku berjalan mendekatinya, aku bisa membedakan bulir air matanya dan bulir air hujan yang mencampurinya.
Shinta menangis, dia menangis di bawah guyuran hujan. Dan saat itulah hujan deras turun, banyak akan yang mulai pindah tempat ke teras. Namun, aku dan Shinta masih belum berpindah tempat.
"Jika kamu ingin menangis, mengapa harus menunggu hujan?" tanyaku sambil menuntunnya ke teras sebuah ruangan yang ada di bagian barat, bertolak belakang dengan teman-teman lainnya.
"Aku tak ingin terlihat lemah, Mut." Dia mulai berjongkok dan terisak. Aku tak pernah tahu apa yang membuatnya seperti ini namun yang aku tahu saat ini dia pada fase tak mampu mengontrol diri.
Aku ikut berjongkok di dekatnya, aku hanya diam menemaninya yang ingin melampiaskan sesuatu, entah kesedihan atau rasa kesal. Aku membelai punggungnya halus, dan memandang menerawang ke depan.
"Kamu tahu Shin, menangis itu bukan berarti kita lemah. Justru karena kita ini terlampau kuat, sehingga Allah menguji kita dengan hal yang lebih besar."
"Gue dan bang Abi kehilangan di saat hujan, empat tahun yang lalu saat keluarga gue ngadain tour family ke Malang. Saat itu adalah masa tersulit dalam hidup kami. Aku kehilangan kedua orang tuaku dan bang Abi kehilangan sosok panutan dalam keluarga kecilnya, yaitu om Ridwan ayah bang Abi." Dia mulai bercerita meski tersendat-sendat. Aku cukup terkejut, aku hanya diam seksama mendengarkan.
"Sejak saat itu gue tinggal dengan bang Abi dan ibunya, ibu bang Abi sangat terpukul. Beliau menikah di usia muda, beliau tidak pernah merasakan dunia kerja. Saat ditinggal om Ridwan beliau mulai merintis banyak usaha. Dimulai dari kuliner, fashion, pernak-pernik, pertanian dan juga perternakan. Namun semuanya gagal, dan akhir dari usaha itu bisa dipastikan saat hujan. Bukan gue mencela hujan, hanya saja saat hujan turun gue merasakan kegelisahan dan sebuah ketakutan." Aku menggenggam tangannya menguatkan, ternyata sesuatu yang nampak kokoh memiliki sisi kerapuhan juga. Allah benar-benar adil dalam membagi segala hal kepada manusia.
"Bang Abi yang dulu lebih ramah dari yang sekarang, meski sekarangpun dia ramah tapi sudah berubah, dia berbeda dan aku lebih tak mengenalinya. Sudah hampir enam bulan yang lalu bang Abi belum juga mengirim kabar, hal ini membuat tante sedih dan itu membuatku tak nyaman. Aku sudah berulang kali menghubunginya namun tak pernah bisa. Kami khawatir, Mut." Shinta kembali terisak, aku jadi tak tega melihatnya.
Jadi hal yang membuatnya tidak fokus selama ini adalah masalah ini. Sungguh aku tak pernah tahu jika dia itu adalah yatim piatu, selama ini aku yang terlalu acuh hingga tak mengenali sahabatku sendiri. Aku menyesal dan sangat menyesal. Mungkin selama ini aku memang orang yang egois, selalu memikirkan diri sendiri tak acuh pada orang lain.
"Nanti kita coba cari tahu tentang Abi ya," kataku menenangkan. Dia mengangkat wajahnya dan membersihkan bekas air matanya dengan kasar.
"Maafkan aku membuatmu mengingat hal itu kembali." Dia menggenggam satu tanganku dan tanganku yang bebas menepuk pelan genggaman itu. Aku sungguh bersyukur atas takdirku. Biarpun ayah dan ibuku berpisah, paling tidak aku masih bisa melihatnya, menggapai dan memeluknya. Ternyata di puar sana masih banyak yang kurang beruntung dibanding diriku.
"Tidak masalah," kataku sambil tersenyum. Kemudian kami berdua menoleh ke dua sosok cowok yang menerobos hujan menuju ke arah kami.
"Kalian gak papa?" tanya Irvan sambil mengibaskan rambutnya.
"Gak papa kok," jawabku pelan. Sedang Ryan hanya mengamati kami dalam diamnya, dan saat mata kami bertemu dia hanya tersenyum tipis dan mengangguk.
"Olahraga dibubarkan, disuruh ganti baju dan cari anget-anget ke kantin," kata Irvan lagi. Dan menatap Shinta penuh penilaian kemydian membuang muka.
Aku dan Shinta berdiri, tapi entah mengapa kepalaku terasa pening, dan tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Abi menghilang dari pengedaran. Dia tak ada kabar.
Jakarta bukan kota kecil, apa yang terjadi padanya?
"Mut," panggil Shinta, aku menoleh kemudian mengangguk. Di dalam otakku aku masih memikirkan semua itu dalam diam. Kemudian kami melangkah menuju kelas bersama dengan pembicaraan ringan.
----------
__ADS_1