
Mungkin takdir sudah menentukan waktunya, sehingga hal yang sudah hampir 9 tahun dihindari tak mampu lagi dilakukannya.
Syarifa Mutia, kini tengah berdiri di pintu aula SMA 31 mencoba mengatur napas untuk menenangkan detak jantung yang terasa begitu memburunya. Hari ini adalah reuni dua angkatan di atasnya dan satu angkatan di bawahnya. Dia sudah menghindari acara semacam ini dua kali, namun untuk yang ketiga ini dia tidak bisa menghindari karena desakan dari teman-temannya.
Dan di sinilah dia, di tengah keramainan yang terasa begitu membingungkan. Bukan karena tidak mengenal akan tetapi karena waktu yang terus berjalan dan jarak menjadi penghalang sehingga seperti ada dinding tak kasat mata yang menjadi pembatas keakraban yang dulu pernah tercipta.
Mutia nampak gelisah, dia memandang ke segala arah untuk mencari seseorang yang mungkin mengenalinya dan mengajaknya bicara. Namun hasilnya nihil, tidak ada satu orangpun yang menganggapnya ada, mereka terlalu sibuk dengan segala aktifitas memadu rindu dengan kawan lama. Perlu diketahui, bahwa reuni ini khusus untuk angkatan anak IPA jadi seluruh orang ada di sini adalah anak IPA.
"Akhirnya kau datang juga," kata seorang lelaki dengan kemeja merah maroon yang sudah dilipat sampai siku-- kepadanya.
Mutia diam sejenak, dia tidak pernah akan melupakan wajah lelaki yang ada di depannya, dia yakin benar akan sosok itu, sosok yang pernah mengisi masa abu-abu putihnya, meski berakhir dengan hal yang tidak mengenakkan. Ah mungkin lelaki ini masih menyimpan luka untuknya.
"Alhamdulillah, kebetulan tidak ada kesibukan," jawab Mutia mencoba tersenyum meski terasa hambar. Ternyata begitu sulit menyimpan rasa ini, sehingga kala bertemu kembali, rasa itu mencuat kembali ke permukaan hati.
"Bagaimana kabarmu?" tanya lelaki itu dengan nada dibuat sebiasa mungkin, karena nampaknya dia juga terkejut akan kehadiran Mutia.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik." Mutia menjawab dengan tenang---mencoba tenang tepatnya.
"Bagaimana kabar kak Hasan?" tanya Mutia, dia berusaha menjadi biasa seperti dulu awal perkenalan.
"Aku baik, lebih baik." Jawab lelaki bernama Hasan itu dengan meyakinkan. Mutia tersenyum dan mangut-mangut tanda mengerti maksud dari ucapan itu.
"Apa yang membawamu menghadiri acara yang sudah kau masukkan ke daftar list hitam?" tanya Hasan sinis.
"Aku diundang dan aku ada waktu luang." Mutia mencoba menjawab dengan cuek.
"Kau ingin bertemu dengan siapa? Sang ketua OSIS ini atau sang kapten basket?'' Mutia memandang penuh arti ke arah Hasan dan tersenyum tipis.
"Sang kapten basket selalu mengundangmu dalam acara ini––– dua kali, namun kau tak pernah muncul. Dan tahun ini sang ketua OSIS mengundangmu dan kau dengan senang hati menghadirinya. Apakah ini pertanda something?"
"Tidak, maksudku ini hanya sebuah kebetulan yang sudah ditakdirkan" jawab Mutia gugup dan merasa tidak nyaman. Dia masih merasa takut jika hal yang dia lakukan akan menimbulkan kesalahpahaman seperti yang terjadi dulu.
"Kebetulan?" ulang Hasan sambil mangut-mangut penuh arti.
"Kebetulan yang sangat menyenangkan."
"Maksudnya?" tanya Mutia heran dengan ucapan Hasan.
"Ya, di tahun ini ada banyak sekali kebetulan bukan. Yang pertama kau hadir di reuni ke 3 angkatan ini. Kedua aku yang mengundangmu karena sang kapten basket tidak menjadi panitia tahun ini karena ada pernikahan di rumahnya. Ketiga suatu kebetulan yang sangat luar biasa karena malam ini sang ketua basket akan mengenalkan seseorang. Waw, bukankah ini kebetulan besar dalam satu hari bahkan dalam hitungan beberapa jam." Hasan tersenyum penuh arti saat melihat ekspresi wajah Mutia yang berubah-ubah, dia cukup tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Karena, dia sudah bertemu banyak orang dan keadaan membuatnya harus tahu dan menilai seseorang dari gerak-gerik dan juga ekspresi wajahnya.
"Itu bukan hal besar." Mutia membuka mulutnya, dia merasa terpojokan dengan segala keadaan. Dia berharap ada temannya yang menyelamatkan dia dari keadaan yang sangat tidak menyenangkan ini. Kemana sebenarnya teman-temannya yang sudah memaksanya untuk datang, mengapa tak terlihat seorang pun.
"Oh ya, bisa jadi." Hasan berkata dengan cuek dan memandang ke segala arah.
"Lihat itu orang yang kita bicarakan sudah datang." Hasan menunjukkan keberadaan seorang lelaki yang bergandengan dengan perempuan. Lelaki dengan postur tegap dan nampak begitu tampan dan berwibawa. Tidak banyak yang berubah dalam dirinya kecuali warna kulit yang semakin terlihat bersih dan yang lebih terlihat lagi adalah aura dewasa di wajahnya.
"Hay boy, I am here!" seru Hasan tiba-tiba dan nampak bahagia. Kemudian secara refleks detak jantung Mutia meningkat, dia merasa semua ini belum saatnya dan ini tidak sehat untuk kinerja jantungnya. Kemudian dia segera melipir untuk meninggalkan tempat tanpa sepengetahuan siapapun.
"Hay San. Assalamualaikum," sapa lelaki memakai pakaian khas kantor yang nampak masih lengkap dengan dasinya.
"Waalaikumsalam, bagaimana kabar lo?" Hasan dan lelaki itu saling berpelukan dan berjabat tangan.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik, lo?''
"Seperti yang lo lihat. I am okey."
"Waw, bawa pasangan," seru Hasan dengan suara riang bak tanpa sedikitpun beban. Dia mengetahui benar sepak terjang hubungan dua orang itu hingga membawa mereka ke dalam hubung seperti saat ini.
"Iya, ini Anandi." Merasa disebut namanya Anandi langsung menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Ini temanku Hasan." Lelaki itu mengenalkan pasangannya kepada sahabatnya.
"Cie, mentang-mentang mahrom gandengan terus, lepas napa gak bakal kesesat kok." Hasan menggoda sahabatnya seperti biasa.
"Apaan sih?" ucap lelaki itu dengan senyum salah tingkahnya sedang Anandi tersipu malu hingga semburat merah jambu tercipta di kedua pipinya.
"Lo sendiri aja dari tahun ke tahun?"
"Maklumlah jom--" ucapan Hasan menggantung tidak terselesaikan karena dia mengingat sesuatu bukan seseorang tepatnya, saat dia menoleh ke arah belakang dia sudah tidak menemukan sosok yang dia cari, kemudian dia mengedarkan pandangan ke segala arah tapi dia tetap tak kunjung menemukan keberadaan Mutia. Dia kehilangan jejak.
"Lo nyari siapa sih?"
"Tadi dia di sini, Bi." Hasan masih sibuk memandang ke segala arah. Entah karena terlalu peka atau karena ada ikatan batin, sosok lelaki bernama Abi itu langsung paham kata 'dia' yang dimaksud sahabatnya itu.
"Dia datang?" tanya Abi datar.
"Iya, bahkan gue udah bicara banyak tadi. Pas gue nyapa lo dia masih di sini."
"Dia udah pergi kali saat liat gue." Abi berkata dengan tenang meski dia tahu bahwa tidak ada ketenangan dalam hati dan pikirannya saat ini setiap mendengar hal tentang dia. Sebegitu tidak mau bertemunyakah sehingga dia menghindari dirinya.
Kemudian mereka bergabung dan saling menyapa dengan yang lainnya sedang sosok yang sedari tadi dicari oleh Hasan berdiri dan tersenyum tipis di dekat pintu keluar.
"Kamu sudah mau pulang, Mut?" tanya seorang lelaki yang menyapanya.
"Hay Za, long time no see." Bukan menjawab pertanyaan dari teman seangkatannya dia malah menyapa.
"Bergaya, baru kemarin juga kita bertemu. Lagak lo kayak lama gak ketemu." Mirza berkata dengan santainya dan mendorong bahu Mutia untuk masuk dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Mutia tidak menolak, dia mengikuti keinginan temannya itu.
"Hai guys, lihat siapa yang gue bawa." Mirza berkata dengan santainya.
"Mutiaaa...." seru mereka bersamaan hingga membuat seluruh mata memandang ke arah gadis berhijab coklat dengan terkejut. Sedang gadis itu hanya tersenyum malu-malu dan menyapa teman-temannya tanpa menyadari bahwa dia telah menjadi pusat perhatian.
Waktu berjalan dengan begitu cepat, dan acara demi acara telah terlewati, jam menunjukkan pukul 10 malam, Mutia pun lebih dulu beranjak dari kursinya.
"Yach, padahal gue belum tuntas kangen-kangenan sama lo." Erly berkata dengan manja saat Mutia berpamitan untuk pulang.
"Lain waktu disambung lagi InsyaAllah."
"Janji ya," kata Erly mastikan lagi.
"Iya, nanti kita bisa chat bareng kan." Mutia meyakinkan.
"Lo gak ingin menyapa kapten dulu?" tanya Erly pelan takut ada yang mendengar, karena semua itu adakah sebuah rahasia yang tak semua orang mengetahuinya.
__ADS_1
"Aku belum siap." Mutia tersenyum penuh paksa.
"Waktu sudah berjalan dengan jarak yang begitu panjangnya, siap tidak siap lo harus tetap menghadapi segala keadaan yang ada." Erly menasehati sahabatnya sambil mengantar Mutia ke pintu keluar aula.
"Ya, biarkan waktu yang menjawab." Mutia berhenti dan memeluk sahabatnya, mereka cipika-cipiki, saat Mutia berjalan beberapa langkah kemudian dia kembali berbalik dan lari memeluk Erly lagi, "aku akan pindah ke kota ini lagi, tunggu aku seminggu lagi." Erly yang mendengar bisikan itu tersenyum penuh arti, hingga tanpa sadar sahabatnya sudah tidak terlihat lagi.
----------------------------
Mutia menelusuri koridor aula, dan di sebelah kiri aula adalah perpustakaan. Dia berdiri cukup lama di sana dan memandang pintu itu di dengan penuh arti, hingga tanpa terasa senyum tercetak di bibir tipisnya.
Kemudian dia mengambil napas dan berjalan, di sebelah perpustakaan ada kamar mandi dan bangunan kecil yaitu sanggar pramuka, kemudian dia kembali melanjutkan jalan dan berhenti di kelas yang ada kotak persegi bertuliskan "XII-IPA2" Mutia berdiri tepat di depan pintunya, setelah sekian lama ternyata kelas ini tidak banyak berubah. Hanya warna dinding dan tanaman bunga yang nampak tak banyak di depannya. Dia kembali tersenyum, saat kilas masa SMA terlihat jelas dalam bayangan ingatannya.
"Apa kamu sedang tersenyum ke arah pintu?" tanya sosok lelaki yang berdiri di belakang Mutia, karena kaget Mutia langsung berbalik badan dan mundur dua langkah karena jarak yang begitu dekat, dia hanya bisa memandang dada yang berbalut jas yang begitu pas dipakai di tubuh yang ada di hadapannya. Setelah menenangkan detak jantung dan keterkejutannya dia mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa pemilik sosok tegak di depannya. Meski dia mengetahui dan mengenali namun Mutia butuh meyakinkan instingnya dengan melihat langsung dengan jendela dunianya.
"Apa kabar Mu-tia?" tanya lelaki itu yang tidak lain adalah Abinaya Rahman.
"Baik," jawab Mutia mengalihkan pandangannya dari mata hitam yang sedari tadi memandang hingga mungkin bisa menusuknya.
"Kamu tak ingin menanyakan kabarku?" tanya Abi saat dia melihat Mutia hanya berdiam diri tak berniat mengeluarkan suaranya.
"Aku rasa itu tidak perlu, bukankah aku bisa menilai dengan melihatmu di depanku." Mutia berkata dengan pelan dan menerbitkan senyum di bibirnya meski ternyata gagal. Bayangan lelaki itu masuk ke aula dengan seorang gadis terlintas dalam ingatannya membuat hatinya terasa diremas dengan kuat. Hah, ternyata masih ada rasa di dalam hatinya yang selalu tersisa untuk sosok yang ada di hadapannya.
"Ya, kamu benar." Abi berkata dengan datar dan melangkah satu langkah ke belakang, kemudian dia memandang Mutia dari atas ke bawah dengan intens, membuat Mutia salah tingkah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin sekali dia menghardik karena dia ditatap sedikian rupa, namun sayang suaranya tak mampu keluar, ingin sekali dia berlari meninggalkan tempat itu namun dia tak miliki tenaga untuk mengangkat kakinya, dia hanya mampu diam tak bisa berbuat apapun. Senyum tipis terbit di bibir Abi.
"Waktu berjalan begitu cepat." Abi berkata dengan pelan dan mengalihkan pandangannya ke arah pintu sebuah ruangan yang tertulis 'KRI'.
"Ya, dan banyak hal yang berubah." Mutia berkata, dia kemudian mengikuti arah pandang Abi.
"Banyak, banyak sekali yang berubah namun ada satu hal yang tak berubah. Entah sampai kapan." Abi berkata dan membalikkan tubuhnya mengarah ke aula. Mutia hanya diam memandang sosok yang telah ditelan oleh kegelapan.
Banyak sekali waktu yang telah terlewatkan, dan banyak sekali kenangan di waktu singkat yang pernah dia lakukan. Namun, ada banyak juga perasaan yang tak mampu tersampaikan meski waktu memberikan kesempatan yang panjang.
Sosok idola masa SMA yang begitu dia kagumi karena keramahan, kebijaksanaan, kepandaian serta banyak lagi sifat baiknya, dengan bergulirnya waktu kini menjadi sosok yang tak dia kenali. Dia berubah seiring berjalannya waktu, tidak ada lagi bibir menyungging ke atas yang sering dia tebarkan. Yang ada hanya bibir segaris datar yang penuh dengan kemisteriusan.
Mutia memandang ke arah jalan yang telah ditinggalkan oleh Abi dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kita memang tidak pernah berjodoh untuk menghabiskan waktu bersama." Mutia melangkah meninggalkan tempat penuh sejarah itu dan masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir rapi.
"Assalamualaikum," sapa seorang lelaki yang duduk di balik kemudi dengan senyum menenangkan.
"Waalaikumsalam," jawab Mutia dan langsung menghambur ke dalam pelukan lelaki itu disertai dengan isak tangisan.
"Maafkan aku, sempat melupakan kehadiranmu." Mutia berkata dengan tersedu-sedu, dan lelaki bernama Rouf itu hanya membelai punggung gadisnya dengan penuh kasih sayang.
"Tidak masalah, itu hal biasa terjadi saat kenangan memori cinta masa lalu mencuat kembali dalam ingatan." Rouf berkata dengan tenang supaya mampu meyakinkan, meski di sudut hatinya ada sedikit kegelisahan.
"Kita kembali ke hotel pesawat kita jam 3 pagi, jadi kita harus istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan untuk pulang." Rouf menghapus sisa air mata Mutia dan membenarkan jilbab yang nampak berantakan. Kemudian dia memasangkan sabuk pengaman dan menjalankan mobilnya membelah jalan yang ramai meski gelap malam pekat telah datang.
Kota yang tidak pernah tidur, kota uang selalu memiliki aktifitas selama 24 jam tanpa henti. Baik matahari atau bulan bintang yang menemani namun aktifitas tetap berjalan dengan semestinya.
-----
__ADS_1