Berawal Dari Abu-abu

Berawal Dari Abu-abu
Senyum Hambar Rasa Masam


__ADS_3

Bibir itu.


Senyum itu.


Mata itu.


Sungguh memikat.


Dan aku merasa, aku telah terikat.


------------------


Akhir pekan adalah waktu yang ditunggu. Bukan hanya bagi anak sekolah yang terbebas dari tugas, namun juga bagi semua pekerja keras yang mendapat waktu bergabung bersama keluarganya.


Tak jauh beda dengan keluarga besar Mutia, mereka kini tengah bercengkrama bersama.


Kegiatan rutin di hari minggu, pagi hari mereka akan pergi lari pagi bersama tanpa terkecuali. Kemudian dilanjutkan membersihkan perkarangan rumah, membersihkan diri dan sarapan bersama.


Setelah sarapan bersama, kemudian keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan empat anak itu akan bercengkrama bersama.


"Ma, hari ini kita buat apa?" tanya Mutia kepada mamanya.


"Bosen deh kak, sesekali makan di luar kenapa?" sahut Alya–––adik tiri Mutia.


"Ya udah, tinggal masak banyak dibawa ke taman depan. Kan udah makan di luar." Ayah Mutia menyahut dengan nada santai, Mutia dan sang mama hanya saling pandang kemudian mereka berdua akan tahu apa yang akan terjadi.


"Bukan itu ayah, makan di luar tu maksudnya makan di kafe atau di resto." Alya merasa jengah dengan godaan ayahnya.


"Kan sama aja, tadi bilang mau makan di luar, kok ganti di resto."


"Ih, Ayah mah gitu," kata Alya merajuk, sebelum terlalu lelah dengan percecokan anak dan ayah. Mutia menggandeng Fahri ke kamar dan sang mama menggendong Zahra menuju dapur.


Sepertinya dua orang itu masih belum sadar, terbukti dengan Alya yang masih berdebat dan saling adu argumen dengan sang ayah.


Selang beberapa saat, mereka baru menyadari kala Alya meminta perlindungan kepada sang kakak, namun tak menemukan kakaknya.


"Kak Mutia," teriak Alya menggema, sedang Mutia hanya tertawa kecil.


"Kak Yaya kenapa?" tanya Fahri polos kepada Mutia.


"Nyariin kakak, mungkin." Mutia kembali menbaca buku, namun Fahri masih belum puas dia mendekati sang kakak kemudian bertanya, "kak Yaya marah sama, kakak?


"Kenapa Fahri berpikir seperti itu?" tanya Mutia menutup bukunya dan memfokuskan penglihatannya kepada sang adik.


"Soalnya, kak Yaya teriak-teriak." Fahri berkata dengan sedikit ragu.


"Emm, kak Yaya sedang bercanda. Kak Yaya gak marah hanya kesal karena ditinggal sendiri." Mutia mencoba menjelaskan dengan bahas yang mudah dipahami, supaya anak kecil tidak memiliki spikulasi sendiri.


"Begitu ya, kata Doni kalau orang berteriak itu marah."


"Gak semuanya sayang," Fahri menganggukan kepala tanda mau mengerti, kemudian dia kembali duduk di lantai bermain dengan balok-balok beraneka bentuk.


Mutia mengamati sang adik dalam diam, setiap gerakan itu membuat Mutia merasakan sebuah kehangatan tersendiri. Dia merasa bahagia.


Mutia tersenyum, kala mata adiknya memutar karena beberapa kali balok yang dia susun roboh. Kemudian, tanpa bisa dicegah di dalam pikirannya terbersit sebuah nama yang menghantui tanpa tahu sebabnya.


Arsakha Abiyana Rahman


Nama itu seperti momok yang mengganggu bagi Mutia, dia mulai bepikir banyak hal.


Jika, anak itu adalah buah cinta Abi dengan istrinya. Bukan kah, anak itu telalu besar? Bagaimana tidak?


Abi lulus SMA sekitar sebelas tahun yang lalu, sedang Arsa sudah berusia sepuluh tahun. Entah kurang atau lebih.


Bagaimana bisa?


Hal itulah yang menjadikan Mutia sedikit mulai berprasangka buruk.


Dia kenal ibu kota sejak lahir. Dia tahu kota metropolitan itu dengan benar, seperti apapun iman seseorang jika dihadapkan dengan lingkungan yang sama setiap saatnya pasti lama kelamaan pasti akan mudah terjerumus juga.


Ah.....


Desah Mutia cukup keras, hingga mampu mau menghilangkan fokus Fahri dari mainannya menuju ke arah sang kakak. "Kakak ada apa?" tanya Fahri bingung.


"Kakak sedang bosan, bagaimana kalau kita jalan keluar?"


"Ke taman bermain?" tanya Fahri antusias, Mutia tampak pura-pura berpikir.


Dia menoleh ke arah Fahri yang tengah menunggu jawaban darinya, dia sesekali menerawang dan dia bisa melihat wajah penuh harap dari sang adik, sungguh menggemaskan.


"Baiklah," kata Mutia dengan santai dan dihadiahi pekikan senang sang adik dan sebuah pelukan.


"Ok, saatnya membereskan mainan," kata Mutia dengan ringan.

__ADS_1


"Siap bos," kata Fahri sambil memberi hormat.


Melihat keceriaan sang adik, itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi tujuannya tersenyum.


Mata bulat, alis tebal, bulu mata letik, bibir tidak tipis dan juga tidak bisa di bilang tebal, hidung mancung dan pipi sedikit cubi itu sudah menjadi pemandangan yang indah bagi seorang Mutia. Dia bak seorang itu yang sangat menyayangi adiknya.


Fahri adalah anak lelaki satu-satunya, dia banyak dimanja namun semua itu seimbang dengan pendidikan yang diterapkan oleh Mutia.


Bahkan ayahnya sering bilang bahwa Fahri itu adalah anaknya dibanding anak ayah dan bundanya. Entahlah, sejak lahir Mutia sudah sangat jatuh cinta pada adik kecilnya itu. Tapi bukan hanya Mutia yang jatuh cinta namun juga sang adik.


Dulu saat Mutia masih di Malang, adik lelakinya itu sering sakit. Dan jika sudah bertemu dengan sang kakak, mendapatkan pelukan dan ciuman. Beransur sakitnya langsung menghilang. Inilah kadang yang membuat iri sang mama.


Mutia meletakkan kaca mata bacanya dan buku di atas meja belajarnya, kemudian dia ikut berjongkok dengan sang adik.


"Biar pekerjaan terasa ringan, kakak bantu ya," kata Mutia yang dijawab anggukan semangat dari sang adik.


"Kakak, punya ide," cetus Mutia semangat dan penuh arti.


"Apa kak?" tanya Fahri antusias.


"Biar kerja gak terasa, bagaimana kalau kita sambil berhitung," kata Mutia sambil mendekati sang adik.


"Ayuk, Fahri dulu," kata Fahri mulai menghitung balok yang dia masukkan ke dalam keranjang bermain. Sesekali Fahri salah dan Mutia dengan senang hati membenarkan hitungannya.


--------------


Bagaimana aku bisa membiarkan dirimu melangkah, jika aku melihat banyak kerikil menghalangimu.


Bagaimana bisa aku berdiam diri, jika aku tahu kamu tengah berperang dalam menanti.


-------------


Mutia turun dengan Fahri, dia melihat sang mama dan Zahra sedang bersiap untuk pergi.


"Mau ke mana, Ma?" tanya Mutia membantu Zahra membenarkan jilbabnya.


"Mau jalan ke mall," sahut Alya yang sudah siap. Mutia mengerutkan dahinya, dia heran dengan hal yang dicetuskan oleh adiknya.


Memang sih tidak aneh, hanya pergi ke mall sebuah pusat perbelanjaan. Namun ini adalah hal langka untuk keluarganya.


Mall, adalah list terakhir yang akan dibuat oleh keluarganya untuk menghabiskan akhir pekan. Karena apa, mall itu adalah tempat banyak hal kurang mendidik. Di mall banyak muda-mudi saling berpergian bersama tanpa ikatan bernama halal, di mall pasti akan terjadi yang namanya berbelanja yang tidak sesuai kebutuhan hanya menyesuaikan keinginan atau nafsu, di mall antara lelaki dan perempuan berbaur menjadi satu dan banyak lagi hal negatif lainnya.


"Sesekali, Kak." Alya berkata dengan manja, berharap kakak perempuannya luluh, dia tahu benar yang dipikirkan sang kakak.


"Kakak gak masalah, toh kita semua sudah tahu mall tempat seperti apa, tapi kakak dan Fahri tidak ikut," kata Mutia santai.


"Jangan memaksa," kata sang ayah pengertian. Dhimas tahu benar karakter Mutia, dia adalah sosok yang selalu memegang prinsip. Jika dia berkata tidak maka sampai akhir akan tetap tidak, kecuali ada sesuatu yang mendesak.


"Tapi gak seru, Yah." Alya masih merajuk, Mutia hanya tersenyum samar. Mutia tahu dia mengecewakan sang adik, namun dia tak bisa memungkiri bahwa dia juga tetap tak ingin mengubah keputusan yang telah dia ambil.


"Aku dan Fahri tadi baru aja mau ngajak ke taman bermain. Ya kan Dik." Alya menoleh ke sang adik lelaki berharap adiknya itu tidak mengiyakan.


"Iya kak," kata Fahri dengan semangat.


"Ya sudah, kita ke mall abis itu ke taman bermain," tawar Alya, Fahri nampak berpikir kemudian menoleh ke arah Mutia meminta pertimbangan.


Mutia hanya tersenyum tipis, dia ingin melihat seperti apa karakter adik laki-lakinya. Dia teguh pendirian atau mudah goyah.


"Kita ke mall aja, Fahri." Zahra membuka suara, hingga menimbulkan senyum kemenangan di bibir Alya.


"Baiklah, kak Yaya dan Zahra ke mall. Aku dan kak Mutia ke taman bermain." Fahri memutuskan dengan bijak. Alya menghela napas dan dua orang tua mereka tersenyum penuh arti.


"Baiklah, mak sama anak sama aja," kata Alya sambil menggandeng lengan sang ayah serta melirik Mutia.


"Ya sudah, jangan lupa sholat. Biasanya kalau di mall suka lupa waktu." Mutia mengingatkan.


"Ya sudah kami berangkat dulu," kata sang mama menjabat tangan dan mencium pipi Mutia dan Fahri bergantian.


"Iya, hati-hati."


"Kamu juga hati-hati, Assalamualaikum," pesan sang ayah kepada Mutia.


"Waalaikumsalam," jawab Mutia sambil berjalan ke depan.


Setelah mengantar mereka sampai depan pintu, Mutia menoleh ke adik lelakinya yang masih menatap kepergian yang lainnya.


"Fahri kenapa?" tanya Mutia.


"Tidak apa-apa," jawab Fahri seraya menggelengkan kepala.


"Fahri ingin le mall?" tanya Mutia. Fahri mengangguk kemudian menggeleng.


Maksudnya?

__ADS_1


Mutia bingung dengan jawaban sang adik yang tidak konsisten. Dalam pandangan Mutia, dia tahu jika sang adik ingin pergi ke mall. Akan tetapi, saat melihat keengganan Mutia membuat Fahri ragu dengan keinginannya.


Fahri tahu, jika sesuatu hal yang ditolak oleh sang kakak pasti ada sesuatu yang tidak baik atau ada alasan kuat menolaknya juga.


"Kita jadi pergi?" tanya Mutia pelan. Fahri mengangguk semangat.


-------------


Kita, bagai bulan dan bintang.


Saat dilihat, kita nampak begitu dekat.


Namun, nyatanya ada jarak yang begitu jauh yang memisahkan kita.


Seperti jarak nyata antara bulam dan bintang yang tak kasat mata.


----------


Mutia dan Fahri sudah sampai ke sebuah taman bermain yang kini tengah cukup ramai. Mutia menggandeng tangan Fahri sambil mengajak bicara berbagai hal yang ingin diketahui adiknya.


"Kak, Kenapa junglat-jungkit bisa bergerak bergantian?" tanya Fahri sambil mengamati beberapa anak yang tertawa bahagia bermain jungkat-jungkit.


"Karena ada beban dan tekanan," jawab Mutia kemudian mengajak Fahri duduk di bawah sebuah pohon yang rindang.


"Maksudnya?" tanya Fahri bingung, dia menoleh ke sang kakak yang duduk di sampingnya.


"Begini, jungkat-jungkit itu adalah salah satu pengungkit sederhana. Nanti kalau Fahri besar di pelajaran Fisika ada materi ini. Jungkat-jungkit bisa bergerak bergantian karena ada beban dan tekanan yang lebih kuat dari satu sisi dengan satu sisi lainnya." Mutia menjelaskan dengan sabar, dia juga mengelola kosa kata yang lebih mudah dipahami anak kecil.


"Pengungkit sederhana itu  apa?" tanya Fahri dengan wajah serius.


"Pengungkit itu seperti ini," kata Mutia sambil mengambil ranting dan batu kecil, dan meneragakan dirinya tengah menggulinglan batu dengan ranting tersebut.


"Pengungkit itu alah yang memudahkan kita untuk menyelesaikan pekerjaan, nah ranting ini juga bisa dibilang pengungkit." Fahri menganggukkan kepala seperti orang dewasa.


"Kalau Fisika itu apa, Kak?"


See, anak kecil selalu memiliki tingkat keingintahuan yang sangat tinggi. Jadi, sebagai orang yua alangkah baiknya jika kita selalu menjawab keingintahuan sang anak supaya neuron otak sang anak berkembang dengan baik.


"Fisika iti sebuah mata pelajaran, sejenis sama pelajaran Fahri di sekolah ada kognitif, bahasa, motorik." Mutia menoleh ke sang adik. "Ada kan?"


"Iya ada," kata Fahri cepat.


"Fisika itu ilmu yang mempelajari alam semesta ini. Fisika itu akan diterima nanti kalau Fahri sudah SMP." Fahri mengerutkan dahi.


"Apa Fahri sekarang gak boleh, kak?" tanya Fahri nampak tidak setuju.


"Boleh, sangat boleh mempelajari sekarang. Akan tetapi yang tingkatan mudah dulu."


"Jadi Fahri boleh belajar fisika, biar pintar kayak kakak," kata Fahri antusias.


"Tentu saja boleh, dan ingat mempelajari ilmu alam atau ilmu umum harus seimbang dengan ilmu agama." Fahri menganggukan kepala.


"Fahri ingat, saat kita makan apel. Apel akan berubah warna. Nah itu juga dipelajari di fisika."


"Itu kenapa kak?" tanya Fahri penasaran.


"Apel berubah warna karena teroksidasi oleh udara." Fahri bingung hendak bertanya, dia kesulitan mengucapkan teroksidasi, jadi dia uringkan untuk bertanya lebih banyak lagi.


"Fahri tidak mau bermain?" tanya Mutia mengalihkan konsentrasi Fahri.


"Aku mau main itu kak," kata Fahri menunjuk sebuah mainan berbentuk setengah bola dengan ragangan seperti tangga.


"Ayuk," kata Mutia sambil berdiri.


"No, aku sudah besar. Aku bisa sendiri," kata Fahri. Mutia menatap mainan yang ingin dituju Fahri dan Fahri bergantian. Dia ingin memastikan bahwa Fahri akan baik-baik saja jika dibiarkan bermain sendirian.


"Baiklah, Fahri besar. Silahkan bermain," kata Mutia dengan nada bahagia.


Tanpa menunggu perintah kedua, Fahri berdiri dari duduknya dan mencium pipi sang kakak dan berlari. Hal ini sering dilakukan sang adik, bahkan bukan hanya sang adik akan tetapi sang kakak juga. Menurut hal yang pernah dibaca Mutia di sebuah artikel, bahwa memberi pelukan dan ciuman itu selain wujud kasih sayang, juga akan membangkitkan rasa percaya diri dan sebuah dukungan.


Mutia memang membiarkan sang adik bermain sendiri, akan tetapi dia selalu mengawasi setiap gerakan sang adik dengan seksama.


Tanpa ada yang menyadari, bahwa dia tengah diawasi sosok dengan mata tajam berwarna hitam pekat.


Sosok itu menghela napas, dia sesekali memenuhi rongga dada yang terasa sesak melihat keakraban dua sosok yang nampak begitu akrab. Sosok yang dia anggap sebagai sosok penampakan dari seorang anak dan ibunya.


Dia menoleh ke arah ayunan, di sana ada juga sosok yang sama–––ibu dan anak. Yang membedakan dari dua pemandangan itu adalah darah yang sama mengalir di tubuh mereka.


Sosok sendiri itu kembali menghela napas, dan tanpa sadar dia berguman. "Kau begitu dekat denganku, namun aku merasa begitu jauh."


"Ada apa?" tanya seorang perempuan berhijab. Karena tak mendapatkan respon dari orang yang ditanya, sosok berhijab itu mengamati kegiatan sang sosok yang berdiam saja dengan mata terfokus pada satu titik––wanita berhijab merah maroon yang duduk di bawah pohon.


"Hampiri dia, walaupun hanya say hallo," kata wanita itu, sang sosok menoleh kemudian menggelengkan kepala sambil tersenyum hambar namun terasa begitu masam saat dilihat.

__ADS_1


Perempuan itu nampak acuh, kemudian mengajak sang anak mendatangi sosok yang menjadi obyek pengamatan dengan santai.


--------------


__ADS_2