
Karena dia adalah Dilan.
Dan
Karena aku adalah Dilan.
---------
Siang selalu ditemani sang mentari, dengan sejuta partikel cahaya yang merambat dan menyinari.
Siang ini Dilan duduk di ruang tamu kediaman keluarga Mutia seorang diri dan sibuk dengan ponsel pintarnya. Dia sesekali mengetik sesekali berdecak sebal.
"Assalamualaikum," sapa Mutia memasuki rumah.
"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarrokatuh," jawab Dilan seraya mendongak menoleh ke arah pintu di mana Mutia tengah berdiri dan menenteng sepatu juga tas kerjanya.
"Dlo, ada kak Dilan," kata Mutia menaruh sepatu di dekat sofa dan menaruh tasnya di atas sofa. Sedangkan tubuhnya dia taruh di atas sofa juga.
"Udah dari tadi?" tanya Mutia, Dilan hanya mengangguk tanda mengiyakan.
"Kak, Kak Dilan ada masalah?" tanya Mutia pelan, tidak bermaksud mencampuri urusan orang hanya saja Mutia sudah dekat dengan Dilan jadi dia tahu kalau wajah Dilan kini tengah dilanda kegelisahan.
"Masalah biasa," jawab Dilan acuh. See, inilah Dilan. Selalu menutup diri sendiri, dia sulit sekali berbagi dengan orang lain.
"Kamu dapat undangan ke nikahan, Mirza?" tanya Dilan akhirnya.
''Iya dapat, kenapa?"
"Berangkat bareng yuk," ajak Dilan sambil nyengir.
"Ya Allah, kirain kak Dilan punya masalah. Ternyata cuman masalah gandengan kondangan." Mutia berkata dengan mencibir, dia cukup senang kapan lagi dia punya kesempatan untuk mengejek seorang Dilan.
"Ya, siapa bilang sebuah masalah. Kamu sendiri kan yang menarik kesimpulan." Dilan berkata dengan santainya, meletakkan ponsel di meja kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Ya, tau deh." Mutia menjawab dengan cuek. "Makanya kak buruan nikah, inget umur." Mutia berkata dengan santai, tanpa dia sadari dia sudah menggali lubang untuk dirinya sendiri.
"Nikah? Kamu ngomongin nikah? Ngaca woe, emang situ udah nikah?"
Dubrak, Mutia langsung menyadari ucapannya, dia menghela napas.
"Paling tidak aku masih punya gandengan ya buat kondangan," kata Mutia membela diri.
"Gandengan hasil pinjaman aja bangga," cibir Dilan. Mutia melotot ke arah Dilan tidak suka.
"Kak, kapan sih mau nikah? Kasihan tau tante Mia sama om Wali pingin nimang cucu dari kak Dilan." Mutia berkata dengan serius. Dilan menghela napas kemudian membuang muka.
"Jodohku masih dipinjam orang belum dibalikin." Mutia menatap Dilan dengan mata seolah berkata 'you are kidding me'.
Dilan terkekeh melihat ekspresi wajah Mutia. "Emang kak Dilan pernah pinjam jodoh orang ya?" tuduh Mutia telak, karena Mutia pemegang prinsip orang baik akan berjodoh dengan orang yang baik begitu pula sebaliknya.
Dilan menggelengkan kepalanya kemudian duduk tegak, mencari posisi duduk yang nyaman.
"Aku memang bukan orang yang alim, tapi kamu 'kan tahu aku punya prinsip kuat dalam hidup. Gak ada pacaran dalam kosakata yang tersimpan dalam otakku." Mutia mengangguk, dia selama mengenal Dilan dia tak sedikitpun melihat kedekatan dengan seorang cewek, bahkan sejak lulus SMA Dilan sedikitpun tak mau bersentuhan sama cewek.
Masih ingat Mutia dengan ekspresi horor Dilan saat cowok itu jatuh dari Motor karena gas motornya yang tidak stabil habis dicuci. Dan secara tidak sengaja ada tetangga Dilan cewek mau membantu Dilan berdiri namun dilarang oleh Dilan.
"Jangan sentuh gue, yang boleh nyentuh gue cuman mahrom dan istri gue. Tangan yang lain gak berhak." Mutia memandang tidak percaya ke arah lelaki dan perempuan yang berdiri tak jauh darinya itu. Dari situ dia tahu bahwa Dilan adalah sosok pemegang prinsip.
"Dla, kalau gak pernah minjam jodoh orang, kenapa kak Dilan beranggapan bahwa jodoh kak Dilan dipinjam orang?" Mutia tak terima dengan ucapan Dilan.
"Kan aku baik, jadi aku relain dipinjam." Dilan berkata dengan nada bercanda membuat Mutia gemas, kalau saja di dekatnya ada tongkat atau apapun yang bisa buat mukul pasti Mutia pukul kepala Dilan.
"Kadang kita memang tidak meminjam sesuatu dari orang lain, namun kadang barang kita tetap dipinjam bukan oleh orang lain." Dilan berkata dengan serius, dia menoleh ke arah Mutia meminta pendapat.
"Iya sih, tapi jodoh masak gitu. Bukankah orang baik akan berjodoh dengan orang baik? Itu Allah menjanjikan dalam Al-Quran loh." Mutia masih belum terima.
"Ya, itu benar. Tapi siapa tahu jodoh? Lihatlah kisah nabi Muhammad, menikah pertama kali dengan Khodijah yang seorang janda. Rahasia jodoh gak ada yang tahu bukan. Orang yang dipinjam orang lain bukan berarti dia buruk. Terkadang kita harus terjatuh dan terluka dahulu supaya kita sadar bahwa jatuh dan terluka itu rasanya sakit." Mutia mengangguk setuju, meski di dalam hati dia selalu meyakini bahwa, jika kita menjaga diri maka jodoh kita juga tengah menjaga diri. Karena menurut pengetahuannya jodoh adalah cerminan diri kita.
Tapi dia juga kini tak bisa menampik, bahwa jodoh itu adalah sebuah rahasia yang tak bisa diubah oleh sebuah takdir yang dituliskan. Karena jodoh, rejeki dan mati iyu hak mutlak milik Allah, Rahasia Sang Pembuat Hidup.
__ADS_1
----------
Mutia melangkah memasuki dapur, di sana sudah ada Alya.
"Assalamualaikum, Al." Mutia membuka kulkas sambil mengeluarkan potongan buah yang tadi pagi dia simpan.
"Waalaikumsalam," jawab Alya sambil membawa jus stroberi yang dia buat.
Dua orang kakak beradik itu duduk di kursi meja makan, Alya memperhatikan gerak-gerik sang kakak. Mutia awalnya acuh namun lama-lama dia risih juga.
"Sepi ya," kata Mutia membuka suara.
"Iya, si kembar gak ada. Jadi gak ada yang ramein rumah." Alya berkata dengan masih setia mengamati setiap gerakan sang kakak.
"Kenapa sih kamu?" tanya Mutia tidak tahan dengan perilaku adiknya.
"Kalau diperhatikan, kakak dan kak Dilan cocok loh. Ada mirip-miripnya." Alya berkata dengan tersenyum, membuat Mutia tersedak.
Alya langsung mengambilkan minum air putih yang ada di depannya dan memberikan kepada sang kakak.
"Ya Allah kak, pelan-pelan." Alya menepuk punggung Mutia pelan. Mutia masih terbatuk-batuk, karena dia merasa ada cairan yang masuk ke rongga pernapasan.
"Udah-udah, terimakasih." Alya kembali duduk, kemudian tertawa kecil melihat sang kakak salah tingkah.
"Kenapa?" tanya Mutia sambil meredakan tenggorokan yang terasa kurang nyaman.
"Gak, abis kak Dilan dan kak Mutia memiliki refleks yang sama saat aku membahas hal ini.'
"Kamu sudah pernah ngomongin ini sama kak Dilan?" tanya Mutia tak percaya. Dia hanya menggelengkan kepalanya, sungguh dramatis.
"Iya, dan tanpa menjawab karena kak Dilan langsung tersedak."
"Ya Allah, Alya," kata Mutia geli.
"Tapi serius deh kak," kata Alya dia mengambil duduk tegak. "Kenapa kakak menghindari pernikahan?'' Mutia meminum air putih yang di berikan Alya kemudian meletakkan gelasnya di meja sambil menoleh ke arah sang adik.
"Aku tidak menghindari, hanya saja mungkin jodoh yang diberikan Allah belum datang." Mutia berkata dengan tegas dan lugas. Benar bukan? Kalau dia menghindari berarti aja yang melamat dia terus Mutia tolak. Tapi selama ini hanya dikenalin aja belum sampai fase lamaran.
"Gimana, apa maksudnya?"
"Ya bakal diterima gak?" tanya Alya dengan mengerling jail.
"Ya tergantung," jawab Mutia santai, dia sengaja menggantung ucapanya.
"Tergantung apaan sih, Kak?''
"Ya sesuai kriteria gak gitu," Mutia menjawab dengan santai kemudian memasukan potongan buah ke dalam lubang wadah kunyahan yang ada di tubuhnya.
"Kriteria kakak seperti apa? Siapa tahu Al bisa dapatin yang sesuai dengan orang yang Al kenal." Mutia mencondongkan tubuhnya dan memberi kode ke arah sang adik untuk mendekat, setelah jarak yang sudah dekat dengam Alya, dia berbisik. "Kepo."
Alya langsung menegakkan tubuhnya kemudian melotot tak percaya dengan sikap kekanakan sang kakak. "Kak Mutia," kata Alya dengan nada tertahan sedang Mutia hanya terkekeh riang.
"Aku serius Kakak." Alya berkata dengan nada merajuk.
"Aku juga serius," kata Mutia menanggapi sang adik.
"Ih, kak Mutia kok gitu sih." Mutia membenarkan duduknya kemudian menumpukan dua sikunya ke meja dan meletakkan kedua tangannya di dagu sebagai penyanggah wajahnya.
"Memangnya kenapa? Kamu udah ada calon dan takut gak direstui karena melangkahi kakak?" Alya melotot tak percaya dengan persepsi yang keluar dari bibir manis sang kakak.
"Kakak kok makin ngaco sih, aku masih kuliah Kakak. Masih pingin mengecam banyak ilmu dan mencicipi dunia karier." Alya mengemukakan pendapatnya, ada binar cerah kala Mutia menatap wajah sang adik. Dia jadi teringat ucapan yang disampaikan Irvan, teman sekelasnya saat SMA tentang sebuah mimpi. Benar kata Irvan, bahwa kita hanya berusaha menggapai mimpi dan Allah yang menentukannya.
"Berkarier dengan adanya hubungan halal juga gak ada yang menyalahkan kok." Alya hanya mencibir mendengar suara yang keluar dari bibir sang kakak.
"Alya belum kepikiran." Mutia tersenyum mendengar ucapan Alya. "Kalau sudah jodoh gak bisa nolak. Kita gak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, emang kamu bisa menebak waktu? Siapa tahu satu jam lagi ada yang melamar kamu dan langsung ngajak nikah. Gimana hayo? Dan atas sekehendak Allah kamu hanya bisa menerima."
Alya melotot dengan wajah syok dan terkejut yang tak bisa dia sembunyikan. Mutia tertawa kecil melihat ekspresi konyol sang adik. "Kakak, ucapan itu doa loh. Jadi kalau ngucap yang bener dong." Mutia menatap penuh tanya ke arah sang adik, dia heran perasaan ucapannya tidak ada yang salah.
"Dla, emang ada yang salah?" Mutia mulai mengingat apa yang dia ucapkan. Dia berpikir dari yang baru saja diucapkan tidak ada yang salah. Alya merengut kesal. "Kakak gak sadar udah doain Alya cepet nikah dari ucapan itu."
__ADS_1
Mutia tersenyum menenangkan, dia tahu kegelisahan sang adik. "Kamu tahu Al. Kalau orang bujang atau gadis setiap keluar rumah senantiasa dikelilingi syetan. Berbanding terbalik dengan orang yang sudah menikah." Mutia menjelaskan kepada sang adik. "Tetap saja aku masih belum mau nikah."
"Sudahlah Al, semua itu sudah tertulis di lauhimahfudz." Mutia beranjak dari duduknya dan membawa mangkonya menuju tempat cuci piring. Mutia menyisingkan lengan kemudian membilas mangkok denga air mengalir sebelum mengusapkan busa yang sudah bercampur sabun cuci piring ke seluruh permukaan mangkok bagian dalam kemudian menuju bagian luar. Kemudian dia membilas hingga busa menghilang. Mutia meletakkan di atas rak dan mengeringkan tangannya yang basah dengan kain yang menggantung di dekat kulkas.
"Kakak mau ke atas dulu, Al." Mutia berpamitan kepada Alya yang tengah bermain ponsel pintarnya di tempat dia sedari tadi duduk. Kemudian Mutia melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.
---------
Hidup adalah pilihan. Jika kamu tidak memiliki pilihan maka jangan hidup. (Kru Kepo)
----------
Langit yang biasanya berwarna biru kini menjadi terasa kelam dan kelabu. Sepertinya alam mulai berganti peran, cuaca panas perlahan akan terkikis dengan cuaca yang akan datang. Begitu pula dengan takdir yang sudah disuratkan, meski musim berganti hingga seribu kali pun tak akan mampu mengubah takdir yang sudah ditetapkan oleh-Nya. Cinta mungkin bisa datang karena rasa terbiasa, tapi kata setia hanya akan bisa menempel karena adanya kekuatan daripada cinta.
Abi, lelaki dewasa berpakaian rapi itu duduk seorang diri. Kini dia tengah berada di sebuah kafe milik Bagas. Dia memiliki janji temu dengan sahabatnya.
Abi kembali menyesap coklat hangatnya, sesekali menoleh keluar mengintip kejadian alam yang ada di balik kaca.
"Anda berniat menambah, Tuan?" tanya salah satu pelayan kafe yang sudah berdiri di dekat mejanya.
Abi menoleh kemudian dia mendongak menatap sosok gadis dewasa yang kini tengah berdiri dengan sopan. Gadis itu berkuncir kuda dengan celemek melekat pada tubuhnya, mungkin lain kali dia harus menyarankan kepada Bagas supaya memberi baju kurung untuk seragam karyawannya. "Tidak terimakasih." Abi kembali menatap ke arah kaca.
"Anda sudah dua jam duduk dan hanya memesan satu cangkir coklat." Abi masih siap pada posisinya. "Via, jangan cari gara-gara. Pergilah." gadis bernama Via itu hanya mencibir namun tak jua beranjak.
"Pantas saja kamu tidak laku-laku, kelakuanmu galak pada orang.'' Via mulai menilai perlakuan Abi. "Kalau aku gak laku, aku bisa menyeretmu ke KUA. Mudah kan."
"Aku akan lari sebelum kamu seret ke KUA." Abi terkekeh mendengar balasan tajam dari karyawan Bagas.
"Siapa yang akan ke KUA?" tanya Dilan yang sudah berdiri di dekat meja, Abi hanya menoleh sejenak kemudian membuang muka. "Siapa?" tanya Dilan lagi, namun kali ini dia menoleh ke arah Via.
"Seorang bujang lapuk yang gak laku-laku, tadi mengancam akan menyeretku ke KUA kalau dia gak segera menikah." Via menjawab dengan wajah dibuat semuram mungkin, supaya cowok yang baru datang itu iba dan memperlancar akting yang telah dia siapkan.
"Sudahlah, pergi pelayan." Abi berkata dengan geram, hingga memancing kecurigaan Dilan. Dilan tahu benar dengan sikap Abi, dia tidak bersungguh-sungguh mengusir pelayan itu, tapi yang mengganjal adalah Abi tidak pernah bersikap seluwes itu kepada orang lain apalagi perempuan. Hingga pikiran negatif mulai membayanginya.
Via, pelayan itu sudah meninggalkan dua sahabat itu. "Bi, kamu sudah merubah perasaanmu?" Dilan menatap lekat wajah Abi. Dia ingin menilai secara langsung dari sorot mata sahabatnya.
"Waktu berjalan dengan cepat, dan setiap detiknya waktu mampu mengubah segala hal. Lantas apa kamu pikir perasaan ini tak bisa berubah?" Abi menatap sahabatnya dengan serius. Dilan mengangguk mengerti akan ucapan itu. Cukup, mungkin ukiran abu-abu itu sudah cukup.
"Apa yang tersisa? Semua sudah menjadi kenangan bukan? Yang berlalu akan tetap tertinggal di masa lalu. Dan yang aku butuhkan saat ini adalah yang ada di depan. Dan sepertinya aku harus segera mengambil tanggung jawab dari semua tindakan bukan. Aku sudah menggantungnya terlalu lama." Dilan memandang Abi dengan sorot iba. Dia tahu beban yang ditanggung sahabatnya.
"Jika aku mengambil tanggung jawabmu atas anandhi, bagaimana?" tanya Dilan tegas. Abi yang awalnya menatap langit yang ada di balik kaca langsung menatap tajam ke arah Dilan. Dia tidak menyangka Dilan akan senekat ini demi dia. Ya, demi dia yang juga Abi sayangi.
"Kamu tidak akan bisa, kamu tahu bukan kekurangan Anandhi." Abi berkata dengan nada meremehkan, sebenarnya tidak murni meremehkan dia hanya ingin membuat sahabatnya itu mundur dan mencabut tawarannya.
"Kamu tahu, aku adalah Dilan. Selama aku berusaha maka kegagalan bukan sebuah halangan." Dilan berkata dengan tegas.
"Aku tahu kamu adalah Dilan. Oleh karena itu aku tak ingin Dilan berkorban untukku, lebih lagi." Abi membalas ucapan Dilan dengan tegas. Dilan hanya berdecak tidak suka. "Aku sudah berterimakasih kamu menjaganya untukku. Jadi aku tak ingin kamu berkorban untuk diriku lagi. Sudah cukup jangan buat aku tambah menjadi tak berguna." Dilan hanya mendengus kemudian membuang muka.
"Kalau begitu beri restu Adi buat nikahin Anandhi," kata Dilan menoleh tegas. Abi langsung melotot dengan seruan frontal Dilan yang tanpa basa-basi.
"Aku tidak bisa," kata Abi pelan.
"Kamu buka tidak bisa, tapi tidak mau." Dilan heran dengan sahabatnya, di terlalu protektif dengan adiknya hingga usia adiknya yang sudah semakin bertambah tua.
"Kamu gak tahu pergaulan Adi, kamu gak tahu masa lalu Adi." Dilan menatap tajam Abi, dia tidak menyangka sahabat yang dia anggap sangat baik dan jadi panutan bisa sepicik itu menilai orang. Ya, di tidak merestui adiknya hanya karena pergaulan anak jalanan yang dilakoni Adi di masa lalu.
"Bi, semua orang bisa berubah. Aku memberimu dua pilihan." Abi menggelengkan kepalanya, dia sudah berpikir matang tentang semua ini, dia tidak bisa menerima entahlah dia tidak tahu alasan aslinya.
"Baiklah, kamu mau aku menanggung Anandhi atau kamu memberi restu Adi dan Anandhi menikah." Dilan menatap tajam ke arah Abi, dengan kesal Abi membuang muka. Abi mengambil napas secara rakus kemudian mengeluarkannya secara tidak sabaran.
"Jangan memojokanku, please." Abi berkata dengan pelan, dia tengah menetralkan emosinya. Dilan tersenyum penuh arti, dia memiliki ide yang lebih licik lagi untuk menyatukan Adi dan Anandhi. Namun jika cara ini tidak juga diterima terpaksa dia yang akan menjalaninya, tidak ada salahnya.
"Baiklah aku tidak akan memojokanmu." Dilan menyandarkan punggungnya santai. "Aku atau Hasan akan melamar dan menikahi Mutia." Abi langsung mendongak menatap tajam dengan dua bola matanya seolah hampir keluar, dia sangat terkejut dengan ucapan final dari sahabatnya.
"Kamu tidak bisa melakukan itu," kata Abi dengan gusar, senyum miring tercetak di bibir Dilan, senyum penuh ancaman. Ekspresi predator saat bertatap muka dengan mangsanya.
"Aku bisa, karena aku adalah Dilan. Jangan lupa itu." Dilan berkata dengan tegas dan penuh kemenangan.
"Dia tidak akan mau," sahut Abi mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Karena dalam hatipun dia tidak yakin, apa yang bisa dia yakini jika selama ini dia tidak tahu perasaan yang dimiliki gadis itu.
__ADS_1
"Dia akan setuju, karena kemarin aku sudah membahas masalah ini dengannya. Jika ada yang melamarnya di waktu dekat dia akan menyetujui lamaran itu." Dilan tersenyum penuh kemenangan di atas kegamangan yang ada di pikiran Abi. Dilan tahu itu, sahabatnya ini kadang perlu ditekan supaya dia bisa mengambil keputusan.
------------