Berawal Dari Abu-abu

Berawal Dari Abu-abu
Abu-abu Putihku


__ADS_3

Aku memulai langkahku dengan pasti. Memberi lebel hitam kewarna hitam dan memberi lebel putih ke warna putih.


Dan aku tak pernah berpikir akan masuk ke dalam satu warna ini 'abu-abu' warna yang tak terduga yang tiba-tiba muncul dalam hubungan kita.


Aku sejak awal mewarnaimu dengan abu-abu. Tak pernah membawamu menuju hitam atau melabelimu dengan warna putih. Kamu satu-satunya abu-abu untukku.


-------------------


Pagi yang cerah, secerah harapan pagi dengan mentari yang menyinari.


Aku sengaja berangkat lebih pagi hari ini, selain karena hari ini adalah awal pertama masuk aku juga memiliki alasan tersendiri.


Aku melangkah memasuki koridor aula, untuk melihat denah kelas yang baru.


"Assalamualaikum," sapa seorang yang menyamai langkahnya denganku, aku sedikit kaget mendengar suaranya.


"Waalaikumsalam, long time no see," kataku dengan senyum apa adanya.


"Ye, sombong sih lo,aku berhenti melangkah dan menoleh ke arahnya.


"Maksudnya?"


"Kan kita ajakin ngumpul, lo-nya aja yang gak datang," kata Mirza dengan wajah sengaknya. Ya, orang yang menyapaku pertama kali di pagi ini adalah Mirza. Sosok sahabat pertamaku di awal memasuki sekolah ini.


"Sorry," kataku tanpa rasa bersalah melanjutkan berjalan kembali.


"Lo banyak berubah," komentar Mirza, aku hanya mengangkat bahu acuh.


"Semakin sombong dan tak tersentuh," kata Mirza lagi, aku berhenti begitu pula dengannya. Kami saling memandang namun aku lebih memandang ke arah sakunya.


"Aku mencoba memperbaiki diri Za, apa caraku salah?" aku mengucapkannya dengan pelan. Ya, aku sudah memantapkan diri untuk memperbaiki caraku bergaul dengan lawan jenis. Dan mencoba bertindak sesuai dengan syariat semampuku.


"Sorry, gak maksud ngatain lo, cuman ngutarain apa yang gue tau," kata dia sambil nyengir. Aku tahu dia mengatakan itu dari dasar hatinya, tapi aku tak marah dengannya.


Bukankah dengan begitu kita bisa memperbaiki diri?


"Lo gak marah kan, Mut?'' tanyanya gak yakin. Aku tersenyum dan mengangguk.


"Gak kok, aku malah seneng. Bertanda kalau kamu perhatian padaku," kataku dengan riang sedang dia langsung pura-pura mutah, seperti hal yang sama selalu kami lakukan saat dia mulai gombal.


"Garing lo," katanya sambil tertawa. Aku bersyukur mengenalnya dan bersyukur dia kembali.


"Udah yuk ke aula." Kami melangkah dengan diam, tak ada satu katapun yang keluar. Seolah kita tak miliki masalah, kadang mungkin hanya seperti ini penyelesaian masalah secara sederhana terbuka dan saling menerima.


"Woe," seru Adi temen Mirza sekelas.


"Kelasnya diacak?" tanya Mirza.


"Gak, kelasnya juga tetep. Turun menurun." Adi melirik ke arahku sekilas kemudian mengajak Mirza ke kantin. Selang beberapa saat dia pamit padaku. Aku mengiyakan saja toh apa lagi yang bisa aku lakukan, melarangpun sepertinya alu tak memiliki hak. Seperti inilah persahabatan diantara kami pasti memiliki jarak tersendiri karena sepertinya memang harusnya tidak persahabatan antara lelaki dan perempuan.


"Mut," panggil Erly dari arah belakangku.


"Assalamualaikum Erly,'' sapaku, dia nyengir sambil merapikan rambutnya.


"Salam tu dijawab bukannya malah nyengir," kata sosok berjilbab di samping Erly yang baru aku lihat.


"Eh iya, waalaikumsalam Mutia yang cantik," kata Erly sambil terkekeh.


Kemudian dia melangkah memelukku,


"Gue kangen lo, gimana kabar lo? Terus mana oleh-olehnya?"


"Satu-satu kali Er," kata sosok berjilbab itu lagi.


"Aku baik, bagaimana dengan kalian?"


"Kami baik," sahut Mira sambil tersenyum. Ya, sosok gadis berjilbab itu adalah Mira. Sungguh hari ini aku mendapat kejutan yang sungguh tak terduga. Oh iya ya, namanya juga kejutan pasri tak terduga.


Kemudian kami ngobrol bak sahabat yang lama tak berjumpa. Kami saling bercerita tentang masa libur dan banyak hal. Ya walaupun aku banyak mendengar dari pada berbicara, tapi aku cukup bahagia atas nikmat yang Allah berikan untukku selama ini.

__ADS_1


----------------------


Jangan salah sangka. Apa yang kita lihat belum tentu sesuai dengan kenyataan. Jangan berspekulasi sendiri tapi buktikan. (Kru Kepo)


----------------------


Aku berjalan menuju kelas setelah lelah ngobrol banyak hal dengan Erly dan Mira. Bukan hanya dengan mereka saja sih tetapi dengan yang lainnya juga yang kebanyakan adalah anak bahasa. Aku melangkah sambil memikirkan sesuatu, sesuatu yang sangat mengusik pikiranku.


Riska, nama itu terdengar sangat nyata, aku jadi memikirkan banyak hal hanya dengan mendengar nama itu saja.


Riska tidak mengikuti study tour dengan alasan ada keperluan keluarga, kemudian tiba-tiba ada kabar lagi bahwa dia keluar dari sekolah, perlu digaris bawahi keluar bukan pindah. Jika pindah mungkin masih bisa dimengerti akan tetapi ini dia keluar. Riska dari keluarga mampu secara finansial, lantas apa yang melatarbelakangi dia keluar dari sekolah? Itulah yang kkini menjadi hal yang mengganjal di pikiranku.


Selama ini, aku mengenal Riska sebagai anak yang tidak pernah memiliki masalah bahkan dia ada di deretan 10 anak berprestasi. Aku masih bingung dengan semua ini.


Aku masuk dan langsung duduk di samping Shinta, aku tahu dia pasti heran dengan sikapku. Apa lagi harusnya aku sudah masuk kelas dari tadi akan tetapi baru masuk saat ini.


"Lo kenapa?" tanya Shinta, aki menoleh ke arahnya.


"Aku rasa ada yang mengganjal deh tentang Riska." Aku berkata dengan serius. Dia memicingkan matanya. Dia pasti sedang menerka-nerka apa yang aku pikirkan.


"Lo hari ini gak salah makan-kan?" tanya Shinta dengan heran, kini gikiranku yang memicingkan mata dan menatapnya curiga.


Memangnya kenapa? Ingin sekali aku melontarkan pertanyaan itu namun aku urungkan.


Namun Shinta tetaplah Shinta, teman dalam diamku, dia seolah tahu apa yang akan terlontar dari bibirku yang tak mampu, dia sudah menjelaskan lebih dulu.


"Lo gak biasanya mau mikirin orang lain sampai segitunya," kata Shinta tenang, namun hal itu membuatku meringis karena menyadari satu hal, aku anak yang tak memiliki jiwa sosial yang tinggi dan tak peka.


Jika kalian tanya apa aku tak menyadarinya? Aku jawab dengan jujur, aku menyadarinya namun untuk berubah itu sangat sulit.


Lantas, aku harus bagaimana?


"Bukan maksudku begitu, hanya saja gak biasanya lo ambil pusing sebuah berita," kata Shinta tak enak hati. Aku tersenyum sambil mengangguk.


Apa yang dikatakan Shinta tidaklah salah, aku memang tipe orang yang no reken you, jadi kalian mau bersikap seperti apapun aku tidak perduli selama itu tidak menyangkut diriku atau mengusik kenyamananku.


"Dia sempat cerita bahwa dia tertarik dengan Islam," kataku masih memandang ke luar jendela, saat aku melirik Shinta dari sudut mataku aku melihat dia juga melakukan hal yang sama.


"Dia kabur dari rumahnya dan tinggal bersama tantenya yang ada di Magetan," kata Shinta membuatku langsung menoleh.


"Kamu tahu dari mana?" tanyaku heran. Shinta tersenyum dan berkata, "dari bu Siska."


Aku menghela napas berat, apa yang aku takutkan akankah terjadi?


Aku jadi teringat cerita dari beberapa muallaf, hal itu membuatku bergidik ngeri namun aku cukup mengacungi jempol nyalinya.


Aku berpikir, apa aku sanggup jika berada di posisi mereka?


Aku pernah membahas hal ini dengan ayahku, beliau berkomentar bahwa itulah kuasa Allah yang tak terlihat. Hidayah itu mutlak milik Allah dan Allah pasti akan memberikannya kepada seseorang yang telah dia pilih dan seseorang yang dia pilih itu pasti sudah diberi bekal kuat oleh Allah untuk menghadapi segala ujian.


-------------


Perkumpulan perempuan berisi obrolan yang sedang menjadi obralan. (Kru Kepo)


-----------


Hari berjalan beriringan dengan setiap kejadian yang sudah ditakdirkan oleh sang pembuat hidup. Tiada terasa satu semester berlalu, banyak kejadian tak terduga terjadi.


Seperti waktu itu, saat kelas mengadakan foto bersama.


Hubunganku dengan Irvan semakin merenggang, entah apa penyebabnya aku tak jua tahu. Kami hanya sesekali bersitatap dengannya namun sering kali dia membuang muka lebih dahulu.


Sejak kelas XII ini pun dia sudah tak duduk di belakangku. Dia memilih duduk di belakang di barisan bangku jauh dariku.


Pernah suatu ketika Ana bertanya kepadaku. Apa aku ada masalah dengan Irvan?


"Gak, aku gak ada masalah. Entahlah kenapa dia jadi menjauh." Aku menjawab sedemikian itu.


H-10 sebelum ujian nasional. Irvan tiba-tiba duduk di sampingku saat aku tengah asik membaca novel. Sedang teman-teman yang lainnya pada bergerombol menonton film korea. Entahlah tahun ini k-pop sedang booming.

__ADS_1


"Belajar kali Mut. Baca novel mulu." Irvan berkata sambil membawa modul Fisika.


"Kata Shinta, kalau udah deket waktu ujian mah jangan belajar. Refreshing." Aku menjawab tanpa menoleh ke arahnya, entahlah rasa canggung itu menguasai keadaanku.


"Ya, tapi kan penting untuk pendalaman." Irvan mulai mendebat. Aku menoleh ke arahnya.


"Thank ya, Van." Aku berkata dengan tulus kemudian aku memandang ke arah papan tulis. Tepatnya tulisan H-10 yang ada di pojokan. Aku mulai berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi diantara kita, hampir satu tahun kita tak pernah tegur sapa meski dalam lingkup yang sama. Aku sempat berkata kepada Shinta waktu itu bahwa Irvan menjauhiku. Dia bahkan berkomentar kalau aku dan dia seperti pasangan sang mantan. Awalnya aku tak berpikir seperti itu tapi entah kadang aku juga merasakan hal itu.


Bingung, itulah kata yang aku miliki.


"Sebenarnya selama ini gue gak nyaman deket sama lo." Irvan menutup bukunya, aku masih melihat dia dari sudut mataku.


Aku tidak memberi tanggapan, aku hanya berharap dia melanjutkan ucapannya. Aku tahu dia tengah berusaha meluruskan kejadian dia menjauhiku.


"Gue gak enak saat anak-anak bilang lo suka sama gue. Karena gue tahu betul lo hanya anggap gue sebatas teman." Dia menoleh ke arahku. Aku masih mencoba tetap tidak bersuara ataupun melihat ke arahnya.


"Dari pada lo entar merasa tak nyaman mungkin gue pikir dengan menjauhi lo, anak-anak tak beranggapan seperti itu." Aku tersenyum tipis, aku ingat kejadian di awal semester dua di kelas sebelas. Saat itu hari pertama masuk setelah libur semester awal. Aku bertingkah biasa saja, namun aku merasa ada yang aneh dengan pandangan yang lainnya. Apalagi Ryan dan Dwi sering menggodaku dan selalu berusaha menjodohkanku dengan Irvan di beberapa kali kejadian.


Aku sempat geram juga, karena aku tak nyaman. Namun aku adalah Syarifa Mutia. Orang nomor satu tak peka dan tak peduli dengan lingkungan. Jadi lama kelamaan kelakuan mereka kembali biasa saja.


Pernah suatu ketika, saat kami foto satu kelas dengan wali kelas saat tak sengaja aku berada di paling pinggir dan di sampingku ada Iqbal dan Irvan itu jadi bual-bualan satu kelas. Mengingat itu aku jadi sadar apa yang membuat Irvan menjauh.


Mungkin, dia illfeel.


"Aku gak pernah loh terpikir sampai sejauh itu." Aku tersenyum ke arahnya, meski aku tak melihat ke Matanya mencoba meyakinkan. Entahlah siapa yang aku yakinkan. Irvan atau diriku sendiri?


"Ya, gue cuman mawas aja kali Mut." Dia berkata dengan cuek.


"Tapi lo berubah. Sangat banyak." Dia mengucapkannya dengan serius.


"Ya namanya manusia, semakin hari kan harus berubah menjadi lebih baik dan lebih baik. Seperti kata Rasulullah, hari ini harus lebih baik dari kemarin."


"Perasaan lo udah out dari KRI. Kok lo makin religius dibanding sebelumnya."


"Kan dulu mengambil semua illmunya, nah abis itu baru penerapannya." Aku berkata dengan nada bercanda, dia terkekeh, sebenarnya dalam menuntut ilmu itu sekali mendapat kita mencari tahu kebenarannya sesuai syariat kemudian kita terapkan.


Jangan memakan sesuatu yang kita terima secara mentah-mentah. Namun juga jangan terlalu menjadi terlalu fanatik dengan mengklarifikasi sebuah amalan atau ilmu yang kita dapatkan.


---------------


Yang terpenting lulus dulu, masalah nilai itu belakangan. Dapat nilai bagus itu nilai plus. (Kru Kepo)


---------------


Ujian nasional semakin dekat, banyak dari teman sekelasku mulai sibuk menyiapkan diri begitupun dengan diriku. Ayah memasukan ku ke sebuah lembaga pendidikan yang lumayan terkenal, itu loh lembaga pendidikan dengan simbul nama lain gajah.


Namun sejak sebulan sebelum ujian nasional, ayah sudah melarangku mengikuti bimbingan belajar. Ayah hanya memintaku belajar seperlunya, kadang ayah malah mengajakku bermain atau berkunjung ke suatu tempat yang belum aku datangi. Kami jadi sering menghabiskan waktu bersama mencoba kuliner ataupun berbelanja.


Aku tahu, ayah melakukan ini supaya aku tidak terlalu tegang menghadapi ujian nasional, beliau mencoba menenangkan hati resahku.


Hari ini ujian nasional akan diselenggarakan secara serentak, ada raut tegang di wajahku. Aku tak bisa menampik bahwa aku merasa tegang dan gelisah.


Sejak selesai sholat subuh aku sudah menyiapkan segala keperluanku, mulai pensil, penghapus, alas lembar ujian dan tak lupa kartu peserta.


Kartu peserta, ingatanku menuju kejadian tiga tahun yang lalu. Di mana takdir membawaku kedalam sebuah muara yang tak ada kepastiannya.


"Sudah siap, Sayang?" tanya pak Dhimas Santosa kepadaku.


"Sudah yah," jawabku membawa tasku keluar kamar.


"Kenaa tegang begitu?" tanya ayah saat kami bertatap muka di depan pintu kamar.


"Tegang yah," jawabku pelan.


"Dibawa santai aja, ayah yakin jagoan ayah pasti bisa," kata ayah menyemangati diriku, ada secercah angin semilir rasanya mulai merambat membelai dadaku.


"Bismillah, paati bisa." Aku menyemangati diriku sendiri. Kemudian kamipun bergrgas untuk berangkat menuju medan perang.


-----------

__ADS_1


__ADS_2