Berawal Dari Abu-abu

Berawal Dari Abu-abu
Bagaswara Anugrah


__ADS_3

"Pria sejati gak akan menyentuh wanita yg dicintainya, dia akan menjaganya sampai ada ikatan yg sah, baru menyentuhnya."


(Film, Buruan Cium Gue)


----


Mutia membuka matanya kala dia mendengar suara adzan subuh. Dia merasa tubuhnya sakit dia menghela napas berat. Pikirannya kembali menuju kejadian kemarin.


Setelah pulang dari klinik, Abi mengantar Mutia kembali ke rumah. Kemudian Mutia hanya bisa berbaring di kamarnya sampai malam dan bergantian keluarganya menjenguk.


"Aku belum sempat mengucapakan terimakasih." Mutia berkata pada dirinya sendiri. Kemudian dia menoleh ke samping kiri, di sana ada sosok calon pria berhati lembut, Fahri Abdullah. Adiknya itu tidak meninggalkan dirinya barang sebentar saja saat anak itu tahu bahwa Mutia sakit. Bahkan di awal melihat Mutia digendong Abi adiknya itu menangis tanpa suara.


Digendong?


Saat ingatan itu memasuki bayangan semu di penglihatan Mutia, ada rasa hangat menjalar di pipinya, rasa malu mulai menghampirinya. Apa yang telah terjadi? Mutia kembali merengek dalam hati.


"Kenapa harus dia ya Allah," bisik Mutia dalam hati.


"Apa kamu ingin Arif yang menggendongmu?" pertanyaan dari sisi lain pada dirinya.


"Tentu saja tidak," jawab Mutia cukup keras sambil menggelengkan kepalanya secara rancu. Kemudian dia merasa adiknya bergumam dalam tidurnya, dia membelai lembut kepala sang adik untuk menenangkan.


Mutia beranjak ke kamar mandi saat melihat sang adik sudah mulai tenang. Hari ini long weekend, karena libur nasional. Dia patut bersyukur dia diberi sakit di waktu libur jadi tidak membuat susah orang lain.


Setelah membersihkan diri Mutia duduk di kursi depan meja belajarnya, dia jadi teringat sesuatu kemudian dia segera mencarinya. Dia ingat bahwa dia membawa beberapa lembar hasil ulangan anak didiknya, dan dia takut tas yang berisi lembaran itu tertinggal di sekolah. Namun dia bersyukur saat melihat note yang tertempel di meja.


Tas berisi lembar kertas ada di samping meja dan tas kerja kamu ada di dekat rak sepatu beserta sepatu yang kamu pakai. Jaga kesehatan.


Mutia tersenyum melihat note itu, dia tahu benar siapa yang meninggalkan pesan itu. Kemudian dia mengambil jilbab yang ada di gantungan dan melangkah keluar dari kamarnya.


"Kamu sudah sehat?" tanya Rifa yang juga baru saja keluar.


"Alhamdulillah sudah, Kak." Mutia berjalan mendekati sang kakak. "Mana Arka?"


"Dia jalan-jalan sama ayahnya," jawab Rifa sembari melangkah menuju dapur.


"Kak, gimana kerja kantoran?"


"Lumayan menguras waktu," jawab Rifa sambil mengambil beberapa sayur dari kulkas. Mutia hanya mengangguk tanda mengerti.


"Kenapa?" tanya Rifa berjalan menuju laci, Mutia hanya tersenyum sambil membawa buah yang akan dia kupas.


"Tidak hanya berpikir saja," jawab Mutia pelan.


"Kamu mau berubah pikiran?"


"Tentang apa?" tanya Mutia menoleh kepada sang kakak.


"Ya tentang pegawai kantoran." Mutia hanya terkekeh sambil menggeleng.


"Sepertinya tidak, aku lebih suka lelaki biasa aja. Atau pekerjaan seperti kak Dilan, yah walau ditinggal hampir dua bulan masa liburnya juga panjang. Dia kan pekerja bebas." Mutia mulai menerawang.


"Tapi penghasilan tidak tetap," kata Rifa tidak setuju.


"Rejeki kan Allah yang ngatur, Kak." Mutia berpendapat lagi.


"Nah itu sadar, jadi tidak ada salahnya bukan pekerja kantoran. Mereka juga sedang berusaha menyambut rejeki." Mutia tersenyum kemudian mengangguk.


"Tapi itu tidak mengubah kriteriaku," kata Mutia tersenyum kemudian melangkah menuju cuci piring untuk mencuci buah-buahan yang aka dia kupas.


"Kamu sudah sehat sayang?" tanya sang mama memasuki dapur bersama sang ayah.


"Alhamdulillah sudah, maaf ya bikin khawatir."


"Kamu itu ngomong apa sih," kata sang mama menimpali.


Kemudian pagi itu mereka menghabiskan waktu bersama dengan berbagai pembicaraan yang cukup menyenangkan. Dan di sinilah letak kebahagiaan yang sederhana. Berkumpul dan berbicara banyak hal dengan keluarga.


-------


"Mutia," panggil Dhimas saat Mutia baru memasuki rumah sehabis mengantar adik dan ibunya yang akan pergi ke supermarket.


"Iya Yah," jawab Mutia duduk di samping sang ayah. Dengan santainya dia duduk dan bersandar di bahu sang ayah bermanja-manja.


"Kamu sudah sehat?" tanya Dhimas menatap wajah Mutia yang masih nampak sedikit pucat.


"Alhamdulillah sudah, 'kan Mutia putri jagoan Ayah." Mutia berkata dengan nada bercanda.


"Kamu sudah bertemu Dilan?" Mutia menatap sang ayah lama kemudian dia mengangguk tanda bahwa dia sudah bertemu dengan Dilan. "Sudah Yah."


"Kamu sudah ada jawabannya?" tanya sang ayah penuh harap.


"Apa Mutia punya alasan untuk menolak jika ayah sudah mengiyakan dan sudah mempertahankan semuanya begitu lama?" tanya Mutia dengan mata sayu, dia masih bimbang namun dia yakin ayahnya tidak akan menjerumuskan dirinyq pada lembah yang menyesatkan.

__ADS_1


"Jadi kamu setuju?" tanya Dhimas dengan mata berbinar.


"Setuju dengan syarat," kata Mutia dengan nada tegas da serius.


"Syarat?" tanya Dhimas tidak yakin, kemudian menatap intens ke arah mimik mata Mutia, dia melihat anak gadisnya mengangguk dengan yakin.


"Baiklah, apa?" tanya Dhimas menantang.


"Nikahkan Mutia malam ini juga," kata Mutia dengan tegas dan bibir memberi senyum tulus. Dhimas menelan ludahnya secara pelan penuh penghayatan, bukan penuh kesulitan sepertinya.


"Kamu yakin dengan semua itu?" tanya Dhimas pelan.


"Yakin," jawab Mutia tegas tidak ada keraguan sama sekali, membuat Dhimas semakin sulit menelan ludah.


"Ayah kenapa? Bukankah ayah ingin Mutia segera menikah?" tanya Mutia halus, Dhimas menatap Mutia dengan tatapan yang mengisyaratkan banyak sekali kasih dan sayang di dalamnya.


"Kalau boleh jujur, Ayah sama sekali belum siap digantikan kedudukannya di hatimu," Kata Dhimas pilu, ada rasa sesak di dadanya.


"Ayah, bukankah ayah sering meminta Mutia untuk segera menikah?"


"Ada kalanya iya, dan ada kalanya juga tidak. Ayah masih enggan berbagi dengan orang asing yang tiba-tiba dekat denganmu dengan mudah dan cepat." Mutia menatap sang ayah dengan wajah tak percaya, dia tidak yakin dengan ucapan sang ayah.


"Mutia, kadang Ayah ingin kamu segera menikah dan mendapatkan kebahagiaan dan menyempurnakan sunah rosul. Akan tetapi sisi hati Ayah juga kadang masih belum bisa menerima semua ini, Ayah tahu ini salah tapi Ayah sungguh tidak mengerti bagaimana mengartikannya. Dulu Ayah santai menggagalkan perjodohan yang orang-orang buat untukmu, karena Ayah berpikir Ayah memiliki satu kandidat kuat yang akan tetap menerimamu. Tapi saat kandidat itu memintamu, apa yang harus Ayah lakukan? Ayah pasrahkan semuanya. Ayah berharap hati ini akan menerima dengan berjalannya waktu ta'arufan kalian. Tapi hari ini Ayah mendapat hal yang sungguh mengejutkan, kamu memberi syarat untuk menikahkan malam ini, sungguh Ayah tidak tahu harus bagaimana."


Mutia tersenyum mendengar semua ucapan sang ayah, dia tahu kegelisahan seorang ayah yang akan melepas anaknya, namun Mutia tetaplah Mutia. Dia tidak akan pernah mundur dari persepsinya.


"Bukankah perkara baik harus disegerakan?" tanya Mutia dengan tenang, setenang air kolam.


"Iya, tapi tidak secepat ini." Dhimas memencet hidung Mutia dengan gemas, tapi di dalam hati dia bersyukur jika anaknya tak nampak tertekan dengan keputusan yang dia ambil.


"Bagas sudah mengirim proposal itu hampir sepuluh tahun yang lalu," kata Dhimas dengan tegas namun tersirat akan kelembutan.


"Bagas?" tanya Mutia tidak yakin.


"Iya, Bagaswara Anugrah. Senior kamu yang kita pernah ketemu di kafe itu," jawab Dhimas dengan yakin. Dia tersenyum melihat wajah putrinya yang begitu tegang. Dia tahu benar apa yang ada dibenak gadis itu, tapi dia tak ada niatan untuk mengubah persepsi yang ada di otaknya dia hanya akan membiarkan semua berjalan dengan pasti.


"Kamu masih mau dinikahkan malam ini?" tanya Dhimas dengan senyum penuh kemenangan.


"Beri waktu satu pekan," kata Mutia dengan cepat. Dia tak tahu kenapa, tapi yang pasti dia masih mengalami dilema. Kenapa dari sekian banyak lamaran yang masuk harus dari orang yang dia kenal. Mutia berpikir mungkin menikah dengan orang yang baru dia kenal lebih baik daripada orang yang pernah ada di masa lalu.


"Kenapa?" tanya Dhimas masih dengan senyum indahnya. Mutia hanya mendongak kemudian membuang muka karena malu. Ini hal baru, dia mengubah keputusan dengan cepat biasanya dia selalu berpikir lama baru bisa memutuskan.


"Kenapa? Bukankah lebih mudah. Kalian sudah saling kenal, apa yang kamu takutkan?"


"Apa iya, dia melamarku?" tanya Mutia di dalam hati, Dia masih belum yakin dengan semuanya.


"Apa yang kamu pikirkan? Bukankah perkara baik harus disegerakan?" tanya Dhimas denga nada jenaka, dia senang menggoda putrinya yang tengah dilanda delima. Dia tahu benar kebimbangan itu, jadi menggoda adalah hal yang menyenangkan.


"Ayah," kata Mutia sambil merajuk, dan dengan senang hati Dhimas membawa Mutia ke dalam pelukannya.


"Pelukan aku gak di ajak," kata Rifa yang baru keluar dari kamarnya. Kemudian Dhimas membentangkan tangannya lebar menyambut putri sulungnya masuk ke dalam pelukan dan dengan senang hati Rifa langsung melempar tubuhnya ikut masuk ke dalam pelukan hangat sang ayah, kemudian mereka tertawa bahagia.


----------


Kebenaran bisa tertutup dengan ucapan. (Kru Kepo)


-----------


Mutia memasuki sebuah kafe yang cukup ramai di jam makan siang, dia berencana menemui seseorang yang membuat keresahan di dalam hatinya, di memilih kafe ini karena menghindari berdua-duaan sekaligus karena dia tahu ini kawasan yang cukup private yang dimiliki oleh sang target. Dia tidak tahu jika seniornya itu membangun usaha di dekat tempat di kerja, sungguh Mutia bukan gadis yan suka nongkrong jadi dia buta akan tempat-tempat kumpulan anak muda. Dia memang menyukai kuliner akan tetapi dia lebih suka bereksperimen di rumah dengan beberapa bahan dan mengelola sesuka hatinya.


Mutia mengambil duduk di bangku pojokan, dia melihat ada beberapa tanaman hidup di sekitar meja yang membuat dia tertarik. Kemudian dia mengedarkan pandangannya ke area yang nampak begitu ramai ada kurang lebih tiga pelayan yang tengah sibuk melayani pelanggan. Dia berulangkali takjub dengan desain interior yang nampak begitu indah dipandang mata selain itu juga memberi kesan nyaman untuk melihatnya.


Kafe milik bagas ini berada di sekitar kawasan anak SMA dan universitas swasta, jadi dengan mengambil tema garden dan dipadukan beberapa buku untuk dibaca membuat daya tarik tersendiri, apa lagi ada beberapa sudut yang tertulis beberapa kata bermakna seperti yang ada di kawasan dalam ada gambar beberapa unsur senyawa ada juga gambar daun beserta keterangan fotosintesis.


"Selamat datang di kafe kami, ini buku menunya. Silahkan memesan." Seorang pelayan menyapa Mutia dengan nada ramah, Mutia hanya bergumam terima kasih dan mengeluarkan ponselnya. Dia membuka selembar demi selembar menu sambil mengetik pesan memberitahu  Bagas bahwa dia sudah ada di kafenya. Jangan tanya dari mana dia mendapat kontak Bagas, karena dia mendapatkan dari sang ayah yan ternyata adalah dosen Bagas semasa mengambil S1. Dunia nampak sempit bukan?


"Saya mau pesan salad buah, sub ikan dengan nasi putih dan juga jangan lupa sambalnya. Minumnya jus melon tanpa susu." Mutia berkata deng sopan kemudian dia mendongak. Ada raut terkejut saat dia menatap pelayan kafe Bagas. Bukan karena pakaian yang sedikit kurang bahan atau karena kecantikan yang terpancar, akan tetapi karena dia melihat orang yang dia kenal di depan matanya.


"Luvia," kata Mutia membuat gadis yang sibuk menulis itu menoleh ke arah Mutia. Gadis itu sempat terkejut, bahkan gadis bernama Luvia itu memegang salah satu kursi untuk menopang tubuhnya.


Sedikit lebay mungkin akan tetapi itulah yang terjadi, Luvia dan Mutia tidak memiliki hal yang baik untuk diingat karena di masa awal menginjak remaja mereka saling bersaing dan mendedikasikan bahwa mereka adalah rival abadi.


"Kamu kerja di sini?'' tanya Mutia dengan pelan dia juga menyalahkan dirinya sendiri, dia tahu pertanyaan yang spontan keluar dari mulutnya adalah pertanyaan yang sangat tidak bermutu.


"Iya, bagaimana kabarmu? Belum terlambat bukan aku menanyakannya?" Luvia menjaga suaranya supaya tidak bergetar. Mutia tersenyum tulus, hal yang bahkan Luvia tidak yakin.


"Alhamdulillah sangat baik, mungkin lain kali kita bisa ngobrol bersama." Mutia berkata dengan ramah, sehingga senyum ramah itu menular ke bibir Luvia.


"InsyaAllah," jawab Luvia dengan senang.


"Kalian sepertinya saling kenal?" kata Bagas menengahi dua gadis yang terlihat nampak aneh di mata siapapun yang memandang.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Bagas, Luvia pamit undur diri. Bagas menaikan satu alisnya heran, kenapa Luvia nampak malu-malu? Sungguh berbeda dengan kebiasaan konyol gadis itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum," salam Mutia mengalihkan pandangan Bagas dari pegawainya.


"Waalaikumsalam," jawab Bagas mengambil duduk di hadapan Mutia.


"Kamu mengenal karyawanku?" tanya Bagas kepada Mutia.


"Setelah hampir 7 tahun tidak bertemu, kak Bagas menanyakan hal itu?" kata Mutia tidak suka. Bagas hanya terkekeh.


"Apa selera pembicaraanmu sudah berubah?" tanya Bagas dngan santai.


"Maksudnya?"


"Bukankah kau gadis yang tidak suka berbasa-basi, karena menurutmu itu basi?"


"Paling tidak menanyakan kabar tidak ada yang salah." Mutia mengeluarkan pendapatnya, entah karena apa di malah mengajak Bagas berdebat hal yang tidak penting.


"Aku melihatmu baik-baik saja dan kamu melihatku baik-baik saja bukan. Bukankan itu lebih dari cukup?" Bagas berkata dengan tenang sambil memainkan jarinya di meja. Mutia menghela napas dan Bagas mengulum senyum kemenangan.


"Kalu mengenal gadis yang akan diseret Abi ke KUA?" tanya Bagas membuat Mutia segera mendongak, dia yakin apa yang dia dengar bukanlah sesuatu yang salah. Telinganya masih berfungsi dengan baik, tapi apa tadi yang dikatakan oleh Bagas?


"Maaf," kara Mutia tidak yakin.


"Iya, Luvia." Bagas berkata dengan tenang, dia mengamati raut wajah Mutia yang berubah-ubah.


"Dia teman SMPku," jawab Mutia pelan, kemudian datang pelayan yang menyajikan pesanan Mutia.


"Saya mau jus jeruk ya," kata Bagas kepada pelayan itu.


"Apa yang membawamu kemari?" tanya Bagas mengalih topik, dia tahu di dalam otak Mutia tengah berperang dengan ucapannya tadi.


"Aku lapar mau makan." Mutia dengan acuh meninggalkan Bagas menuju westafel. Bagas tersenyum dengan tingkah acuh Mutia yang masih tetap melekat pada diri gadis itu meski sudah sekian tahun waktu berjalan.


Mutia kembali, dia memakan salad buahnya dengan tenang, seolah dia tengah makan seorang diri tak memperdulikan keberadaan lelaki manis yang ada di depannya. Setelah selesai makan salad buah dia baru mngelap mulutnya dan berdehem.


"Kenapa kak Bagas mengajukan proposal?" tanya Mutia tenang, meski di dalam hati timbul banyak hal yang ingin dia lontarkan.


"Proposal?" tanya Bagas tidak yakin.


"Iya, kepada ayahku sepuluh tahun yang lalu," jawab Mutia.


"Oh itu, kenapa?"


"Kenapa?" tanya Mutia dengan nada tidak yakin, dia heran dengan tanggapan santai Bagas.


"Kau sudah membaca isi Proposal itu? Aku yakin belum." Bagas bertanya namun dia juga yang menjawabnya sendiri, sudut bibirnya terangkat dan ada kedutan di pipinya, seperti menahan tawa.


"Kenapa kak?"


"Tidak ada salahnya bukan dengan proposal itu? Setiap lelaki memiliki hak untuk memilih wanita yang ingin dia lamar. Dan sebagai wanita kalian memiliki hak untuk menolak." Bagas menyeruput jus yang ada di depannya. Mutia diam, dia tahu benar apa yang diucapkan Bagas adalah sebuah kebenaran.


"Apa kau menolaknya?'' tanya Bagas dengan wajah tanpa ekspresi kecuali datar.


"Apa aku memiliki jawaban selain iya, jika seseorang melamarku di waktu yang ditangguhkan begitu lama namun masih tetap setia untuk menunggu." Bagas tersenyum, sinar dingin dari matanya sirna sudah.


"Bagus, pertahankan keputusanmu. Jadi kapan bisa melamar secara langsung?"


"Tidak perlu, aku hanya ingin menikah di malam jumat minggu ini," kata Mutia dengan tegas. Dia mencoba menegaskan dirinya sendiri.


"Baiklah," kata Bagas dngan tenang dan senyum ramahnya, senyum yang sejak dulu menjadi ciri khas dari seorang Bagas.


"Abi," panggil Bagas menatap sepupunya. Abi menoleh kemudian dia melangkah mendekati meja itu, Abi sempat heran dengan gadis yang duduk dengan Bagas, dia yakin mengenalinya.


"Assalamualaikum," salam Abi kemudian berjabat tangan dengan Bagas setelah salamnya dijawab, kemudian Abi menoleh dan menangkupkan kedua tangan ke arah Mutia.


Mutia melakukan hal yang sama sambil mengangguk. Kemudian dia kembali menunduk. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, dia seperti tak memiliki keyakinan saat ini.


"Duduk," kata Bagas, dan Abipun mengambil duduk.


"Kamu sudah sehat?" tanya Abi menoleh ke arah Mutia.


"Alhamdulillah," jawab Mutia baik-baik.


"Jaga kesehatan," kata Abi kemudian menoleh ke arah Bagas.


"Gimana udah kamu pikirkan permintaanku kemarin?" Abi bertanya kepada Bagas, kemudian dengan santai Mutia memakan makan siangnya.


"Bilang saja kamu tidak rela Via berpakaian terbuka," jawab Bagas dengan usilnya.


"Ya, salah satunya itu." Abi menjawab dengan tenang. Membuat Mutia tersedak, dia segera mengambil napas dalam-dalam untuk mengurai rasa sesak.


"Kamu butuh minum?" Abi bertanya sambil menyodorkan jus milik Mutia.


"Tidak," jawab Mutia sambil menggelengkan kepalanya. Setelah rasa tak nyaman akhibat tersedak, Mutia kembali melanjutkan makannya tak menghiraukan Abi ataupun Bagas.

__ADS_1


------------


__ADS_2