
Orang bilang,
Sahabat itu seperti bintang. Dia tak selalu nampak namun selalu ada.
Sahabat itu seperti angin.
Dia tidak terlihat aka tetapi selalu terasa.
Sahabat itu seperti saudara.
Tak memiliki darah yang sama, namun memiliki ikatan yang sama.
-------
Mutia keluar dari kamar mandi dengan baju yang siap untuk pergi ke kondangan. Iya, entah dapat dari mana tadi pagi kak Rifa mendatangi Mutia di sekolah dan mengantar baju couple untuk digunakan di acara nikahan Mirza.
"Maaf ya telat, tadi soalnya ada sedikit kesalahan pada ukuran gambar. Aku ngitung skalanya salah." Abi mendekati Mutia yang tengah mengeringkan rambutnya.
"Iya," jawab Mutia singkat, kemudian melangkah ke arah tempat handuk Abi digantung kemudian memberikan pakaian pendek ke arah Abi. Dia juga menggantung kembali handuknya.
"Maaf juga tadi gak bisa jemput,'' kata Abi memegang tangan Mutia, dia tahu istrinya tengah kesal. Semua memang salah dirinya, tadi siang harusnya dia menjemput Mutia dan membawa istrinya pulang ke rumah sang bunda. Akan tetap karena ada klien dia jadi membatalkan janjinya dan membiarkan sang istri pulang bersama sang bunda. Harusnya kepulangan mempelai perempuan pertama ke rumah suami ditemani oleh sang suami namun Abi malah membiarkan sang istri pulang sendiri.
"Toh semua tidak mengubah apapun. Udah buruan mandi nanti terlambat." Mutia menarik sang suami ke kamar mandi. Emang ada ya terlambat ke acara kondang jika di dalam undang tertulis jam rileks? Mutia terkekeh di dalam hati karena ucapannya sendiri.
Abi pasrah masuk le kamar mandi untuk membersihkan diri, nanti dia akan kembali meminta maaf kepada sang istri.
-------
Abi keluar mematikan mesin mobilnya saat sudah sampai di depan rumah Dilan, mereka memang saling berjanji akan berangkat bersama.
"Dilan masih lama?" tanya Abi mencairkan suasana hening di dalam mobil berdua. Mutia menoleh kemudian dia mengerutkan dahinya heran. "Bukankah yang Janjian Mas ya?" tanya Mutia pelan.
"Iya sih, dia bilang abis maghrib gitu," jawab Abi tidak yakin juga membuat rasa heran Mutia kembali meningkat.
"Mutia," panggil Abi pelan.
"Apa?"
"Emm, untuk yang tadi aku beneran minta maaf," kata Abi dengan nada canggung, Mutia melihat wajah melas sang suami yang sungguh kontras dengan wajah wibawa yang biasanya nampak. "Sungguh tidak cocok," kata Mutia sambil menepuk bahu Abi.
"Apa? Masak suami minta maaf dibilang gak cocok?" tanya Abi dengan nada sedikit naik namun bukan amarah atau emosi yang mengiringi akan tetapi nada renyah tanda menggoda. Dan hal itu membuat Mutia tertawa kecil.
"Tapi beneran Mas, gak cocok sama sekali," kata Mutia sambil meletakkan punggung tangannya di bibir untuk menghalau tawa yang sudah ada di ambang batas kemampuan untuk ditahan.
"Jadi?" tanya Abi menaikan satu alisnya kemudian secara tak kasat mata melepas sabuk pengamannya dan langsung mengelitik Mutia yang masih tertawa.
"Ayo tertawa terus," kata abi menggelitik perut pinggul Mutia. "Ampun Mas," kata Mutia di sela tawa dan tubuh yang mengeliat menghindari serangan Abi.
Melihat wajah Mutia yang memereh Abi menghentikan aksinya, kemudian dia membenarkan hijab yang dipakai sang istri.
"Kan jadi berantakan," kata Mutia dengan cemberut, namun tak lama senyum juga terbit di bibirnya.
Tak lama menunggu Dilan sudah memasuki mobil. "Kenapa gak kabar-kabar kalau udah sampai?"
"Lupa," jawab Abi sambil menjalankan mobil, Mutia hanya terkekeh saja. Kemudian sepanjang perjalanan mereka membicarakan banyak hal.
-------------
"Mutia," panggil Erly heboh dari tempat duduknya, saat Mutia baru selesai berjabat tangan dengan ibu Mirza. Mutia hanya mengangguk saja.
"Aku duduk di sana ya," kata Mutia kepada dua cowok yang ada di depannya.
"Iya, sisakan duduk untuk kami," jawab Abi, membuat Dilan berdecak. Dia sepertinya salah ambil keputusan malam ini, bagaimana dia bisa ditengah-tengah sepasang suami istri baru jadi ini.
Mutia melangkah mendekati teman-temannya yang duduk di meja yang sangat panjang, dia menjabat tangan semua teman ceweknya tidak lupa cium pipi kanan kiri. Kemudian dia mengambil duduk di samping Shinta karena yang ada duduk kosong tiga di dekatnya.
__ADS_1
Dia duduk dengan sengaja meletakan tasnya di kursi kemudian menoleh ke arah Shinta, "kapan sampai?" tanya Mutia kepada Shinta, teman dalam diamnya.
"Kemarin sore, tadi rencana mau bareng kamu taunya udah keduluan Erly jemput." Shinta menyeruput minumannya.
"Gimana kabar kamu?" tanya Shinta dengan santai. "Seperti yang kamu lihat. Alhamdulillah aku baik. Dan semoga kamu juga." Dia mengangguk kemudian dia sibuk dengan ponselnya.
"Tadi kamu bareng kapten?" tanya Erly yang duduk di samping Shinta. Mutia menganggukkan kepala. "Iya, sama kak Dilan juga."
"Hai, Van." Mutia menyapa Irvan yang sejak tadi hanya diam sambil mainkan sendok garbunya, Irvan mendongak sambil tersenyum. "Gimana kabar kamu?"
Irvan tersenyum kemudian dia menegakkan duduknya. "Alhamdulillah, baik seperti yang kam lihat. Aku gaj perlu tanya kabar kamu kan?" Mutia terkekeh Kecil sambil memgangguk.
"Sibuk apa?" tanya Mutia mencoba ramah, dia tahu hubungannya dengan Irvan tidak seharmonis dulu jadi untuk mencarikan suasana dia harus banyak bertanya.
"Lagi ngadain penelitian gitu deh, kebetulan aku ambil S2 di Malang." Mutia mengangguk tanda mengerti. Kemudian dua cowok yang bersama Mutia itu datang.
"Ini kami boleh gabung 'kan?" tanya Dilan dengan santainya setelah duduk.
"Dilarang pun juga gak mempan kali, Kak." sahut Marta, Dilan hanya terkekeh saja. Kemudian dia meletakan mangkok es krim dengan tolong salad buah di depan Mutia.
Semua yang duduk di situ langsung berdehem menggoda, sedang Dilan yang duduk di depan Mutia hanya terkekeh. Dia tahu ada kesalahpahaman di sini.
Abi menaruh tas Mutia ke meja kemudian duduk di samping Mutia dalam diam, semua mata tertuju ke dua adegan drama itu.
"Kenapa pada diam?" tanya Abi merasa tak bersalah karena membuat drama dadakan.
"Kamu gak nyaman, Mutia?" tanya Shinta menoleh ke arah temannya. Belum juga Mutia menjawab Shinta sudah berkata lagi. "Kita bisa tukaran duduk." Mutia meringis kemudian di menggeleng tak jelas.
"Mau gak?" tanya Shinta heran. Mutia menggelengkan kepalanya.
"Biarin Shin, PDKT." Erly berkata sambil berbisik. Shinta tersenyum sambil mengangguk. Kemudian suasana kembali mencair dengan beberapa obrolan.
"Eh ada gosip hangat," seru Dwi langsung duduk di samping Ana. Membuat mata pemasaran tertuju padanya kecuali tiga orang paling ujung. Ah, bukan tiga tapi beberapa orang yang duduk di ujung.
"Apa?" tanya Iqbal sudah tak mampu menanggung rasa keponya.
"Wow, gosip gak bener." Mutia berseru membuat semua menoleh ke arahnya sedang Abi hanya terkekeh dan Dilan menutup mulutnya dengan punggung tangan.
"Dlah, ada Mutia?" ucap Dwi tanpa rasa bersalah membuat tawa semua orang meledak. Dan melupakan segalanya.
"Bukannya pendapat itu sama dengan pemikiranmu, Sayang." Abi berbisik di dekat telinga istrinya yang tertutup hijab. Mutia melotot ke arah Abi dengan ganas, seolah dia tersinggung dengan ucapan itu. Namun hal itu tidak berselang lama, karena saat mencerna kembali ucapan sang suami tiba-tiba pipi Mutia merasa hangat. Ah suaminya baru saja memanggil sayang untuk pertama kalinya. Melihat pipi Mutia bersemu merah dan tersenyum malu-malu membuat senyum lebar terbit di bibir Abi. Berbeda dengan Dilan yang hanya berdecak dan membuang muka.
"Benar 'kan Mutia?" tanya Dwi membuat Mutia langsung menoleh.
"Apa?" tanya Mutia heran, dia tidak menyimak perbincangan teman-temannya.
"Seminggu yang lalu kamu kencan sama kak Bagas di kafe?" tanya Erly mengulangi pertanyaan Dwi.
"Kencan?" tanya Mutia tidak yakin, kemudian dia melirik ke arah sahabatnya yang hanya diam saja seolah tak mendengar perbincangan.
"Salah lihat kali," kata Mutia dengan santai kemudian memasukan potongan stroberi kedalam mulutnya.
"Gak, kalau gak percaya tanya Idris. Kami mau menyapa tapi kalian berbincang cukup serius jadi kami urungkan." Dwi berkata dengan tegas, seolah dia memang benar. Tapi kenyataannya sepertinya memang seperti itu. Mutia nampak berpikir.
"Itu loh, pas kamu makan siang bicarain masalah proposal," kata Abi mencoba mengingatkan sang istri yang entah lupa atau pura-pura lupa. Mutia menoleh ke arah Abi sambil melotot.
"Oh siang itu, kami gak cuman berdua kok. Ada mas Abi juga." Mutia membela diri sebelum diserang.
"Tapi itu benaran kamu kan?" tanya Iqbal gemas. "Iya," jawab Mutia sambil mengangguk cuek.
"Tapi jangan salah sangka, aku gak ada hubungan apapun ya sama kak Bagas," hampir ada hubungan lanjut Mutia di dalam hati. "Lagi pula di sana juga ada mas Abi kok waktu itu," kata Mutia lagi untuk menguatkan argumen, entah apa yang tengah dia lakukan namun yang pasti dia tidak ingin ada salah paham.
"Tapi waktu itu aku kanĀ menyela pembicaraan kalian," kata Abi membuat Mutia tertohok, bukannya menyelamatkan sang istri yang mencoba berenang ke tepian namun yang dilakukan Abi adalah mendorong kepala istrinya untuk masuk ke dalam air dan tenggelam.
Mutia menoleh ke arah Abi sambil menatap seolah berkata, 'malam ini tidur di luar' membuat Abi bergidik. "Jadi bener Mut, kamu ada hubungan sama Bagas?" tanya Irvan yang awalnya hanya acuh tak sedikitpun menghiraukan tiba-tiba mengeluarkan suara.
__ADS_1
Mutia hanya menggelengkan kepalanya lesu, dia melirik le arah Dilan yang acuh bermain ponsel. "Jelas Mutia ada hubungan dengan Bagas," kata Abi mengambang membuat semua mata menatap ke arah Mutia dan Abi bergantian.
"Kamu ada hubungan sama Bagas?" tanya Shinta lirih. "Enggak."
"Ada Mut," Kata Abi kukuh. Mutia hanya memutar bola matanya, dia tahu Abi saat in memancing dirinya untuk menyatakan bahwa mereka sudah menikah. Namun Mutia tidak akan semudah itu masuk perangkap.
"Dia kan senior kamu. Tapi kalau hubungan percintaan aku jamin Bagas masih milik bersama." Abi berkata dengan nada serius meski ada kegelian di dalamnya.
"Jadi kak Bagas masih jomblo dong?"
"Iya," jawab Mutia karena dia tahu suaminya tak ada niatan untuk menjawab.
"Kalau kak Abi gimana?" tanya Calista denga wajah malu-malu, Abi hanya tersenyum menanggapinya.
"Bentar deh," kata Erly menatap smartphone miliknya dengan serius. Smartphone itu tadi dia gunakan untuk foto bersama. Kemudian setelah mengamati secara mendetail, Erly langsung menoleh ke arah Mutia.
"Kok baju kapten dan Mutia sewarna ya, batiknya juga." Erly berseru dengan heboh, Mutia hanya melongo terkejut.
"Masak sih, tu baju kak Abi juga senada sama baju Lana."
"Iya juga sih, tapi lihat deh lengan bagian ini punya Mutia sama kayak kerah baju kapten," kata Erly membuat semua mata menatap curiga. Mutia hanya diam saja tak acuh sedang Abi dia lebih dari acuh entahlah dia mungkin pura-pura tak dengar.
"Dloh pak Abi," kata Madina membuat wajah penasaran semua tertuju ke arahnya, namun beda dengan Abi yang nampak acuh. Dia tak menghiraukan keberadaan sekertarisnya karena Madina memunculkan wajah-wajah sedih sang istri saat SMA. Dan Abi sanga tidak menyukai hal itu, bahkan sangat membencinya. Dia benci kenangan di man sang istri menangis akan tetapi dia tidak memiliki keberanian untuk menenangkan dan dia harus bergerak lewat tangan-tangan orang, dia benci hal itu sungguh dia membenci.
"Boleh gabung 'kan?" tanya Madina langsung duduk, tidak ada yang menjawab karena mereka masih mengumpulkan sisa keterkejutan.
"Yuk ngasih selamat, kita udah lama di sini." Erly berkata memecah keheningan. Iya juga mereka terlalu lama mengobrol hingga melupakan kenyataan bahwa mereka berada di hajatan orang.
"Bagi dua ya, soalnya gak mungkin muat tu panggung." Mutia beranjak sambil membawa tas kado yang tadi dititipkan ke Abi. Inilah sebabnya yang mengambilkan makanan tadi Dilan karena tangannya yang satu milik Abi membawa tas kado.
"Bang, pulang bareng ya," kata Shinta datar. Abi hanya mengangguk memberi setuju.
Setelah mengucapkan selamat dan mendoakan semua keluar untuk berpamitan pulang, kemudian saling berpisah di parkiran. Tadi Abi memarkirkan mobilnya cukup jauh dari tempat hajat karena tidak disediakan parkiran untuk mobil di dalam gang.
"Mutia, mana ponselku?" tanya Abi sambil berjalan.
"Bukannya tadi Mas bawa," jawab Mutia heran.
"Tadi aku masukan tas kamu." Shinta menatap dalam diam interaksi dua anak manusia itu, dalam otaknya tengah mencerna kemungkinan yang tidak masuk akal.
Mutia membuka tasnya sambil cemberut, udah biarin di dalam kalau malas buka. Mutia tersenyum kemudian kembali menyampirkan tasnya ke bahu. "Tapi buka deh, 'kan kunci mobil di tas." Mutia berdecak kemudian mengeluarkan kunci mobil dan ponsel kepada Abi.
"Maaf," kata Abi lirih kemudian menekan tombol kunci. Mutia hanya mengangguk saja kemudian dia menuju ke pintu mobil, awalnya dia memegang pintu depan tapi diurungkan saat melihat Dilan melotot dari balik kaca.
"Kenapa gak jadi?" tanya Dilan dengan nada menggoda saat Mutia membuka pintu belakang.
"Gak papa, cuman tadi aku takut kekasih mas Abi melototi diriku." Mutia menjawab sambil membenarkan posisi duduknya.
"Kekasihku?"
"Kekasih bang Abi?" tanya Abi dan Shinta bersamaan, Mutia mengangguk kemudian melirik sinis ke arah Dilan yang tengah tertawa kecil menatap ke luar kaca mobil.
"Kamu tu ada-ada aja," kata Shinta terkekeh. Mutia hanya tersenyum sambil bersandar. Sebenarnya dia cukup lelah denga aktifitas yang dia lakoni hari ini jadi dia ingin segera beristirahat. Dia mengacuhkan obrolan mereka di mencoba memejamkan mata selama perjalanan. Lumayan jika dia bisa memejamkan mata untuk istirahat, jarak rumah pengantin dengan rumah mertuanya menempuh waktu hampir satu jam.
"Pakai bantal leher kalau mau tidur," kata Abi sambil mengulurkan bantal ke arah sang istri karena perlu fokus yang mengambil Shinta kemudian diberikan kepada sahabatnya.
"Turunin di depan gang rumah Azlan ya," kata Dilan saat sudah mulai dekat dengan rumahnya.
"Kenapa gak bilang, kan jadi putar," kata Abi kesal sambil membelikan stir mobil.
"Dia baru balas pesanku," jawab Dilan membela diri, Abi hanya berdecak saja.
"Dlah bukannya tadi deket ya kalau mau drop Mutia, kok malah putar, Bang." Dilan menoleh ke arah Shinta sambil tersenyum geli.
"Gak papa Shin, jugaan muter-muter dikit 'kan Mutia juga lagi tidur. Biar dia merasakan tidur di mobil, jarang-jarang." Dilan berkata sambil terkekeh geli. "Jarang apanya, kemarin dia juga tidur selama perjalanan pulang." Abi menyahut dengan lirih, dia jadi ingat di hari pertama mereka menjadi suami istri. Abi mengajak Mutia jalan-jalan ke tempat wisata, dia bisa melihat wajah bahagia sang istri dan kelincahan yang nampak total tanpa menjaga perilaku sama sekali dan sepulang dari jalan-jalan sepanjang perjalanan pulang Mutia tertidur di dalam mobil. Makanya Abi membelikan bantal leher untuknya, karena dia tahu satu kebiasaan sang istri yaitu selalu tidur dalam perjalanan panjang.
__ADS_1
-------------